Tags

, , , , ,


Slametan

Salah satu kebiasaan masyarakat Jawa pada umumnya adalah menyelenggarakan selametan, yaitu suatu acara pengiriman doa ketika seseorang mendapatkan anugrah dari Tuhan Yang Maha Esa atau meminta kepada Tuhan Yang Maha Esa supaya dijauhkan dari bencana.. Acara ini biasanya dihadiri oleh para tetua desa, tetangga dekat, sanak saudara, dan keluarga inti.

Siklus Slametan

Slametan terbagi dalam empat jenis:

1.Berkisaran sekitar krisis- krisis kehidupan.

Contoh: Kelahiran, khitanan, perkawinan dan kematian

2.Berhubungan dengan hari- hari raya Islam.

Contoh: Maulid Nabi, Idul Fitri, Idul Adha dan sebagainya.

3.Bersangkutan dengan integrasi sosial desa, bersih desa (harfiah berarti pembersihan desa, yakni: dari roh- roh jahat).

4.Slametan sela yang diselenggarakan dalam waktu yang tidak tetap, tergantung untuk suatu perjalanan jauh, pindah tempat, ganti nama, sakit, terkena tenung, dan sebagainya.

Faktor

Ada dua faktor yang umum untuk jenis itu, pertama, prinsip yang mendasari penentuan waktu slametan dan kedua arti ekonomi slametan itu.

Perhitungan: Sistem Numerologi Orang Jawa

Slametan kelahiran waktunya ditetapkan menurut peristiwa kelahiran, dan slametan kematian ditetapkan menurut peristiwa kematian itu; namun orang Jawa tidak menganggap peristiwa itu sebagai suatu kebetulan; peristiwa itu dianggap sebagai yang ditentukan oleh Tuhan, yang menetapkan secara pasti perjalanan hidup setiap orang. Upacara khitanan dan perkawinan tampaknya perlu ditetapkan dengan kehendak manusia, tetapi dalam menetapkan pun tidak boleh sembarangan. Suatu tatanan ontologis yang lebih luas ditetapkan dengan sistem ramalan numerologi yang disebut petungan atau ”hitungan”.

Sistem petungan memberikan suatu jalan untuk menyatakan hibungan ini dan dengan demikian menyesuaikan perbuatan seseorang dengan sistem itu. Petungan merupakan cara untuk menghindari semacam disharmoni dan tatanan umum alam yang hanya akan membawa ketidakuntungan. Di pihak lain, waktu sebagaimana telah disebutkan, bersifat seperti getaran, suatu periode waktu tertentu merupakan hasil dari koinsidensi hari dalam siklus lima dan tujuh hari dan dalam sistem petungan yang lebih cermat, merupakan bagian dari wuku minggu yang tiga puluh tujuh hari. Bagian dari salah satu bulan dalam dua belas bulan Islam menurut perhitungan rembulan, dan akhirnya bagian dari salah satu tahun dari perhitungan windu. Jadi, dalam kepindahan itu orang harus menyesuaikan arah pindah dengan angka- angka diletakkan kepada hari- hari itu.

Bagi para priyayi, sistem angka – angka hari ini adalah deskripsi empiris dari tatanan alam yang tertinggi. Angka- angka itu dianggap keluar dari kesadaran dalam orang- orang kramat yang termasyhur dan diwariskan dari generasi ke generasi, sering secara rahasia, dari guru kepada muridnya yang terpilih. Tetapi bagi kalangan abangan angka- angka itu cenderung diterangkan dalam pengertian roh, dalam apa yang disebut nagadina atau ”naga hari”.

Orang menggunakan naga wulan untuk kesempatan- kesempatan yang serius – perjalanan jauh, katakanlah ke Jakarta atau Surabaya, sementara naga dina kebanyakan digunakan untuk perpindahan di dalam kota. Naga tahun, ular tahun, berhubungan perjalanan yang sangat penting, seperti bepergian keluar Jawa.

Disini kita mempunyai suatu sistem yang agak sedikit umum, yang bisa memberitahukan seseorang tentang apakah yang ingin dilakukan itu baik atau tidak. Pertama- tama orang itu menghitung angka hari waktu ia melakukan ramalannya. Sistem dan kompleksitas begini biasanya merupakan milik para spesialis ; orang biasa lazimnya akan pergi ke dukun apabila ingin mengetahui sesuatu menurut ramalan.

