FILOLOGI

Kearifan lokal yang mengakar dalam suatu kebudayaan dapat dilacak kembali pada tinggalan budaya masa lalu kebudayaan tersebut. Aneka bentuk tinggalan budaya masa lalu tersebut salah satunya berbentuk naskah dan ilmu pengetahuan memungkinkan adanya kajian ilmiah terhadap naskah tersebut yakni dengan menggunakan ilmu filologi.

 

Menurut Baried, dkk (1994:2) kata filologi berasal dari bahasa Yunani philologia yang berupa gabungan kata dari philos yang berarti teman dan logos yang berati pembicaraan atau ilmu. Dalam perkembangannya, philologia kemudian diartikan sebagai senang kepada tulisan-tulisan yang bernilai tinggi seperti karya-karya sastra. Kata filologi, sebagai istilah yang digunakan untuk menyebut keahlian yang diperlukan dalam mengkaji peninggalan tulisan yang berasal dari beratus tahun yang lampau, dicetuskan pertama kali pada sekitar pada abad ke-3 SM oleh Eratosthenes, salah seorang ahli dari Iskandariyah.

 

Filologi di Indonesia, awalnya dikembangkan oleh pemerintahan kolonial Belanda, bertujuan untuk mengungkap informasi masa lampau yang terkandung dalam bahan tertulis peninggalan masa lalu dengan harapan adanya nilai-nilai atau hasil budaya masa lampau yang diperlukan dalam kehidupan masa kini (Baried dkk, 1994: 9).

 

Seperti halnya bidang ilmu pengetahuan yang lain, filologi pun memiliki sasaran atau obyek kerja. Manyambeang (1989: 18) mengatakan bahwa obyek filologi adalah naskah atau teks dengan menggunakan media bahasa sebagai sarana penelitian. Lebih lanjut lagi dikatakan bahwa, naskah dan teks memiliki pengertian yang berbeda. Naskah (‘handschrijft’ Belanda, ‘manuscript’ Inggris) merupakan semua bahan tulisan sebagai hasil kebudayaan masa lalu dan dengan demikian bersifat konkrit dan dapat dipegang atau disentuh, sedangkan teks adalah isi naskah itu sendiri. Kajian ilmu yang mendalami segala sesuatu tentang teks, seperti cara penurunan/penyalinan teks, pemahaman atau penafsiran serta penambahan atau pengurangan kata atau kalimatnya disebut tekstologi; dan pembahasan seputar seluk beluk naskah, misalnya bahan, alat tulis, umur, tempat penulisan maupun perkiraan penulis naskah, menggunakan kajian ilmu kodikologi (1989: 19-20).

 

Walau sama-sama merupakan hasil tulisan tangan, terdapat perbedaan yang signifikan antara prasasti dan naskah. Baried, dkk (1994: 55-56) menunjukkan perbedaannya sebagai berikut:

  1. Naskah umumnya berupa buku atau menggunakan bahan tulisan tangan dari kulit kayu, dluwang, dll. Prasasti menggunakan media alas dari batu, logam, marmer, dll.

 

  1. Naskah pada umumnya panjang karena memuat cerita yang lengkap sedang prasasti hanya berisi hal-hal penting saja, misalnya pemberitahuan resmi pendirian sebuah bangunan suci.

 

  1. Naskah biasanya bersifat anonim dan tidak berangka tahun sementara dalam prasasti sering tercantum nama penulis dan tahun pembuatannya.

 

  1. Naskah mengalami proses penyalinan dan karenanya berjumlah banyak. Di lain pihak, prasasti tidak demikian.

 

  1. Naskah yang paling tua adalah naskah Tjandra-karana yang menggunakan bahasa Jawa Kuno (kira-kira abad ke-8) sedangkan prasasti yang paling tua diperkirakan berasal dari sekitar abad ke-4 (prasasti Kutai).

 

 

Suatu perkembangan yang perlu dicatat dalam penelitian filologi di Indonesia adalah timbulnya perhatian pada ilmu kodikologi yang sebelumnya tidak diminati secara khusus oleh para peneliti (Ikram, 1997: 4).

ILUMINASI DAN ILUSTRASI DALAM KODIKOLOGI

Kodikologi, sebagai salah satu ilmu bantu kajian filologi selain tekstologi, berasal dari kata Latin codex (bentuk tunggal; bentuk jamak ‘codices’) yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi ‘naskah’, bukan menjadi ‘kodeks’. Sri Wulan Rujiati Mulyadi menyatakan bahwa kata caudex atau codex dalam bahasa Latin menunjukkan hubungan pemanfaatan kayu sebagai alas tulis yang pada dasarnya kata itu berarti ‘teras batang pohon’. Kata codex kemudian dalam berbagai bahasa dipakai untuk menunjukkan suatu karya klasik dalam bentuk naskah. Hermans dan Huisman menjelaskan bahwa istilah kodikologi (codicologie) diusulkan oleh seorang ahli bahasa Yunani, Alphonse Dain, dalam kuliah-kuliahnya di Ecole Normale Seprieure, Paris, pada bulan Februari 1944. Akan tetapi istilah ini baru terkenal pada tahun 1949 ketika karyanya, ‘Les Manuscrits’ diterbitkan pertama kali pada tahun tersebut. Dain sendiri mengatakan bahwa kodikologi adalah ilmu mengenai naskah-naskah dan bukan mempelajari apa yang tertulis di dalam naskah. Dain juga menegaskan walaupun kata kodikologi itu baru, ilmu kodikologinya sendiri bukanlah hal yang baru. Selanjutnya Dain mengatakan bahwa tugas dan “daerah” kajian kodikologi antara lain ialah sejarah naskah, sejarah koleksi naskah, penelitian mengenai tempat naskah-naskah yang sebenarnya, masalah penyusunan katalog, penyusunan daftar katalog, perdagangan naskah, dan penggunaan-penggunaan naskah itu (Mulyadi, 1994:1-2).

Dalam artikelnya yang berjudul ”Iluminasi Naskhah-naskhah Minangkabau”, Zuriati menjelaskan bahwa pada awalnya istilah iluminasi digunakan dalam penyepuhan emas pada beberapa halaman naskah untuk memperoleh keindahan dan biasanya ditempatkan sebagai hiasan atau gambar muka (frontispiece) naskah. Dalam perkembangannya, istilah iluminasi ini dapat dipakai dalam pengertian yang luas untuk menunjukkan perlengkapan dekoratif apa saja yang, biasanya, berhubungan dengan warna-warna atau pigmen metalik dan didesain untuk mempertinggi nilai penampilan naskah, meliputi, antara lain bingkai teks yang dihias, penanda ayat, penanda juz, dan tanda kepala surat pada Alquran. Jadi, pada dasarnya, iluminasi adalah hiasan-hiasan yang terdapat pada naskah yang, terutama, berfungsi untuk memperindah penampilan naskah. Di samping iluminasi, istilah ilustrasi muncul kemudian untuk merujuk hiasan yang selain berfungsi untuk memperindah naskah, juga mendukung atau menjelaskan teks. Dalam studi naskah-naskah Eropa, kedua istilah tersebut sering dipakai secara bergantian. Akan tetapi, kedua istilah itu selalu digunakan secara berbeda dalam studi naskah-naskah Islam. Meskipun demikian, beberapa penelitian membuktikan bahwa iluminasi dan ilustrasi tidak selalu dapat dibedakan karena perbedaan fungsinya tersebut (2010: 1-2).

 

Secara lebih sederhana, Mulyadi (1994: 69) menjelaskan bahwa ragam hias yang terdapat pada sebuah naskah dapat dibedakan menjadi: iluminasi, yakni hiasan bingkai yang biasanya terdapat pada halaman awal dan mungkin juga pada halaman akhir; dan ilustrasi, yaitu hiasan yang mendukung teks.

Naskah-naskah tua Nusantara tersebar di seluruh wilayah Indonesia, sebagian besar ditulis dalam bahasa daerah yaitu: Melayu, Sunda, Jawa, Bali, Batak, Lampung, Bugis, Makasar, Madura dll. Sedangkan huruf/aksara yang dipakai adalah aksara daerah yaitu huruf Batak, Lampung, Rencong, Bugis, Makasar, Jawa Kuno, Sunda Kuno, Bali, Arab Jawa/Jawi dan Arab Pegon/Melayu. Sebagian lainnya dalam huruf Palawa. Perlu diingat bahwa naskah-naskah Nusantara itu sebagian besar tidak bergambar (ilustrasi), hanya sebagian kecil saja yang memuat ilustrasi dan iluminasi. Dari sebagian naskah yang bergambar itulah terlihat bahwa nenek moyang bangsa Indonesia telah memiliki tradisi visualisasi yang unik dan mempesona (Damayanti dan Suadi, 2009).

  • Iluminasi

 

Sebagai salah satu wilayah kajian kodikologi, pembahasan mengenai iluminasi pada naskah-naskah Nusantara baru muncul pada pertengahan abad ke-20 ketika Coster-Wijsman (1952) menjelaskan sedikit tentang ilustrasi pada naskah Jawa, dalam cerita Pandji Djajakusuma. Hingga kini, sejumlah tulisan hasil penelitian terhadap naskah-naskah beriluminasi, terutama naskah Jawa dan Melayu telah diterbitkan. Hal-hal penting yang patut dicatat adalah bahwa iluminasi tidak hanya berfungsi sebagai hiasan, tetapi juga menunjukkan ciri-ciri kedaerahan tempat naskah-naskah itu berasal dan merupakan tanda-tanda yang bermakna (Zuriati, 2010: 2).

Berdasarkan penelitian, iluminasi dalam naskah lebih banyak ditemukan pada surat-surat para raja masa lalu dalam korespondensi dengan pihak kolonial Belanda, yang kemudian dikenal dengan istilah Golden Letters. Walau tentunya ditemukan juga dalam beberapa naskah lain, misalnya hikayat, namun dalam jumlah yang tidak banyak (Mulyadi , 1994: 71-72). Dalam pembuatannya, iluminasi banyak menggunakan warna-warna mencolok, antara lain kuning, hijau, biru, merah, oranye, coklat, ungu dan campuran warna.

Hiasan berbentuk bingkai berhias ini, umumnya terdapat pada beberapa halaman di awal naskah dan di beberapa halaman pada akhir naskah. Jarang sekali, hiasan bingkai berhias tersebut ditemukan atau terletak di halaman-halaman pertengahan naskah. Pada satu sisi hal itu memperjelas, bahwa iluminasi atau hiasan bingkai tersebut berguna untuk memikat atau menimbulkan daya tarik pembacanya. Sekaligus, hiasan bingkai berhiasa tersebut menambah nilai (seni) naskah tersebut. Setidaknya, pembaca akan mengawali bacaannya dengan rasa senang, dengan daya tarik dan nilai (seni) yang baik, dan akan mengakhiri pula bacaannya dengan tetap mempertahankan rasa senang itu.  Di sisi lain, posisi yang biasa ditempati oleh hiasan bingkai tersebut menunjukkan pula, bahwa menghiasi atau membingkai teks itu bukanlah merupakan pekerjaan yang mudah, melainkan suatu pekerjaan yang juga memerlukan suatu keterampilan, khususnya keterampilan menggambar. Hiasan atau gambar yang sangat sederhana sekalipun dikerjakan dengan penuh perhitungan dan kehati-hatian, sehingga tampilan bingkai tersebut menjadi indah dan menarik serta tampak proporsional. Hiasan bingkai yang dikerjakan secara sederhana atau dengan teknik yang tinggi, tentu saja, akan membedakan kualitas gambar atau kualitas iluminasinya (Zuriati, 2010: 7-8).

Mu’jizah menyatakan bahwa hiasan yang digunakan diambil dari kekayaan alam, yakni flora, seperti motif bunga delima, bunga krisan, mawar, bunga popi, pakis, melati, dan bunga tanjung. Di samping itu dipakai juga gambar dari benda-benda suci yang hidup dalam tradisi seperti swastika, bola api, mahkota, kubah, dan topi. Gambar dan motif-motif yang dipakai pada iluminasi, bukan hanya untuk keindahan semata, melainkan juga bermakna. Makna itu sifatnya tersembunyi sebab disampaikan melalui simbol atau lambang. Berdasarkan beberapa buku acuan tentang simbol, ternyata sebagian besar simbol yang dipakai maknanya berkaitan dengan sumber-sumber kekuasaan, seperti raja, pelindung, dan Tuhan. Makna-makna itu wajar saja dipakai sebab surat-surat beriluminasi dibuat oleh para penguasa (2010: 2-5).

 

Surat-surat beriluminasi di Nusantara ini berasal dari banyak daerah, seperti Aceh, Riau, Lingga, Johor-Pahang, dan Trengganu, Palembang, Madura, Surabaya, Batavia, Bogor, Banten, Bima, Pontianak, Mempawah, Banjarmasin, Gorontalo, dan Tanete. Surat ini jumlahnya mencapai 125 surat yang dikirim dari Raja-Raja Nusantara kepada Pemerintah Kolonial atau sebaliknya dari Pemerintah Kolonial kepada Raja Nusantara. Kini surat-surat tersebut menjadi koleksi berharga di berbagai lembaga, baik di dalam maupun di luar negeri, seperti Arsip Nasional di Jakarta, Indonesia, Perpustakaan Universitas Leiden dan Perpustakaan KITLV di Belanda, British Library dan Perpustakaan Cambridge University di London, Inggris, serta Bibliotheque Nationale di Paris, Perancis (Mu’jizah, 2010)

Berdasarkan definisinya, ilustrasi merupakan unsur pendukung teks. Damayanti dan Suadi (2009) menjabarkan nilai, latar belakang dan fungsi ilustrasi, sebagai berikut:

 

  1. Ilustrasi pada naskah memiliki metoda tertentu yang mengandung sejumlah nilai, norma, aturan dan falsafah hidup sebagai manifestasi dari perwujudan daya cipta masyarakat.

 

  1. Wujud visualnya merupakan representasi dari nilai-nilai dan aturan-aturan tertentu yang terkait dengan proses penciptaan suatu produk seni rupa tradisi.

 

  1. Ilustrasi pada naskah mempunyai fungsi sosial sebagai media komunikasi yang terkait dengan sistem nilai, pranata sosial dan budaya pada masanya bahkan masih dijadikan pedoman masyakat Nusantara hingga sekarang.

 

  1. Faktor-faktor enkulturasi, akulturasi, sinkretisme, asimilasi yang disebabkan oleh persilangan budaya asing turut memberikan ciri-ciri khusus terhadap wujud visual gambar Ilustrasi pada naskah nusantara, baik dilihat dari persamaannya maupun perbedaannya. Mengingat posisi  strategis negara Indonesia yang terletak diantara dua benua dan menjadi tempat persinggahan antar bangsa yang menyebabkan terjadinya proses silang budaya dan globalisasi sejak berabad-abad. Naskah Nusantara adalah gambaran transformasi dalam budaya baca tulis dan seni rupa.

 

  1. Ilustrasi pada naskah nusantara memuat nilai-nilai spiritualitas yang mencerminkan masyarakatnya adalah masyarakat beragama yang memiliki keyakinan tentang ketuhanan.
  2. Dalam perkembangannya, gaya ilustrasi dalam naskah di nusantara mengalami banyak penyesuaian dengan kondisi yang ada saat itu. Gaya ini terus berevolusi sejak masa Hindu, Islam hingga masa kolonial Belanda.

 

  1. Keberadaan iluminasi dan ilustrasi pada naskah nusantara membuktikan adanya cita rasa seni yang tinggi yang dimiliki oleh nenek moyang bangsa ini. Aneka fungsi dan nilai sosial dari setiap iluminasi dan ilustrasi yang terlihat dalam naskah-naskah tersebut menunjukkan kualitas peradaban yang pernah dimiliki oleh nusantara.

