“kula lair nang donya karna karsa Ndika, kula duwe tubuh karna karsa Ndika. kula namung sulapan, sulapane Kang Manguntur” ucap lelaki putra Akhadiyat yang tampan itu. Laru tangisnya menjadi-ja, Hanya ada “kula lan Ndika” ketika kesadaran pribadinya hadir, dan ia kehilangan dunianya. Cebolang di akhir jalan pulangnya #centhini #petaniSokawati

View on Path

Perdebatan Intrapersona. Mendekontruksi diri, kembali ke ranah “Nir”. Nyenyak rasanya bukan lagi kata penutup hari. Atau harusnya “seleh-semeleh” dulu dari keinginan, lebih lagi menunda kebutuhan. Nasehat sekeping cermin pada bilah wajah yang terancam. #petaniSokawati

View on Path

Masih edisi bumi mutihan.

“Kamulyaaken dening Kangjeng Raden Adipati Danureja, Pepatih Dalem ing Nagari Ngayugyakarta ingkang kaping Nem. Nuju dinten Kemis Kliwon, tanggal kaping 7 wulan Jumadilawal taun Dal Ongka 1839 utawi tanggal Walandi kaping 22 Agustus taun 1909.”

Masjid Kanggotan-Pleret- Yogyakarta #petaniSokawati #masjid

View on Path

Salah satu inskripsi di “tanah mutihan” Butuh – Sokawati.

Penget. Nalika pambabaring pambangun pasareyanipun ingkang Sinuhun Kangjeng Sultan Hadi Wijaya ing Pajang. Ing dinten Kemis Legi, Wuku Gumbreg, Mangsa Kalih, Windu Sancaya, tanggal kaping 28 wulan Sapar taun Alip 1859. Gatraning pasareyan kasarireng ratu utawi kaping 16 Agustus 1928, Kaesthi Jumbuh trustha ing Narendra.

Inskripsi pembangunan Makam Butuh, Sragen. #petaniSokawati

View on Path

Koning-koning

Tembang dolanan. Setiap karya tentunya mempunyai maksud dari penciptaan karya tersebut. Lagu Koning-koning menurut Rahayu Supanggah ditafsirkan sebagai wujud kritik sosial kepada penguasa.

koning-koning kawula, kaé lara kaé lara
ngentèni si kodhok langking
ndhok siji kapipilan, ndhok loro kecombaran
dhoyak-dhoyak tawon boni
ni ni cangkir cendhana,
kiwa mbang cepaka
sisih mbang telasih
sabuk bara kayu loka
bung kecibung, gentalung mentiyung, nèblem
lir gunalir byar segelung-gelung malang
segelung-gelung kondhé,
ambuné walang kudhèdhèr
asesondhèr, angelèwèr

Terjemahan bebas:

Koning-koning kawula kaé lara (Eh para bangsawan, wakyatmu itu sedang sakit)
Ngentèni si kodhok langking (menunggu katak hitam)
Endhog siji kapipilan (telur satu juga tak utuh)
Endhog loro kacombaran (dua telur juga rusak)
Dhoyak-dhoyak tawon boni (berdatangan seperti lebah)
Nini cangkir cendhana (nenek cangkir cendana)
Kiwa mbang cempaka (kiri bunga cempaka)
Sisih mbang telasih (sisi lainnya bunga Telasih)
Sabuk bara kayu loka (sabuk bara=tanda pangkat, kayu loka= jenis senjata )
Bung kecibung (suara percikan air)
Gentalung nèblem (bertingkah bebas dibiarkan)
Lir gunalir byar (seperti sudah kebiasaan)
Segelung-gelung malang, segelung-gelung kondhe (semau-maunya sendiri)
Ambuné walang (perhatiannya hanya semu, walang = uwal ilang “pergi hilang”)
Akedhèdhèr sesondhèr angalèwè (lalu mencari kesenangan lainnya)

