“TEKS SEKSUAL DALAM SERAT CENTHINI”

1.Rima dan Ritma dalam Serat Centhini

a. Purwakanthi guru swara (asonansi) :

– lawan aja asanggama tanpa damar (SC I, Pupuh 30 Sinom bait 31 baris 9)

– Kalangkung gunging panuwun (SC II, pupuh 32 Kn, bait 2 baris 1)

 

b. Purwakanthi guru sastra (aliterasi)

– kajawi kang wus kawiyos (SC I, Pupuh 31 Asm bait 12 baris 3)

– Sênèn Slasa sangaripun (SC I pupuh 31 Asm, bait 37 baris 6)

 

c. Purwakanthi guru lumaksita

Rima dalam puisi Jawa tradisional identik dengan puwakanthi. Adanya rima dalam puisi menyebabkan timbulnya ritma. Ritma dalam puisi dapat diibaratkan gerak yang teratur yang ditimbulkan oleh adanya perulangan bunyi. Dengan adanya tekanan ritmik, puisi menjadi lebih merdu.

 

B. Kekhasan Proses Morfologis dalam Serat Centhini

 

            1. Afiksasi       Kata-kata dalam Serat Centhini banyak didominasi oleh pemilihan kata-kata yang mengandung arti arkhais. 

 

a. Prefiks {Pi-}     : pitutur,

b. Prefiks {Ka-}    : kawêdhar , kadulu, katlorong

c. Prefiks {A-}      : anggarejeg, angadêg , anguyêg

d. Prefiks {Ma-}    : maratani , manêmbah

e. Prefiks {Kami-} : Kamipurune , kamigilan

f. Infiks {–in-}      : inganti, ingulig-ulig, inganggang

g. Infiks {–um-}    : dumadya sumêmbur, gumandhul

h. Sufiks {-ing}     : kèling , lampahing, gunging

i. Sufiks {-ira}       : adatira  ngalamatira, sasolahira

            2. Proses Perulangan

a. Dwilingga padha swara: rambah-rambah, beda-beda, tuwa-tuwa

b. Dwilingga salin swara: gar-gêr  wolak-walikan

c. Dwipurwa: kakasihing, sasagêd, kakalih

3. Proses Persenyawaan : rajabarana, nagasari

4. Perubahan Fonem dan Bentuk Kata karena Konvensi Tembang

a. Perubahan fonem karena tuntutan krama

b. Perubahan fonem karena tuntutan guru lagu:

Prayoga – prayogi, Jawa – Jawi, mangke – mangkya

c. Perubahan Bentuk Kata karena Konvensi Tembang:

gwaya – guwaya, dunungirèki  (dunungira + iki)

 

 

 

 

C. Pemilihan Diksi dan Bahasa Figuratif dalam Teks Seksual Serat Centhini Karya Pakubuwana V

 

1. Tembung Dasanama

Asanggama, amongraras, sacumbana, andon- rêsmi, sarêsmi, andon-asmara, karonrêsmi, karon-            ulut, akaronsih.

2. Kata-kata Kawi: nuswa, mrih, sanggyaning

3. Sasmita tembang: Asmaradana (asmara, brangti)

4. Diksi yang Bersifat Pribadi dan Khas Dalam Hal Seks

 

a)      Diksi nama-nama bagian anggota tubuh yang sering disebutkan berkenaan dengan masalah seksual

 

1) Guthul ‘alat kelamin laki-laki’

2) Dakar ‘alat kelamin laki-laki’

3) Konthol ’buah pelir’

4) Pasta Purusa ‘alat kelamin laki-laki’

5) Wokan ‘vagina’

6) Mundri ‘puting payudara’

7) pênthil ’puting payudara’

8) Payudara ’buah dada’

9) Nyunyung ‘puting buah dada‘

10) Cêmèmèk ‘alat kelamin wanita’

11) Parji ‘alat kelamin perempuan’

b) Diksi yang mengundang khayalan seks:

gréwal-grèwèl, mak blês, blês-blês, mak blêng, sablêsêkan, mak sut plere lêr.

 

c) Diksi Penggunaan Kata-kata dari Bahasa Arab:

usali parêdal subêki rêkangaténi, Allahu akbar kabiran alkamdulilahi , Hirakêmanirakimin.