 

  1. Adanya praktik jual beli naskah Melayu di Sumatera Barat, Riau dan Kepulauan Riau menyebabkan banyak naskah yang ke luar dari “asalnya”. Praktik jual beli tersebut dilakukan oleh pewaris naskah kuno dengan beberapa oknum dari Malaysia dan negeri lainnya. Kondisi ini mengancam keberadaan naskah di wilayah ini. Selain itu, terjadinya bencana alam serta sikap masyarakat yang kurang mengetahui cara perawatan naskah merupakan ancaman terhadap kelestarian naskah. Oleh karena itu diharapkan keterlibatan semua pihak secara proaktif agar keberadaan naskah kuno warisan budaya luhur nenek moyang dapat dipertahankan dan dilestarikan untuk generasi  yang akan datang.

 

REFERENSI

 

Baried, Siti Baroroh, dkk, 1994, Pengantar Teori Filologi. Yogyakarta: Fakultas Sastra UGM.

 

Damayanti, Nuning & Haryadi Suadi, 2009, Ragam dan Unsur Spiritualitas pada Ilustrasi Naskah Nusantara 1800-1900-an. (http://www.wacananusantara.org/content/view/category/1/id/382, diakses pada 30 Oktober 2010)

 

Ikram, Achdiati, 1997, Filologia Nusantara. (Editor: Titik Pudjiastuti dkk). Jakarta: PT Dunia PUstaka Jaya.

 

Manyambeang, Abd. Kadir, 1989, Pengantar Filologi. Ujung Pandang: Fakultas Sastra Univ. Hasanudin.

 

Mulyadi, Sri Wulan Rujiati, 1991, Kodikologi Melayu di Indonesia. Depok: Fakultas Sastra Univ. Indonesia.

 

Mu’jizah, 2009, Interaksi Budaya dalam Surat Beriluminasi. (http:// docs.susastra-journal.com/…/artikel%20mu%5C’jizah,ok.pdf, diakses pada 30 Oktober 2010)

 

Zuriati, 2010, Iluminasi Naskhah-naskhah Minangkabau. Padang: Fakultas Sastra Univ. Andalas. (http://repository.unand.ac.id/id/eprint/2374, diakses pada 30 Oktober 2010)

 

Babad Cina

Babad Cina

 

Serat

Babad ing nagari cina, nalika karaton ing jaman Jing Tya, inggih punika anyariyosaken nalika panjenenganipun sang prabu Gian Liong Khun, alelana nalamur kawula dhateng nagari Kanglam utawi Syohcyu.

Katedhak saking tembung malayu, saha kasekaraken macapat dening babah Si Gwan Kin  ing kartasura. Nalika panganggitipun ing tahun 2440 panjenenganipun sang prabu Khong Shu jumeneng angsal 16 taun, utawi ing taun walandi 1890.

Katedhak ing tanggal 29 september 1900.

 

Deningpun

Sastra Hoetomo

 

 

 

 

 

 

 

 

SRIE

GYAN LYONG KUN

 

Duk makirtya ri anggara manis, wulan besar tanggal ping asta welas, mangsa karo de wukune landhep alip kang taun sangkalaning warsa winarni trusing tyas ngesti nala, nenggih kang ginelung, babad tireng nagri cina, duk jenengnya Gyan Lyong Kun sri narapati namurnis saking pura.

Tanpa abdi tedhak sang aji, pan amindho jalma sudagaran marmatan kawruhan akeh, den iku sang aprabu kang amengku tiongkok nagari, dene sri maharaja Gyan Lyong Kun punika, anurutken para nata kang amengku nagari cina nganti mangkin, prabu Kong Su punika.

Ugi tedhak Gyan Lyon Kung narpati pan mangkana gancaring carita, winiwit mula bukane, Sun Tikun Sang sinuhun, edangiro Gyan Lyong Kun aji, iku nata kawitan, ing Jing Tya prajagung, jumeneng 18 warsa, nulya seda ginantyan putra nireki Kong Ikun Sri narendra.

Nganti lami jumeneng ngiraji, sawidak langkung sajuga warsa, tandya seda sang pamase, ginantyas putranipun ajejuluk Gong Cing narpati, jumeneng sawlas warsa, sang nala gya surud ginantyanan putra nira Sri Gyang Yong kusseda gumantya mring siwi, Ke Ging Kun julukira.

Sasedanya putra kang gumanti, prabu To Kong seda ingkang putra, Sri Am Hong jumeneng rajeng, nulya prabu Tong Tikun, tan nalami seda sang aji, nulya putra gumantya, nenggih prabu Kong Su, ratu agung binathoro, inggih ingkang jumeneng samangke iki, kalokeng jagat raya.

Bondha bandhu karatonnya luwih, sugih wadya bala tanpa wilang, tur santosa nagarane, sadaya kuthaipun, sajeroning cina nagari, kinubeng pager bata, tur kandel aduwur, upama kang parang muka, bangsa lyan arsa bedah cina nagri, sayekti nora gampang.

Awit langkung santosa ing nagri, lan okeh ing wadya bala tontra, asta tus ewu kathahe, seje titindhihipun, kang pratiwalan praprajurit, kabeh sudireng lana, lan wadya ing laut, ugi kathah tanpa wilang, lan palwa prang kang sami linapis wesi, ugi tan petungan.

Iku samya rumekseng jaladri, bok manawa ana mungsuh prapta, saking ing liya prajane, pinapa naprang neng laut, marma praja ing kanan leri, kekes samya suwita, bulu bekti katur mring Sri Maharaja Cina, tangeh lamun sinebutna siji-siji, ratu kang kasasaban.

Ing dhamparnya kangjeng Sri Bupati, yata mangkya ingkang winursita, Sri Gya Lyong Kun duk jenenge, mengku Jing Tya prajagung, pan kasuwur ing mancanagri, putus sumbageng jagad, tur sudi reng kewuh, tan kewras gelaring ngaprang, dasar ambek para martasih ing dasih, lan dina danan nira.

Ajejeg denya ngasta adil, sumarmanya kang para kawula, suyud numuji harjane, prajanya sang aprabu, pan sumambrah berkah iraji, wrata sanuswa cina, jalmalit ing dhusunadhem tentrem asesawah,  sirna maling mamala  satru ning bumi, bumiyarja dadya tondho.

Yeku ratu mustikaning bumi, tangeh lamun  winarna ing gita, harjaning praja sang rajeng, ing ngari juganuju, miyos piniwakeng pradasih, lenggah ing dampar emas, ing ngayap praharum, manggung ketanggung biyana, ingkang samya ngampil upacara aji, Gya Lyong Kun sri narendra.

Menggep lenggah aning dampar rukmi, kadya ilang kamanusa nira, lir hyang ngasmara citrane, bupati  myang tumenggung, mantri lawan para prajurit, pepak sumiweng ngarsa, yata sang prabu, arum pangandika nira, eh sakehing para sayaka bupati, marma sajeneng ingwang.

Iya bisa jumeneng narpati, awit saking rahmatireng Allah, kang dumawah eyang binges, tumurun mring wak ingsun, mangkya karsa harjaning nagri, ecane prakawula iku yektinipun,  ingkang awit saka sira, pada  mantepa setya angasta nagari, bantoni mring  wak ingwang.

Mangkya wus kacihna arjeng nagri, kang mangkana banget panrimeng wang, marang sira sakabehe, prabupati duk ngrungu, matur nuhun sujud mring aji, nata antyarsa umyat, malih sabdanipun, eh sakehe punggaweng wang, karsa ningsun iya ing dina puniki, gawe pasemonira.

Ingsun nulis aneng ing sutrabit, lah ta mengko padha cundhukena, kang bisa rujuka repe, sagung punggawa ngrungu dawahira jeng Sri bupati, nembah alon turira, pukulun sang prabu, nuwun bumi kaparingna, pirsa dhateng kawula sadaya sami, pasemon jeng paduka.

Suka ngandika sri narapati, lamun bisa condhong ingsun ganjar, rajatadi ingkang ngakeh, tandya nyerat sang prabu, pan mangkan ungellireki, gyonte ing ping kalawan, Lwi Kainki iku, Icihong tomaning ira, tiyanontin, dene tajarwa nireki, barisya sang murbeng ngrat.

Yen lumampah mangka tamburneki, sanggya bledheg, mega kang pinengka, bandera iku isthone, udan kang minangka hru, angin mangka sanjata neki, yaiku pasemonya barisana ing ruhur sawus sira serat dadya gya pinaringaken mring sagung bupati, sadaya amariksa.

Nanging siji tan nana kang bangkit, nyandak pasemonnya sri narendra, temah delag-deleg kabeh, sumungkem sirahipun, dahat ajrih mring narapati, nata garjita umyat yen punggawaipun, boten wonten ingkang wigya, anyondhokken pasemonnya sri bupati, ing tyas dahat tan panna.

Kawistara ujwala sing liring, tandya wonten punggawa geng nama, Tan Yong Boh dene lunggguhe, Bun Atyantahe Agsu, majeng ngarsa nembah tur nyaris, duh gusti sri pamasa kawula atur wruh, menggah pasemon paduka, ing sareh ning punggawa sadaya sami, tan wonten ingkang  wigya.

Anyundhukken kang punika gusti, yen kapapag karsa padukendra amba darbe murid ranne, Pang Sing Syu namanipun, asli saking Khwitang nagari, mangke wus darbe pangkat, Kijin namanipun, wasis putus marang sastra, bok manawi gusti punika abangkit, nadyan meksih taruna.

 

 

Nanging putus dateng sastra, mila yen kapapag gusti, mugi dipun timbalana, Sang nata wau duk myarsi, Tan Yong Boh atur neki, suka angandika arum, lah iya iku jalma, ing samengko ana ngendi, Yoh Boh matur wonten ing wisma kawula.

Sang nata tan dya mangannya, mantri pangkat ira nami, Uwibun Khwa kinen enggal, beta serat ira sang aji, Pang Sing Syu den timbali, Uwibun Khwa tanpi gupuh, serat dawahnya Sang nata asigra-sigra lumaris, nora dangu wus prapto Yong Boh dalemnya.

Panggihana Pang Sing Syu, nawala dawuh sang aji, wisaos mring sang caraka, Pang Sing Syu suka miyarsi, tinimbalan mring aji sujud umatur asuhun tandya budal kalihnya, tan dangu lampahnya prapti, laju sowan mapag ngabyantara nata.

Nembah sumungkem mring kisma, sang nata sabda rum manis, eh Pang Sing Syu susmiyarsa, sireku putusa kalirm, kabeh sakehing tulis, mula sun undang sireku, condong saserat ingwang, kang suci traning sutra brit, lamun bisa cocog sira ingsun ganjar.

Pang Sing Syu nembah aturnya, kasinggihan sabda aji, nanging nalika patikbra, ajar sastra duk ing bgudi, inggih datan pakardi, wit guru ambasa darum, kirang waskita sira katujunya ing samangkin, angsal guru utama Yong Boh punika.

Punika begya kawula, Tan Yong Boh samangke gusti, munjuk  dateng padukendra, bilih kawula dinugi, bangkit nyundhuken maring, ing pasemon jeng pukulun, nanging panuwun amba, inggih kawula tan bangkit, tarlena mung kang ngabdi nuwun ngapura.

Ing sisiku jeng paduka, samangke ambarsa uning, panemon jeng padukendra, nata kalanya myarsa, Pang Sing Syu atur neki, tandya ngutus sang ngaprabu, abdi kabiri inggal, amaringken kanang tulis, mring Pang Sing Syu tinampan nulya winaca

Winawas cisip teng driya, pang Sing Syu tandya anulis, ugi wonten sutra jingga, tan dangu serat tan dadi, condong tan nana lisir, lan pasemonnya sang prabu, mangkana ungelira, Pang Sing Syu denira nulis, Lyong Ong Yahyan, Gwatcek Singtingsan malihnya.

Ngahuhahecyu kalawan, tehwipun jarwa nireki, ratu sajroning samodra, sang hyang baruna manawi, drawina wanci ratri, candra mami nongka lampu, dene sang Gya Sudama, minangka lampu lit alit, amadangi silebeti reng samodra.

Dene toyaning sagara, kang minangka arak neki, kang minangka dhedhaharan, wiwitan isining ardi, jagat ingkang kinardi, enggon drawina puniku, mangkana denya nyerat, Pang Sing Syu dadya wus sami, condong lawan kagungannya sang pamasa.

Awit pasemonya sang nata, nyritakken barising nglangit, ingkang kinarya upama, Pang Sing Syu denira nulis, ingkang karya upami, inggih raja nireng laut, denira ondrawina, serat sawus sira dadi, ing ngunjukken marang kajeng sri narendra.

Nata sawus sira mriksa dahat suka nireng galih, keplok-keplok asta nira, ngalembana Sri bupati, pang Sing Syu tuhu wasis, lan bagus seratanipun, mangkana andikanya, Pang Sing Syu tuhu sireki, wus waskitha nindhita ing kasusastran.

Lan nawang Sing Syu warnanya, pantes yen dadi prayayi, tur putus ing tata krama, alus wicaranya manis, nulya wau sang aji, paring kurmat mring Pang Sing Syu, arak winehken gelas, emas agemnya sang aji, Sing Syu ngunjuk nembah anuwun aturnya.

Wus cinatet mring sang nata, pang Sing Syu benjing ngireki, arsa pinaring gelanggah, tandyakalan umulih, sarta dhawah sang aji mring prajuritnya Gi Lim Kun, lan saprangkat pradongga, sabandera dira sami, angiringna Pang Sing syu ing ngukih ira.

Yeku nata paring kurmat, Pang Sing Syu ageng kang galih, ginarbeg wadya sang nata, cingak wong sajroning nagri, pan wus grah ing ta sami, yen Sing Syu tuk nugrah agung, katrima mring narendra, mangkana datan kawarni, sang Pang Sing Syu wus prapto Yong Boh dalemnya.

Kacarita sri narendra maksih sisiswi ing dasih, mangkana andika nira, eh sagung para prajurit, miwah para bopati, saparsan derekken mring sun, awit sedya manira, arsa acang krama mami, namur lampah iya mring nagara Kang Lam.

Nanging sagungnging nayaka, bopati pratiwa mantri, mendheke walang sadaya, mring narendra apan nganti, sabda dawah ping katri, ning meksa tan na sumaur, temah duka sang nata, nabda wengis sawetawis, eh tandyan sira tan na derek mring wang.

Mangsa mundur rakar seng wang, bupati nayaka mantri, tumungkul konjemming kisma jrih mulat dukaning aji, yata sri nara nata, jengkar lumebang kadhatun, bubar sagung punggawa, yata wau sri bupati, sarawuhnya dalem pura tandya nurut.

Nawala sawusya dadi, nimbali abdi kabinycih, nami inglon nata nabda, eh inglon layang puniki, iya ing benjing ngenjing, paringna mring Sae Agsu, Tan Yong Boh nama nira, lawan Lau Yong wong kalih, awit ingsun arsa sis mring praja kanglam.

Kalamur dene laminya, yen nora sapuluh warsi, iya namung limang warsa, ingsun kondur mring nagari, eh poma aiwa lali, Inglon nembah tompah sampun, nawala gya sang nata, angrucat busaning aji, amangagem busana lirwang sudagar.

Byar enjing sang nata medal, sing puranis mung pribadi, sakatahing pra punggawa, siji tan nana udani, meksi samya sumawi, kadya saben-sabenipun, tan dangu antaranya,Ing Lon Gi abdi kabiri, bekta serat mijil saking datula.

 

Pinaringken mring Tan Yong Boh nenggih, lawan sang Lau Yong sarwi nebda punika serate, sri narendra mring paduka kalih, dwi punggawa nuli, seratnya sinambut.

Gya binuka sinukwa ing galih, serat jeng sang katong, pan mangkana jro serat ungele, sun paring jruh mring pra abdi mami, yen ing dina iki, ingsun sida nglangut.

Tilar praja namur lir wong cilik, dene sedyaning ngong, marang Kang Lam bawahe kabeh, wekas ingsun marang sira kalih, dipun ngati-ati, rumekseng praja gung.

Aiwa owah sadaya prakawis, lir duk meksih ing ngong, ingsun pasrah mring sira kalih-kalihe, ingkang mangka iya sulih mami, sagung pra bopati, anuta sireku.

