Tembang 72

Amongraga mengarahkan pandangannya yang silau ke Tambangraras. “Dinda kau duduk disitu, di haluan ranjang pengantin dan aku diburitan. Andaipun saling terulur sejauh bisa, tangan-tangan kita tiada saling bersentuhan karena kecemasan antara kita sedemikian besar. Namun hatimu sudah dalam hatiku dan hatiku dalam hatimu, kau dengarkah keduanya berdebar-debar gugup karena asmara? Padahal kegugupan adalah halangan senggama.

Jika kau tiada keberatan. Dinda, dan dengan rahmat Allah, mulai malam ini berdua kita akan berlayar dalam diam, menentramkan nafas satu dalam lainnya, dan agar kau jadi buritan dan aku haluan. Awalnya pelayaran ini akan terasa kejam penuh larangan sebab ancaman karam sangat besar, kita akan dibawa selama empat puluh malam mengarungi tujuh lautan silih berganti.

Lautan pertama adalah laut berbuih dan berlumpur. Asap tebal menyelimutinya. Lautan kedua adalah lautan api. Hati-hati disana. Dinda, sebab lidah apinya berkobar hingga menjilat langit, dan kengerian membentang dalam baranya, hingar binar berduyun-duyun. Kapal-kapal terpaku.

Lautan ketiga adalah lautan kuning penuh godaan. Yang keempat, laut biru kehijauan bahayanya tak terhitung jumlahnya. Sebagian datang dari air, sebagian angin. Lautan kelima adalah lautan lumpur yang menyeramkan lengketnya. Yang keenam adalah lautan biru kehitaan, meski tidak banyak mengandung kesulitan kita harus tetap waspada, Dinda.

Terakhir lautan ketujuh, yaitu lautan sari tebu yang putih air serta dasarnya tidak kasatmata lautan itu amat tenang, tanpa angin, namun meski sama sekali tanpa badai, gelombangnya lebih tinggi dari gunung. Tak sebuah kapalpun berani ke sana. Jika ada perahu linglung menjelajahinya, bahaya besar keenam laut sebelumnya akan muncul, bangkit bersatu melawannya di sembilan penjuru.

Dibalik ketujuh lautan itu, sering dikisahkan masih ada lagi satu lautan luas, yang airnya telah kehlangan segala warna. Laut itu tidak berombak, namun jurang yang tidak diduga tergali didalamnya. Lebih kelam ketimbang malam orang buta. Dipermukannya tak terlihat apa-apa selain silam, angin dan kesembilan penjurunya tidak terasa lagi. Di tengahnya tiada apa-apa bintang maupun kilat sirna.

Hanya ada seekor burung yang terbang di kedalaman lautan, membubung lalu menghujam hilir mudik tiada henti. Luar biasa besar burung itu, tidak tertangkap mata maupun akal. Putih dan paruhnya yang mematuki serbuk sari angin berlapis emas. Matanya batu mirah, cakarnya mutiara sayapnya berlian biru. Bunyi kepak sayapnya memenuhi jagad.

Di haluan ranjang. Tambangraras membungkuk dan berkata :
– Oh, Apiku! Aku mendengar dan berkenan tetapi lihatlah malam diatas telah undur diri.

– Benar yang kau katakan. Dinda mari kita bangun dan salat.
Amongraga menggandeng Tambangraras membimbingnya menuju ketempat wudu. Ketika ia menggeser sekat berkerawang. Centhini ditemukan bangun dan sudah berjaga:
– Ah kamu belum kami panggil tapi sudah disini! Tidak tidurkah kamu?

– Itu karena hamba ingin selalu siap melayani istri tuan.

Melangkah dalam fajar putih menuju masjid hijau, amongraga bertanya kepada Tambangraras:
– Dinda katakanlah padaku, si Centhini ini, apa ia saudara dekatmu?

– Oh, apiku ia saudari jauhku. Tapi saudara paling dekat di hatiklu.

– Kalau begitu, akan kusayangi dia seperti kau menyayanginya.
Amongraga mengumandangkan azan, suaranya yang lembut jernih membangunkan para santri, dan mereka yang membandel telinganya didera pukulan bedug kerahiman. Banyak diantara mereka matanya melotot, mulutnya lembab karena bergadang sampai larutdan salatnya diisi dengan keinginan kembali tidur.

Berkata amongraga kepada istrinya; “Dinda, ketahuilah setelah shalat subuh, tidak baik kembali tidur, sebab waktu itu tubuh nurmu mengamati tubuh dagingmu tidur dan membusuk dibawah matahari terbit. Lebih baik, mari kita bergabung dengan ayah dan ibu makan pagi.

