Tags

,


Dangdanggula

Semut ireng anak-anak sapi
Kebo bongkang nyabrang kali bengawan
Keong kondhang jarak sungute
Timun wuku ron wolu
Surabaya geger kepati
Gegering wong nguyak macan
Cinandak wadahi bumbung
Alun-alun Kartasura
Gajah meta cinancang wit sidoguri
Mati cineker pitik trondol.

Sudah banyak terjemahan bebas mengenai langgam tersebut. Di sini, saya mencoba mengartikannya per baris dengan terjemahan versi saya, secara bebas, adalah sebagai berikut :

Semut ireng anak-anak sapi

Maknanya adalah semut hitam, kaum mayoritas namun berukuran kecil, sebagai rakyat jelata yang dari mereka akan terlahir sapi, sebagai sosok kaum kelas tinggi, elit dan bangsawan. Dalal langgam ini akan diberikan tips dan trik bagaimana agar sosok semut ireng, yakni rakyat jelata di negeri kita ini dapat melahirkan kaum pemimpin/pemerintah

Kebo bongkang nyabrang kali bengawan

Seorang putra rakyat jelata dapat menjadi pemimpin jika sosok kebo bongkang alias kerbau yang besar itu mampu menyeberangi bengawan atau sungai. Maksudnya, ketika putra rakyat jelata tersebut mampu memanfaatkan tekhnologi untuk melakukan sesuatu hal yang dirasa mustahil.

Keong kondhang jarak sungute

Sudah jelas bagi kita, bahwa keong itu memiliki jarak pandang yang terbatas. Namun jika sosok rakyat jelata mampu melihat jauh ke depan, tidak berkutat pada hal yang berjangka pendek saja, tidak mustahil jika rakyat tersebut bisa menjadi pemimpin.

Timun wuku ron wolu

Sebagian menggunakan kalimat “Timun Wuku Gotong Wolu”, ada juga yang “Godhong wolu” dan lain sebagainya. Maknanya adalah seorang rakyat jelata dapat menjadi hebat jika mampu menjalin persatuan dan kesatuan, sehingga membentuk sebuah kelompok yang kuat dan siap menopang beban yang berat.

Surabaya geger kepati

Ini mengisahkan perihal kondisi sebuah kota yang berada dalam keributan dan kekisruhan. Bahkan, dikarenakan keributan tersebut banyak nyawa yang melayang.

Gegering wong nguyak macan

Keributan tersebut tak ubahnya keributan orang yang mengejar harimau, maknanya adalah orang yang mengejar dan mencari pemimpinnya.

Cinandak wadahi bumbung

Kemudian, setelah pemimpin tersebut ditangkap, kemudian dimasukkan ke dalam penjara.

Alun-alun Kartasura

Ini mengisahkan fakta yang terjadi pada pemerintahan pusat. Sebagaimana saat itu, kartasura menjadi pusat pemerintahan

Gajah meta cinancang wit sidoguri

Ada yang menggunakan kalimat “Gajah meto cinancang ing tembe buri”. maknanya, ada sosok pendobrak dan pembaharu, yakni gajah, yang tidak bisa berkutik di pemerintahan, bahkan terkekang di posisi yang tidak seharusnya, alias pemerintah tidak menangkap potensinya.

Mati cineker pitik trondol.

Ada yang hanya menggunakan kalimat “Patine cineker ayam”. Sosok gajah lama kelamaan akan mati oleh ulah sosok ayam, sosok tukang ribut yang hanya bisa mengobrak abrik suasana, sombong dan suka membusungkan dada, serta suka mengadu domba. Bahkan ayam inilah yang akan mendapat perhatian dari pemerintahan, serta akan mendapatkan kebebasan, bukan terkekang sebagaimana sang gajah.