Biaya Slametan

Penyelenggaraan slametan, tentu saja memerlukan uang, tetapi sukar untuk membuat suatu perkiraan tentang berapa besarnya, bukan saja karena orang tidak menyimpan catatan mengenai pengeluaran serupa itu, tetapi juga karena menggambarkan jumlah uang dalam mata uang asing benar – benar tidak banyak artinya justru menyesatkan, bahka kalau orang tahu nilai kurs – nya.

Memperkirakan arti ekonomis perayaan keagamaan mereka dari sudut pandangan orang Jawa sendiri, agar dengan begitu bisa memberikan yang benar kepada pembaca Barat tentang jumlah sebenarnya, kekayaan orang Jawa yang tersangkut disini memerlukan apa yang disebut fenomologi kompratif mata uang.

Jadi, dalam konteks ini, terutama berdasarkan perbandingan yang mutlak akal dari pengalaman di Amerika dan Mojokuto, bahwa angka pembagi tiga adalah realistis. Karenanya, jikalau slametan sederhana di Mojokuto memerlukan biaya sekitar 30 rupiah, akan keliru sekali untuk disimpulkan bahwa ini dapat dibandingkan dalam arti fenomenologis yang bagaimanapun dengan pengeluaran sebesar satu dollar di Amerika; sepuluh dollar akan lebih terasa sepadan.

Siklus Slametan: Kelahiran

Tingkeban

Disekitar kelahiran terkumpul empat slametan utama dan berbagai slametan kecil. Slametaan utama diselenggarakan pada bulan ketujuh masa kehamilan (tingkeban yang diselenggarakan hanya apabila anak yang di kandung adalah anak pertama bagi si ibu, si ayah, atau keduanya), pada kelahiran bayi itu sendiri (babaran atau brokohan), lima hari sesudah kelahiran (pasaran), dan tujuh bulan setelah kelahiran (pitonan). Penentuan waktunya, patut juga dicatat, bukanlah menurut bulan Barat yang hanya 30 hari tetapi dengan bulan orang Jawa yang 35 hari. Orang jawa menggabungkan lima hari pasaran (Legi, Paing, Pon, Wage, Kliwon) dengan hari-hari menurut mingguan Islam-Barat yang tujuh hari (Minggu, Senen, Selasa, Rabo, Kamis, Jumuwat, Setu).

Tingkeban mencerminkan perkenalan wanita Jawa kepada kehidupan sebagai ibu. Tingkeban itu diselenggarakan di rumah ibu si calon ibu. Dalam tingkeban sebagaimana dalam slametan, disamping hidangan, sajian gabungan baik kepada roh-roh maupun kepada para tetangga, ada lagi sajian khusus makhluk halus secara keseluruhan yakni sajen. Sajen tersebut diletakkan di berbagai sudut kamar dan ambang pintu di sekitar rumah pada Kamis malam, yang menurut perhitungan orang Jawa sudah merupakan bagian dari hari Jumat karena terbenamnya matahari menandai mulainya hari baru. Bila bagian slametan dari Tingkeban sudah selesai, sajen-sajen itu dibrerikan kepada dukun bayi yang memimpin upacara berikutnya dan yang biasanya juga membantu dalam kelahiran nanti. Ketika sambutan pembuka sudah selesai, donga (doa dari bahhasa Arab) telah dibacakan, hidangan telah dicicipi dan dibungkus untuk dibawa pulang. Maka upacara untuk Tingkeban yang sebenarnyapun mulailah. Upacara Tingkeban ditutup dengan penjualan rujak legi oleh sang istri, dibantu oleh suaminya, kepada semua yang hadir yang membayarnya dengan sebuah mata uang.

Babaran

Dekat menjelang kelahiran, beberapa orang mengadakan slametan kecil dengan anggota-anggota keluarga saja, yang hidanganya terdiri dari sepiring jenang dengan sebuah pisang yang telah dikupas di tengahnya untuk melambangkan kelahiran yang lancar.setelah anak dilahirkan, dukun mengambil pisau bambu yang tradisional (welad) untuk memotong tali pusar. Kemudian ia membubuhkan kunir (kunyit) untuk segala penyakit pada luka itu dan mengikat tali pusarnya. Suatu slametan kecil yang disebut babaran diselenggarakan ditandai oleh adanya sebutir telur ayam putih, karena sebelum dilahirkan setiap orang adalah sebutir telur.

