Sloka 24, kitab Pararaton.

Çri Ranggawuni atingal putra lanang, ara Çri Kertanegara: sira Mahisacampaka atingal putra lanang aran raden Wijaya. Siraji Kartanagara sira ajeneng Prabhu abhiseka bhatara Çiwabhuddha.

Hana ta wong ira, babatanganirabuyuting Nangka, aran Baňakwide sinungan pasenggahan arya Wiraraja. Arupa tan kandel denira dipohaken kinon adipatia ring sungenep anger ing Madura wetan. Hana ta patihira nduk wahu anjeneng Prabhu, puspanata sira mpu Raganata, nityasa angaturi rahayuaning tuhan. Tan kedep denira Çri Kertanagara : sangkanira mpu Ragantha asaiah linggih mantunb apatih, ginanten denira Kebotengah sang apanji Aragani.

Sira mpu Raganatha gumanti dadi adhyaksa ri Tumapel. Sapanjeneng Sri Kertanagara angilangaken kalana aran Bhaya. Huwus ing kalana mati,angutus ing kawulanira, andona maring Malayu. Samangka akedik kari wong Tumapel, akeh kang katuduh maring Malayu.

Sira apanjy Aragani angateraken mangsul ing Tuban, teka ring Tumapel sang apanjy Aragani angatur tadahan pratidina, akasukan siraji Kertanagara.

Hana ta pasawalanira lawan siraji Jayakatong ratu ring Dana, pinaka musuhira siraji Kertanagara. Kemerpangaladeçaning çatra, tan enget yan dosanira. Sira Baňakwide atuwuh patang puluh tiga duk pamalayu, amitra lawan siraji Jayakatong, asaruwen akenkenan saking Madura. Sira Wiraraja akirim surat dhateng I siraji Jayakatong . Unining sawalan : “ Pukulun, patik aji matur ing paduka aji anenggeh paduka aji ayun abuburua, duweg kaladeçanipun tamboten wonten baya, tamboten macanipun, tamboten bantengipun.muwah ulanipun, rinipun : wonten macanipun anging guguh”. Sang patih-tuha sira Raganatha kang ingaran macan guguh apan sampun atuha, Samangkana siraji Jayakatong mangkat amerep ing Tumapel. Sanjata kang saka loring Tumapel wong Daha kang ala-ala tunggal kalawan tatabuhan penuh, rusak deça saka loring Tumapel akeh atawan kanin kang amamarengaken.Sanjata Batara Çiwabudhha pijer anadhah sajeung.Ingaturan yan pinerep saking Daha, apahido sira lagi amijilaken andika : “kadi pira siraji , Jayakatong mangkonoa ring ingsun apan sira huwus apakenak lawanisun”.

Terjemahan bebas

Sri Ranggawuni meninggalkan seorang anak laki laki, bernama Sri Kertanegara, Mahisa Campaka meninggalkan seorang anak laki laki juga, bernama Raden Wijaya. Kertanegara menjadi Raja, bernama nobatan Batara Siwabuda.

Adalah seorang hambanya, keturunan orang tertua di Nangka, bernama Banyak Wide, diberi sebutan Arya Wiraraja, rupa rupanya tidak dipercaya, dijatuhkan, disuruh menjadi Adipati di Sungeneb, bertempat tinggal di Madura sebelah timur. Ada Patihnya, pada waktu ia baru saja naik keatas tahta kerajaan, bernama Mpu Raganata, ini selalu memberi nasehat untuk keselamatan raja, ia tidak dihiraukan oleh Sri Kertanegara, karenanya itu Mpu Raganata lalu meletakkan jabatan tak lagi menjadi Patih, diganti oleh Kebo Tengah Sang Apanji Aragani.

Mpu Raganata lalu menjadi Adiyaksa di Tumapel. Sri Kertanegara pada waktu memerintah, melenyapkan seorang kelana bernama Baya. Sesudah kelana itu mati, ia memberi perintah kepada hamba rakyatnya, untuk pergi menyerang Melayu.

Apanji Aragani menghantarkan, sampai di Tuban ia kembali, sedatangnya di Tumapel Sang Apanji Aragani mempersembahkan makanan tiap tiap hari, raja Kertanegara bersenang senang.