 

5. Gaya Bahasa (majas) Metafora: gada (identik alat kelamin laki-laki)

6. Gaya bahasa Simile / Pepindhan: lir, kaya, kadya

7. Gaya bahasa Metonimia: lonthe, rajasinga, Hyang Arka

8. Gaya bahasa Personifikasi

 

D. Struktur Batin Teks Seksual Serat Centhini Karya Pakubuwana V meliputi tema, perasaan, nada dan amanat.

 

1. Tema:

a. Waktu-waktu yang Terbaik untuk Bersenggama (Serat      Centhini Jilid I)

b. Cara Membangkitkan Nafsu Seksualitas Wanita Sesuai     Harinya (Serat Centhini Jilid II).

c. Jejamuan Penguat Seks dan Doa-doa yang Harus Diucapkan (Serat Centhini Jilid II)

d. Tipe-tipe Wanita Dilihat dari Ciri Fisiknya (Serat Centhini Jilid III)

e. Ciri Wanita Yang Masih Perawan dan Bukan (Serat           Centhini Jilid III)

f. Watak Wanita Berdasarkan Hari Kelahiran dan      Wetonnya (Serat Centhini Jilid III)

g. Cara Membangkitkan Gairah Asmara Seorang Wanita       (Serat Centhini Jilid IV)

h. Tingkah Laku Seorang Homoseksual (Serat Centhini        Jilid V)

i. Pengalaman Seks Masing-masing Selir (Serat Centhini       Jilid V)

j. Tidak Melakukan Hubungan Seksual dengan          Perempuan yang sedang Menstruasi/Datang Bulan             (Serat Centhini Jilid VI)

k. Bentuk Kelamin Laki-laki (Serat Centhini Jilid VII)

l. Tema Mengenai Tingkah Laku Bersenggama (Serat            Centhini Jilid VIII dan Jilid IX)

m. Tema Mengenai Penyakit Kelamin (Serat Centhini Jilid   X)

 

2. Perasaan: Perasaan selalu ingin mengajarkan hal yang baik, suci dan benar mengenai kawruh seks agar kelak membuahkan hasil yang baik.

3. Nada: nada persuasif, nada religi

4. Amanat: Kawruh seks yang diajarkan dalam Serat Centhini sebenarnya mengingatkan bahwa manusia hendaknya selalu sadar akan bibit kawite ‘asal mulanya’ dan harus berupaya memaknai makna hidup ini.

 

Kesimpulan

 

1. Pola bunyi bahasa yang dominan muncul adalah purwakanthi guru swara (asonansi), purwakanthi guru sastra (aliterasi) dan purwakanthi lumaksita. Adanya rima mampu memberikan tekanan ritmik pada larik sehingga menjadikan puisi lebih merdu.

2. Dalam hal struktur morfologis, pembentukan kata dan pemakaian kata-kata cenderung memilih bentuk-bentuk kata yang bernilai arkhais. Selain itu banyak terdapat persandian kata, perulangan dan pemajemukan kata. Proses pemilihan bentuk kata sangat terikat dengan guru wilangan dan guru lagu.

4. Pemilihan kata/diksi sangat beraneka macam yaitu tembung garba, tembung rangkêp, tembung dasanama, kata-kata Kawi, dan sasmita tembang. Di samping itu juga terdapat diksi yang bersifat pribadi dan khas dalam hal seks. Penggunaan metafora, simile, metonimia dan personifikasi selain mengandung unsur estetik, majas-majas tersebut juga dapat menambah keindahan dan  mengkonkritkan ide yang ingin disampaikan penyair kepada pembaca.

5. Serat Centhini khususnya yang memuat teks seksual mengungkapkan tema seks yang beragam. Adapun amanat dalam Serat Centhini yang berhubungan dengan masalah seksual adalah sebenarnya mengajak semua pembaca untuk selalu mendekatkan diri kepada Tuhan dengan sarana seks. Serat Centhini mengingatkan bahwa manusia hendaknya selalu sadar pada bibit kawite ‘asal mulanya’ dan harus berupaya memaknai makna hidup dengan baik.

Pamarsudining sarêsmi / kang wus sun gêlar sadaya / kanggo srana lantarane / dènnya yun angawruhana / mring asal wijinira / manungsa sajatinipun / kasbut têmbung paribasan // (Serat Centhini Jilid III Pupuh 191 Asmaradana bait 21)

Terjemahan:

Ilmu tentang senggama / yang sudah saya ajarkan / sebagai sarana pemahaman / untuk dapat mengetahui / tentang asal-usul kelahiran / manusia sebenarnya / itulah gambarannya //