Ki Panutra telah menyiapkan hidangan hangat agar udara pagi tidak menggembungkan perut ke deua pengantin baru itu dengan angin jahatnya ada nasi goreng, pepes ikan, ayam buang tulang, kambing yang disembelih lalu diiris, sayur-santan kue ketan, pisang raj, wadang jahe gula aren, kopi.

Di dapur yang arangnya tidak padam semalaman Nyi Malarsih menanyai anak perempuannya.
– Bagaimana nduk, sudahkah dia menodai kain ranjang dengan darahmu?

– Ibu, haruskah cinta diresmikan dengan noda?

– Maksudmu, ia belum..?

– Bahkan bibir kami pun belum bersentuhan, ibu itu tandanya di pria yang amat sabar, yang langka dijumpai wanita. Berbahagialah anakku sebab “Allah selalu bersama orang yang sabar.

Tembang 112

Diranjang bidadari Amongraga telanjang dan duduk bijaksana dalam padma merah istrinya. Demikian mereka diam berpelukan sepanjang malam, waspada dan pasrah, satu dalam lainnya.

Pada jam-jam pertama, dua pertiga Indra Tambangraras tercurah pada ilmu dan sepertiga pada sang lelaki, indra Amongraga tercurah dua pertiga pada sang perempuan dan sepertiga pada ilmu. Mereka berdoa pada sang Ilahi agar pelukan mereka tidak runtuh terberai dan agar semua rasa mereka disatukan dalam ilmu ajaib senggama.

Hujan hangat turun malam itu, bagai air mendidih dituang atas daun-daun kering dan segera membebaskan harum wangi pegunungan di kerongkongan.

Di balik sekat berkerawang tahulah Centhini doa kedua kekasih itu telah dikabulkan. Pergi ia ke sumur mengisikan air ke tempayan, lalu ditletakan di kaki ranjang bidadari, tempat fajar dengan lembut mengendurkan dekapan tuan-tuanya.

Burung balam bengala memperdengarkan nyanyiannya tanpa henti, parkit melayu bersuara merayu, berkicau dan menertawakan koyaknya selaput dara seorang perawan di malam hari. Perkutut dan srigunting menyahut kelakar itu dengan omongan cabul.

Burung merpati bergembira, yang jantan berkata pada pasangannya: “Lihatlah merpatiku bagaimana junjungan kita membasuh diri setelah bercinta, Ayo! Kita ikut-ikutan!” betinanya lalu menunduk dan menyorongkan pantatnya agar dapat ditunggangi jantannya dengan baik lagi.

Burung tuhu bernyanyi tanpa henti di bawah atap, seriti mencicit kesana kemari, mendesas, desuskan berita tentang senggama mulia itu, gagak malam pun menjepit lembaran warta itu di bawah sayap hitamnya, burung puyuh mengeluh: “Keterlaluan, burung-burung zaman sekarang ngawur! Coba dengar mereka nyanyikan lagu cinta dengan omongan usang! Pujilah Tuhan, manusia tidak paham ini semua!”

Centhini keluar di pagi buta mengabarkan kepada ki Panurta dan istrinya bahwa selaput dara tuan putri telah koyak. Pasangan tua itu sudah menunggu kabar tersebut empat puluh malam tanpa tidur sekejapun: “Alhamdulillah! Cepatlah! Centhini, bangunkan segera nDuk Daya, suruh ia menyiapkan jamu godokan kembang curian!”

nDuk daya dengan segera mengumpulkan jamu-jamuan itu dicacahnya putik delima putih, kulit pohon kina, majakan, kapulaga, cengkih, kecubung dan benang lawe. Semua itu digilingnya di lumpang batu sampai lembut, lalu di tambahi dengan bunga selasih, kapur sirih, kunyit, bedak perut buih cacing, abu daun pisang emas, selongsong ular cabai, pala, kemukus, kulit telor yang baru keluar serta jahe. Semua itu lalu direbus, kemudian godokannya dituangkan ke dalam batok kelapa.

Tambangraras meminum jamu itu, nDuk Daya memercikan air kembang telon ke payudaranya. Disaat sang istri mereguk ramuan dari tempurung itu, Amongraga masuk ke dalam tata bisu samadi.

Perlahan Amongraga undur diri dari kelelapan istrinya. Diselimutkannya kain peraduan ke atas tubuh telanjangnya, bagai kafan bagi sanggama mereka. Ditulisnya surat kepada Tambangraras.

“Kekasihku di jalan ada perjumpaan dan sua kembali tetapi kita berjalan sendiri sendiri kubawa ragaku menempuh kemegahan suluk, dan kamulah Tambangraras suluk itu kau mengira aku pergi, padahal aku mengembara di dalam dirimu.”