Tags


   SERAT TRIPAMA

Image 

Isi Serat Tripama

Serat Tripama merupakan karya dari Mangkunegara IV yang berupa tembang macapat. Serat tersebut secara rinci terdiri dari 7 pada ( bait ) tembang Dhandhanggula. Secara garis besar serat tersebut diambil dari cerita pewayangan Ramayana dan Mahabarata. Menceritakan tiga satria yang setia mengabdi kepada bangsa dan negara sampai mengorbankan kepentingan pribadi dan keluarga. Dalam pengabdiannya benar – benar mencurahkan seluruh kepandaian,  keberanian dan tanggung jawab .

Isi dari Serat Tripama karya Mangkunegara IV adalah sebagai berikut :

Bait 01

Yogyanira kang para prajurit,                     Seyogyanya para prajurit

lamun bisa sira anuladha,                         kalau bisa semuanya meniru

duk ing nguni caritane,                             Seperti cerita pada masa dahulu                                                                                                                             

andel ira Sang Prabu                                (tentang) andalan sang Prabu 

Sasrabahu ing Maespati,                           (raja) Sasrabahu di Negara Maespati

aran patih Suwanda,                                   Bernama Patih Suwanda

lalabuhanipun,                                          Jasa-jasanya

kang ginelung tri prakara,                           yang dipadukan dalam tiga hal

guna kaya purune kang den antepi,            (yaitu) kepandaian, kekayaan, dan kemauan (keberanian) itulah

                                                                  yang ditekuninya

nuhoni trah utama.                                    Menepati keturunan ( sifat ) orang utama

 

Bait 02.

 Lire lelabuhan tri prakawis,                       Arti jasa bakti ada tiga macam

 guna bisa saneskareng karya,                  pandai, mampu di dalam segala bidang

 binudi dadya unggule,                              diusahakan memenangkannya

kaya sayektinipun,                                   seperti kenyataanya

duk bantu prang Manggada nagri,              waktu membantu perang negeri Manggada              

amboyong putri dhomas,                           memboyong delapan ratus orang puteri

katur ratunipun,                                        dipersembahkan kepada rajanya

purune sampun tetela,                               (tentang) keberaniannya sudahlah jelas

aprang tanding lan ditya Ngalengka nagri,    perang tanding melawan raja raksasa

                                                                Negara Ngalengka

Suwanda mati ngrana.                                (Patih) Suwanda gugur dalam perang

Bait 03

Wonten malih tuladhan prayogi,               ada lagi teladan baik

satriya gung nagri ing Ngalengka,            Satria besar dari negera Ngalengka

Sang Kumbakarna arane,                         Sang Kumbakarna namanya

tur iku warna diyu,                                    padahal (ia) tergolong raksasa

suprandene nggayuh utami,                      meskipun demikian (ia) berusaha meraih keutamaan

duk wiwit prang Ngalengka,                      sejak perang Ngalengka

dennya darbe atur,                                    ia mengajukan pendapat

mring raka amrih raharja.                          Kepada kakandanya agar selamat

Dasamuka tan kengguh ing atur yekti,      (tetapi) Dasamuka tak tergoyahkan oleh pendapat baik

De mung mungsuh wanara                        karena hanya melawan (barisan) kera

                                                                 
Bait 04

Kumbakarna kinen mangsah jurit,            Kumbakarna diperintah maju perang

mring kang raka sira tan lenggana,          oleh kakandanya ia tidak menolak

nglungguhi kasatriyane,                            menepati (hakekat) kesatriaannya

ing tekad datan purun,                              (sebenarnya) dalam tekadnya (ia) tidak mau

amung cipta labuh nagari,                        (kecuali) berpikir untuk membela negara

lan nolih yayah rena,                                dan mengangkat (nama ) ayah-bundanya

Myang leluhuripun,                                   kepada leluhurnya

wus mukti aneng Ngalengka,                     telah hidup nikmat di negeri Ngalengka

mangke arsa rinusak ing bala kapi           (yang) sekarang akan dirusak oleh barisan kera

Punagi mati ngrana.                                  (kumbakarna) bersumpah mati dalam perang

