Koning-koning

Tembang dolanan. Setiap karya tentunya mempunyai maksud dari penciptaan karya tersebut. Lagu Koning-koning menurut Rahayu Supanggah ditafsirkan sebagai wujud kritik sosial kepada penguasa.

koning-koning kawula, kaé lara kaé lara
ngentèni si kodhok langking
ndhok siji kapipilan, ndhok loro kecombaran
dhoyak-dhoyak tawon boni
ni ni cangkir cendhana,
kiwa mbang cepaka
sisih mbang telasih
sabuk bara kayu loka
bung kecibung, gentalung mentiyung, nèblem
lir gunalir byar segelung-gelung malang
segelung-gelung kondhé,
ambuné walang kudhèdhèr
asesondhèr, angelèwèr

Terjemahan bebas:

Koning-koning kawula kaé lara (Eh para bangsawan, wakyatmu itu sedang sakit)
Ngentèni si kodhok langking (menunggu katak hitam)
Endhog siji kapipilan (telur satu juga tak utuh)
Endhog loro kacombaran (dua telur juga rusak)
Dhoyak-dhoyak tawon boni (berdatangan seperti lebah)
Nini cangkir cendhana (nenek cangkir cendana)
Kiwa mbang cempaka (kiri bunga cempaka)
Sisih mbang telasih (sisi lainnya bunga Telasih)
Sabuk bara kayu loka (sabuk bara=tanda pangkat, kayu loka= jenis senjata )
Bung kecibung (suara percikan air)
Gentalung nèblem (bertingkah bebas dibiarkan)
Lir gunalir byar (seperti sudah kebiasaan)
Segelung-gelung malang, segelung-gelung kondhe (semau-maunya sendiri)
Ambuné walang (perhatiannya hanya semu, walang = uwal ilang “pergi hilang”)
Akedhèdhèr sesondhèr angalèwè (lalu mencari kesenangan lainnya)

Kritik yang tersirat dalam tembang ini menurut Rahayu Supanggah “Hai para raja atau bangsawan, lihatlah para rakyatmu yang pada menderita. Mereka itu hanya mengharapkan datangnya katak hitam, katak buruk yang tidak ada manfaatnya dan ngak enak dimakan seperti layaknya kata hijau, namun apa hasilnya ? Anak yang semata wayangpun kamu ambil, dan telah banyak anak-anak kami lainnya yang kamu rusak, atau kamu lecehkan. Kamu datang ramai-ramai bagai lebah yang hanya ingin menghisap madu. Kepada keluarga kami kamu janjikan sebuah kedudukan dan kebahagiaan. Kamu janjikan dan berikan madu di tangan kirimu, sedangkan di tangan kananmu kau berikan racun. Sekali lagi kamu menjanjikan kedudukan atau  kepangkatan. Tapi yang kamu inginkan sebenarnya hanyalah anak perempuan kami yang cantik. Kamu hanya ingin menikmati mereka yang cantik yang bersanggul dan berkonde dengan akal busukmu. Sedangkan bagi mereka, wanita-wanita  itu hanya mendapatkan malu yang luar bisa, bagaikan bau busuknya walang sangit yang tersebar kemana-mana. Sedangkan kamu para raja dan kronimu, hanya akan pesta dan terus bersenang-senang dengan menari-nari dan kemudian akan meninggalkan mereka, para wanita itu, para anak keluarga kami, tanpa disertai dengan rasa tanggung jawab.” (Supanggah, 1996: 9)

Peran serta para budayawan dalam mengawal kehidupan berbangsa dan bernegara sangat penting memberi pelajaran moral bagi setiap kita. rdr

Supanggah, Rahayu. 1996. Seni Tradisi, bagaimana ia berbicara ? Makalah disampaikan pada penataran peneliti madya. Surakarta: STSI Surakarta.

Ki Ageng Donoloyo

Pada mulanya Donoloyo adalah nama sebuah hutan yang berada di tepian hulu Bengawan Solo. Kemudian nama inilah yang digunakan oleh masarakat sekitar hutan itu untuk menyebut seorang laki-laki yang terkenal santun dan bijak lagi sakti yang kemudian babat alas (membabat hutan) untuk ia diami kelak bersama keluarganya. Orang-orang sekitar hutan itu menyebutnya Ki Ageng Donoloyo.