Limang warsa bok wana wabakit, kondur jeneng ing ngong, yen tan bisa samana lawase, ya sapuluh warsa mesthi mami, kondur marang nagri, poma wekas ingsun.

Ywa nawani anglirwaken weling, Yong Boh lan Lau Yong, dahat ngungun wasana kalihe, dhawah marang sagung pra bopati, kinen ngati-ati, rumekseng prajagung.

Tandya budhal kang sami aningkil, mangkya kacariyos, tedak kira kangjeng sang ngarajeng, pan amedal wiwara ing wingking, anjlog ing Swi Lyong Cin, padhusunan agung.

Iku dhusun jaban baluarti, sang nata sukanon, dene langkung rejati kalane, jroning desa ana pasar neki, wismeng wong apipit, katah marginipun.

Sesimpangan parapatan tuwin, kang anjog liya gon, lawan wonten wisma langkung gedhe, sarta inggil lotengan nireki, Kilam Lau nami, nggih punika warung.

Parantinya wong sipeng ing ratri, dhaharan mirantos, lan isum wanwanne kawarna keh, sri narendra dahat trus theng galih, sang nata gya manjing, ing loteng kang dhuwur.

Lenggah kursi tan na dangu prapti, sajuga wong anom, warung tanya marang mring bupati, mangkana sabdeki, sudagar kang rawuh.

Lah punapa arsa ngunjuk awis, lam-ulaman kaot, warni-warni masakan kabehe, pan ing ngriki sadaya miranti, kang minda wong nagri, angandika arum, iya ingsun arsa ngunjuk awis, ingkang becik yektos, lan masakan kang enak rasane, nadyan larang ingsun nora wedi, bayar mring sireki, rencang matur sanggup.

Tandya mudhun paranwan mring koki, kinen masak gupuh, rencang mendet arak lan malihe, sawarni ning wowohan kang edi, sinelehken mungging, meja ngarsanipun.

Sang ngaprabu kang mindho wong cilik, dahat suka anon, de tan dangu wus cumawis kabeh, sang gya masakan tur wangunnya edi, lan araknya becik, gya ngunjuk sang prabu.

Rencang ingkang anuwangi aris, trus teng tyas sang kathong, ngunjuk sarwi dahar masakane, iwek tyeku kanjeng bupati, raos sireng galh, nora pisan emut.

Kawirnya duk aneng jro puri, ciptaning tyas sang katong, kang ginagas tan nana liyane, mung dennyarsa cangkrama lyan nagri, iku kang ginalih, sajeroning ngunjuk.

Mengotnya marang kang ngladeni, eh babo wong anom, ingsun tanya desa kene kiye, apa ana lyan panggonan malih, kang seneng go plesir, keh lelangenipun.

Kang tinanya alon atur neki, kula myarsa wartos, benjing enjing ing radinan kene, badhe ngarak, Twa Pekong sayekti, keh tingalan neki, yen sudagar ayun.

Mider-mider mriksani karamin, kathah kang tinonton, rupa-rupa titingalan kabeh, amepeki sang nlamur duk myarsi, dahat sukeng galih, nabda manthuk-manthuk.

Iya benjing ngenjing sun ningali, angarak Twa Pekong, ratri iki sun nginep ing kene, sawu sira dhahar sri bupati, linorodan sami, dulu tan winuwus.

Enjing wungu sang mindha wong cilik, rencang wus mirantos, dedhaharan cecawisan sang rajeng, tandya dahar wau sri bupati, sawus sira bukti, kasmaran tumurun.

Saking ing loteng manggihi, kang darbe wisma pondokan, mangkana nata delinge, kisanak kularsa kesah, ningali karamean, mangke lamun kula wangsul, kabeh enggon kula dhahar.

Sapinten telas sireki, inggih lajeng kula bayar, kang darbe wisma wuwuse, inggih sakarsa andika, sang nata gya winata, medal saking pondhokanipun, prapteng margi geng katingal.

Untaping wong kang kati, aningali karamean, leksan awendran tan pahe, lir erob bong jaladian, enpyarseng tyas sang mindha, sudagar kacaryan dulu, dene agenging karamean.

Tontonan mawarni-warni, lan asrining pakampungan, banjengan atherek-therek, gedhong-gedhong pinggir marga, toko-toko gumelar, sutra pangsi lan lyanipun, tan ilang tinanyakena.

Tan pahe kalawan nagri, sang nata mider mariksa, wuwuh seneng panggalihe, nutug ing sakarsa nira, mangkana tindak ira, ing wanci wus mungkar bedhug, raos luwe padarannya.

Tandya sang namur umeksi, wonten sajuga sudagar, gedhong tur bagus bangune, loteng ira susun tiga, wonten rining sastra, Cising Lau ungelipun, yeku wisma pamondhokan.

Lan bade dhahar ranenggih, tuwin arak warna-warna, nata mnyat dhahar saharse, nulya wau pinarpekan, nata prastawa myarsa, nginggil loteng sibaranipun, wonteng kang natap pradonga.

Segara arum nganyut ati, lan binarung sasendhonan, san narpa lumebet age, duk prapta ngaseng wiwara, tepining dwara ana, tulisan rinenggo murub, awit toya mas kinarya.

Lan nyerap de ungel neki, yen ing ngriki pamondokan,sinten ingkang karsa mondhok, angsal atumbas sabarang, minuman lan daharan, dahar sanira pratama, sadhiya tan kakurangan.

Sang nata wani duk manjing, katingal kathah sujalma, kang dahar lawan kang ngombe, arak nganti kurang genya, dadya sang nlamur lampah, ninggali mring lotheng ing ngriku, ugi wus tan na enggennya.

Dadya nata minggah malih, loteng kang luhur piyambak, ngriku wus ana wonge, nanging nora pati katah lan ana gon kang selo, lan resik panggenanipun, sakeca karya lenggahan.

Lan kanan keri sireki, ing tembok na tulisannya, kang endah-endah jarwane, lan golek mawarna rupa, karya rengganing wisma, yeku kothong namanipun, wuwuh asri tiningalan.

Sang nata rena ing galih, ningali reganing wisma, dadya lenggah sang ngarajeng, tan dangu narencang prapto, tanya mring nara nata, sudagar naparsa ngujuk, lan mundut daharan napa.

Sang namur ngandika aris, ya aku anjaluk arak, kang betcik lan masakane, senadyan regane larang, ingsun tan wedi bayar, janji enak rasanipun, rencang sandika gya prenah.

Ugi tan dangu sumaji, arak lawan dedhaharan, tinata neng meja andher, ing loteng kang luhur pyambak, nata dahat sukeng tyas, dahar masakan lan ngunjuk, lawan sinambi tumingal.

Ing margi ageng kaeksi, untaping jalma kang samya, aningali ing karamen, ana lunga ana teka, selur pan ngantya, sesek ingkang margi agung, wuwuh rena sri narendra.

Saking suka nireng galih, kalantu angunjuk arak, radi wuru sang ngarajeng, ing wanci wus pukul papat, prajalma kang tumingal karamean, sami mantuk, gya tumurun sing lothengan.

Wau kang kangjeng sri bupati, saprapta nira ing ngandhap, kang darbe wisma nulya ge methukaken lan aminta, arta iwak lan arak, wolung tail katahipun, langkung sewidak papat mata.

Slaka iku reganeki, arak kalawan daharan, sang nata angrogoh kantong, kantong ing rasukan nira, arsa mendhet ardana, kaget jroning tyas si prabu, kantong kang nana picisnya.

Analongsa jroning batin, de supe tan sang arta, wasana rum andikane, duh mitra ywa dadi duka, awit kula kalepyan, inggih boten beto sangu, wit kasusu angkat kula.

Yen mitra pracayeng mami, ing sanen dinten kewala, kula kengkenan marene, ambayar sambutaning wang, kang darbe wisma myarsa, malenggong mangsuli gangsul, kanthi marengut netyanya.

 

Eh sudagar paran rembug, yen makaten nora keni, mangan iwak ngombe arak, samono kathah ireki, banjur arta dipun utang, niku tan wanara neki.

Ing dina iki panuju, kathah para tamu prapti, perlu kangge niku arta, kinarya tutumbas malih, nyadiyani barang-barang, lamun ana tamu prapti.

Mong kaarsa dika sambut, ing ngriki pondhokan cilik, paitan namung sapala, marma tan bisa ngutangi, yen sudagar boya bisa gih bayar arta saiki.

Buntelan dika punika, lan busananya sami, tinggalen mong kacekelan, sanes dinten lamun uwis, sudagar kagungan arta, gih dika tebus mariki.

Sampun sumelang ing kalbu, yen ilang darbek ireki, sang nata kalanya myarsa, duka angandika wengis, eh apa tan wuwuws sira, sakupama jeneng mami.

Tan aweh cekelan ingsun, lah sira arsa punapi, kang darbe wisma miyarsa, runtika sru ngandika neki, lamun sira datan arsa, aweh cekel mring mami.

Mung sabisa sira metu, iya sing lawang puniki, aiwa maneh kaya sira, sudagar kalamun bukti, iya ora gelem bayar, sawektine sun dhedheli.

Nadyan kangjeng sangngaprabu upama tedhak mariki, dahar nora arsa bayar, pesti yen ingsun dhedheli, busananya ingkang ana, gambar ira nata aji.

Aja maneh mung sireku, yen ora asun wudani, sang nata kalanya myarsa, aduka yayah sinipi, lir sinebit karna nira, amingkis rasukan neki.

Kang darbe wisma tinapuk, tinendhang tiba kuwalik, geger jro wisma pondhokan, kang lagi eca abukti, sami ngadheg sedya neki, dhinupak miwah tinenda, akeh tiba kajumpalik, kajangkang karangkang-rangkang, temah samya mlayu ngenthir.

Tan anongga rosanipun, marang sang sudireng westhi, awit wus kalokeng jana, sri Gyan Liong Kun jeneng neki, Bunbu Cwan Cahe sang nata, putus prawireng ngajurit.

Sawus sira sami mawut, namung kantun tukang bakmi, pinukul satengah petjah, tantara nulya na prapti, sujalma maksih taruna, warnanya bagus respati.

Duma rojoga praptanipun, naketi kang lagya runtik, nabda arum manohara, rumesep bahannya encik, duh paman kang lagya dugi, punapa prawita neki.

De sanget duka pukulun, mangkya sarehna rumiyin, piwarsakna atur kula, sang taruna den nira ngling, sarwi mesem duk sang nata, myarsa turnya sang maladsih.

Suka tumingal sang prabu, ngalembana jroning galih, mangkana osik sang nata, narweki warnanya pekik, tur pantes micara nira, dahat sukeng tyas sang aji.

Temah larut bendhonipun, naketi mring sang taruni sarwi nyepeng arta sira, pangandika nira aris, eh mudha ingsun atanya, sabab punapa sireki.

Amenggak ing karsa ningsun, mukuli mring tukang bakmi, ingkang liwat kurang ajar, iya marang jeneng mami, apa iya sanak ira, lan mring sun tannya sayekti.

Sireku sapa jenengmu, lan wisma nira ing ngendi, matur mau sang taruna, kawula nami Cyu Jit Cing, mila kami purun amba, amenggak duka inggih.

Saking boten saged dulu, paduka sanget gebagi gih dateng kang darbe wisma, pinukul satengah mati, lan ambagih dede sanak,. Namung wqelas aningali.

Dateng kang satengah lampus, mila yen tangan ing kapti, paduka mugi ngapura, sisipipun tukang bakmi, lan amba anuwun pirsa, mula bukaning prakawis.

Lawan yen pareng pukulun, paduka kula aturi, kampir dateng wisma amba, saking ngriki boten tebih, sang nata kalanya myarsa, aturing Jit Cing kadyeki.

Entar sengtyan ngandika rum, nyritakken prakawis neki, purwa dugi wasananya, jalarannya dadya runtik, Cyu Jit Cing kalanya myarsa, suka gambuhnya gumanti.

Yen mung makaten iku prakawisnya, tan pantes ing ngudur, lamun kangjeng paman arsa ngangge duwit, tuwin paka damel nyaur, inggih mring kang darbe pondhok.

Sumangga kula asung, Cyu Jit Cing wusnya nabda kadyeku, tandya ngrogoh kantongan nira kulambi, sarwi mendet picisipun, sapuluh tail kumopyok.

Arta sinungken sampun, marang tukang bakmi luwihipun, asusuki tukang bakmi mring Cyu Jit Cing, tinampan tandya sang nlamur, ing ngajak sang prawira nom.

Mampir mring wismanipun, pan mangkana Cyu Jit Cing lingipun, lamun paman sudi kawula aturi, kampir dateng wisma ulun, saking mriki boten adoh.

Meksih tunggil padusun, sri narendra duk myarsa wuwus, sri Jit Cing adreng denya kinen mampir, tur tembungnya manis arum, trapsilanya andhap asor.

Wewah suka sang prabu, tansah ngalembana jroning kalbu, awasana nata angendika aris, iya kulup ingsun anut, marang ing wismanta ing ngong.

Nulya kalih budhal wus, sipondhokan samarga sang prabu, gung imbalan wacana ling nira aji, sunniki nama kodyan su, wismeng sun jro praja kathong.

Tan tebih lan kadhatun, yata lampahnya kalih prapto wus, wismeng Jit Cing sang nata ngandika aris, sun niki kulub akewuh, dene mau aku nganggo.

Artamu di go nyaur, tukang bakmi iku lamun weruh, ramanira kalawan ibu nireki, yekti kalingseman ingsun, Cyu Jit Cing sumaur alon.

Apan ywa wa lang kalbu, alit rama kawula wus lampus, namung kantun ibu lawan rama abdi, marma sumangga ywa rikuh,dene capa duka lungguh.

Kawula arsa mlebu, griya wingking arsa atur weruh, mring jeng ibu Cyu Jit Cing sun sira panggih, nenggih marang ibunipun, sumujud turira alon.

Ibu kawula wau, beta tamu naminya Ko Dya Su, pinangkanya saking ing Kha wha sya samangkin, prayoganya kangjeng ibu, amanggih ana den gupuh.

Kacrita sang retno yuk, ibu nira Cyu Jit Cing puniku, tiyang Syehwhi Pambekkanya langkung betcik, asih sesameng tumuwuh, andina dana tan nanggop.

Dene ta putranipun, mung sajuga Cyu Jit Cing puniku, kakung ira denya pejah wus salami, mila sanget asihipun, mring Cyu Jit Cing, sang nglir sinom.

Sajuga putra kakung, dasar wasis putus salir kawruh, pan ing ngugung sakarsanya den turuti, awit wus waskiteng kalbu, yen putra nira sang anom.

Kumpulan karemipun, lan sang gya sang paramitrasipun, sami ajar solah gelaring ngajurit, ing ngari wau sang ayu, myarsa tur ira sang nganom.

Lamun ambekta tamu, dahat suka dawah kinen gupuh, mring kang putra kinen nyegah ateh wangi, Jit Cing mendhet the gya metu, lan kang ibu medal alon.

Arsa manggihi tamu, Jit Cing tandya angaturken gupuh, eteh wangi asegah mring tamu neki, sarwi atur kurmat, Kyong Cu sang tamu tampi nabda lon.

Ya Jit Cing jeneng ingsun aweh slamet mring ibu nireku, tinebihna sadaya nireng sasakit, pinanjangna yuswanipun, antuk kaberkah sang katong.

Sang retno mangsuli rum, inggih tamu kula sanget nuhun, pamujnyan tamu gi Aloh ana idi, nedya mangsuli sang ayu, pan saking mlebet kemawon.

Apan wus adatipun, nagri cina kalamun wong kakung, lan pawestri lamun dudu akrap neki, nora kena sapa temu, jejagongan sami lunggoh.

Iya larangan agung, mila iku Jit Cing ibunipun, denya imbal wacana lan dayoh neki, sang buripin tan kadulu, samana ngintip sang sinom.