Pasaran

Lima hari sesudah slametan pertama untuk bayi diselenggarakan, sebuah slametan yang agak lebih besar, pasaran dan pemberian nama si bayi. Hidangan pada pasaran hampir sama dengan hidangan pada upacara tangkeban, tetapi tanpa rujak legi dan tambahan makanan ringan dari pasar (krupuk ikan, berondong jagung, penganan dari beras yang diberi gula,  dan sebagainya)

Pitonan

Slametan tujuh bulanan atau pitonan. Makanan utamanya adalah semacam puding tepung beras yang disebut jenang, yang dibuat dalam tujuh warna. Pitonan harus diadakan pagi hari sebelum pukul 12 siang. Pitonan mengakhiri lingkaran slametan yang berpusat pada kelahiran, walaupun beberapa keluarga lainnya menyelenggarakan slametan kecil pada bulan ke dua belas.

SIKLUS SLAMETAN : KHITANAN DAN PERKAWINAN

Khitanan : Sunatan

Upacara untuk merayakan khitanan pada umumnya menyerupai pola upacara perkawinan, tentunya dengan meniadakan unsur-unsur yang berhubungan dengan upacara bersanding bagi kedua mempelai. Dalam beberapa hal, perkawinan dan khitanan merupakan upacara menyambut masa remaja pada orang Jawa; perkawinan bagi anak perempuan dan khitanan bagi anak laki-laki. Dalam hubungan ini keduanya harus dilihat sebagai pasangan yang tak terpisahkan dari upacara menyambut masa remaja bagi masing-masing jenis kelamin.

Menurut kebiasaan di Mujokuto, penyunatan dilakukan oleh seorang ahli yang disebut calak (atau bong) yang seringkali juga merangkap sebagai tukang cukur, jagal, atau dukun. Salah seorang calak yang terkenal ialah seorang haji yang juga merangkap sebagai dukun. Penghasilan dari prakteknya sebagai calak merupakan bagian terbesar dari seluruh pendapatannya, upah yang didapatkannya bergantung pada jarak pasien dari Mojokuto dan juga bergantung pada kedudukan kliennya.

Sesudah sistem petungan diterapkan dan hari baik dipilih, suatu slametan diselenggarakan  pada malam hari menjelang sunatan dilaksanakan. Slametan ini disebut manggulan, adalah sama persis dengan slametan midadareni. Di dalamnya dihidangkan semua jenis penganan, misalnya penganan dari beras ketan, bubur tiga warna, bubur dari sekam beras yang ditumbuk dan lain-lain, yang masing-masing dari penganan itu mempunyai filosofi sendiri-sendiri. Ada juga beberapa sesajen yang digunakan dalam acara itu. Setelah slametan selesai, anak laki-laki melaksanakan berbagai tata cara sebelum sunatan / ritual bagi orang Jawa. Setelah itu, anak  disunat oleh calak dengan menggunakan sebilah pisau yang disebut wesi tua.

Malam itu pesta dan hiburan berlangsung walaupun anak masih merasakan sakit dan lesu, ia harus duduk di hadapan para tamu undangan hampir sepanjang malam itu.

Perkawinan : Kepanggihan

Orang tua dari pihak pria masih melakukan pola lama yang terdapat dalam tata cara perkawinan yaitu mengenai lamaran resmi. Dalam lamaran, pihak keluarga dari pria melamar gadis itu. Selanjutnya nontoni yaitu pertemuan di mana calon mempelai laki-laki dan perempuan beserta para calon mertua hadir, si gadis menghidangkan teh kepada sang jejaka dan jejaka itu hanya memandang dari sudut matanya. Jikalau cocok maka selanjutnya diadakan upacara perkawinan. Upacara perkawinan itu disebut kepanggihan (‘pertemuan’) dan diselenggarakan di rumah pengantin perempuan. Anak laki-laki menurut tradisi harus memberi dua macam hadiah kepada pihak perempuan: paningset (berupa pakaian dan perhiasan) dan sasrahan (berupa seekor kerbau / sapi dan perabot rumah tangga). Hadiah yang pertama diberikan sesudah putusan perkawinan ditetapkan.

Perkawinan anak pertama dan terakhir pada umumnya diselenggarakan lebih besar daripada anak-anak perempuan lainnya. Perkawinan anak perempuan pertama disebut bubak yang mempunyai makna sama dengan babak: membersihkan tanah dan membuka suatu daerah perawan. Upacara anak perempuan terakhir disebut punjung tumplek artinya “penghormatan yang penghabisan”.