Kritik yang tersirat dalam tembang ini menurut Rahayu Supanggah “Hai para raja atau bangsawan, lihatlah para rakyatmu yang pada menderita. Mereka itu hanya mengharapkan datangnya katak hitam, katak buruk yang tidak ada manfaatnya dan ngak enak dimakan seperti layaknya kata hijau, namun apa hasilnya ? Anak yang semata wayangpun kamu ambil, dan telah banyak anak-anak kami lainnya yang kamu rusak, atau kamu lecehkan. Kamu datang ramai-ramai bagai lebah yang hanya ingin menghisap madu. Kepada keluarga kami kamu janjikan sebuah kedudukan dan kebahagiaan. Kamu janjikan dan berikan madu di tangan kirimu, sedangkan di tangan kananmu kau berikan racun. Sekali lagi kamu menjanjikan kedudukan atau  kepangkatan. Tapi yang kamu inginkan sebenarnya hanyalah anak perempuan kami yang cantik. Kamu hanya ingin menikmati mereka yang cantik yang bersanggul dan berkonde dengan akal busukmu. Sedangkan bagi mereka, wanita-wanita  itu hanya mendapatkan malu yang luar bisa, bagaikan bau busuknya walang sangit yang tersebar kemana-mana. Sedangkan kamu para raja dan kronimu, hanya akan pesta dan terus bersenang-senang dengan menari-nari dan kemudian akan meninggalkan mereka, para wanita itu, para anak keluarga kami, tanpa disertai dengan rasa tanggung jawab.” (Supanggah, 1996: 9)

Peran serta para budayawan dalam mengawal kehidupan berbangsa dan bernegara sangat penting memberi pelajaran moral bagi setiap kita. rdr

Supanggah, Rahayu. 1996. Seni Tradisi, bagaimana ia berbicara ? Makalah disampaikan pada penataran peneliti madya. Surakarta: STSI Surakarta.

Ki Ageng Donoloyo

Pada mulanya Donoloyo adalah nama sebuah hutan yang berada di tepian hulu Bengawan Solo. Kemudian nama inilah yang digunakan oleh masarakat sekitar hutan itu untuk menyebut seorang laki-laki yang terkenal santun dan bijak lagi sakti yang kemudian babat alas (membabat hutan) untuk ia diami kelak bersama keluarganya. Orang-orang sekitar hutan itu menyebutnya Ki Ageng Donoloyo.

Ki Ageng (sebutan untuk orang yang dihormati di suatu desa) Donoloyo adalah seorang laskar Majapahit yang tertinggal dari pasukannya di daerah Wonogiri sebelah timur, tepatnya di desa Sambirejo kecamatan Slogohimo sehingga ia memutuskan untuk tidak kembali dan menetap di wilayah itu (ada yang berpendapat hal ini diperkirakan oleh pengaruh raja mereka, Airlangga yang memutuskan meninggalkan kerajaan untuk mencari keabadian dengan bertapa, namun ada pula versi lain yang mengatakan bahwa mereka berdua tidak pulang ke Majapahit akibat terjadi peperangan saudara dan desakan dari kerajaan Islam Demak).

(Menurut versi lain pula banyak orang mengatakan bahwa Ki Ageng masih kerabat dekat dengan Airlangga, penguasa Majapahit ketika itu yang mana kemudian memberikan sebuah wilayah untuk dikembangkan menjadi sebuah desa layaknya Gajah Mada).

Ketika tertinggal ia tidak sendiri melainkan ia bersama seorang laskar lain yang kelak dinamakan oleh orang-orang sekitarnya dengan nama Ki Ageng Sukoboyo. Namun kemudian mereka memutuskan untuk berpisah mencari wilayah sendiri-sendiri untuk mereka jadikan tempat menepi dan kelak pada akhirnya berkeluarga. Ki Ageng Donoloyo menuju ke selatan sementara Ki Ageng Sukoboyo menuju ke utara di hutan Sukoboyo setelah terjadi pertengkaran kecil di tengah-tengah wilayah yang kemudian kelak mereka diami. Ki Ageng Sukoboyo mempunyai watak yang keras sementara Ki Ageng Donoloyo sebaliknya.

Setelah beberapa tahun kemudian Ki Ageng Donoloyo dicari oleh seorang kakak perempuannya. Hingga pada akhirnya suatu saat kakak Ki Ageng Donoloyo itu dipersunting oleh Ki Ageng Sukoboyo. Hal inilah yang kemudian mempererat kembali ikatan di antara keduanya meski pada mulanya mereka sempat berseteru memperebutkan tempat menepi.