Iya sri tamunipun, pan katingal cahyanya sumunu, ujwala ning prabawa pan amrabani, sajroning wisma ngunguwung, tonda yen jalma kinaot.

Osiking tyas sang ayu, tamu iki nyata yen linuhung, dudu jalma sembarangan mesti iki, meksi tedhaking wong agung, kang sekar pocung gumantos.

 

 

Sang nalamur aris angandikanipun, bok ayu putranta, inggih sun Jit Cing punniki, ing samangke sampun pinten wusma nira.

Tingalipun, lantip samubarang kawruh, lah kenging punapa, boten ing ngajar kenenggih, kasusastran lan sanesing pangawikan.

Dadya besuk, wigya sakalir pangawruh, bok manawi benjang bisa atampi kamuktin, antuk pangkat saking kangjeng sri narendra.

Sang retno yu, duk myarsa mangsuli arum, inggih sang sudibya, Cyu Jit Cing wusma nireki, gangsal warsa lumampah punika.

Duk rumuhun, inggih sampun ajar kawruh, dateng kasusastran, Jit Cing pancenipun lantip, ing samangkya sakedik-kedik wus bisa.

Dateng sastra, nanging Jit Cing kajengipun, boten renna ajar, inggih kawruh dateng tulis, kang sinedya ajar prawiran ning yuda.

Milanipun, saben dina tansah kumpul, mring para mitranya, ajar solahing ngajurit, lamun myarsa wonten sujalma prakosa.

Prawira nung, tan kewran gelaring pupuh, pan lajeng kewala, Jit Cing ngajak rowang neki, sami angguguru mring kang sudireng prang.

Milanipun, yen pareng karsa pukulun, kawula aminta, pitulung ta kang sayekti, anak kula inggih pun Jit Cing punika.

Kula dateng paduka pukulun, mugi den mulanga, dateng panggawe utami, dra pon benjang wageda tampi kamulyan.

Sang ngaprabu, suka angandika arum, bok ayu putranta, inggih pun Jit Cing puniki, yen paduka lega lila srussing driya.

Kula tumut, mring Jit Cing angambil sunu, awit kula mangkya, wonten khwasya tumut maring, sang Law Yong punggawa geng lenggah ira.

Namikun kita E Agsu punggawa gung, binapa mring nata, saking kajeng kula benjing, estu waged anuwunken kalenggahan.

Dateng Jit Cing makaten punapa rujuk, lan karsa paduka, sang retno kalanya myarsi, langkung bungah lir manggih retno sak arga.

Nabda sokur, nuwun inggih bagya sewu, yen paduka karsa, mundhut putra dateng Jit Cing, pan rumangsa tan bisa males kawula.

Sing kadarman, paduka ingkang dumawuh, gya sang retno agya, mring putra ken sojah kuwi, mring tamunya tondha yen wis ngambil putra.

Sanalamur dahat suka nireng kalbu, gya ngambil sang nata, sajuga musthi ka adi, sinungaken mring Jit Cing pinongka tondha.

Tondha lamun, Jit Cing yen wus ngambil sunu, temah katri nira, nutug sami sukeng galih, nanging dereng ana wikan yen tamunya.

Gih puniku, panjenengan sang orabu, ya ta sang kusuma, arum a tatanya aris, jeng paduka yen arsa tindak gya na praja.

Yen puniku, Jit Cing ken derek maring sun, gih luwih prayoga, nanging sing paminta mami, bok ayu ywa melang-melang driya nira.

Dene Jit Cing inggih kula ajak, nglangut dateng lyan nagara, sang retno mangsuli aris, kula sampun lega lita trusing driya.

Sakarsanta, kawula namung jumurung, yata sang kusuma, dawah kinen saji-saji, mring abdinya ana ta sagung dhaharan.

Ing wektyeku, pukul gangsal wancinipun, Jit Cing lan sang nata, nulya sami dahar kalih, sasampunnya linorod sagung rampadan.

Sang nalamur, tandya pamit arsa nglangut, andugekken lampah, Jit Cing sigra manjing wingking, pamit marang ibunya, angroning kamal.

Saenipun Jit Cing inggih dimen tumut, nderekken paduka, salampah ywa nganti kari, dadya wonten rowang paduka lumampah.

Sang nalamur, alon pangandikanipun, bok ayu kularsa, tindak mring Lam Khya nagari, lan ningali sanes-sanesireng praja.

 

Sojah kuwi mring ibunya, anuwun pangastu neki, kang ibu alon ling ira, kulub sun paring basuki, eh ayu nireng margi, ywa ana sing sayanipun, lan poma wekasing wang, sira dipun ngati-ati, aneng paran ywa nganti karya wisuna.

Kang putra umatur nembah, gih ibu ywa walang galih, tar les pangastu paduka, ingkang amba pundhi-pundhi, lawan panuwun mami, mugi jeng paduka ibu, inggih sampun sungkawa, rehning amba tilar anis, boten lami anuli wangsul kawula.

Wusnya Jit Cing apamitan, lan ibunya tandya mijil, panggih lan sang namur lampah, kalih budal lira aris, tan dangu sampun prapti, Ki Lam Lau pondhokipun, ing nguni sri narendra, nyare neng ngriku saratri, enjing nira wusya dahar gya sang nata.

Ambayar sambutannira, kang kriyin lawan pamangkin, wusya amit nulya budhal, prapto sajawining desi, Swi Lyong Cin ana margi, ingkang anjog nagara gung, Ae Pik Wan namanya, kalih nglajengken lumaris, tan nadangu wus prapto jroning nagara.

Ing sirki yen wayah ira, sang nata nulya ngulati, podhokan ingkang prayoga, tan dangu praptawa meksi, ana suwe sa adi lawan ana tulisipun, Jin O Yong i jarwanya, ngriku enggone wong becik, pamondhokan sadayanya pra sudagar.

Sang nata suka tumingal, tandya manjing jroning panti, kaleresan rencang ira, kang jagi pondhokan lagi, nyapu angreresiki, meja-meja duk andulu, ana tetamu prapta, gupuh denya mendet cangkir, atur segah eteh mring tamu kalihnya.

Wektyaku dalu wancinya, neng pondhokan sami guling, byar enjing wus sira dahar, sang nata tatanya aris, marang tukang ngladeni, kene apa sira weruh, enggon ingkang prayoga, akeh lelangen nireki, awit ingsun arsa atindhak cangkrama.

Kang dinangu lon atur ngriki salebeting nagari, boten kirang tetingalan, kang karya rena ning galih, awit naracak sami, gedhong-gedhong pinggir lurung, sadaya pelak-pelak, tur asri narenggan neki, napa malih toko-toko boten kirang.

Barangnya sami gumelar, sutra pangsi warni-warni, sapa malih yen sudagar, kasetindak mariksani, King Tin Cwa Lao nami, griya pamondhokan agung, dene ingkang kagungan, raden Yap King Cwang wawangi, putra nira Tetog Yap Swa Ang punika.

Tetog iku ageng lenggah, lin nan jendral sami neki, angrah wadya bala tontra, aneng Ae Pik Wan nagri, mangkana turnya malih, yen sudagar karsa dulu, saestu boten cuwa, saking sri rarenggan neki, wonten malih raden Yap King Cwang ayasa.

Suyasa ageng kaliwat, rina rengga lir swarga di, tinaneman kembang-kembang, puspita di monca warni, lotengnya langkung inggil, ing twa lau namanipun, rina rengga murwendah, tanpahe karaton aji, nanging saben nari Yap King Cwang rahadyan.

Tedhak mring ku saabdinya, akasukan ngunjuk awis, saben ari mangan enak, kalamun sudagar apti, inggih arsa mriksani, ngentosi lamun Yap King Cu gih dereng tedhak mrika, awit sanesipun jalmi, den larangi boten kenging yen manjinga.

Enggone Yap King Cyang radyan, upami sudagar bakit, manjing mriksani tanaman, lan loteng-loteng ngireki, saestu reneng galih, yen tinimbang andu dulu, dateng sanesing praja, mariksani ping sedesi, tindak mriku dadyan umyat mung sapisan.

Estu karya sukeng driya, saking sri rerenggan  neki, tanpahe pura narendra, o sudagar saupami, kula criyos na sami, asri renggaing wawangun, manawiti gang dina, inggih dereng waged enting, sang nalamur myarsa mesem ing wardaya.

Wasana rum abdikanya iya ing saiki mami, arsa tindak mriksanana, Yap King Cyang dalem ireki, rencang umatur malih, kaleresan niki wektu, sudagar mirsanana, awit Yap King Cu manawi, tedhak mrika wanci enjing kundur ira.

Mring dalemipun kang rama, bedhug lan sagung pra abdi, sonten wanci jam sakawan, Yap King Cu pan wangsul malih, kasukan-sukan ngenting, nganti dalu konduripun, wanci niki kleresan sudagar tindaka aglis, mariksani nanging ywa nganti kapapag dateng Yap King Cyang rahadyan, tan wurung manggih bilahi, desa mantuk-mantuk nulya, manggihi kang darbe panti, sarwi tatanya aris, kisanak sinten rannipun, wit kularsa cangkrama, kula titip gawan mami, dimen wonten ngrikiha ywa nganti ilang.

Boten dangu tindak kula, inggih lajeng wangsul mring mriki, kang darbe wisma nabda, kula pun Cyu Ong wawangi, de punika kang linggih, ing inggih aneng tepi pintu, puniku ipe kula, arinipun bojo mami, nami gyam ling sudagar sampun sumelang.

Botennipun lamun ilang betan dika wonten ngriki, lamun arsa dolan-dolan, ing wanci iki prayogi, mangke yen wangsul mriki, sampun ngantos dalu-dalu, nata sagah lan tanya, ing hwa lao pernah neki, Cyu Ong dedah aepike enggonnya.

Ing hwa lao langkung pelag tan nana ingkang tumandhing, nata wuwuh sukeng driya, myarsa tur ring tukang bakmi, tandya ngajak Cyu jit Cing, tindak nurut ing marga gung, kalih tansah rerasan, ngalem asrining nagari, toko-toko gumelar anggula drawa.

 

 

Tangeh lamun winarna nemg tulis, harjanira praja Ae Pik Wan, mangkana tindak sang rajeng, saking doh wus kadulu, suya sadi munggul kaeksi, langkung inggil lotengnya, pinarpeken gupuh, sang nata entyarsa umyat, griya pamondhokan santosa tur becik, King Tin Cyu Lao nama.

Lawan akeh rarenggan nireki, marmar elur-selur kang tumingal, prajalma tan na pedhote, saking ascarya dulu, yata wau sri naranati,manjing ing lawang umyat, kanan keri pintu, tinaneman kemabng-kembang, monca warna mungging ing pot beling sami, yata wau kalihnya.

Prapteng jrambah ngriku keh sujalmi, ingkang sami lenggah samya dahar, sinambi macit arake, nata karsanya laju, minggah loteng lawan Cyu Jit Cing, nanging pinenggak lawan kang jagi ing ngriku, sarwi mesem wuwus sira, eh sudagar reh sampeyan teka keri, samangke wus tan angsal.

Panggenan kang kinarya abukti, benjing ngenjing kewala wangsula, kang radi enjing marene, dika pribadi weruh, teksih katah wong kang ngenteni, inggih selaning papan, sang nata duk ngrungu, kang jaga turnya mangkana, nabda aris eh batur ingsun tan napti, dahar lan ngumbe arak.

Praptaning sun aneng kene iki, prelu arsa ningali waking wang, loteng ing Hwa Lao bae, dene banget kasuwur, bagusipun tan natumanding, marmengsun lilanana, minggah marang luhur, iya sapisan kewala, ngarah apa mengko sun paringi picis, rencang kalanya myarsa.

Lamun arsa den preseni dhuwit, temah melik mangkana aturnya, gih sudagar sakarsane, dika minggah mring luhur, nanging dika poma ywa nganti, neng loteng karya resah, lan ywa dangu-dangu, bok konangan gusti ning wang, dyan Yap King Cyang sabennya yen rawuh ngriki, wus mesthi yen jam papat.

Lamun nganti kadengangan mami, boya wurung kula ginebugan, sang namur lon wangsulane, sira ywa walang kalbu, mesti ingsun wus ngati-ati, ywa ngati karya susah, ya maring sireku, wis enggal sira munggaha, marang loteng ingsun tut wuri ing wingking, rencang gya lumaksana.

Minggah loteng nata lan Cyu Jit Cing, ngetutaken aneng wuri nira, tan dangu prapta lampahe, rencang gya buka pintu, lawang ira lotengan nenggih, kalih umanjing sigra, prastawa sang prabu, tumingal rarenggan ira, sampat-sampet sapira aboting kang panti, tur sarwa wus sadaya.

Tembok-temboknya sela cendhani, tur ginosok alus kadya kaca, gumebyar padhang prabane, tumeja angunguwung, loteng sinung paseban adi, nira rengga murwendah, ing ukir bramurub, saka sadaya pinrada, lawan wonten tulisan ungali reki, ing Hwa Cun I mangkana.

Sang aprabu kalawan Cyu Jit Cing, temah karenan umyat rarenggan, kalih tan nana tuwuke, mider-mider sang prabu, amirsani kang kebon seri, puspita moncawarna, sumrik gandanya rum, taman sinunggu nung anak, kiwa tengening loteng isthanya kadi, prabata kang sanyata.

Gunung kalih ing nginggili reki, sinung umbul kang pinindhak tlaga, moncar sumirat toyane, tinalang ilinipun, angelebi kang sari-sari, marga saking lotengan, yen arsa mring gunung, kinerteg gantung kalihnya, tepi nira kang pinindhak arga siwi, tinaneman wit-witan.

Bebanjengan marma sabenira, langkung edum nora kena panas, ayom-ngayomi slawase, inng ngriku unggyanipun, yen ngayomken sarira neki, nenggih ing mongsa panas, rahadyan Yap Kong Cyu, lawan sagung pra abdinya, aka sukan sasendhon sinawung gendhing, tangeh winarneng gita.

Sri langene ingkang taman sari, yata wau sang nalamur lampah, lawan saang Jit Cing kalihe, minggah loteng kang luhur, pan ing ngriku ngluwihi asri, rerengan lan prabotnya, edi sarwa alus, tepi-tepining lotengan, amepeki tinanduran puspita di, mungging pot warna-warna.

Ana ijo kuning lawan putih, pulasira akeh warna rupa, sineling-seling prenehe, pot beling lan lyanipun, ana gelas kang kinardi, ing ngukir ponca warna, yata sang a prabu, manjing jrambah ing lotengan, aningali meja kursi amepeki, ing ngukir langkung pelak.

Pan angrawit katara manawi, kang anganggit yen jaalmaaa sujana, tinutup bludru kursine, lan wonten kanthilipun, saking selaa ingkang kinardi, sinelang lawan denta, ing ukir apatut, salebetireng lotengan, apan kebak pratima mas mawarni-warni, yatanya jalma kuna.

Pan kinarya rerengganing panti, sri narendra ngalem jroning driya, omah samene gedhene, prabotira acukup, tur ta sarwa apik lan peni, yata sri maharaja, wus sira dudulu, tumingal ana panggenan, langkung resik gumri ning luwih prayogi, kinarya alenggahan.

Wus cumepak meja lawan kursi, sri narendra suka angandika, mring rencang kang derekakae, kena apa sireku, mau muni tanna gon sepi, lah iku kursi meja, tan nana wongipun, pantes ingsun kang ngagema, sabab apa mau sira tan atur wrin, duk ingsun lami prapta.

Apa arsa sirang go pribadi, kang mangkono yekti ora kena, lah mara sira samangke, nyepak-nyepakna gupuh, dhedhaharan kalawan awis, samene ingsun arsa, dhahar lawan ngunjuk, sapira arega nira, ingsun bayar lawan mengko sun preseni, picis kang luwih kathah.

Rencang myarsa pan dadya sang aji, kang mangkana dahat ngunguning tyas, sarwi deg-degan wuwuse, gumeter saking takut, nabda ngesah lo kados pundi, niku kursi lan meja, pan cawisanipun, gusti rahadyan Yap King Cyang, mangke ejam papat mesti rawuh ngriki, samangke wus meh dungkap.