Ki Ageng (sebutan untuk orang yang dihormati di suatu desa) Donoloyo adalah seorang laskar Majapahit yang tertinggal dari pasukannya di daerah Wonogiri sebelah timur, tepatnya di desa Sambirejo kecamatan Slogohimo sehingga ia memutuskan untuk tidak kembali dan menetap di wilayah itu (ada yang berpendapat hal ini diperkirakan oleh pengaruh raja mereka, Airlangga yang memutuskan meninggalkan kerajaan untuk mencari keabadian dengan bertapa, namun ada pula versi lain yang mengatakan bahwa mereka berdua tidak pulang ke Majapahit akibat terjadi peperangan saudara dan desakan dari kerajaan Islam Demak).

(Menurut versi lain pula banyak orang mengatakan bahwa Ki Ageng masih kerabat dekat dengan Airlangga, penguasa Majapahit ketika itu yang mana kemudian memberikan sebuah wilayah untuk dikembangkan menjadi sebuah desa layaknya Gajah Mada).

Ketika tertinggal ia tidak sendiri melainkan ia bersama seorang laskar lain yang kelak dinamakan oleh orang-orang sekitarnya dengan nama Ki Ageng Sukoboyo. Namun kemudian mereka memutuskan untuk berpisah mencari wilayah sendiri-sendiri untuk mereka jadikan tempat menepi dan kelak pada akhirnya berkeluarga. Ki Ageng Donoloyo menuju ke selatan sementara Ki Ageng Sukoboyo menuju ke utara di hutan Sukoboyo setelah terjadi pertengkaran kecil di tengah-tengah wilayah yang kemudian kelak mereka diami. Ki Ageng Sukoboyo mempunyai watak yang keras sementara Ki Ageng Donoloyo sebaliknya.

Setelah beberapa tahun kemudian Ki Ageng Donoloyo dicari oleh seorang kakak perempuannya. Hingga pada akhirnya suatu saat kakak Ki Ageng Donoloyo itu dipersunting oleh Ki Ageng Sukoboyo. Hal inilah yang kemudian mempererat kembali ikatan di antara keduanya meski pada mulanya mereka sempat berseteru memperebutkan tempat menepi.

Masalah kedua pun muncul (kelak masalah ini merenggangkan kembali persaudaraan mereka) ketika Ki Ageng Donoloyo ingin mengunjungi kakak perempuannya setelah sekian lama tidak bertemu. Kejadian ini adalah ketika Ki Ageng Donoloyo hendak pulang ke daerahnya, ia terpaku pada sekitar kediaman Ki Ageng Sukoboyo yang tumbuh beberapa pohon Jati besar, tinggi menjulang. Ia tidak tahu sebelumnya kalau di sekitar rumah kakak iparnya itu tumbuh pohon yang belum ia temui selama hidupnya. Pohon itu seperti mengeluarkan sinar. Terbersit kemudian dalam hatinya untuk bertanya pohon apakah itu kepada Ki Ageng Sukoboyo. Kamudian dijelaskan bahwa pohon itu bernama pohon “jati” pohon yang memiliki batang kayu berkualitas paling baik (sejatinya kayu) di Kedhuang Ombo (tanah Jawa), dan tidak sembarang orang boleh menanamnya. Mendengar penjelasan itu Ki Ageng Donoloyo sangat tertarik untuk meminta klentheng (biji kayu jati) untuk ia tanam di daerahnya. Namun ketika ia mengutarakan niatnya itu, justru ia mendapatkan tolakan. Ki Ageng Sukoboyo marah-marah tak terkira mendengar permintaan Ki Ageng Donoloyo. Namun dengan sabar Ki Ageng Donoloyo hanya menunduk dan diam mendapatkan semprotan marah kakak iparnya itu. Lantas ia pun berpamitan untuk kembali ke niatnya semula yakni pulang ke daerahnya (kelak disebut hutan Donoloyo).

Sesampainya di tengah perjalanan ia tercengang keget ketika kakak perempuannya (istri Ki Ageng Sukoboyo) meneriakinya dari belakang. Ia pun berhenti dan menoleh. Sang kakak menghampiri dan berkata bahwa ia telah mendengar percakapannya dengan Ki Ageng Sukoboyo dan juga permintaan tersebut. Sang kakak menyarankan agar ia satu purnama lagi kembali dan membawa tongkat dari bambu uluh (jenis bambu paling kecil yang biasa dipakai sebagai tempat membran terompet tahun baru) untuk menyembunyikan biji jati dengan cara menghunjamkan tongkat itu di atas klentheng / biji jati sehingga biji tersebut akan masuk dengan sendirinya. Sang kakak melarangnya untuk waktu dekat ia kembali lagi ke rumahnya sebab ia khawatir Ki Ageng Sukoboyo masih merasa tersinggung dan menyimpan marah dengan permintaan adiknya tempo hari.

