Rumah Tradisional Jawa Jenis Limasan Lambang Sari

Merupakan rumah tradisional Jawa yang berbentuk limasan dan mempunyai ciri khas khusus dibandingkan model rumah limasan lainnya. Sifat khusus bangunan ini yaitu pada konstruksi pembentuk atapnya, dimana terdapat balok penyambung antara “atap berunjung” dengan “atap penanggap”. Tiang yang digunakan sebanyak 16 buah. Atap bangunan ini memiliki 4 buah sisi yang masing-masing mempunyai bentuk bersusun 2 buah. Hal tersebut dikarenakan terdapat renggangan di antara kedua belah atap berunjung dan penanggapnya. Bangunan ini memiliki satu buah “bubungan” atau “wuwung” yang menghubungkan keseluruhan 4 buah sisi atap tersebut. Keseluruhan konstruksi bangunan ini menggunakan bahan kayu keras dan serat yang kuat. Kayu tersebut adalah kayu Jawa atau kayu-kayu yang berasal dari tanah di Pulau Jawa. Jenis kayu tersebut seperti kayu jati, kayu sonokeling, kayu nangka dan kayu keras lainnya. Bangunan ini menggunakan pondasi jenis “umpak” yang mempunyai ciri khas khususnya yaitu menggunakan purus pada bagian tengah tiang bawah yang berfungsi sebagaipengunci tiang atau kolom.

 Rumah Tradisional Jawa Jenis Limasan Trajumas Lawakan

Rumah tradisional Jawa ini merupakan perkembangan dari rumah tradisional model Limasan Trajumas yang mengalami penambahan pada penggunaan “emper” yang mengelilingi bangunannya. Emper keliling ini mempunyai sudut kemiringan yang berbeda daripada atap bagian pokoknya. Bangunan ini tetap menggunakan tiang pada bagian tengahnya. Hal ini yang membuat terbentuknyadua buah “rong-rongan” pada pembagian ruang dalamnya. Jumlah atap terdiri dari 4 buah sisi yang masing-masing bersusun dua dengan satu “bubungan” atau ‘wuwungan” sebagai titik pertemuan ke-empat sisi atap tersebut. Bangunan ini menggunakan 20 buah tiang atau saka sebagai struktur utama. Jika dilihat daripotongan bangunan, bentuk simetris sangat jelas dengan adanya tiang utama sebagai pembagi antara sisi ruang yang satu dengan yang lainnya. Keseluruhanbangunan menggunakan struktur kayu dengan serat kuat dan mampu menerima gaya tekan dan gaya tarik struktur. Kayu tersebut seperti kayu jati, kayu sonokeling, kayu nangka, kayu glugu dan jenis kayu jawa lainnya. Penggunaan Umpak sebagai pondasi tetap menjadi ciri khas bangunan tradisional jawa ini

Rumah Tradisional Jawa Jenis Limasan Trajumas

Merupakan rumah tradisional limasan yang hanya mempunyai 6 buah tiang atau saka sebagai struktur pokok. Karena memiliki 6 buah tiang dan terdapat ander pada bagian tengah yang membagi rumah ini menjadi dua bagian ruang yang sama atau dapat kita sebut dua buah ruangan ini sebagai dua “rong-rongan”. Rumah limasanini mempunyai empat buah sisi atap seperti rumah tradisional limasan pada umumnya. Bentuk sederhana ini merupakan kesatuan konstruksi rumah yang utuh dan unik sehingga sering dikolaborasikan dengan bentuk modern sebagaibungalow atau gazebo-gazebo yang berdiri sendiri secara terpisah dengan rumahinduk yang lebih besar lagi.

Rumah Tradisional Jawa Jenis Limasan Trajumas Lambang Gantung

Merupakan Rumah tradisional Limasan yang cukup khas dibandingkan jenisrumah limasan lainnya.Rumah Limasan ini disebut sebagai “Rumah Limasan Trajumas Lambang Gantung” sebab bagian emper pada bangunan ini tidak menempel secara langsung pada tiang utama. Bagian emper menempel pada kayu yang bergantung di ujung “brunjung” dan disebut sebagai “saka bethung”, Jadi berbeda dengan “rumah limasan lambang teplok” yang bagian “emper”-nya menempel secara langsung pada tiang utama. Disebut sebagai “Trajumas” karenabangunan ini memiliki dua ruangan yang disebut sebagai “rong-rongan”. Satu “rong-rongan” dibatasi oleh empat tiang utama yang terletak pada bagian tengah (rong=liang). Rumah limasan ini menggunakan tiang atau saka sebanyak 8 atau 10 buah. Bangunan ini memiliki empat sisi atap yang tersusun secara berenggangan sehingga sirkulasi udara dapat masuk pada bagian renggangan tersebut.Bangunan ini tetap memiliki satu “Bubungan’ atau “wuwung” pada atapnya.