Dalam islaman, slametan perkawinan disebut juga midadareni, diselenggarakan pada malam hari menjelang upacara yang sebenarnya. Sesudah slametan, gadis didudukkan di tengah sentong, sementara ibunya melaksanakan upacara membeli kembang mayang. Perkawinan berlangsung pagi harinya. Hari perkawinan ditentukan dengan sistem petungan.

Pada saat yang baik sebelum tengah hari, pengantin lelaki dan pengiringnya pergi ke kantor naib dengan dipimpin oleh modin. Pengantin perempuan biasanya tidak ikut oleh karena itu diwakili oleh wali dari anggota keluarganya yang laki-laki yang masih hidup. Sang wali secara resmi meminta naib mengawinkan anak perempuannya dengan pengantin laki-laki dan proses pelaksanaan ijab-kabul pun dimulai. Setelah ijab-kabul pengantin laki-laki dan perempuan pun sah menjadi suami-isteri.

Bagi kalangan santri ini merupakan bagian yang terpenting dalam perkawinan, yang membuat perkawinan menjadi sah di mata Tuhan dan di depan pemerintahan. Proses ijab dilakukan di hadapan tamu-tamu pada resepsi resmi. Bagi kalangan abangan, bagian yang penting itu akan menyusul.

Di rumah mempelai perempuan, diadakan pesta/ resepsi. Pada pintu masuk dipasang janur kuning sebagai tanda bahwa keluarga itu sedang “mempunyai kerja” (duwe gawe). Pengantin wanita (manten) bedandan sebagai seorang puteri ratu , sedang pengantin pria (manten) berdandan sebagai pangeran. Setiap perkawinan memerankan kembali perkawinan kerajaan dan pakaian yang dipakai pengantin itu selayaknya pakaian kerajaan. Di Mojokuto, seorang priyayi tinggi yang mengawini gadis dari kelas yang lebih rendah tidak akan hadir dalam pesta itu, tetapi hanya mengirimkan keris atau foto penganti pria sehingga gadis itu pun dinikahkan dengan keris atau fotonya.

Di Mojokuto pola busana tradisional hanya sering didapati di kalangan priyayi. Gadis-gadis abangan di Mojokuto mengenakan pakaian Barat yang kualitasnya tentu lebih bagus. Anak lelak abangan berjas Barat, bersarung dan berpici hitam dari seberang. Gadis-gadis santri, khususnya di dalam kota, mengenakan gaun putih bersih, yang agak mirip dengan gaun perkawinan Barat, dan sehelai kerudung, sementara pengantin pria mengenakan pakaian Barat dengan pici di kepala. Gadis-gadis santri di desa mengenakan kerudung dengan pakaian Jawa yang biasa.

Pengantin perempuan muncul dari rumah dan diikuti pengantin pria yang kemudian masing-masing saling melempar dengan daun sirih itu. Dalam perkawinan priyayi akan dijumpai upacara sembah, sementara kalangan santri hanya melakukan salaman. Setelah upacara “panggih”, kembang mayang dilemparkan ke atap, pasangan mempelai menyalami para tamu dan upacara itu pun selesai.

Untuk mempelai perempuan yang belum mengalami datang bulan, ditambah lagi upacara khusus yang disebut jago-jagoan. Jikalau telur yang didudukinya pecah maka gadis itu pernah mangalami datang bulan, tapi jika telur itu tidak pecah maka mempelai perempuan disebut sebagai manten pangkon “mempelai pangkuan”.

Aspek Sosial dan Ekonomi Upacara Khitanan dan Perkawinan

Orang Jawa menyebut upacara perkawinan dan khitanan dengan duwe gawe atau “mempunyai kerja”, dan menganggapnya sebagai contoh yang baik sekali untuk sebuah nilai yang mereka sebut rukun, yang barangkali akan sangat tepat jika diterjemahkan dengan “kerja sama yang dijadikan tradisi”. Rukun sebagai suatu nilai merupakan bentuk-bentuk kerja sama antarindividu yang secara spesifik terbatas dalam suatu konteks sosial yang diberi batasan secara jelas.

Sebagai suatu upacara, duwe gawe mendekati generalisasi dan pengikhtisaran kewajiban masing-masing orang untuk rukun, seperti juga kewajiban untuk menaati institusi lainnya dalam masyarakat tradisional Jawa, karena fungsi sosial upacara keagamaan adalah sekedar memberi generalisasi dan ikhtisar yang bisa dimengerti atas praktik-praktik sosial yang sudah disepakati dalam bentuk simbolis.