Inggih prapta nira gusti mami, lenggah dhahar lawan ngunjuk arak, lah sudagar kaya priye, dika mudhun den gupuh, sampun nganti konangan mangkin, tan wurung manggih papa, dika lan wak ulun, saderengnya dika minggah, dhateng loteng kula apan wus prajanji, ywa nganti megat nyawa.

 

 

Aaneng loteng inggih sampun dangu-dangu, yen konangan gusti mami, tan wande dika lan ulun, kalih sami manggih sisip, sisip tembirnya linayon.

Wasananya paduka cidra ing wuwus, malah arsa ngunjuk awis, dhaharan cawisanipun, Yap King Cyang rahaden pekik, kula dahat tan ngretos.

Sing karsa nta inggih mangkono puniku, sapa dika bosen urip, lah mara muduna gupuh, sang namur kalanya myarsi, sabda ing rencang mangkono.

Ora ajrih marang pinjenengan ingsun, jeng sire kudu rung uning, iya marang asma ingsun, wus sirang ngling sri bupati, rencang pinarpekan gupoh.

Gya cinekel tangan kalawan sukunipun, rinangkus dadi sawiji, lir nyekel ayam tumurun, rencang datan bisa osik, sarwi nabda sru sang katong.

Lah ta apa sira manut karsa ingsun, yen ora mesti sireki, mati balungira ajur, sun uncalken marang siti, rencang ajrih bengok-bengok.

Dhuh sudagar mangke kawula anut, sakarsa nira umiring, nanging amba nyuwun idhup, sang nata suka miyarsi, rencang ing nguculken alon.

Sarwi nabda lah mara wetokna gupuh, dhaharan kalawan awis, away sumelang ing kalbu, lamun gusti nira runtik, tempuhna dhewe maring ngong.

Rencang nulya ngungsungi sadayanipun, dhaharan kalawan awis, cawisanira Yap Kong Cu, tinata neng meja sami, nulya wau sang a katong.

Lan Cyu Jit Cing kalih sami lenggah ngunjuk, eca denira amacit, mangkana rencang winuwus, ananjangi rowang neki, kinen gupuh atur weroh.

Mring Yap King Cu yen wonten mong gawe rusuh, kakalih sudagar manjing, mring loteng lajeng angunjuk, awis lan dhaharan neki, cawisan gusti sang anom.

Kacarita nenggih sang Yap king Cyang Kong Cu, punika putra nireki, Yap Swa Ang punggawa agung, de Ton Kun Bun lenggah neki, ngreh wadya bala sang katong.

Kang minongka senapati nagri ngriku, nanging atine tan becik, mur kacandhala ambek dur, sawenang-wenang mring jalmi, tan pegat agawe rusoh.

Bedhang bojoning nguwong lan anakipun, tuwin angrampasi sabin, jarah ngrayah karemipun, marang darbeke wong cilik, ngegungaken geng kang lungguh.

Tiyang praja Ae Pik Wan ngriku, sadayanya kekes wing wrin, tumingal marang Yap Keng Cu, saharsa-arsanya dadi, enggonira gawe rusoh.

Bapa anak kalih ira sabiyantu, den nira jail ngutakil, marma sugihnya kalangkung, maewu maketi-keti, brana pirang-pirang gedhong.

Iya mula nira bisa yasa iku, ing hwa lau lir swarga di, rapenggan lan wangunipun, saking denya angupusi, jarah ngrayah darbek king wong

Saben nari Yap King Cwang pakaryanipun, akasukan lan pra abdi, kang sabyantu alaku dur, marang ing hwa lau sami, byang-ubyung ngandhatan pedhot.

Akasukan-sukan dahar lawan ngunjuk, ing ngari puniku lagi, Yap King Cu neng dalemipun, siniwi ing para dasih, anggepe lir putra katong.

Kamuktennya miwah kawibawanipun, tanpahe putreng narpati, tan na wang sariranipun, mung ngegungken sugih duwitnya sapa sira sapa ingong.

Kumalungkung digung tan weruh sipengung, yen bakal prapteng bilahi, iya ing dina puniku, jer nora weruh ing dhiri, keneng sikuning ywang manon.

Alantaran saking kangjeng sang aprabu, samana Yap King Cu lagi, lenggah siniwakeng wadu, kagyat abdi nira prapti, dumrojog nembah turnya lon.

Duh rahadyan kawula ngaturi weruh, bilih wonten jalma prapti, sudagar kalih keh lipun, dateng ing ywa lau gusti, neng loteng akarya rusoh.

Angrampasi dhaharan sadayanipun, cawisan panduka gusti, pinenging meksa amberung, malah karsa amateni, mila gusti dipun gupoh.

 

Aiwa nganti kalayatan, jeng paduka radyan tedhak kaaglis, amikut kang gawe rusoh, kang sanget kurang ajar, mring paduka Yap King Cyang nalika ngrungu, aturing abdi mangkana, ngadeg saking denya linggih.

Krodha asruha parentah, mring pra abdi mepag gegaman neki, lawan sagung gurunipun, samya sikep sanjata, winatara kathah ira wonten satus, gya budhal raden Yap King Cwang, ginarebeg para dasih.

Solahnya lir nglurug aprang, tan nadangu hwa lau wus prapti, rahaden parentah sampun, mring para prajurit, kinen nyegat sakatahing pintu-pintu, aiwa nganti bibsa gagal, iku sidruha kakalih.

Mangkana dawahnya radyan, lamun ingsun prentahken nyekel kalih, iya pikuten den gupuh, lamun sun prentah medhang, iya banjur patenana kalihipun, lamun nganti bisa gagal, ngendi ingkang den margani.

Iku dadi liru nira, dene ingkang bisa amikut kalih, ingsun ganjar baranagung, lah poma wekasing wang sapa wani kabeh nrajang walering sun, mesthi ingsun ukum kisis, sawusnya dawah pradasih.

Yap King Cyang anulya minggah, marang loteng lan sagung guru neki, saprapta nira ing luhur, radyan prastawa umyat, wong kakalih lagi enak-enak lungguh, mangan enak ngumbe arak, kang siji maksih taruni.

Sajuganya sawangannya, yuswa patang puluh warsa tan luwih, Yap King Cyang nalika dulu, duku mawinga-winga, sru manabda dhik ah wong kalih kapahung, baya sira bosen gesang, apa tan kulak pawarti.

Lamun rahaden Yap King Cyang wus kasuwur liyan-liyan nagari, lamun sugih barana gung, prawira widikdaya, sumba geng prang tur akatah dasihipun, eh bangsat sira ngakuwa, sapa aran nira kalih.

Lan ngendi pinangkan nira, dene wani ngrampas daharan mami, ngenak-enak padha lungguh, eh takecu alasan, ing samengko padha nembah amaring sun, lamun ora mangkanoa, tan wurung yen sira mati.

Kataman ing pedhang ingwang, ya ta rencang ira tukang ngladeni, weruh lamun gustinipun, prapta saha gegaman, tandya mendhak nembah anungkemi suku, ririh ngrarep atur ira, duh gustiku sang linuwih.

Pun dasih nuwun ngapura, saking tiwas inggih amba anjagi, cawisan dalem pukulun, awit tiyang punika ambekunung amba pekak meksa darung, kula arsa pinejahan, tarlen ngapuranta gusti.

Ya ta sang mimba sudagar, lan Cyu Jit Cing kang lagi eca linggih sinambi dahar lan ngunjuk, umyat kathah sujalma, sami sarta lan gegamanipun, nora pisan katon maras, malah kalih sukeng galih.

Keplok-keplok asta nira, radyan niku jalma kang samya prapti, lir sardula solahipun, lawan ana katingal, jalma mudha panganggonya sarwa murub, lumampah ngarsa pribadya, iku ingkang den sungkemi.

Lan sinuwunan ngapura, marang rencang kang jaga nglaladeni, nata wus grahita lamun, iku raden Yap King Cyang, de praptanya kroda lan sru wuwusipun, mangundhat angunda mana, marang sarira nireki.

Nanging sang nalamur lampah, mesih ayem lenggah alon mangsuli, sarwi mesem sabdanipun, eh raden piyarsakna, inmgsun nami Ko Tyan Su dene puniku, Cyu Jit Cing putrengsun angkat, prapta ningsun kene iki.

Muhung lelangen cangkrama, lan mirsani iya taman niraki, lan sinambi dahar ngunjuk, kabeh cawisan nira, wus pun pangan entek ing mangke sireku, prapta angirid wong katah, sarta lan gegaman neki.

Iku sinarsa punapa, luhung mangke kabeh iku den aglis, kon nembah sujud maring sun, dadya tan antuk dosa, sun ngapura lah gugunen wuwusing sun, dene enggoningsun dahar, sapira rega nireki.

Iya kabeh aku bayar, lah tahu wis padha mundura aglis, lamun sira nora manut, iku parentah ingwang, nora wurung kabeh padha ingsun bunuh, padha samengko kewala, yen cidra awuwus mami.

Aja sira undang loyah, dyan Yap King Cyang kala nira myarsi, saya sanget dukanipun, rumupak pan peksarsa, cumekella marang wau kalihipun, guru-guru myanga dasihnya, sadaya ngrubut sang kalih.

Cyu Jit Cing lawan sang nata, kalih sami ngadeg ing gennya linggih, nanging ing driya margiyuh, dene tanpa gegaman, mong kamengsah ira bareng dennya ambyuk, rumuket rumupek ing prang, arsa mikut ri sang kalih.

Sang nata gugup ing driya, dadya kursi cinandak karya tangkis, singa maranipun kepruk, ingkang cedhak tinendhang, kureng kang nganmengsahnya datan pakiwul, Cyu Jit Cing mangkrak sarosa, tan nedya mundur ing jurit.

 

Nyandhak kursi amepek mengsah ira, ingkang tinrajang ngisis, bubar ting salebar, Yap King Cyang guru nira, sajuga kinepruk karsi, dening sang nata, nibang siwi tan eling.

Sang Yap King Cyang wru yen gurunya kasor prang, duka yayah sinipi, mara narik pedhang, mrepegi mring sang nata, sarwi sru sabda nireki, kecu alasan, tan wurung sira mati.

Katibanan pedhang sun mongsa mindhoa, prawitna sri bupati, duk pedhang lumarap, sinarengan cinandhak Yap King Cyang tangan nireki, tinarik tiba, rinangkus suku kalih.

Lan tangannya Yap King Cyang tan bisa obah, nata sru den nirang ngling, sireku kaparat, dadi amaning praja, gawe susahe wong cilik, mengko rasakna, iki pamales neki.

Gon mukarya sawenang-wenang mring jalma, tandya Yap King Cyang nuli, binuwang mangandhap, saking inggil lotengan, pejah ajur wangke neki, sawalang-walang, ya ta gurune sami.

Lan abdinya tumingal gustinya pejah, kekes lumayu wingwrin, bubar asasaran, wonten mlajeng tur priksa, marang Yap Swa Ang manawi, Yap King Cyang pejah, ya ta kang lagi jurit.

Sri narendra lawan, Cyu Jit Cing tumingal, mungsuhnya sami ngisis, sang nalamur nabda, payo kulub den inggal, kang jaga neng pintu sami, ginitik ing prang, dra pon bisa amijil.

Saking ngriki Cyu Jit Cing matur sandika, kalih gya nyandhak kursi, kang jagi wiwara, wruh mengsah arsa medal, sakedap mapag ing jurit, nanging tan kuwat, temah lumayu ngiris.

Asasaran suka tumingal sang nata, kalih tumurun aris, mring loteng kang ngandhap, ngriku manggih sang nata, gaman golok de sang Jit Cing, uga amanggya gegaman Ti Cyo nami.

Kalih suka temah nir was-was ing driya, de manggih gaman sami, gya mudhun mangandhap, sinapag marang mengsah, kinrubut wau sang aji, nanging tan kewran, singa kang celak mati.

Myang kataton sinigeg kang lagya aprang, Yap Swa Ang kang winarni, duk lagi kasukan, ing ngadep pra selirnya, ayu-ayu tanpa wilis, tarap neng ngarsa, gamelannya ngrarangis.

Sisindenan swara rum lir madu brata, ngengantut-atut ati, Swa Ang suka dahat, cipta nireng wardaya, mukti lan wibawa neki, punjul sasama, sama nireng dipati.

Duk lagye calenggah mirengken pradongga, kagyat dumrojog prapti, dasihe kang putra, matur lan megep-megep, duh gusti atur bilahi, putra paduka, Yap King Cu angemasi.

Kwan dadya ajur datan pakukupan, awit ing loteng gusti, ing hwa lau ana, jalma akarya resah, mung kalih katah ireki, putra paduka arsa mikut punjuti.

Nanging lajeng winandak binuwang ngandhap, pejah tanpa ngudhili, de konca kawula, sadaya mangrubut prang, marang sang druhaka kalih, tuhu sudira, prawira ing ngajurit.

Pun druhaka boten kenging pinarpekan, kang maju-maju mati, mundur nandang brana, samangke wau jalma, maksih kinepung sing tebih Yap Swa Ang myarsa, turing dasih kadyeki.

Sanalika sumaput dawah ing kisma, kagyat kang para selir, samya angraupa, umyung para wanira, swareng tangis ting njalerit, dupi antara, satengah jam anglilir.

Singkan taka Yap Swa Ang ririh karuna, sesambat melas asih, aduh putra ingwang Yap King Cyung dene sira, siya-siya manggih pati, lah kaya ngapa, uwongnge kang mateni.

Tandya asru tanya mring kang atur mriksa, kapriye purwaneki, de putreng sun ngantya, iya tekeng palastra, apa kancanira sami, tan nana ingkang, ngrowangi putra mami.

Abdi nembah pukulun sakonca amba, inggih samya ngbyuki, angrubuting ngaprang, nanging katah kang pejah, tuwin ingkang nandhang kanin, mila samangkya namung kinepang gusti.

Kinakalang sampun nganti bisa gagal, mila gusti den aglis, paduka ngiridda, inggih kang wadya bala, amikut kakalih jurit, males sedanya, putra tuwan sang pekik.

Sampun nganti kadangon embok menawa, bisa gagal pun jurit, Yap Swa Ang myarsa, turing dasih mangkana, de trandik anggedruk siti, jajan nira bang, koda mati ngapengis.

Tandya manjing ing dalem ngrasuk busana, kapraboning ngajurit, lan undang-undang ing wadya, kinen samekteng wuda, wadya darat lan turanggi, tan dangu budal, Yap Swa Ang nitih wajik.

Angedangkrang ginarbeg ing wadya bala, lir tuhu nglurug jurit, swara sira umyang, tambur suling lan kendang, gumredeg lampah ing baris, aririkatan, kapungkur dalem neki.

 

Tan dangu lampah wus prapta, sang Yap Swa Ang sawadyabala neki, sing tebihan wus karungu, swarane kang samya prang, sang Yap Swa Ang nulya minggah marang gumuk, katingal kang bondayuda, wong kalih kinubrut jurit.

Nanging kang ngrubut kasoran, akeh pejah tuwin anandang kanin, temah mawut samya mundur, ya ta sang kinrubut prang, duk ningali mengsah ira sami mundur, ngangseg sedyanya yus medal, marang jawi baluwarsi.

Yap Swa Ang eram tumingal, dene kalih langkung prakosa neki, nulya prantah balanipun, ingkang nitih turongga, kinen bantu mikut marang kalihipun, gumredeg dadya kapalan, tinadahan mring sang kalih.

Agu katah kang palastra, saku dadya mati tan angudili, Yap Swa Ang tumingal ngungun, tandya prentah ing wadya, kinen masang piranti tali puniku, kinencang-kencang kisalar, sama wawahung sang kalih.

Lumayu supaya kena, ing piranti kenging pinikut urip, ya ta wau sang aprabu, tan pegat pangamuknya, lan Cyu Jit Cing lir sing amet mangsanipun, singa kang tinrajang bubar, mangkana wau sang aji.