Ada perselisihannya dengan raja Jaya Katong, raja di Daha, ini menjadi musuh raja Kertanegara, karena lengah terhadap usaha musuh yang sedang mencari kesempatan dan ketepatan waktu, ia tidak memikir kesalahannya. Banyak Wide berumur 40 tahun pada peristiwa penyerangan Melayu itu, ia berteman dengan raja Jaya Katong, Banyak Wide yang bergelar Arya Wiraraja itu dari Madura, mengadakan hubungan dan berkirim utusan. Demikian juga raja Jaya Katong berkirim utusan ke Madura. Wiraraja berkirim surat kepada raja Jaya Katong, bunyi surat: “Tuanku, patik baginda bersembah kepada paduka raja, jika paduka raja bermaksud akan berburu di tanah lapang lama, hendaknyalah paduka raja sekarang pergi berburu, ketepatan dan kesempatan adalah baik sekali, tak ada bahaya, tak ada harimau, tak ada banteng, dan ularnya, durinya, ada harimau, tetapi tak bergigi.” Patih tua Raganata itu yang dinamakan harimau tak bergigi, karena sudah tua. Sekarang raja Jaya Katong berangkat menyerang Tumapel. Tentaranya yang datang dari sebelah utara Tumapel terdiri dari orang orang yang tidak baik, bendera dan bunyi bunyian penuh, rusaklah daerah sebelah utara Tumapel, mereka yang melawan banyak yang menderita luka. Tentara Daha yang melalui jalan utara itu berhenti di Memeling.
Batara Siwa Buda senantiasa minum minuman keras, diberi tahu bahwa diserang dari Daha, ia tidak percaya, selalu mengucapkan kata: “Bagaimana dapat raja Jaya Katong demikian terhadap kami, bukanlah ia telah baik dengan kami.” Setelah orang membawa yang menderita luka, barulah ia percaya.

Analisis

Dari sepenggal kisah diatas dijelaskan bahwa setelah Ranggawuni mangkat, ia digantikan oleh anaknya yang bernama Kertanegara. Ia memerintah dengan gelar Sri Maharaja Kertanegara. Pada masa kekuasaannya ia digambarkan sebagai pemimpin yang egois dan mementingkan perutnya. Ia adalah raja yang gemar pesta dan mabuk-mabukan .

Dalam pemerintahannya sempat terjadi pergantian kabinet yang membuat banyak kalangan bhayangkara tidak puas. Antara lain Empu Raganata diturunkan dari jabatan rakryan patih menjadi adhyaksa. Penggantinya bernama Kebo Tengah atau Panji Aragani, sedangkan Arya Wiraraja dimutasi dari jabatan rakryan demung menjadi Bupati Sumenep. Panji Aragani digambarkan sebagai patih yang gemar pesta-pora, sehingga sang raja pun larut dalam pestanya. Ketika itu kebanyakan prajurit istana tengah dalam Ekspedisi Pamalayu, sehingga tjumlah tentara di istana sangatlah sedikit. Keadaan ini dimanfaatkan oleh Jayakatong (Jayakatwang) yang saat itu menjadi raja di Daha untuk menyerang Singasari. Kertanegara akhirnya tewas dalam pemberontakan Jayakatong dan dengan demikian berakhirlah sudah Kerajaan Singasari .

Sebuah akhir yang cukup tragis bagi Singasari yang baru saja merasakan kedamaian setelah bergabungnya dua anak-turun penguasa. Nikmatnya kekuasaan dan semangat untuk merdeka menjadi objek utama dalam mengkaji sejarah Singasari. Obsesi tinggi akan kekuasaan, konflik internal, dan ketidakbecusan dalam mengurus rakyat membuat raja-raja yang memimpin jarang yang mampu bertahan lama. Intrik politik dan kudeta berdarah yang hampir selalu timbul setiap era pemerintahan membuat Singasari tak ubahnya negeri yang selalu bergolak dan dipenuhi dengan ketegangan-ketegangan politik hingga peristiwa berdarah hampir selalu terjadi di kerajaan itu.

Hal itu menjadi cermin bagi Negara Indonesia bahwa hancurnnya sebuah Negara di era global ini bukan karena perang, tetapi lebih kepada penghancuran mental dan budaya. Apa yang terjadi pada kondisi Singasari saat itu bisa dikaitkan pada kondisi Negara saat ini.

Di Negara kita juga terjadi hal yang sama, pemerintah mulai saling menjatuhkan lalu berebut harta, KKN terjadi dimana-mana dan berbagai penyimpangan yang lainnya. Hal itu jika tidak berhati-hati dalam penyelanggaraan pemerintah, maka bisa hancur Negara ini dan diserang oleh Negara lain.

Intrik politik  dan konspirasi public juga merebak di Negara ini. Berbagai pelanggaran pemerintah dan masyarakat ini mau tidak mau, kita generasi muda harus berpikir kritis dan bertindak. Membangun bangsa mulai dari hal yang sederhana, membuat planning masa depan dan menimbang waktu yang tepat untuk sebuah perubahan. Maka akan tercapai sebuah good governance di Negara Indonesia ini

Kesimpulan

Bahwa segala sesuatu yang didasari dengan kebaikan maka akan menjadi kebaikkan. Warga Negara yang baik adalah yang mampu membangun bangsannya sendiri.

Perlu adannya korelasi yang baik antara pemerintah, masyarakat dan sector swasta sehingga ketika sudah seimbang akn terciptalah sebuah pemerintahan yang baik.