Pada segi konsumsi, aspek sekuler perkawinan dan khitanan biasanya agak terpisah dari aspek-aspek religius yang langsung. Di kalangan masyarakat, menyelenggarakan resepsi perkawinan atau pun khitanan merupakan suatu keharusan bahkan bagi masyarakat golongan bawah (relatif miskin).

Sumber biaya/ kekayaan dan bantuan tenaga yang digunakan untuk acara resepsi itu berasal dari: pertama bisa menggunakan tenaga sanak keluarganya dan terutama kalau ia kaya dan mempunyai kedudukan tinggi, tenaga teman-temannya juga. Salah satu contohnya, setiap orang yang menyumbangkan tenaga pada slametan perempuan hamil beserta suaminya berhak untuk meminta bantuan tenaga barang sehari untuk maksud yang sama dikemudian hari. Situasi semacam itu adalah suatu imbalan jasa timbal balik.

Untuk kalangan santri, kelompok wanita yang menjadi organ kedua partai politik Islam merupakan semacam tenaga kerja bergilir untuk pesta-pesta perkawinan dan khitanan masing-masing ; untuk kalangan priyayi organisasi wanita nasionalis Perwari merupakan kelompok macam itu; untuk kalangan abangan kelompok-kelompok wanita yang berhubungan dengan serikat-serikat buruh melakukan peranan yang sama  juga. Dalam hal ini mungkn asas timbal balik tidak begitu pasti, sumbangan yang umum sifatnya itu sering hanya merupakan tindakan simbolik saja.

Sumber yang kedua, dengan membelanjakan tabungannya sendiri (misal menjual sapi/ kerbaunya) atau menggadaikan barang berharga (emas). Berhutang kepada teman atau pemberi kredit merupakan sumber ketiga. Sumber pembiayaan keempat adalah buwuh. Buwuh adalah jenis sumbangan uang yang khas dari para tamu kepada tuan rumah atas hidangan dan pelayanan yang mereka terima. Jadi buwuh itu, sebagaimana juga sumbangan tenaga, secara ideal merupakan suatu bentuk rukun.

Di kalangan priyayi, di mana kecenderungan ini tampak sangat jelas, pola buwuh yang menyangkut uang ditolak sebagai suatu hal yang tidak senonoh, dan pemberian hadiah terutama dalam perkawinan, menggantikannya.

SIKLUS SLAMETAN : KEMATIAN

Pemakaman : Layatan

Berlawanan dengan upacara-upacara pergantian tahap lainnya, semua pemakaman (layatan) tak pelak lagi masih diselenggarakan oleh modin, pejabat keagamaan resmi di desa.

Kalau terjadi kematian di suatu keluarga, maka hal pertama yang harus dilakukan adalah memanggil modin, dan kedua menyampaikan berita di daerah sekitar bahwa suatu kematian telah terjadi. Pemakaman orang Jawa dilaksanakan secepat mungkin sesudah kematian.

Alasan yang lazim dikemukakan bila ada orang bertanya mengapa penguburan itu begitu tergesa-gesa adalah bahwa roh orang yang meninggal itu berkeliaran tak menentu (seringkali dibayangkan sebagai seekor burung) sampai jasadnya dikuburkan, tinggalkan. Makin cepat ia dikuburkan, makin cepat pula rohnya kembali ke tempatnya yang layak.

Beberapa slametan yang bentuknya persis sama, tetapi dengan ukuran yang lebih besar dalam arti jumlah tamu dan panjangnya pembacaan doa, diselenggarakan pada hari ketiga, ketujuh, keempat puluh, dan keseratus si mati meninggal, pada peringatan tahu pertama dan kedua, dan hari keseribu si mati meninggal.

Kepercayaan dan Sikap Terhadap Kematian

Iklas, merelakan keadaan secara sadar, merupakan kata yanfg jadi pedoman, dan walaupun seringkali sulit diperoleh, namun senantiasa diusahakan orang. Ada berapa variasi dalam kepercayaan terhadap takdir ini, karena beberapa orang berpendapat bahwa umur orang akan bertambah kalau ia bertingkah laku sesuai denga etika, dan orang lain lagi (atau kadang-kadang juga orang yang sama – cocok tidaknya logika dua kepercayaan yang berlainan biasanya tidak merupakan masalah yang serius bag kalangan abangan) berpendapat bahwa kematian prematur mungkin merupakan hasil dari kecelakaan hebat, tenung, berkawan dengan roh jahat, mengucapkan sumpah palsu, perjalanan hiup yang terlalu cepat, kekecewaan hati yang terus-menerus berkepanjangan, atau semacam luka berat yang mendadak.