Pan wus grahi sang wardaya, yen Yap Swa Ang ngirid bala nireki, tandya dawah sang aprabu, Jit Cing kinen sarosa, anggitik prang ocal marga arsa metu, awit akaroban lawan, mengsah saya gung kang prapti.

Iku wadyanya Yap Swa Ang, Jit Cing myarsa dawah ira sang aji, mangkrak sarosa bek puron, mukul mring mungsuh ira, tan wiweka duk lumayu arsa metu, keneng piranti sukunya, kalih pisan nibeng siti.

Jit Cing tan bisa lumayar, sri narendra kagyat arsa nulungi, nanging wau sang aprabu, ugi keneng pirantya, suku nira kalih pisan, sang anlamur dawah gumuling ing kisma, Yap Swa Ang wadya nireki.

Tumingal yen mengsah ira kalih pisan samya niba guling ting, gumrubyug sareng den nyambuk, nyepeng sang kalih ira, tinalenan binepta tanpa epandung, Yap Swa Ang sukanya dahat, mengsah ira wus kajodhi.

Tandya undang bala nira, budal mantuk marang dalem nireki, ing marga swaranya umyang, beri tambur lan kendhang, sapraptanya Yap Swa Ang ing dalemipun, lajeng geganjar ing wadya, kang mentas ing ngajurit.

Dene kang sami kapraban, pinaringan jampi sadaya wradin, wondene kang sami lampus, apan pinaring ragad, kinen nanem apa adat caranipun, layonnya raden Yap King Cyang, binekto kondur anuli.

Linebetaken bandhosa, lan parentah sadaya abdi neki, kinen sami ngangge pingul, tondha lamun sungkawa, kacarita punggawa para prayantun, jroning praja Ae Pik Wan, lenggah ageng lawan alit.

Sadaya sami anglayat, sowan dateng Yap Swa Ang dalem neki, lan sami atur panjurung, tuwin pada sembahyang, neng ngajengnaning bandosa ingkang lampus, wus sira lajeng lenggahan, sadaya kang prayayi.

Sami anungsun pawarta, prawitanya Yap Kong Cu nganti lalis, Yap Swa Ang ngesah atutur, mula bukaning nalar, nanging jalma nira kalih ingkang nglampus, samangke wus kinunjara, Yap Swa Ang malih sabdeki.

Mring sagung para punggawa, mangkya kula nedha tulung ngireki, si druhaka kalihipun, inggih panginepannya, aneng warung Jin O Yong I namanipun, Cyu Ong ingkang darbe wisma, samangke pikutten aglis.

Anggawaha wadya bala, sabarange jarah endi pun tapis, sandika kang sinung dawuh, budal sagegamannya, tan nadangu pun, Cu Ong sampun pinikut, linebetaken kunjara, barang ngeji sarah enting.

Katujunya ipen nira, Swam Ling saweg kesah tan nana panti, yen ana amesti katut, linebetken kunjara, ya ta  Cyu Ong sanget den nira angungun, nora wruh prawita nira, cinepeng tan padoseki.

Duk prapto jroning kunjara, kagyat umyat de tamu nira kalih, wus binelok aneng ngriku, Cyu Ong aris tatanya, lah kisanak dene dika binalenggu, punapa prakara nira, kula niki gih tan dugi.

Badan kawula binesta, darbek kula kabeh jinarah enting, sang nata mangsuli arum, lan tutur nalar ira, bilih amejahi marang sang Yap Kong Cu, Cyu Ong kalanya myarsa, kagyat ing tyas estu ajrih.

Gumeter ngesah wuwusnya, o ah blahi yen makaten puniki, dene dika mipurun, mejahi dyan Yap King Cyang, boten wande inggih sami dipun lampus, dumateng de ton Yap Swa Ang, kanthi adiling nagari.

 

Sang nata myarsa manggut, sarwi ngandika nira ris, leres Cyu Ong sabda dika, tan wurung sami bilahi, nanging umami anaha jalma kang kena tinuding.

Mring Khwa Shya aneda tulung, mesthi lamun bisa urip, ananging samangke sapa jer nora nana sujalmi, apa maneh sun pribadyo, iya ingkang klebu sepir.

Dadi wus tan bisa ngrebut, mrih luwar sing bilahi, nanging mungguh awak ingwang, sanadyan prapto ning pati, iya nora dadi ngapa, uwis sun jarag pribadi.

Namung ingkang gawe mesgul lan karya renceming ati, iku Jt Cing putra ningwang, becik-becik aneng panti, rumeksa wong tuwa nira, wasana melu mring mami.

Katut keneng prakara gung, tan wurung den ukum pati, sun kang karya siya-siya, manggih duraka ning widdhi, Cyu Ong kumembeng waspanya, sabda nira awor tangis.

Napa malih lir wak ulun, nora weruh ika iki, ngenak-enak amber dagang, kumpul lawan anak rabi, tan dosa katut kewala, banjur linebokken sepir.

Tan wurung den ukum lampus, sudagar ingkang akardi, cilaka wong pirang-pirang, Cyu Ong sarwi brebes mili, sang nata wuwuh duhkita, ribet ribeng jroning galih.

Rencakeng tyas awulangun, ya ta Jit Cing matur ririh, duh jeng rama ywa sungkawa, anggalih dateng pun Jit Cing, sanadyan praptaning pejah, amba nedya anglebuhi.

Dumateng ing jeng pukulun, tan suminggah prateng pati, nata myarsa mangkana, ngeresing tyas lir jinahit, mendel datan pangandika, jroning tyas nanedeng widdhi.

Mugi antuka pitulung, mangkana cipta niraji, lamun sun niki sanyata, ratu kekalih ing widdhi, sayektine mesthi bisa, lwar saking ing bilahi.

Ya ta tan antara dangu, wonten jalma manjing buwi, yeku Cyu Ong ipe nira, adine bojo nireki, nami Gyam Lling sarwi beta, sekul ulam karya ngirim.

Marang ing Cyu Ong puniku, mula nira bisa manjing, iya marang ing kunjaran, awit akeh besel neki, marang kang jaga sepiran, nata waspada ningali.

Tan pangling lamun puniku, Gyam Ling Cyu Ong ipe neki, sukeng tyas marwata suta, rumongsa yen bisa urip, antuk pitulung ing sukma, wasana nabda mring Jit Cing.

Eh kulup antuk pitulung, ika Gyam Ling manjing ngriki, dadya anak kang sunduta, iya mring Khwa Shya saiki, mesthi lamun bisa luwar, nora nganti tekan pati.

Jit Cing myarsa sabdanipun kang rama tandya tumuli, praptawa Gyam Ling sanyata, kang prapta sajroning buwi, Jit Cing tumut sukeng driya, mangkana nalika Gyam Ling.

Panggih lan Cyu Ong puniku, tyang kalih pijer anangis, pating slenggruk lir wanita, kararan tan jroning ngati, kaliyh tan bisa caturan, mung eluhnya adres mijil, tandya wau sang nalamur, na ketingal dika aris, lah pada sira mendela, aja ta pijer anangis, iku tan nakarya nira, awit puniki pun Gyam ling.

Iya arsa ingsun utus, marang prajanya sang aji, Khwa Shya minta pitulungan, nanging poma wekas mami, ywa na ingkang wara-wara, iya prakara puniki.

Lan sira aja natakut, nadyan dosa geng sawukir, mesthi uwuk tanpa dadya, lah Gyam Ling sira den aglis, nyiliha mangsilan, dlancang Gyam Ling nyambut tukang buhi.

Dalancang lan mangsinipun, sang nata tandya anulis, nawala wus sira dadya, pnaringaken mring Gyam Ling, nata bibisik sabdanya, puniki nawala mami.

Iya bektanen den gupuh, marang prajanya sang aji, sira wah ana akuda, den rikad laku nireki, yen wus prapta jroning praja, serat wenehna den aglis.

Iya marang Tae Agsu, Lao Yong nama nireki, lawan sira asanjanga, lamun ana Sing Ci prapti, iku Sing Ci jarwa nira, ya na walaning narpati.

Yen sira mungal kadyeku, mesthi Lao Yong pribadi, metu methuk marang sira, sapa nira wala mami, yen sira uwis kapanggya, jarwa asadaya sami.

Ya kabeh prakara ningsun, lawan sanjang ana nuli, aiwa nganti kalayatan, anulungi awak mami, kalamun sira kapanggya, aiwa mundur nganggo wedi.

 

Yen Lao Yong amanggihi marang sira, ya aja wedi-wedi, den teteg tyas sira, mesthi tan dadi ngapa, namung poma wekas mami, iki prakara, sira kang ati-ati.

Laku nira den rikat kuda bandhangna, bisa anuli prapti, aneng kuta raja, ya Gyam Ling sira benjang, ingsun ganjar barana di, de ageng dahat, pitulung ta mring mami.

Gyam Ling myarsa sabdane sang namur lampah, garjita jroning galih, yen mengko baya, iki jeng sri pamasa, katara cah wani neki, amawa teja, kukuwung ngenelahi.

Tan dya Gyam Ling sumujut kuwi aturnya, duh gustiku sang aji, kawula aminta, ngapura jeng paduka, linepat tamu lah sarik, tuhu tan witan, yen paduka sang aji.

Sang nalamur nyandhak Gyam Ling tangan nira, sarwi ngandika aris, lah uwis menenga, mundhak kawruhan kathah, namung sira ing saiki, inggal mangkata, marang Khwa Shya den aglis.

Cyu Ong Jit Cing kalih ira pan tumingal, Gyam Ling sumujud kuwi, lan wuwus ngapura, dadya kalih grahita, yen mangkana baya iki, sri nata dipa, nalamur lir wong cilik.

Ong dahat suka de wardaya nira, wus nyipta lamun urip, sang Cyu jit Cing uga, dahat suka ing driya, de pinundhut putreng aji, samarga suta agenge ingkang galih.

Nanging maksih darbe melang sawatara, bok Gyam Ling lampah neki, durung nganti prapta, aneng ing kuta raja, selak dipun ukum mati, marma ciptanya, tansah nanedeng widdhi.

Ya ta Gyam Ling sawedalnya sing kunjara, nulya anitih wajik, wlarug lampah ira, dateng ing kuta raja, neng marga nora kawarni, ya ta kocapo, nenggih sajuga ari.

Sang Lao yong pinarak ing dalem ira, kagyat kang abdi prapti, kang jagi wiwara, matur yen wonten jalma, baya sowan atur neki, wonten prakara, inggih kang luwih gati.

Sang Lao Yong myarsa anulya medal, wau jalma kang prapti, amundhi nawala, sarwi sruwuwus sira Sing Ci prapti-Sing Ci prapti, Lao yong myarsa, kagyat sumujud kuwi.

Lawan tampi nawala nira sang nata tan dya binekta manjing, dalem ageng lawan, sineleh inggil meja, binuka sinukmeng galih, apan mangkana pocunge kang kinteki.

 

Jeneng ingsun, duk medal saking praja gung, arsa maring kang lam, cangkrama ningali nagri, lan nyataken saobah osiking praja.

Tindak ingsun duk prapta juga praja gung, iya Ae Pik Wan, ingsun mampir amriksani, sajuganing griya pamondhokan nama.

King Incyu, lao ana malihipun, loteng langkung pelak, ing hwa lao namaneki, aneng ngriku ingsun pethukan sujalma.

Aranipun Yap King Cyang Kong Cu puniku, iya anak ira, Yap Swa Ang de tug kang linggih, reh ning si Yap King Cyang wani kurang ajar.

Marang ingsun, dadya ingsun pukul lampus, ning sudarma nira, si Yap Swa Ang sanget runtik, saksaha wadya bala amikut maring wang.

Mangke ingsun, neng kunjara nora dangu, arsa pinejahan, dene amateni jalmi, sumarmane Lao Yong saprapta nira.

Serat ingsun, angutus sadipun gupuh, kya bude tog lenggah, gan lucin kinen tumuli, anulungi iya marang jeneng ingwang.

Away dangu-dangu yen pelakat lanjur, titi kang puspaka, saking kangjeng sri bupati, sri Gyan Liong Kun wangsul malih nembang durma.

 

Sang Lao Yong sawus sira maos serat, kampiteng tyas tan sipi, gugup sigra tannya, mring gyang ling prakaranya, tiniti sadaya titi, wus sira terang, Lao Yong nulya mijil.

Mring dalemnya Gan Lucin kalih wus panggya, serat ira sang aji, pinaringken sarta, gugup sang senapatya, de nata keneng bilahi, nulya samapta, Gan Lucin lan prajurit.

Mung wolulas sami anitih turongga, sagegamannya sami, tan dangu gya budhal. Saking ing kuta raja, turongga sinander prapti, pan kadya barat, sinigeg tan winarni.

Sang Gan Lucin ya ta Yap Swa Ang winarna, putra nira kang jisim, sampun kalih dina, inggih dereng pinetak, lamun uwis tigang ari, denyarsa metak. Nata lawan Cyu Jit Cing.

Apan arsa tinigas masta karina, iya kinarya samsing, nyembayangi marang, putra nira kang pejah, awit Yap Swa Ang pan uwis darbe pati, marang parentah nagri.

Lamun arsa anigas wau kalihnya, kangjeng parentah nagri, ugi paring lilah, Yap Swa Ang pamintanya, awit pangadilan sami, tan nana wikan, yen iku sri bupati.

Margi ngaku sami kotyan suka lawan, mangagem lir wong cilik, dadya pangadilan, mung nimbang prakaranya, temen-temen yen geng ling kang sisip, ya ta samana, prapta ing tigang ari.

Sang Yap Swa Ang prentah dateng tukang kisis, sapa kintan kakalih, kinen angetokna, marang ing ngara-ara, wit arsa dipun telasi, kang sinung dawah, kasmaran manjing buwi.

 

Sang nata lawan Cyu Jit Cing apan wus binekto medal, kalih ggumetre jro tiyase, de arsa den ukum pejah, lan dahat ngarsa arsa, anenggih utusanipun, ingkang dateng kuta raja.

Lamun dangu nora prapti, tan wurung prapteng antaka, sida dipun ukum layon, samana lampahnya prapta, neng tengah ngara-ara, ngriku wus jejeg supenuh, jalma kang sami tumingal.

Tuwin kinubeng ing baris, Yap Swa Ang pribadi uga, amirsani aneng kana, ing ngayap kalerehannya, pra jalma kang tumingal, awelas de nira dulu, mring kang badhe dipun kisas.

Pada renasanan sami, iya lawan rowang ira, mangkana wau wuwuse, saiki jalma sapraja, pada amanggih begya, de wus ilang amanipun, ya iku raden Yap King Cyang.

Lao Thek regeding nagri, ing samangke uwis modar, nanging owel mring karone, iku sujalma prakosa, arsa den ukum pejah, tuhu kuciwa kalamun, yen nora nak wani ngrebat.

Marang sang sudira kalih, tangeh lamun winuwusa, kang nonton rerasanane, samana pan omeh dungkap, wanci nira anigas, mondara kamapan sampun, kantun ngentosi dawah.

Sang Yap SWA Ang apan lagi, arsa kumecap adhawah, nigasa marang karone, kasaru ana kapyarsa, swara kalangkung sora, menggak denya arsa bunuh, marang sang wau kalihnya.

Yap Swa Ang kagyat anolih, medal saking pabarisan, waspada ing paningale, lamun wau ingkang menggak, inggih sang seda patya, gan Lucin den iring sagung, pra manggala jroning praja.

Kira kehnya mung dwi desi, kabeh wah ana turongga, prapta arsa tulung rajeng, sang lao yong ingkang dawah, kinen gal lumaksana, awit kangjeng sang aprabu, aneng Ae Pik Wan praja.

Gih arsa den ukum pati, marma lanyjaran kewala, sang Kyu Bun de tog lakune, nalika umanjing praja, apan mampir sakedhap, wismane prajurit ngriku, kipahe khwa pangkat ira.