Rumah Tradisional Jawa Jenis Limasan Semar Tinandhu

jenis Limasan ini disebut sebagai “Semar Tinandhu” karena bagian atap “brunjung”nya bertumpu oleh ke–empat buah tiang, dimana tiang-tiang tersebut menumpu pada balok atau blandar di tengah, jadi atap berunjung ini tidak secara langsung menumpang pada ke-empat buah tiang utama. Rumah Limasan Semar Tinandhu ini mempunyai jumlah saka 16 dan 4 buah “ saka’ pembantu dan 4 buah saka yang terletak di tengah. Bangunan ini memiliki susunan atap seperti pada rumah limasan pokok yaitu mempunyai 4 buah sisi yang ditambahkan 4 buah emper yang mengelilingi bangunan tersebut dan mempunyai satu buah wuwungan pada atapnya. Keseluruhan konstruksi menggunakan kayu yang mempunyai serat padat dan kuat untuk menerima gaya tarik dan gaya tekan. Jenis kayu yang dipergunakan biasanya adalah kayu jati, kayu mahoni, kayu nangka, kayu sonokeling dan jenis kayu Jawa lainnya. Keindahan bangunan ini adalah pada bagian interior ruang tengahnya yang memiliki konstruksi tiang bertumpuk sebagai penopang atap berunjungnya dan terlihat gagah sebagai bangunan sederhanayang sempurna dan simetris.

Rumah Tradisional Jawa Jenis Limasan Lambang Teplok

Merupakan rumah tradisional jenislimasan yangmenyerupai rumah kampunglambang teplok.Oleh sebab itu rumah ini menggunakan renggangan padakonstruksi atapnya, yaitu pada bagian atap “brunjung” dengan atap “penanggap”. Bagian ini menjadikan tampilan bangunan terlihat lebih tinggi dan gagah. Pada bagian regangan atap biasanya ditambahkan ornament pada sisi bagian dalamnya agar telihat lebih indah. Bukaan ini membuat sirkulasi udara pada bagian tengah ruangan terasa lebih nyaman dan adem. Bangunan tradisional ini memiliki 4 buah sisi atap dimana ada pemisahan regangan pada atap brunjung yang menyebabkan bagian atap terbelah menjadi dua bagian, yaitu atap penanggap sebagai emper dan atap brunjung sebagai konstruksi utama. Perbedaanya dengan rumahkampung lambang teplok adalah pada atapnya. Rumah Limasan Lambang Teplokini tidak menggunakan “Tutup Keong” pada sisi kanan kiri atapnya tetapi tetap menggunakan balok dudur yang menjadikan atapnya konsisten berbentuk limasan utuh. Keseluruhan bangunan menggunakan struktur kayu rigid dan kuat karena berbahan dasar kayu jawa berserat padat, kuat dan awet sehingga dapat berumur puluhan tahun. Kayu yang digunakan seperti kayu jati, kayu sonokeling, kayu nangka dan kayu jawa jenis serat kuat lainnya. Jenis bangunan ini dapat berdiri sendiri dan biasanya pada saat ini sering diaplikasikan sebagai pendopo atau tempat pertemuan terbuka tanpa dinding.