Bait 05

Wonten malih kinarya palupi,                    ada lagi untuk teladan

Suryaputra narpati Ngawangga,               Suryaputra raja Ngawangga

lan Pandhawa tur kadange                       dengan pandawa (ia) adalah saudaranya

len yayah tunggil ibu                                 berlainan ayah tunggal ibu

suwita mring Sri Kurupati,                        (ia) mengabdi kepada Sri Kurupati

aneng nagri Ngastina,                               yang berada di Negara Ngastina

kinarya gul agul,                                       (ia) dijadikan andalan

manggala golonganing prang,                  panglima di dalam perang

Bratayuda ingadegken senopati,               Bratayuda (ia) diangkat menjadi senapati

ngalaga ing Kurawa.                                 Perang di pihak Korawa

Bait 06

Den mungsuhken kadange pribadi,           dihadapkan dengan saudaranya sendiri

aprang tandhing lan Sang Dananjaya,     perang tanding melawan Dananjaya (Arjuna)

Sri Karna suka manahe,                            Sri Karna gembira hatinya

Den  nggonira pikantuk,                            karena (dengan demikian) ia memperoleh

marga denya arsa males sih                      jalan untuk membalas cinta kasih       

ira Sang Duryudana,                                 Sang Duryudana

marmanta kalangkung,                              maka ia dengan sangat

denya ngetok kasudirane,                          mencurahkan segala keberaniannya   

aprang  rame Karna mati jinemparing,     (dalam) perang ramai Karna mati dipanah (musuhnya)

sumbaga wirotama.                                   (akhirnya ia) mashyur sebagai perwira utama

Bait 07

Katri mangka sudarsaneng jawi,               ketiga (pahlawan tersebut) sebagai teladan orang Jawa

pantes sagung kang para prawira,            sepantasnyalah semua para perwira

amirita sakadare,                                      mengambilnya sebagai teladan seperlunya

ing lelabuhanipun,                                    (yakni) mengenai jasa-bakti-nya

hawya kongsi buwang palupi,                   janganlah sampai membuang teladan

manawa tibeng nistha,                               kalau-kalau jatuh hina

 ina esthinipun,                                          rendah cita-citanya

 senadyan tekading buta,                           meskipun tekad raksasa

tan prabeda budi panduming dumadi,      tidaklah berbeda usaha menurut takdirnya (sebagai) makhluk

marsudi ing Kautaman.                             berusaha meraih keutamaan

Jadi secara sistematis Serat Tripama dapat dibagi menjadi 4 bagian pembahasan.  
Bagian pertama ( bait 1 dan 2 ) bercerita tentang Seorang Patih yang bernama Suwanda yang mengabdi kepada raja Arjunasasrabahu di Maespati.

Bagian kedua ( bait 3 dan 4 ) bercerita tentang seorang kesatriya tetapi berwujud raksasa bernama Kumbakarna yang menepati hidupnya sebagai Pahlawan Negara Ngalengka.

Kemudian bagian ketiga ( bait 5 dan 6 ) menceritakan tentang seorang prajurit bernama Karna, ia mengabdi kepada Negara Ngastina sampai gugur dalam perang Bratayuda.

Bagian keempat adalah kesimpulan dari 3 bagian sebelumnya. 

Dari tokoh Karna dalam Serat Tripama kita dapat mengambil nilai –nilai kepahlawanan yang bisa menjadi teladan di era globalisasi. Sifat luhur yang dimiliki Karna anatara lain:

a)                  Membalas budi atas kebaikan yang diberikan orang lain.

Hal ini terlihat ketika ia diangkat menjadi raja Angga oleh Duryudana, sebagai bentuk balas budi dia setia mengabdi ke Negara Astina sampai akhir hidupnya.

b)                 Seorang yang cinta tanah air dan membela Negara sampai mati.

Sikap kedua ini terlihat saat perang Bratayuda ia maju sebagai Panglima Perang, dan berjuang untuk Negara Astina sampai gugur di tengah peperangan.

c)                  Teguh dalam pendirian,memiliki prinsip dan karakter yang kuat.