Dan sampailah satu purnama itu, Ki Ageng Donoloyo akhirnya berhasil mencuri dua biji jati dari pekarangan Ki Ageng Sukoboyo meski ketika itu mereka berdua bersama-sama tampak asik berjalan-jalan sembari bercakap-cakap di bawah pohon jati kesayangan Ki Ageng Sukoboyo.

Meski berhasil mencuri dua biji klentheng dan merasa yakin jika Ki Ageng Sukoboyo tidak mengetahui tindakan culasnya ini ia masih saja gugup, dan hal ini membuatnya pulang dengan tergesa-gesa dan membuat sepasang kakinya sedikit berlari.

Sampailah kemudian ia di hutan Denok (sekarang desa Made). Ia beristirahat di bawah pohon bulu (semacam beringin) yang rindang. Di situlah kemudian satu biji terjatuh dan tumbuh besar dengan dililit pohon bulu (pohon jati berada tepat di tengah lilitan pohon bulu sehingga terlihat unik, tampak seperti pohon bulu yang merangkul pohon jati). Jati itu kemudian dinamakan jati Denok. Sementara satu biji kemudian ditanam di hutan Donoloyo yang kelak dinamakan Jati Cempurung, yang juga kemudian dipercayai digunakan sebagai soko guru pembangunan masjid Demak kali pertama. Jati Cempurung ini memiliki keunikan yakni sore ditanam paginya sudah tumbuh dengan berdaun dua. Maka tidak heran jika kemudian konon jati ini tumbuh dengan cepat dan besar sehingga bayang-bayangnya ketika pagi sampai di tengah alun-alun Demak.

Maka semenjak itulah ketika jati Cempurung sudah beranak-pinak Ki Ageng Donoloyo melarang warga sekitar hutan Donoloyo untuk membawa atau menjual pohon jati dari Donoloyo kepada orang-orang di utara jalan (sekarang jalan raya Wonogiri-Ponorogo yang dipercayai sebagai tempat pertengkaran pertama kali antara Ki Ageng Donoloyo dengan Ki Ageng Sukoboyo ketika berebut tempat untuk menepi) sebab hal itu akan berdampak kematian, kayu jati itu dengan sendirinya akan berubah menjadi jengges tenung (santhet) pada yang membawa (mengangkut) dan yang menjualnya.

Konon pula kemudian Jati yang berasal dari hutan Donoloyo semua memiliki ciri growong di tengah batangnya meskipun sedikit, sebab hal ini dikarenakan induknya (Jati Cempurung) adalah dari hasil mencuri. Selain itu keunikan lainnya adalah adanya suatu cerita yang mengatakan bahwa ketika keraton Surakarta membutuhkan dua batang pohon jati yang berasal dari hutan Donoloyo dapat kembali lagi ke asalnya setelah seorang ndalem (kerabat keraton) mencemoohnya. Jati itu kembali ke sisi hutan Donoloyo paling barat, tepatnya di desa Pandan (dan dua batang pohon jati itu sampai sekarang masih ada. Orang-orang mempercayai dua batang pohon jati yang tergeletak di pinggir sebuah sawah di desa Pandan itu adalah Jati yang kembali akibat dicemooh orang nDalem Keraton Surakarta).

Ki Ageng Donoloyo

Ki Ageng Donoloyo sangat takjub dengan pertumbuhan jati yang ditanamnya ini. Pohon jati itu tumbuh dengan luar biasa. Dengan waktu yang tidak lama pohon jati itu tumbuh besar menjulang tinggi. Pohon jati itu memberinya kebanggaan luar biasa. Setiap hari ia memandangnya sembari memanjakan burung perkutut putih kesukaanya sembari pula menghisap candu dengan pipa panjang yang dihisap dari samping bersama anak-anak dan istrinya (versi lain mengatakan bahwa Ki Ageng Donoloyo tidak beristri). Sesekali sembari menikmati pohon jati itu Ki Ageng menanggap ledhek mbarang (orkes keliling) jika kebetulan lewat.