Tiga pengertian terpisah tentang hidup dan sesudah mati, lagi-lagi sering dipegang bersama-sama oleh individu yag sama, suatu hal yang bisa terjadi di Mojokunto. Yang pertama adalah versi Islam mengenai konsep balas jasa abadi, mengenai hukum dan pahala di akhirat untuk dosa-dosa dan amal saleh yang bersangkutan. Yang lebih populer di kalangan abangan adalah konsep sampurna, yang secara harfiah berarti “lengkap” atau “sempurna”, tetapi yangmemberikan indikasi dalam konteks ini bahwa kepribadian individual menghilang seluruhnya sesudah ia meninggal da tak ada lagi yang tinggal kecuali debu. Pandangan ketiga, yang dipegang secara sangat luas oleh semua orang kecuali santri, yang menganggapnya sebagai bid’ah, adalah pengertian tentang reinkarnasi-bahwa ketika seorang meninggal, jiwanya masuk segera sesudah itu ke dalam suatu embriyo dalam rangka kelahirannya kembali.

Siklus Slametan:

Slametan menurut Penanggalan

Slametan yang berhubungan dengan titik tahap kehidupan, ada siklus lain yang kurang ditekankan dan tak begitu meriah, yang berhubungan dengan kalender umat islam

  • 1 Sura : merupakan hari raya Budha , karena hanya dirayakan oleh mereka Yang secara sadar anti Islam.
  • 10 Sura : untuk menghormati Hasan dan Husein yang merupakan cucu Nabi, yang menurut cerita ingin mengadakan slametan untuk Nabi Muhammad ketika beliau sedang berperang melawan kaum Kafir.
  • 12 Mulud : menurut konvensi, Nabi Muhammad dilahirkan dan wafat. Slametan ini kemudian disebut dengan Muludan.
  • 27 Rejeb : untuk merayakan mikraj, perjalanan Nabi Muhammad menghadap Tuhan dalam satu malam.
  • 29 Ruwah : permulaan puasa yang disebut dengan Megengan. Slametan ini diadakan paling sedikitnya salah seorang dari orang tuanya yang sudah meninggal.
  • 21, 23, 25, 27 atau 29 Pasa : diadakan pada salah satu diantaranya, yang disebut dengan maleman.
  • 1 Syawal : mengakhiri puasa yang disebut Bruwah; nasi kuning dan sejenis telur dadar merupakan hidangan yang spesial, kemudian ddilanjutkan berziarah kemakam keluarga atau orang tua mereka.
  • 7 Syawal : suatu slametan kecil yang disebut Kupatan.
  • 10 Besar : merupakan hari penghormatan terhadap pengorbanan Nabi Ibrahim dan hari jemaah haji berkumpul di Mekah untuk melaksanakan lagi pengorbanan itu.

Slametan Desa : Bersih Desa

Berhubungan dengan Pengudusan perhubungan dalam ruang. Dimana hidangan dipersembahkan kepada danyang desa di tempat pemakamannya. Bersih desa selalu diadakan pada bulan Sela, bulan kesebelas Tahun Kamariah.

Bersih desa, yang mulanya dirancang untuk mengintegrasikan rakyat yang kurang akrab satu dengan yang lain, namun kadang – kadang juga mengalami kesulitan untuk melakukan fungsi di dalam konteks yang lebih bersifat kota.

Slametan selingan

Slametan yang sekali – sekali diadakan untuk suatu pperistiwa atau maksud khusus yang tidak secara khas berulang kembali pada rangkaaian jarak aktu ttertentu. Slametan : pindah rumah, ganti nama, memulai perjalanan, mimpi buruk, menolak atau meminta hujan, ulang tahun klub – klub atau organisasi persaudaraan, slametan karena tenung, untuk pengobatan dan slametan selingan. Namun pada perangsang lain untuk mengadakan slametan selingan bisa disebabkan karena orang memeluk ajaran – ajaran “bid’ah” seorang guru yang diangkatnya sendiri. Pengaruh kebiasaan Belanda – kebanyakan dikalangan priyayi – kadang – kadang membawa timbulnya slametan yang keluar dari kebiasaan beberapa orang misalnya mengadakan slametan kawin perak atau pesta pertunangan. Ada keadaan – keadaan tradisional yang mengharuskan untuk diadakan slametan seperti, slametan yang harus diadakan untuk anak tunggal agar ia tidak jadi mangsa Batara Kala, Dewa Hindu yang jahat.