Masalah kedua pun muncul (kelak masalah ini merenggangkan kembali persaudaraan mereka) ketika Ki Ageng Donoloyo ingin mengunjungi kakak perempuannya setelah sekian lama tidak bertemu. Kejadian ini adalah ketika Ki Ageng Donoloyo hendak pulang ke daerahnya, ia terpaku pada sekitar kediaman Ki Ageng Sukoboyo yang tumbuh beberapa pohon Jati besar, tinggi menjulang. Ia tidak tahu sebelumnya kalau di sekitar rumah kakak iparnya itu tumbuh pohon yang belum ia temui selama hidupnya. Pohon itu seperti mengeluarkan sinar. Terbersit kemudian dalam hatinya untuk bertanya pohon apakah itu kepada Ki Ageng Sukoboyo. Kamudian dijelaskan bahwa pohon itu bernama pohon “jati” pohon yang memiliki batang kayu berkualitas paling baik (sejatinya kayu) di Kedhuang Ombo (tanah Jawa), dan tidak sembarang orang boleh menanamnya. Mendengar penjelasan itu Ki Ageng Donoloyo sangat tertarik untuk meminta klentheng (biji kayu jati) untuk ia tanam di daerahnya. Namun ketika ia mengutarakan niatnya itu, justru ia mendapatkan tolakan. Ki Ageng Sukoboyo marah-marah tak terkira mendengar permintaan Ki Ageng Donoloyo. Namun dengan sabar Ki Ageng Donoloyo hanya menunduk dan diam mendapatkan semprotan marah kakak iparnya itu. Lantas ia pun berpamitan untuk kembali ke niatnya semula yakni pulang ke daerahnya (kelak disebut hutan Donoloyo).

Sesampainya di tengah perjalanan ia tercengang keget ketika kakak perempuannya (istri Ki Ageng Sukoboyo) meneriakinya dari belakang. Ia pun berhenti dan menoleh. Sang kakak menghampiri dan berkata bahwa ia telah mendengar percakapannya dengan Ki Ageng Sukoboyo dan juga permintaan tersebut. Sang kakak menyarankan agar ia satu purnama lagi kembali dan membawa tongkat dari bambu uluh (jenis bambu paling kecil yang biasa dipakai sebagai tempat membran terompet tahun baru) untuk menyembunyikan biji jati dengan cara menghunjamkan tongkat itu di atas klentheng / biji jati sehingga biji tersebut akan masuk dengan sendirinya. Sang kakak melarangnya untuk waktu dekat ia kembali lagi ke rumahnya sebab ia khawatir Ki Ageng Sukoboyo masih merasa tersinggung dan menyimpan marah dengan permintaan adiknya tempo hari.

Dan sampailah satu purnama itu, Ki Ageng Donoloyo akhirnya berhasil mencuri dua biji jati dari pekarangan Ki Ageng Sukoboyo meski ketika itu mereka berdua bersama-sama tampak asik berjalan-jalan sembari bercakap-cakap di bawah pohon jati kesayangan Ki Ageng Sukoboyo.

Meski berhasil mencuri dua biji klentheng dan merasa yakin jika Ki Ageng Sukoboyo tidak mengetahui tindakan culasnya ini ia masih saja gugup, dan hal ini membuatnya pulang dengan tergesa-gesa dan membuat sepasang kakinya sedikit berlari.

Sampailah kemudian ia di hutan Denok (sekarang desa Made). Ia beristirahat di bawah pohon bulu (semacam beringin) yang rindang. Di situlah kemudian satu biji terjatuh dan tumbuh besar dengan dililit pohon bulu (pohon jati berada tepat di tengah lilitan pohon bulu sehingga terlihat unik, tampak seperti pohon bulu yang merangkul pohon jati). Jati itu kemudian dinamakan jati Denok. Sementara satu biji kemudian ditanam di hutan Donoloyo yang kelak dinamakan Jati Cempurung, yang juga kemudian dipercayai digunakan sebagai soko guru pembangunan masjid Demak kali pertama. Jati Cempurung ini memiliki keunikan yakni sore ditanam paginya sudah tumbuh dengan berdaun dua. Maka tidak heran jika kemudian konon jati ini tumbuh dengan cepat dan besar sehingga bayang-bayangnya ketika pagi sampai di tengah alun-alun Demak.