Hingga pada akhirnya datanglah utusan Raden Patah dari kerajaan Demak menemui Ki Ageng Donoloyo untuk membeli pohon jati yang ditanamnya itu berapapun harganya. Ki Ageng Donoloyo pun memperbolehkannya, tapi ia tidak meminta apa-apa sebagai gantinya. Ia hanya meminta sebuah sarat “Lemah Kedhuang Ombo yen ono pagebluk njaluk kalis lan ojo kanggo papan peperangan : tanah Jawa ini jika ada paceklik maka segeralah bisa diatasi dan jangan dijadikan sebagai ajang peperangan.” Maka segeralah utusan itu ke Demak dan menyampaikan sarat Ki Ageng kepadanya. Maka Raden Patah pun menyanggupinya.

Raden Patah pun mengutus beberapa dari Wali Songo untuk menebang jati Cempurung. Sebelum menebang para wali itu berembug di sebuah desa mengenai penebangan hingga cara membawa kayu jati itu ke Demak sebab ukuran pohon jati yang luar biasa besarnya (sekarang desa tempat berembug para Wali itu dinamakan desa Pule kecamatan Jatisrono, yang berasal dari kata “Ngumpule” yang berarti berkumpul untuk berembug). Kemudian disepakatilah cara mengangkut Jati Cempurung itu setelah ditebang yakni dengan cara dihanyutkan di hulu sungai Bengawan Solo (tepat persis di belakang punden) ketika musim penghujan. Konon pula setelah Jati Cempurung itu ditebang batang paling ujung/ pucuk jatuh di sebuah desa di kecamatan Sidoarjo yang berjarak kurang lebih 18 km sehingga desa itu dinamakan desa Pucuk.

Setelah penebangan Jati Cempurung itulah menurut banyak orang kemudian Ki Ageng Donoloyo sudah tak tampak lagi di kediamannya. Banyak orang mempercayainya Ki Ageng telah moksa, hilang bersama raganya.

sumber  : Disparta Kab. Wonogiri

Melogika Jawa

Image

foto: pengenalan tokoh wayang sejak usia dini (koleksi penuliis)

Jawa ! ya Jawa adalah salah satu dari empatratus suku lainnya di Indonesia. Sejak kecil saya dilahirkan dalam kehidupan orang Jawa yang penuh dengan sandi dan semu. Kadang saat saya kecil kakek saya sering bilang:

” le, aja mangan neng ngarep lawang, ora elok” (terj. “Nak jangan makan di depan pintu, tidak bagus”)

Ungkapan sejenisnya juga berulang kali terdengar tanpa ada penjelasan yang gamblang. Hal itu membuat generasi muda Jawa di era kini acuh, menganggapnya hanya mitos atau bahkan itu dianggap musyrik oleh kaum puritan era kini. Semakin dewasa, alam pikiran logika membawa saya pada skeptimisme. Hingga pada akhirnya saya menemukan jawaban atas ungkapan di atas. Intinya jika saya tetap makan di depan pintu rumah, maka bisa saja makan jatuh karena lalu lalang keluarga.

Kearifan lokal nusantara yang sangat semu tetapi selalu ada makna yang tersurat di dalamnya. Akhirnya perjalanan hidup saya sebagai manusia Jawa, membawa saya untuk melogika Jawa.

Keris, senjata masyarakat Jawa Kuna ini terekam sejak zaman Rakai Pikatan 856 M. Dewasa ini, senjata tersebut sering disebut sebagai jimat. Senjata bertuah (ada yang bisa berdiri tegak tanpa dipegang manusia), disakralkan dan terkesan angker wingit. Terlepas dari hal mistik, bagi saya Keris secara konteks sejarah bisa saja dianggap sebagai Passport karena secara historis, Keris mempunyai ciri dan aturan khas pada setiap sisinya. Misalnya Keris type Sengkelat, pamor/motif : wos wutas, tangguh/produksi: Mataram Sultan Agung keris ini dipakai sebagai identitas seorang Senopati/Panglima perang zaman pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma. Maka ketika Panglima tersebut pergi ke wilayah di luar istana, masyarakat akan segera mengenali dan memperlakukan seorang Senopati dengan baik setelah melihat Keris yang dibawa.

