Mandhita-Muruhita.
89 jam perjalanan rindu menuju kirbat-Mu, sepenggal sajadah, dan altar simpuh yang panjang. “Ngaluhureng adri” adalah tatacara menghempas diri ke dalam kebul dupa, aku menari ikut alurmu, dan mengucap dalam kecup. Orang-orang menyebut ucap itu, Doa.
aku pulang Sayang (a.k Hyang Widhi), aku pulang.
#petaniSokawati #gunung #doa – at Desa Umbulrejo, Jogorogo Ngawi

View on Path

“kula lair nang donya karna karsa Ndika, kula duwe tubuh karna karsa Ndika. kula namung sulapan, sulapane Kang Manguntur” ucap lelaki putra Akhadiyat yang tampan itu. Laru tangisnya menjadi-ja, Hanya ada “kula lan Ndika” ketika kesadaran pribadinya hadir, dan ia kehilangan dunianya. Cebolang di akhir jalan pulangnya #centhini #petaniSokawati

View on Path

Perdebatan Intrapersona. Mendekontruksi diri, kembali ke ranah “Nir”. Nyenyak rasanya bukan lagi kata penutup hari. Atau harusnya “seleh-semeleh” dulu dari keinginan, lebih lagi menunda kebutuhan. Nasehat sekeping cermin pada bilah wajah yang terancam. #petaniSokawati

View on Path

Masih edisi bumi mutihan.

“Kamulyaaken dening Kangjeng Raden Adipati Danureja, Pepatih Dalem ing Nagari Ngayugyakarta ingkang kaping Nem. Nuju dinten Kemis Kliwon, tanggal kaping 7 wulan Jumadilawal taun Dal Ongka 1839 utawi tanggal Walandi kaping 22 Agustus taun 1909.”

Masjid Kanggotan-Pleret- Yogyakarta #petaniSokawati #masjid

View on Path

Salah satu inskripsi di “tanah mutihan” Butuh – Sokawati.

Penget. Nalika pambabaring pambangun pasareyanipun ingkang Sinuhun Kangjeng Sultan Hadi Wijaya ing Pajang. Ing dinten Kemis Legi, Wuku Gumbreg, Mangsa Kalih, Windu Sancaya, tanggal kaping 28 wulan Sapar taun Alip 1859. Gatraning pasareyan kasarireng ratu utawi kaping 16 Agustus 1928, Kaesthi Jumbuh trustha ing Narendra.

Inskripsi pembangunan Makam Butuh, Sragen. #petaniSokawati

View on Path

Koning-koning

Tembang dolanan. Setiap karya tentunya mempunyai maksud dari penciptaan karya tersebut. Lagu Koning-koning menurut Rahayu Supanggah ditafsirkan sebagai wujud kritik sosial kepada penguasa.

koning-koning kawula, kaé lara kaé lara
ngentèni si kodhok langking
ndhok siji kapipilan, ndhok loro kecombaran
dhoyak-dhoyak tawon boni
ni ni cangkir cendhana,
kiwa mbang cepaka
sisih mbang telasih
sabuk bara kayu loka
bung kecibung, gentalung mentiyung, nèblem
lir gunalir byar segelung-gelung malang
segelung-gelung kondhé,
ambuné walang kudhèdhèr
asesondhèr, angelèwèr

Terjemahan bebas:

Koning-koning kawula kaé lara (Eh para bangsawan, wakyatmu itu sedang sakit)
Ngentèni si kodhok langking (menunggu katak hitam)
Endhog siji kapipilan (telur satu juga tak utuh)
Endhog loro kacombaran (dua telur juga rusak)
Dhoyak-dhoyak tawon boni (berdatangan seperti lebah)
Nini cangkir cendhana (nenek cangkir cendana)
Kiwa mbang cempaka (kiri bunga cempaka)
Sisih mbang telasih (sisi lainnya bunga Telasih)
Sabuk bara kayu loka (sabuk bara=tanda pangkat, kayu loka= jenis senjata )
Bung kecibung (suara percikan air)
Gentalung nèblem (bertingkah bebas dibiarkan)
Lir gunalir byar (seperti sudah kebiasaan)
Segelung-gelung malang, segelung-gelung kondhe (semau-maunya sendiri)
AmbunĂ© walang (perhatiannya hanya semu, walang = uwal ilang “pergi hilang”)
Akedhèdhèr sesondhèr angalèwè (lalu mencari kesenangan lainnya)

Kritik yang tersirat dalam tembang ini menurut Rahayu Supanggah “Hai para raja atau bangsawan, lihatlah para rakyatmu yang pada menderita. Mereka itu hanya mengharapkan datangnya katak hitam, katak buruk yang tidak ada manfaatnya dan ngak enak dimakan seperti layaknya kata hijau, namun apa hasilnya ? Anak yang semata wayangpun kamu ambil, dan telah banyak anak-anak kami lainnya yang kamu rusak, atau kamu lecehkan. Kamu datang ramai-ramai bagai lebah yang hanya ingin menghisap madu. Kepada keluarga kami kamu janjikan sebuah kedudukan dan kebahagiaan. Kamu janjikan dan berikan madu di tangan kirimu, sedangkan di tangan kananmu kau berikan racun. Sekali lagi kamu menjanjikan kedudukan atau  kepangkatan. Tapi yang kamu inginkan sebenarnya hanyalah anak perempuan kami yang cantik. Kamu hanya ingin menikmati mereka yang cantik yang bersanggul dan berkonde dengan akal busukmu. Sedangkan bagi mereka, wanita-wanita  itu hanya mendapatkan malu yang luar bisa, bagaikan bau busuknya walang sangit yang tersebar kemana-mana. Sedangkan kamu para raja dan kronimu, hanya akan pesta dan terus bersenang-senang dengan menari-nari dan kemudian akan meninggalkan mereka, para wanita itu, para anak keluarga kami, tanpa disertai dengan rasa tanggung jawab.” (Supanggah, 1996: 9)

Peran serta para budayawan dalam mengawal kehidupan berbangsa dan bernegara sangat penting memberi pelajaran moral bagi setiap kita. rdr

Supanggah, Rahayu. 1996. Seni Tradisi, bagaimana ia berbicara ? Makalah disampaikan pada penataran peneliti madya. Surakarta: STSI Surakarta.