Maka semenjak itulah ketika jati Cempurung sudah beranak-pinak Ki Ageng Donoloyo melarang warga sekitar hutan Donoloyo untuk membawa atau menjual pohon jati dari Donoloyo kepada orang-orang di utara jalan (sekarang jalan raya Wonogiri-Ponorogo yang dipercayai sebagai tempat pertengkaran pertama kali antara Ki Ageng Donoloyo dengan Ki Ageng Sukoboyo ketika berebut tempat untuk menepi) sebab hal itu akan berdampak kematian, kayu jati itu dengan sendirinya akan berubah menjadi jengges tenung (santhet) pada yang membawa (mengangkut) dan yang menjualnya.

Konon pula kemudian Jati yang berasal dari hutan Donoloyo semua memiliki ciri growong di tengah batangnya meskipun sedikit, sebab hal ini dikarenakan induknya (Jati Cempurung) adalah dari hasil mencuri. Selain itu keunikan lainnya adalah adanya suatu cerita yang mengatakan bahwa ketika keraton Surakarta membutuhkan dua batang pohon jati yang berasal dari hutan Donoloyo dapat kembali lagi ke asalnya setelah seorang ndalem (kerabat keraton) mencemoohnya. Jati itu kembali ke sisi hutan Donoloyo paling barat, tepatnya di desa Pandan (dan dua batang pohon jati itu sampai sekarang masih ada. Orang-orang mempercayai dua batang pohon jati yang tergeletak di pinggir sebuah sawah di desa Pandan itu adalah Jati yang kembali akibat dicemooh orang nDalem Keraton Surakarta).

Ki Ageng Donoloyo

Ki Ageng Donoloyo sangat takjub dengan pertumbuhan jati yang ditanamnya ini. Pohon jati itu tumbuh dengan luar biasa. Dengan waktu yang tidak lama pohon jati itu tumbuh besar menjulang tinggi. Pohon jati itu memberinya kebanggaan luar biasa. Setiap hari ia memandangnya sembari memanjakan burung perkutut putih kesukaanya sembari pula menghisap candu dengan pipa panjang yang dihisap dari samping bersama anak-anak dan istrinya (versi lain mengatakan bahwa Ki Ageng Donoloyo tidak beristri). Sesekali sembari menikmati pohon jati itu Ki Ageng menanggap ledhek mbarang (orkes keliling) jika kebetulan lewat.

Hingga pada akhirnya datanglah utusan Raden Patah dari kerajaan Demak menemui Ki Ageng Donoloyo untuk membeli pohon jati yang ditanamnya itu berapapun harganya. Ki Ageng Donoloyo pun memperbolehkannya, tapi ia tidak meminta apa-apa sebagai gantinya. Ia hanya meminta sebuah sarat “Lemah Kedhuang Ombo yen ono pagebluk njaluk kalis lan ojo kanggo papan peperangan : tanah Jawa ini jika ada paceklik maka segeralah bisa diatasi dan jangan dijadikan sebagai ajang peperangan.” Maka segeralah utusan itu ke Demak dan menyampaikan sarat Ki Ageng kepadanya. Maka Raden Patah pun menyanggupinya.

Raden Patah pun mengutus beberapa dari Wali Songo untuk menebang jati Cempurung. Sebelum menebang para wali itu berembug di sebuah desa mengenai penebangan hingga cara membawa kayu jati itu ke Demak sebab ukuran pohon jati yang luar biasa besarnya (sekarang desa tempat berembug para Wali itu dinamakan desa Pule kecamatan Jatisrono, yang berasal dari kata “Ngumpule” yang berarti berkumpul untuk berembug). Kemudian disepakatilah cara mengangkut Jati Cempurung itu setelah ditebang yakni dengan cara dihanyutkan di hulu sungai Bengawan Solo (tepat persis di belakang punden) ketika musim penghujan. Konon pula setelah Jati Cempurung itu ditebang batang paling ujung/ pucuk jatuh di sebuah desa di kecamatan Sidoarjo yang berjarak kurang lebih 18 km sehingga desa itu dinamakan desa Pucuk.

Setelah penebangan Jati Cempurung itulah menurut banyak orang kemudian Ki Ageng Donoloyo sudah tak tampak lagi di kediamannya. Banyak orang mempercayainya Ki Ageng telah moksa, hilang bersama raganya.

sumber  : Disparta Kab. Wonogiri

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.