Petung, hampir di setiap belahan dunia mempunyai cara perhitungan hari. Dalam Masyarakat Jawa disebut petung. Pada saat ini dalam kehidupan masyarakat Jawa sering ditemui pantangan-pantangan dalam perhitungan Jawa. Seperti jilu (anak nomer tiga ‘telu’ dengan anak pertama ’siji’), gehing (weton Wage dan Pahing). Lalu adapula kepercayaan membaca watak melalui sistem numerologi Jawa seperti anak yang lahir pada mangsa Kasa (Juli-Agustus) diramal sebagai sosok yang pemberani. Ternyata setelah berdiskusi dengan rekan-rekan dokter Anak, ahli Astronomi, beberapa peneliti Fisika, saya menemukan jawaban yang real dan logis. Waktu kelahiran anak itu juga berdampak pada perkembangan psikologi anak, biasanya anak yang lahir pada musim kemarau akan menjadi sosok pemberani daripada anak yang lahir di musim penghujan. Hal itu dikarenakan adanya tekanan, kelembaban udara, suhu luar pertama pasca kelahiran dll.

Wingit kaliwat angker, Banyak tempat di Jawa yang diangkerkan, telaga dan pohon besar yang dikeramatkan, hutan larangan di setiap gunung bahkan hewan yang dikeramatkan. Teryata dari segi konservasi alam dan lingkungan, pe-ngeramatan tempat-tempat tersebut membawa dampak positif seperti hutan sebagai penahan erosi, ketersediaan kebutuhan air bersih, terjaganya satwa-satwa endemik dll.

Intinya kebudayaan timur memyimpan ilmu pengetahuan di balik ke-semu-annya. Mari berakar penuh pada kerarifan lokal dalam persaingan era global kini.rdr

Cinta Kiri dalam pewayangan Jawa

Tags

Dalam dunia pewayangan sering kita mengenal tokoh-tokoh yang super hero seperti : Rama dan lima saudara Pandawa. Kadang kita melupakan ada beberapa tokoh yang mempunyai pandangan “kiri” dalam menyikapi keadaan, terlebih sikap jujur dalam memahami cinta. Dalam pandangan umum menyebutnya “selingkuh”.  Di bawah ini uraian tiga cerita yang sama alurnya, dalam tiga karya sastra berbeda.

Ramayana (820-832 Çaka, Walwiki)

Dalam kisah Ramayana pada bagian Balakanda, diceritakan kisah tentang Dewi Renuka. Ia adalah putri Prabu Prasnajid. Ia menikah dengan Prabu Jamadagni, raja negara Kanyakawaya, putra brahmana Ricika dengan Dewi Setyawati. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh lima orang putra lelaki, dan putra bungsunya bernama Ramaparasu .

Ketika Prabu Jamadagni memutuskan untuk hidup sebagai brahmana, Dewi Renuka dan kelima putranya ikut boyong ke pertapaan Dewasana. Mereka hidup dalam kebahagiaan sampai suatu peristiwa sedih melanda kehidupan mereka. Suatu ketika Dewi Renuka tergiur oleh ketampanan Prabu Citarata dan mereka melakukan perkawinan gandarwa (perselingkuhan seksual). Perbuatan terkutuk itu diketahui Resi Jamadagni, yang kemudian menyuruh Ramaparasu untuk membunuh Dewi Renuka, sebagai upaya penebusan dosa. Tapi kemudian Dewi Renuka dihidupkan kembali oleh Resi Jamadagni atas permintaan Ramaparasu (Ramabargawa).

Kakawin Bomakawya (1100 M, Mpu Dharmaja)

Dalam versi Jawa istri Boma disebut dengan nama Yadnyawati /Agnyanawati, putri Karentagnyana raja Kerajaan Giyantipura. Ia tidak pernah mau “melayani ” suaminya, karena wujud Boma yang menyeramkan. Ia hanya mau melayani Boma asalkan dibuatkan jalan raya lurus tanpa berbelok dari Trajutrisna menuju Giyantipura. Boma merasa bimbang karena jalan tersebut pasti menerobos bukit Gandamadana, tempat leluhur Kresna dimakamkan.

Atas pertimbangan ibunya, Boma akhirnya memutuskan untuk menolak permintaan Agnyanawati, bahkan ia bersedia menceraikan istrinya itu. Ternyata Agnyanawati memilih “bersama” Samba, putra Kresna yang lahir dari Jembawati. Selanjutnya ialah Boma menyerang Kerajaan Dwarawati karena Samba telah membawa lari Yadnyawati. Dalam suatu pertempuran Boma berhasil menewaskan Samba. Namun ia sendiri akhirnya tewas di tangan Kresna.

Serat Pustaka Raja Purwa (Abad 19, Gubahan Ranggawarsita)

Dewi Banowati adalah putri dari Prabu Salya, raja di Mandraka. Banowati adalah seorang putri yang sangat cantik, bukan karena berhiaskan mutu manikam melainkan karena kecantikan yang sebenar-benarnya. Tingkah laku putri ini serba halus dan pantas.