Rumah Tradisional Jawa Jenis Limasan Gajah Ngombe

Merupakan rumah tradisional jawa bentuk limasan pokok yang mengalami penambahan atap sebagai emper pada bagian sisi pendeknya. Jika di lihat pada denah yang berbentuk empat persegi panjang posisi penambahan struktur emper terletak pada bagian sisi terpendeknya. Rumah tradisional Limasan Gajah Ngombeini mempunyai tiang atau saka sebanyak 6, 8, 10 buah dan seterusnya yang disesuaikan dengan besaran ruang yang diinginkan, termasuk didalamnya 4 buah tiang atau saka utama pada inti bangunan. Bangunan ini memiliki satu buah wuwung dan 4 buah dudur serta 4 buah sisi atap. Satu sisi atap ditambah emper yang menjadikan bentuk atap berundak sebab memiliki kemiringan yang berbeda dengan atap utama.Keseluruhan konstruksi menggunakan struktur rangka kayu yang di sambung dengan sistim knockdown menggunakan sunduk kayu sebagai pengunci sambungan kayu yang fungsinya sama seperti paku besi. Biasanya penambahan sisi emper dibuat dengan sistim lantai berundak sehingga bagian atap emper mempunyai fungsi seperti teras depan atau entrance rumah tinggal.

Rumah Tradisional Jawa Jenis Limasan Lawakan

Rumah tradisional ini merupakan bangunan yang berasal dari daerah Jawa yang merupakan perkembangan bentuk rumah jawa sederhana model kampung yang kemudian dikembangkan menjadi bentuk rumah tradisonal Limasan Pokok.

Bentuk rumah Limasan Lawakan ini merupakan rumah limasan pokok yang ditambahkan emper pada seluruh sisi bangunan yang berjumlah 4 buah. Bentuk emper ini diambil dari bentuk “Rumah kampung panggangpe” dan diletakkan pada ke-empat sisi rumah model Limasan Pokok. Kesimpulan mengatakan bahwa asalRumah Limasan Lawakan ini merupakan hasil adobsi dua model rumah jawabentuk Limasan pokok sebagai struktur utama dengan Rumah Kampungpanggangpe sebagai struktur tambahan sebagai sisi emper bangunan. Penggabungan ini terlihat pada struktur balok atau “blandar” yang ditambahakn sebagai tumpuan “emper atap”. Rumah ini memiliki 4 buah tiang atau “saka” sebagai konstruksi utama yang terletak pada bagian tengah ruangan dan perlu diketahui bahwa ini adalah struktur utama yang berasal dari Rumah Limasan Pokok dan ditambahkan struktur tambahan sebagai emper pada keempat sisi bangunan sehingga jumlah keseluruhan tiang saka sebanyak 16 buah. Hal ini yang menjadikan rumah limasan lawakan mempunyai 4 buah sisi atap dengan bentuk bertingkat karena mempunyai sisi kemiringan yang berbeda antara atap bagian tengah dengan atap bagian emper. Seluruh atap disatukan dengan satu buah wuwungan dan balok “dudur”.

Rumah Tradisional Jawa Jenis Limasan Sinom Lambang Gantung Rangka Kutuk Ngambang

Merupakan bangunan rumah jawa bentuk Limasan yang mempunyai ciri khas khusus pada bentukan konstruksi atapnya. Bangunan ini disebut sebagai “Lambang Gantung Rangka Kutuk Ngambang” karena pada ujung “molo” tedapat bagian yang menonjol sepanjang 2/3 dari panjang “ander”. Apabila bagian menonjol tersebut mempunyai ukuran 1/3 dari ukuran “ander”, maka disebut sebagai “Kutuk Manglung”. Bangunan ini disebut juga sebagai “Limasan Sinom Lambang Gantung” karena memiliki atap penanggap yang bersusun 2 buah dan posisinya bergantung pada “Saka Bethung”. Bangunan ini mempunyai 3 buah “rong-rongan” dan mempunyai jumlah saka atau tiang sebanyak 48 buah sampai 60 buah. Keseluruhan konstruksi atapnya terdiri dari 4 buah sisi yang masing-masing sisinya bersusun 3 buah susunan serta berpusat pada satu buah “bubungan”. Limasan ini bisa dikatakan hasil dari variasi rumah bentuk limasan yang cukup rumit dan terlihat megah secara struktural dan pada detail-detail sambungan konstruksi atapnya. Bangunan ini menjadi terlihat gagah dan perkasa jika kita pandang dari keseluruhan tampak luar serta  interiornya. Sirkulasi udaraserta bias cahaya dapat masuk ke ruang dalam rumah dan mencangkup keseluruhan interiornya. Hal ini dikarenakan terdapat regangan-regangan pada 3 buah atap bersusunnya. Keseluruhan konstruksi pembentuk rumah ini menggunakan kayu jawa dan tetap menggunakan pondasi jenis umpak sebagai tumpuan tiang-tiang kolomnya.