Sang Gan lucin, tanya warti, apa tanya ta Yap Swa Ang iya arsa ukum layon, sujalma loro keh ira, kipahe khwa aturnya, inggih leres dina iku, Swa Ang bade nigas jalma.

Gan Lucin kampita myarsi, binendangken kuda nira, sakedhap prapto lampahe, aneng tengah arak-arak, kaleresan sang nata, kirang sakedhap linampus, Gan Lucin ing prapta nira.

Inggal tumurun ing wajik, lawan wolulas manggala, nembah nungkemi padane, marang ri sang namur lampah, lan nguculi bandanya, Yap Swa ang kagyat andulu, muring ring ing driya maras.

Mangkana ciptaning galih, lah ta sapa iku baya, sang Gan Lucin Kyu Bun de tog, dene banjur atur sembah, lan nguculi bandanya, Yap swa Ang tansah angungun, ajrih lamun atakone.

Wadya bala ingkang baris, dedep tan nana sabawa, weruh yen GAN Lucin kuwe senapatinya sang nata, lenggah geng aneng khwa shya, ajrih mendel mung andulu, jroning tyas sami anggagas.

Marang pasakitan kalih, lah tahi yaiku sapa, kawarna wau sang rajeng, dawah mring Gan Lucin enggal, amikut mring Yap Swa Ang, miwah brayatnya sadarum, tuwa anom wedon lanang.

Ywa naka liwatan siji, Gan Lucin nembah sandika, mrepek ing Yap Swa ang age, ya ta wau sang Yap swa Ang, wruh yen Gan lucin prapta, majeng tur kurmat ametuk, Gan Lucin nulya parentah.

Marang prajurit teki, amikut marang YAP Swa Ang, nulya aparentah maneh, Yap Swa ANG sabrayat ira, kabeh kinen ambenda, ya ta lajeng sang aprabu, dawah kinen nelas sana.

Yap Swa Ang sabrayat neki tan nana kari sajuga, kabeh kinethok kardane, suka wong sajroning praja, mumuji mring sang nata, nyirnaken maleng praja gung, malih dawahnya sang nata.

Yap Swa Ang sapati neki, kang kinen gumanti lenggah, de tog ing nagari nasse, ya O Bun ing nama nira, ngelih mring ae Pik Wan, malih dawahnya sang prabu, brana arsa de Yap swa ang.

Kinen ambekto Gan lucin, mantuk marang kuta raja, tuwin kinen ganjarake, Cyu Ong Gyam Ling kalih ira, dahat suka ing driya, dahat tuk raja brana gung, wijile labuh mring nata.

 

Sanalika kalih dadi sugih, punjul sasameng wong ya ta mangkana kang jeng sang rajeng, karsa nira yun tindak tumuli, mring kang lam nagari, uga maksi nlamur.

Sang gya para pratiwa ning nagri, ae pik Wan kono sami prapta anembah mring rajeng, sawus ira kabeh atur bekti, gya tedhak sang aji, lan Jit Cing anglangut.

Ing samarga-marga kakang ginalih, kangjeng sang akathong, apan arsa tumingal patrape, pra punggawa sayakaning nagri, denya ngasta adil, anindhakken kukum.

Apa iya nora nana lisir, li dawah sang kathong, lawan arsa mirsa sang pamase, ing ngadesa-desa uwong tani, apa ta basuki, reh aja sajegung.

Awit ratu kudu ngudaneni, obah osiking wong pra kawula kareh kratone, ya ta samana sri narapati, tindak ira prapti, sajuga ingsun ing dusun.

Sami Ae Cing Kwan ingkang desi, suka jeng sang kathong, dene desa neng pinggir pare den, nanging reja gumlar kebo sapi, neng pangonan sami, lan tepining gunung.

Ana marga kanan keri neki, kathah kang kakayon, angayomi ayem saurute, nora kenging soroting hyang rawi, enak wong umaris, ing dusun puniku.

Pan angong kang tepining benawi, kathah kang kathong ton, kembang-kembang kang amrik gandane, katempuh ing maruta angidid, sang nalamur dhiri, sukeng tyas ngarungu.

Swareng manuk sesauran muni, neng ngepang amencok, lawan suka tumingal sang rajeng, dusun ngriku langkung reja neki, enak wongnya cilik, sandhang pangan cukup.

Dahat suka sokur ri reng widhi, kangjeng sang akathong, tumingal mring para kawulane, tan rekasa   denya ucal bukti, samana kang wanci, apan ameh surup.

Tandya nyare wau sri bupati, aneng desa kono, mung saratri byar enjing budhale, pan anglarug tindaknya sang aji, marga tan winarni, samana wus rawuh.

Ing tepining bengawan kang wanci, surya pan wus ngayom, surat kuning kang sa acalone, tandya umyat pondhokan sawiji, nata lan Cyu Jit Cing wus manjing ing ngriku.

Sang nalamur pan nyare saratri, enjang kacariyos, banjir arta dennya dahar kabeh, nedya nira nutugken lumaris, ana brang den benawi, arsa ucal prahu.

Kaleresan ingkang darbe panti, wus gadah palwajong, dadya nata lan Jit Cing karone, nyewa sisan ya palwa nireki, kang darbe wisma glis, ngundng rencangipun.

Kinen ngajak mreng tamunya kalih, mring bengawan gupoh, sang nalamur lan Jit Cing numpakge, giyo tannya pan rinengga adi, jro palwa kaeksi, wus keh barangipun.

Tatukone pra sudagar nenggih, wit ing wulan mengko, pan wus celak lan tahun barune, sumarmanya kekulak mepeki, barang warni-warni, tan pantara dangu.

Ingkang darbe prahu nulya prapti, marani sakeh wong, pra sudagar wus weruh adate, tandya sami amasungi duwit, sasenengnya sami, kathah kedikipun.

Sang juragan iya ta nulisi, kabeh nama ingong, pan wus aweh iya ardanane, lan mangko apa ngucapo reki, ah ta mitra mami, sudagar sadarum.

Dipun eklas rila lair batin, ywa mesgul ing batos, arsa niki pan kidarya mangke, nyembahyangi twa pekong supadi, antuk angin becik, wilujeng sadarum.

Ywa samanggih sang sareng jaladri, ya ta sang akatong, tansah ngungun tumingal solahe, dene sami angwehi duwit, tan wruh karep neki, kang mangkono iku.

Tansah ginagas sajroning galih, gya marpeki alon, sang nalamur tanya sajugane, jalma wreda mangkana dennyang ngling, eh ta mitra mami, sapa dika weruh.

Karepe kang darbe palwa niki, kula tan mangertos, anjaluki duwit sadayane, sarta tinulisan nama neki, sang ngreda mangsuli, eh ta mitra nengsun.

Jar ta dikan dereng tau mriki, layak tan mangertos, mangke kula carita gancare, samadyaneng bengawan puniki, ana gunung neki, nenggih gunung watu.

Pucak ira wonten wisma neki, klenteng ing twa pekong, sang lomosin inggih ta arane, gih puniku kang rumekseng ngardi, angkernya kapati, saupaminipun.

Wonten prahu kang nglangkungi ardi, boya mampir kana, nyembayangi gih kang numpak kabeh, mring lomosin kang luwih sinekti, tan wande bilahi, ron kamadya mawut.

 

Lajeng wonten gara-gara, kumocake ning jaladri, sindung riwut ali wawar, peteng dedet anglimputi, sagara lir winalik, lumambek alun gumulung, tan surung mesti pecah, gi ya ta kang numpak mati, gih makaten prabawanya sang rumeksa.

Ing ardi sela punika, lomosin muji jatneki, marma kabeh palwa dagang, kang langkung ing ngandhap ardi, sadaya mesti mampir, sembahyang mring pucak gunung, lan wujud kang sanyata, minta berkah mring lomsin, kang supaya tan na sang sareng samodra.

Eh mitra palwa puniki, inggih mangke mesti mampir, sembahyang mring pucak arga, mila angumpulken duwit, kang darbe palwa iki, inggih kinarya tetuku, sapraboting sembahyang, dika mangke mesti ugi, sembahyang sujud kang rumekseng arga.

Sang nalamur duk myarsa, mesem sajroning reng galih, wasana lon andikanya, gih mitra kula tan dugi, niku kang pada grami, dene sanget gonnya cubluk, ambuwang-buwang arta, kang tanpa satuwas neki, nyembahyangi lomosin kinarya apa.

Kang saestu tanpa guna, eh para sudagar sami, boten susah asembahyang, eh eman-eman buwang duwit, kalamun ana mami, lomosin mong saapurun, gawe susah ing jalma, awit ing uniwak mami, puru isa marang sujalma utama.

Tur asekti mandraguna, bisa manjing ajur-ajir, niku anguwehi sarat, nenggih marang jeneng mami, karya dawarsa kalir, kasektene pra lelembut, Twa Pek Ong nama nira, away maneh mung lomosin, yen wani ya inggih dateng jeneng ingwang.

Sanadyan sang hyang baruna, nata ratuning jaladri, mesti ajrih mring wak ingwang, anut manut prentah mami, ywa maneh mung lomosin, eblis panunggu ing gunung, marma ywa sasumelang, boten susah mampir wukir, asembahyang kalamun ana bancana.

Angin ombaking samodra, tempuhena marang mami, sadayanya pra sudagar myarsa ling ira sang aji, aris samya mangsuli, gih leres sabda ta niku, nanging niki sadaya, nenggih kedah ngudingani, kasektene, apa tai ya sanyata.

Dika adarbe mujijat, bisa kulak mring bilahi, awit niki pra nangkoda, marma kedah nyembahyangi, nggih dateng sang lomosin, mung nuwun pangestunipun, ywa namanggih sangsara, rencana tengah jaladri, pinukunan arsa namung sapala.

Saestu tan dadi ngapa, janji amanggih basuki, marma yen dika sanyata, darbe kasekten kaluwih, kula arsa udani, mring ayem sadayanipun, ing tyas tan melang-melang, bok mangke angapirani, kang babaya wus prapta ngarsaning mata.

Gek andika boten bisa, tan wurung semah iya lis, sadaya kang neng jro palwa, sang nalamur kalanya myarsi, mring sabda nira sami, mangangen-angen jro kalbu, tan dangu antuk akal, tandya ambuka kang kancing, amesti rarasukan, sri maharaja.

Ana kancing ngira lima, mustika ingkang linuwih, ngapotin culiwu nama, kasiyatnya warni-warni, siji-sijining kancing, apan ana aranipun, ki mbok Swi Oo nama, lamun kangjeng sri bupati amangagem kancing lilima punika.

Nora pasah dening braja, tan gesang lumebeng api, nora teles manjing tirta, sang nata ingkang den ambil, kancing mustikeng warih, sarwi angandika arum, eh mitra pra sudagar reh mitra tan ngandel mami, ing samangke kula ngetokken kadibyan.

Inggih pada pirsanana, mangke toyaning benawi, yen sun celup asta kula, mesti ngiyak nganan ngeri, suka kang samya myarsi, mring sabdanya sang nalamur, kabeh pada tumingal, manglungana satepining ing giyo ta ya ta wau sri narendra.

Arsa cinelupken agya, lan samudana amuji, piyak toyaning narmada, tri lan dheyan myar neki, sak ista kadya margi, saklan dheyan lebetipun, ga mengha mawa cahya, lir kukuwung nginum warih, pea sudagar suka myarsa giyak-giyak.

Ngalembana mring sang nata, ah tuhu alun sinekti, nyata mandi donga nira, mangkana sang nalamur dhiri, wruh yen sedaya sami, wus ngandel mring raganipun, asta nulya ing ngangkat, pulih malih kanang warih, kadya saban ya ta ingkang darbe palwa.

Trus teng tyas denya tumingal, tumut mumuji lan malih, wus ilang kuwatir ing tyas, tandya babar layar neki, mancal saking pasisir, gya ta lampahnya laju, lan tuk angin utama, tan dangu lampah wus prapti, sangandaping ngarga lomosin ing nggennya.

Sing mandrawa wus katingal, kalenteng ing nginggil wukir, jejel kang para nangkoda, sembahyang marang lomosin, atap sung sun apipit, sing keh ejalma kang rawuh, lan kukus sireng dupa, kumeluk ngampak-ampaking kadya mendung saking kehnya wong sembahyang.

Lan waraning tetabuhan, tambur gembreng lawan suling, umyeng lir karengen wiyat, barung swareng ngrewong muni, kadya mecahna kuping, lan tepining gunung ngriku, jejel kaneng giyota, ingkang sami angentosi, margi ingkang numpak mring gunung sembahyang.

Namung sajuga ning palwa, ingkang boten puron mampir, sembahyang mring pucak arga, ya iku kang den titihi, marang sang nalamur diri, cingak kabeh wong ing gunung, nudingi lan sru  sabda, lah ika prahu sawiji, banjur bahe nora kendel marang arga.

Baya wong ngebo sen gesang, tan na jroh marang lomosin, mong sawurung prahu neki, mengko kerem, klebeng warih, uwonge pada modir, yen mangkana lagi kawus, ya ta wektu punika, dungkap bedhug ingkang wanci, langit padhang angin kenceng gegambuhan.

 

Prahunya sang aprabu, langkung laju anteng lampahipun, duk dumugi antara tengah jaladri, tebih elor lawan kidul, prapta lun ageng gumolong.

Peteng dedet anglimput, gorak praconda kang guntur ketug, jaladin di toyanya kadya winalik, dedet arawati wagyut, baskara tan nana katon.

Peteng lir tengah dalu, banyu braja ulekan lan lesus, palwa gonjing lumambek kadya binanting, woyam byuk marang ing prahu, tiyang punggel dadi loro.

Layar sebit maledug, binulungan wong sajroning prahu, kekes wing wrin wus tan nana nyipta urip, pating ngreog nedha tulung, lah kodyan sudipun gupoh.

Tulaken kang pakewuh, jer paduka ingkang darbe rembug, nora aweh sembahyang marang ing wukir, mangke nemoni pakewuh, nora wurung kabeh layon.

Iyo bakal kinubur neng weteng iwak lodan tan wurung, iki mesti lomosin pakarti neki, serik pang galiyannipun, dadi banjur gawe ewoh.

Ya ta ri sang nalamur, sanalika ribeng tyas wulangun, dangu-dangu pinanggih sajroning galih, ngunadikannya sang prabu, ing nguni duk nara katong.

Tong tya li si bina praabu, andon na prang mring kole anglurug, sri narendra aneng tengahing jaladri, katempuh geng ling pakewuh, bayu bajrahe sus awor.

Alun ageng gumulung, palwa nira nora bisa laju, mogok memeg-memeg madyeng jaladri, awit ratu nireng laut, nagara jahahe Lyong Ong.

Arsa sowan sang prabu, sareng sang ngalisibin sri mulku, nyerat mungal byan tya cinem plungken warih, iku byan tya tegesipun, serat dawahnya sang katong.

Marang ratuning laut, hyang baruna tan susah puniku, iya sowan marang panjenengan mami, sanalika kanang alun, sirep sirna kang pakewuh.

Saiki jeneng ingsun aneng ngriki anemu pakewuh, nora wurung mesti ratuning jaladri, barunarsa sowan mring sun, mong sa luput peteking ngong.

Mokal lomosin iku, yen waniya marang jeneng ingsun, ingsun ratu binataranya krawati, kasub ing jagat dibyanung, angreh sasamining katong.

Kinasih suksma nagung, si lomosin iblis tunggu gunung, jaba jalma kang pengung tan wruh ing yekti, iku kena dipun bedung, jeer kawruhe dereng bontos.

Mring kahananeng mujud, wujud ingkang kalimput linimput, ya ta wau sawusnya sri nara pati, gumeleng ing ciptanipun, pangandika nira alon.

Eh kabeh mitraningsun, ywa na watir iki kang pakewuh, mesti sirna padang kadya wingi udi, wusnya ngandika kadyeku, tandya nyerat sang ngakatong.

Mungal byantya pudarku lan samudana sang maha mulya, amumuji sawus sira serat dadi, sinungken mring jit cing sampun, lawan dawuh kinen gupoh.