Pada mulanya Banowati jatuh cinta pada Arjuna, namun akhirnya ia menikah dengan Prabu Duryudana dan menjadi permaisuri di Hastinapura. Tetapi hatinya masih berat kepada Arjuna.

Percintaan Banowati pada Arjuna akhirnya terlaksana setelah perang Baratayudha berakhir dan Duryudana tewas. Tetapi kelakukan Banowati tersebut menyebabkan kemarahan Aswatama. Banowati kemudian dibunuh oleh Aswatama ketika sedang tidur lelap.

Ketiga cerita di atas mempunyai alur cerita yang sama. Seperti halnya hidup, hidup adalah pilihan. Jalan hidup adalah proses memilih dalam persimpangan-persimpangan yang terus berlanjut. Pandangan “mayor” berkata tentang etika kesepakatan, kadang hati berkata “minor”. Selamat memilih

Gendhing saka Gedhong Kuning

Tags

,

 

Eee endah temen megane putih memplak mayungi gunung-gunung,byak byak

Pancurane katon banyune bening, mili ngitir ing sawah tan ana cicir…

Mangkono swarane gendhing ketawang Subakastawa Rinengga saka kadohan. Rasane tentrem lan ayem ana jroning ati. “apa ya mangkene iki kahanan Jawa duk rikala mbah Narto Sabdo ngripta gendhing iki” batinku. Dina iki aku bali menyang omahe eyang ing Sawangan Magelang, ee ndelalah ana sing ewuh mantu klawan swaraning pas gendhing iku mau. Ing kono aku nyawang sinawang kaendahaning gunung Merapi, dasar bubar udan gerimis hawane tambah atis. Pedhut-pedhut uga padha nyambangi ngemper-ngemper omah tinggalane Landa ana kene. Wiwit saka jaman Walanda Sawangan iku kalebu papan kanggo Vulkanische observatie kantoor. Mula tekan sakiki Sawangan dadi sawijining papan pariwisata kang regeng, apa maneh wayah preinan sekolah kaya mangkene.

Suwe rasane aku ora dolan mrene, kira-kira wis 20 tahunan. Wiwit aku durung sekolah nganti kuliah semester tua mangkene. Kahanane saya beda, sansaya panas lan akeh bangunan. Nadyan eyang wis swarga nanging para sedulur isih padha omah-omah ana kono.Dadi aku ora keweden yen dewe. Meh surup hawane tambah adem, grimis lan pedhut uga durung ilang. Sinambi padha ngisep ses klobot karo teh Mlati , aku isih jagongan karo sedulur-sedulur. Pawon isih murup ing ngisoring paga. Jagung-jagung keng gumantung uga nambahi rasa tentreming padesan kang ora kurang pangan. Uga ora keri, para dulur padha rerasan bab Gedhong Kuning, Loji Landa sapingiring alas Babadan. Miturut critane eyang, biyen Gedhong Kuning iku kagungane Ndara Sinder. Nanging sakiki ora ana sing ngerti, isih ana sing nunggu Gedhong iku apa ora. Ana crita sing nunggu gedhong iku wus urip langgeng, dadi Siluman Lawa utawa wong Eropah mastani Vampir. Aah dadi mrinding kabeh awakku bengi iku. Saking regenging wawan rembug ora krasa yen wis meh mrepeg rahina.

Ngancik wayah esuk, aku mlaku-mlaku ana ing sakiwa-tengene desa iku mau. Sakdawaning dalan katon asri. Akeh wit-witan sing ngrembuyung godhonge, kebon sawi padha  kembang kuning tenger yen bubar panen. Merapi saka kadohan katon wilis, biru maya-maya. Imbang lan jurange gunung katon cetha. Sawise entek dalan, aku lewat dalan cilik nuju Villa Landa, wong desa ngarani Gedhong Kuning.

“wah, yo blegere omah gedhene kaya ngene. Sakagurune dhuwur tur gedhe. Platarane jembar akeh wit cemara kang katon asri. Ing tengahe ana kolam iwak lan ana patung malaekat kaya ing Negara Eropah kae ya” batinku.