Pada lakon Kresna Duta, Karna dibujuk untuk berpihak kepada pandawa, tetapi ia tetap pada pendiriannya untuk membela Astina. Karena Ia hidup dan besar di Negara Astina.

d)                 Setia menepati janji

Saat Sayembara memanah yang diadakan di Astina untuk menentukan prajurit terbaik, maka Karna dating dan mengajak tarung Arjuna. Dan Karnapun keluar sebagai pemenang, tetapi karena ia bukan keturunan raja maka ia tidak berhak mengikuti sayembara itu. Disaat itu Duryudana mengangkat Karna sebagai Raja Awangga.Disitulah muncul kesetiaan kepada Duryudana.lalu ia mengeluarkan sumpah :

Mengahrgai dan menjunjung tinggi jasa Prabu Kurupati yang telah mengangkat ia menjadi Raja Angga dan dengan itu ia terbebas dari penghinaan di hadapan pertandingan ketangkasan olah perang. Ia bertekad membalas budi dengan bersumpah membela Sri Kurupati dengan bertaruh nyawa ( Kamajaya : 1985)

e)                  Berjuang menegakkan kebenaran dan melumpuhkan kemungkaran

Sikap tegasnya dilandasi tujuan luhur . Dalam lakon Kresna Duta  diceritakan bahwa Karna dibujuk untuk berpihak kepada Pandawa tetapi ia mengerti maksud Kresna bahwa Karna harus berpihak kepada Kurawa agar Bratayuda segera terjadi dan hancurlah angkara murka.

f)                   Patuh dan hormat kepada  Orang tua

Pertama hal ini terlihat saat ia diangkat menjadi Raja Angga. Ia tetap menghormati Adhirata ( orangtua angkatnya) selalu menghargai keberadaan keluarga angkatnya walaupun dengan kasta yang lebih rendah.

Kedua terlihat ketika dewi Kunti (Ibunya) mengatakan bahwa Karna tidak boleh membunuh Pandawa. Ia juga patuh akan hal itu. Walaupun sebenarnya kemampuan Karna jauh di atas Pandawa.

Kelemahan dari Karna adalah  :

a).        Tinggi hati

Sikap Karna sukar diajak temu pendapat sehingga tidak terjadi hubungan timbal balik antara dia dengan pihak lain. Sebaliknya semua pendiriannya tidak dapat dikalahkan dan sikap pribadinya harus dihormati pihak lain. Hal ini terlihat saat Karna mengungkapkan pendapatnya saat membuat strategi perang dalam pertempuran melawan Abimanyu.

b).        Penipu

Karna meminta Rama Parasu untuk mengajarinya seni berperang terutama untuk menguasai Bramastra. Rama Parasu menolak permintaan Karna karena rasa bencinya pada kaum satria yang telah membunuh orang tuanya. Maka untuk mendapatkan ilmu, Karna berbohong tentang asal usulnya dan mengaku sebagai seorang Brahmana.

Suatu hari ketika Rama Parasu sedang tidur dengan kepala di pangkuan Karna, seekor serangga menggigit pahanya. Ini menyebabkan paha Karna berdarah dan ia pun merasakan kesakitan yang amat sangat. Namun Karna bertahan untuk tidak bergerak agar gurunya tidak terbangun. Darah yang menetes dari paha Karna memercik ke muka Rama Parasu dan membuatnya terbangun. Melihat apa yang terjadi Rama Parasu mengetahui bahwa Karna bukanlah seorang Brahmana karena hanya seorang satria yang dapat menahan sakit seperti itu. Karna mengaku bahwa ia telah berbohong, dan Rama Parasu marah lalu mengutuk Karna. Bahwa Karna tidak akan bisa mengeluarkan ilmunya kecuali pada saat di mana ia paling membutuhkannya.

Beberapa nilai luhur dalam figur Karna ini merupakan sesuatu yang baik pantas kita teladani tetapi sikap yang buruk harus kita buang . Seperti yang tercantum dalam bait terakhir Serat Tripama.

 Katri mangka sudarsaneng jawi,              ketiga (pahlawan tersebut) sebagai teladan orang jawa

pantes sagung kang para prawira,            sepantasnyalah semua para perwira

amirita sakadare,                                      mengambilnya sebagai teladan seperlunya

ing lelabuhanipun,                                    (yakni) mengenai jasa-bakti-nya

hawya kongsi buwang palupi,                   janganlah sampai membuang teladan

manawa tibeng nistha,                               kalau-kalau jatuh hina

 ina esthinipun,                                          rendah cita-citanya

 senadyan tekading buda,                          meskipun tekad raksasa

tan prabeda budi panduming dumadi,      tidaklah berbeda usaha menurut takdirnya (sebagai) makhluk

 

Sebagai generasi muda hendaknya kita melanjutkan perjuangan dan Cita-cita pahlawan yang mendahului kita. Melalui pembangunan di berbagai bidang demi kemajuan bangsa dan Negara Indonesia.