Sanadyan wedi nanging rasa kepengin ngerti kaendahane lan misteri Gedhong Kuning sansaya gedhe. Biyen jaman aku cilik eyang ora marengake aku dolan mrono, marga papan iku kalebu papan kramat,  wingit tur angker kanggo wong desa. Alon-alon aku mlebu latar, nglewati gapura dhuwur lan pagere wesi kang hiasane kaya wujud kembang. Nyata pancen omah iku wis ora nate diresiki. Akeh sulur-sulur kang mrambat ing pager mau. Kolam tengah latar iku uga kebak lumut, warna banyune ijo lan akeh Genjer sing ana kono. Suket teki ngebaki plataran, lan sing paling gawe giris iku wit Kanthil ana kulon gedhong. Wit kanthil kang umure wus atusan taun, gedhene kira-kira yen dirangkul wong papat durung mesthi bisa. Gandane kembang Kanthil arum mrepegi sakiwa tengene gedhong iku mau. Rasane kaya ana memedi sewu sing teka. “aaaah, mung pangrasaku” omongku rada sora, kareben nora wedi.

Aku saya cerak karo gedhong, jubin marmer kang warnane kaya gadhing mratandhani yen biyen sing kagungan omah iku wong gedhe. Sanalika mendung peteng lan angin gedhe ana ing kono. Pancen sasi Desember mangkono udan ora nganggo wayah. Udan deres kaya disok-soka saka langit. Kepeksa aku ngiyup ana ing gedhong iku. Atiku dheg-dhegan ora umum, embuh ana apa. Kahanan sepi ing gedhong iku nambahi rasa wedi, kaya-kaya ana saklebatan uwong kang maspadake tekaku. Udan deres nganggo barat gedhe, mbuh kapan mandhege.

Kejot rasane atiku, saka menara gedhong sisih tengen krungu swara Piano, kang surasane kaya lagu Elise. Ndrodog lemes awakku sanalika, ana pikiranku mung bangsa sing ala-ala wae.

“ apa njuk aku arep dadi mangsane Siluman Lawa ya” mangkono batinku.

Aku kaya kelangan daya pangaribawa, rumangsaku aku wis arep mlayu nanging awakku lemes. Rumangsaku aku arep bengok-bengok jaluk tulung nanging ora bisa metu swarane. Aku kaya disirep, dadi ora isa obah. Aku mung meneng lan ngrungokake swarane piano Elise iku mau. Swarane piano saka oktaf cendhek munggah dadi dhuwur. Rasane sansaya ngeres ing ati. Bareng swarane wus meneng aku nyawang ngiwa-nengen rasane kaya ana sing lewat neng buri kaca lawang. Kejot rasane atiku, ana pawongan kang sepuh nyeraki aku. Pawongan kang dedege dhuwur, rekmane wus putih kabeh, pakulitane putih kaya mayit urip. Irunge mancung, netrane warna biru mblalak mratadhani pancen nora klebu jinising wong Jawa. Pikiranku sansaya ngambang neng endi-endi. Sanalika pawongan sepuh iku mau ngomong ;

“ Goeden Morgen”.

“Go gooeden Morgen” wangsulanku nganggo basa Landa karo ndredeg.

“kamu orang darimana hey, mampir ke rumah saya”

“ kula tiyang Candhen Sawangan, ndara”

“ oo, Candhen. Mangga masuk” pawongan tuwa iku mau mangsuli nganggo logat Landa-Melayu.

Sawise mlebu ana gedhong iku mau pawongan sepuh iku mau paring piterang bab dheweke.

“ ik naam, Van Pasteur. saya orang disini menjaga rumah. Jangan takut saya orang bukan dedemit. Mangga diunjuk koffie-nya” mangkono wangsulane pawongan mau.

Rasa wediku sansaya ilang, amarga pancen dheweke iku dudu dhemit kaya ingkeng wus diceritakake. Sawise dina iku, aku malah asring mrono lan wong-wong desa uga padha biyantu resik-resik Gedhong. Bungah rasane atik, Gedhong iku tambah regeng. Saben bengi akeh wong desa kang padha wungon ana kono. Aku uga asring dolalan Piano. Ora krasa preinanku wis rampung, aku kudu bali menyang Jakarta. Abot rasane ati, nangin aku kudu mlebu kuliah maneh. Sakdurunge bali aku mampir gedhong pamit Van Pasteurm panjenengane uga ngaturake panuwun marang aku. Dheweke masrahi aku buku kumpulane not-not Piano karyane Van Troopen, eyange van Pasteur kang uga salah sawijining perwira pangarsaning KNIL Magelang.

“dit boek buat belajar ya, ini ber-titel Aesthetica Veronica”

“Matur nuwun” wangsulanku.

Sawise mangkono aku bali menyang Jakarta. Sawatara suwe kurang luwih nem sasi, aku kepengin bali maneh ana Magelang. Marga kangenku karo kahanan ing padesan uga tamtu merga eyang Van Pasteur. Amarga dhuwit pas-pasan aku bali numpak kreta Senja Bengawan saka stasiun Tanah Abang mudhun stasiun Lempuyangan. Bibar saka kono aku numpak bis jurusan Magelang. Sawise mudhun pretelon dalan Yogya-Magelang, aku langsung ngojek jujug Gedhong Kuning. Sawise teka ngarep Gedhong Kuning, aku mlebu nemoni Van Pasteur. Saka kadohan ing menara tengen katon pawongan tuwa kang ngawe aku. Batinku “ wah pancen aku wus diarep-arep karo Van Pasteur”. Tekan menara, Van Pasteur rikat ngrangkul aku. Kaya biasane aku klawan Eyang Van Pasteur dolanan Piano. Bombong rasaning atiku, aku uga nduduhake hasil gladhenku yaitu dolanan piano nganggo not  Aesthetica Veronica. Van Pasteur among mesem lan ngendika “goog, good. Bagus sekali zij punya permainan. Ya habis ini belajar yang cakap ya, sebentar aku maken een Koffie voor kamu orang”. Aku mung manthuk-manthuk ngiyani, kaya padatan Van Pasteur mesthi gawekake Kopi kanggo para tamune.

Wus sakjam luwih Van Pasteur ora bali-bali. Aku isih ngenteni, sapa ngerti dheweke duwe pagaweyan liya. Nganti wayah surup, kapeksa aku bali saka kono bablas gone sedulurku. Amarga Van Pasteur ora ana, aku kapeksa bali tanpa pamit. Sawise teka griyane eyang kaya padatan aku jagongan nganti esuk ing Pawon. Dakceritaake kadadeyan mau awan, bab aku jujug dhisik gone Van Pasteur. Sakanane wong neng pawon iku padha meneng cep kaya-kaya gumun karo critaku. Pakde Semiran sak jek ngendika;

“eh, tenan ora critamu kuwi? ngene lho Ren eyang Van Pasteur iku wus seda 40 dina wingi.”

“adhuh Gusti, lha ingkang kula temoni kala wau sinten” Kejot rasane atiku.

Parak esuk, aku didherekake nyekar menyang pasareyan Walanda ing sakidule Bakorwil Jateng II Magelang. Sawise seminggu ana kono, aku arep bali menyang Jakarta maneh. Dina pungkasan sakdururnge bali aku nyelakake wektu kanggo mampir neng Gedhong Kuning.Ya idhep-idhep kanggo sangu kangenku ana Jakarta. Sawise teka Gedhong Kuning, aku mung ana ngarepan gapura lan nyekel pager wesi kang dirambati sulur-sulur anyar. Marem anggone nyawang neng kono, aku mbatin alon-alon.

“ Van Pasteur, matur nuwun ”

Angin sumribit saka gunung Merapi mrepeki Gedhong Kuning, swaraning manuk Emprit padha ngoceh kaya nguntapke gonku pamit. Aku banjur mlaku sansaya adoh saka gedhong. Alon-alon ririh saka kadohan aku krungu swara Piano nganggo titi wirama Elise. Aku mandheg, mengo memburi lan nyawang gedhong saka kadohan. Ah mrinding kabeh awakku.

“Banjur sapa sing dolanan Piano iku mau ?”

Angen-angenku ngumbara kaya pedhut kang mabur ing dhuwuring redi Merapi. Rdr.

Padangon (siklus 9 harian, Nawawara)

Tags

, , , ,

  1. Dangu tegese watu, watake : meneng, cubluk, abot, atos.
  2. Jagur tegese macan, watake : galak, awas, luwes, rosa.
  3. Gigis tegese bumi, watake : jembar, ngreksa, momot.
  4. Kerangan tegese srengenge, watake : leras, titi, ajeg, ngawruhi ala lan becik, padhang.
  5. Nohan tegese rembulan, watake : suka bungah lan sengsem, welasan, kena pitenah.
  6. Wogan tegese uler, watake : mugen, antepan.
  7. Tulus tegese banyu, watake : temen, rosa, jembar, dierami, lembut pangarahe.
  8. Wurung tegese geni, watake : panasbaran ing sabarang karepe.
  9. Dadi tegese kayu, watake : luhur lumuh kaungkulan.
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.