Nyemplungken tebngah laut, pan sakala sirna kang pakewuh, alun sirep ponca wara sirna gusis, baskara maneh kadulu, sumeblak padang katong ton.

Lir wau-waunipun, pra sudagar sukannya kalangkung, amumuji kodyansu kasekten neki, atur geng panrimanipun, nanging sakatahing uwong.

Tan na grahita lamun, ingkang ngaku kodyan su puniku, panjenengan nira kangjeng sri bupati, ginalih sudagar tuhu, ingkang darbe japa mandos.

Tan wruh lamun puniku, mujijatnya kangjeng sang aprabu, ya ta sang nalamur pangandikanya ris, eh kabehe mitra ningsun, awit ing dina samangko.

Yen dika nitih prahu, angliwati lomosin gonipun, boten susah nganggo mampir nyembahyangi, mangke lomosin wus takut, nora wani gawe ewoh.

Marang manungsa estu, iku setan panungguning gunung, mongsa wani ganggu gawe marang jalmi, kacarita wit puniku, kena sabdane sang katong.

Lomosin enggenipun, temah iya sirna angkernipun, dumugining sapriki para sujalmi, sudagar kang liwat ngriku, kabeh datan ana nganggo.

Nembah yang marang gunung, sumarmanya sujalma sawegung, amumuji barkah ira sri bupati, gyan lyong kun ingkang pinunjul, mustikaning para katong.

 

Kawuwus sawau sri bupati, sawus sira ilang kang babaya, palwa laju ing lampahe, angin putu manempuh, wus tan pahe kadya jemparing, tan dangu nuli prapta, ing plabuhan agung, palwa kendel gulung layar, labuh jengkar kang nompak wus munggah gisik, ya ta sang nalamur lampah.

Lan Cyu Jit Cing wus minggah ing gisik, kendel amirsa kang plabuhan, karenan umyat sang rajeng, tepining darmaga gung, kathah palwa kang wira-wiri, gya tari na rengga, pinajang bra murup, ya iku titiyan nira, pra taruna cangkrama  madyeng jaladri, samya beta pradongga.

Swara arum pinyarsa ngerangin, sinindenan kang para wanita, nom anom awu warnane, sandangannya amubruk, sinulam ing benang mas adi, tan pahe lawan wayang, busananya murub, katah kang warnanya endah, sasolahnya wiraga akaduk manis, karya brong ta kang miyat.

Wusnya tutug de nira mirsani, anglajengken wau tindak ira, anurut ing marga gedhe, tepi-tepining lurung, toko-toko gumelar sami, gedong-gedong apelak, candelanya sinung, sadaya niraman kaca, lawan mratah nganggo loteng susun katri, tur mawi sasekaran.

Kinara wanci lung-lungan ngrawit, pas pinulas sinenggih wardenda, gumebyar muncar cahyane, radin sadayanipun, gedhong-gedhong loro mangkana sami, lan tepining wiwara, ana tulisipun, namanya kang darbe wisma, samadyaning praja ana pasar neki, ageng tur sarwa ana.

Dedagangan pepak warni-warni, lurung-lurungnya jembar arata, gumrining resik sababe, saben dina sinapu, sri narendra rena ningali, rarengganireng praja, tuhu lamun bagus, datan nana kang kuciwa, pra sudagar tingali ra sugih-sugih, tan nana ingkang mlarat.

Urut marga sinungan dilah ting, lamun dalu padang lir rahina, mubyar sing kehe pan dame, pan nganti lingsir dalu, meksih akeh lurung lumaris, liweran sami tumbas, tetuku mring warung, nata aliyan tumingal, saking ngriku tan pahe bagus sireki, rejamyang raregannya.

Gedhong-gedhong toko-toko sami, pan gumelar dagangan sarwa na, sang kalih wau tindake, lon-lonan andadulu, nganan ngering agung tumulih, tan wruh lamun tumbukan, wau sang aprabu, kagyat tumuli mring jalma, kang tinumbuk malah minwa pangaksami, nata ngunguning driyo.

Sabenere ingsun ingkang sisip, awit numbuk nanging wau jalma, malah minta aksamane, ya marang jeneng ingsun, baya becik ati nireki, ana ing tingal ira, lir na prelunipun, de ririkatan lakunya, lah bok iya jalma mau sun takoni, ana prekara apa.

Dene sawangannya langkung sedih, nulya wangsul tumuti sang nata, duk reka nyandhak tangane, sarwi tatanya arum, eh kisanak punapa kadi, dene kalangkung gita, tingalnya sun dulu, aririkatan lumampah, kang tinanya sumaur kula puniki, saweg ribet tyas kula.

Satemennya boten prelu mami, acarita dumateng sudagar, saking genging nalar kiye, tur mosa bisa tulung, jeng ngandika mring awak mami, marmane ucul lena, inggih tangan ulun, arsa dugekken lumampah, lamun nganti kasep boten wande kardi, patine anak ingwang.

Wusnya nabda narik tangan neki, sang amimba sudagar myarsa, mesem alon andikane, mangke ta ywa kasusu, bok manawa kawula bangkit, tutulung mring andika, nadyang geng pakewuh, ananging dika jarwaha, dateng kula inggih prakara punapi, jalma wau myarsa.

Mring sabdanya sang mindha wong grami, dahat suka lan alon tatanya, sudagar pun dika lemek, lan pun dikang kinayun, dene nganti dumugi ngriki, punapa sami harja, kang tinilar pungkur, sang nlamur lon andikanya, kula sami kotyas sude wisma mami, inggih ing kuta raja.

Boya tebih karaton aji, kula tumut nyepeng paprantahan, lan lau yong tunggal sak ges, dene ta sedya ingsun, mung lelana ningali nagri, inggih dumateng kanglam, den sanget kasuwur, langkung bagus lawan reja, ya marmane dina iki dugi ngriki, namung nedya uninga.

Dateng sanes-sanesing nagari, de punika putra kula angkat, pun Cyu Jit Cing panengranne, sumarma mitra ingsun, inggih sampun amawiwigih, mugi dika jarwaha, sapa nalaripun, de lampah kalangkung gita, bok manawa kula waged mitulungi, jalma wau duk myarsa.

Yen puniku kotyas sukang sami, satunggalnya Cyu Jit Cing rahadyan, ing kota raja lampahe, dahat marwa ta sunu, keplok-keplok asta nireki, lan tutur purwa nira, nenggih lakunipun, inggih loyah kadang amba, sepuh kengken dumateng kla mariki, ngadang kalih sujalma.

Kang satunggal kotyas sukang sami, satunggalnya Cyi Jit Cing rahadyang, ing kuta raja asale, punika yen katemu, kalih pisan dipun aturi, kampir wismanya kakang, samangke panuju, kawula panggih paduka, wonten ngriki kapasang yogya sawekti, dene sami kawula.

Tanting kakang maba nami tas cing, inggih asli ing ngriki kewala, kula matur sayektine, mugi ywa dadi bendu, kakang lawan kawula niki, kasuwur sugih pyambak, tan nana kang nyundul, yen praja ngriki kewala, inggih boten wonten ingkang nyenyameni, sanging tan darbe anak.

Kakung  namung sajuga pawesti, kakang kula ingkang asusuta, pun rarasoh cun namane, yuswa nembe las taun, wus tinamtu yen badhe krami, ing sallawan wong syah sya, inggih namung kantun, ucal aari kang prayoga, ing daup pewasana nira samangkin, sakit lir kanglang langan.

Wit ginoda dateng ya loboh kwi, saben dalu wus antara pejah, pijar botenenget wong, wus katah ngundang dukun, parewangan datan pakardi, sakehing japa montra, tan nana tumanduk, malah sansaya rekasa, sakitipun nganti anelasken gending, bingung lir nemdem kluwak.

 

Inggih sampun, den undangaken puniku, hwe syo pra ngulama, saben dau kinen muji, anulaka setan ingkang pijer godha.

Nanging ugi boten mendha sakitipun, malah kalampahan ngundang saksake kong ing nguni, dipun pangan inggih dateng pun siluman.

Marmanipun pun kakang sanget wulangun, putra mung sajuga, pawestri ayu linuwih, mangkya sakit anyepaki dateng pejah.

Karya bingung, saben dinten ting bilulung, ngucalken usada, nanging inggih tan pakardi, kakang kula tansah ngredatin ing driya.

Saben dalu, anenedha ing dewa gung, inggih kaleresan, anuju sajga ari, wanci dalu kakang kula anyumpena.

Wonten rawuh, sujalma mangagem luhung, busana sarwa mas, twarek kong aparing wangsit, yen ing dinten punika ana wong prapta.

Sangkanipun saking kuta raja iku, kotyas su namanya, sajuganya sami Jit Cing, mung puniku kang bisa amaluwakna.

Sakitipun, iya anak ira iku, wit karonya, sudibya tur sura sekti, sugih japa montra punjul ing sasama.

Mesti takut, ya lomoh lawan ko tyas su, poma wekasing wang, sira aja nganti lali, yen nganti ya jalma iku tan kapanggya.

Nora wurung, anak-anak ira sida lampus, mekaten wangsitnya, ywa pekong mring kakang mami, mila nira inggih wau bangun enjing.

Lajeng suduh mring kula nyegat ing lurung, mangke kaleresan, neng ngriki kawula panggih, lan paduka wangsitnya tuhu tan cidra.

Sang twa pekong gih dasar pulunan ulus, inggih maksih beja, lah tasu mongga sang kalih, kula turi dateng wisma ingsun kalas.

Atutulung marang kang kawelas sayun, inggih alun asulaka, ya lomoh siluman juti, kang saestu kawula lawan pun kakang.

Sanget nuhun, pitulungan ta satuhu, nguni wus ubaya, kakang mas yen putra neki, awaluya tan nana sakara-kara.

Badhe sinung ganjaran kang bara nabung, inggih wangsa kala, wrattri dasalek satail, lan mutyara satus ijik tah ira.

Marmanipun sumongga kalih den gupuh, kula turi tedhak, amba wus sadya joli, nitih ana kawula umiring wuntat.

Sang nalamur, myarsa dahat, de nya ngungun wasana ngandika, eh mitra ywa dadi galih, satemennya kula niki boya bisa.

Sakeh ngelmu japa montra donga iku, nyingkirken lerembat, guna dhesthi boten bangkit, marma nira kula tuhu tan kaconggah.

Lan lalembut, yau boh nora kadulu, kapriye den mengsah, dene lamun saupami pada jalma sanadyan punireng laga.

Kang pinunjul, kaprawira nireng pupuh, kula boten wang wang, sagendingi reng ngajurit, awit kula widanda sakeh ing gelar.

Ing prang pupuh, ya sanadyan mengsah ingsun, bisa rupa sasra, molah kadya bujang gaji, kang saestu kula inggih boten kewran.

Boten takut, wangsul puniku lelembut, setan sa siluman, marma samangkin, dipun gupuh ngulat tan jalma.

Kang pinutus aji japa montra iku, inggih den aduwa, mengsah lawan cicir belis, lamun kula kisanak dika ungkurna.

 

Satemennya nora bisa, prang lan setan wau kalanya myarsi, tan ting wan gwe sabdanipun, inggih sang namur lampah, iku tanting narmanya nganggo jujuluk, pan gwe tegesnya wong kaya, sadengaha wong kang sugih.

Kang darbe malik sawuta, iya sinung jujuluk wan, gwe nami mangka sanalika ngrungu, sabda nira narendra, tandya anungkemi sukunya sang namur, kang rosa ririh aturnya, mamelaha melas asih.

Duh babo sang wirutama, tutulunga marang kang kang las sasih, anyarnaken kang lelembut, sasat aparing gesang, ring kawula dateng kadang ulun, manjalma akaping sapta, kawula estu tan lali.

Sih kadarman jeng paduka, saupami estu tuwan tan apti, ngutuk mring kang kawlas sawun, boten wande kawula, lan kakang mas kalih sami lalu lampun, saking boten saged miyat, mring pulunan kanandhang sakit.

Mokal kalamun paduka, boten wigya aji jaya-jayanti, pambingkasing pra lelembut, setan dus karteng jagat, lan dupa rayen, twa pekong wangsitipun, inggih yen boten sanyata tan wan gwe denira angling.

Mesih alara karuna, amamela melas-melas asih, tur neng tepining marga gung, katah jalma tumingal, panm nyanane iya ingkang ora weruh, dinalih tanting samangkya, edan owah adat neki.

Dene neng lurung karuna, kang sawene iya ana udani, lamun tas cing wismanipun, ana siluman godha, mring anaknya kadya grahita kalamun, marma nangis arsa nedha, usada mring wau kalih.

Jalma ingkang sinungkeman, warna-warna ciptanya pra sujalmi, kang ningali aneng ngriku, ya ta nalika ira, tanting sweg panggih lawan sang nalamur, abdi nira pun nakawan, apan wus kinen atur wris.

Nenggih marang kakang ira, yen wus oanggih jalma kang den ulati, cyu jit cing lawan kotya su, twa pekong wangsit ira, tan nalisir marma nalika puniku, tas jing wan gwe sigra-sigra, numpak joli lampah neki.

Suluk marang ari nira, lawan beto joli andungan siji, miranteni sang nalamur, mangke karya titiyan, tan na dangu tas jing wan, gwe prapta sampun, ing unggyan pang kalih ira, sumerep yen ari neki.

Nungkemi pada karuna, mring kakalih nora saronta tas cing, medal saking jolinipun, tandya nungkemi pada, mring sang nlamur nabda, lan sru denya muwun, duh kalih jalma utama, melasa marang pun patik.

Kang damaka welas sarta, dina-dina agung asdang prihatin, sing dahatan basan dulu, anak kula sajuga, andang roga ginohoda marang lelembut, duh babo sang maha dibya, kang tuhu sih ing sasami.

Mugi tuwan sirnakken, pun ija jilletheg regeding bumi, lamun kalakon saestu, dadyan prapta ning pejah, maksih enget pitulungan ta satuhu, yen paduka boten arsa, luhung pejah awakk mami.

Aneng ing ngarsa paduka, dadi nora dedawa ing prihatin, sang nata nalika dulu, tan wan gwe kalih ira, sujud kuwi kalihing ngadegken sampun, gi duh ing tyas sang pamasa, dene ta ginubel tangis.

Lan welas myat kalih ira, arsa sanggup manawa nora bakit, anyekel kaneng lelembut, arsa sela tan bisa, pan ginubel ginunturan ing pamuwun, paminta amelas sarta, renca keng tyas ngandika ris.

Nabda mung ngecani manah, lah ta mitra wan gwe mangke rumiyin, aja ta pijar amuwun, becik pada rinembeg, sakecanya amrih utama ning laku, nata maripih pamrihnya, wan gwe lejar ra kang ati.

Ywa sanget panggubel ira, nanging jit cing tan samar yen sang aji, nebda mung ngecani kalbu, lan sanget denya welas, tumingale tas cing tas ting kalihipun, denira mamelas ars, lamun nangis lir pawestri.

Reh jit cing meksih taruna, dadya ora mikir pakewuh neki, abot enteng mesahipun, namung katarik welas, mring kang sujud kuwi aneng ngarsanipoun, wasana rum atur ira, duh kangjeng rama prayogi.

Pan duka anyagahna nyepeng setan kawula kang bantoni, ajrih punapa pukulun, sumongga diun coba, kaya apa warnane ingkang lalembut, de wani godha manungsa, mongsawurung ngangemasi.

Setan aneng ngasta ningwang, lawan malihipun rama manawi, inggih boten karsa nulung, dateng wan gwe punika, amba dahat lingsem dene dipun dulu, jalma keh tanpa wilangan, lan tas cing tas ting wong kalih.

Wus sujud sanget mangrepa, amiminta tulungan kang sayekti, dateng paduka pukulun, awit antuk sasmita, sang twa pekong paduka kang wigya tulung, bengkas reregeding jagad, amegatnya waning eblis.

 

Pan wus pantes paduka, yogya ambunuh, sabehe panggawe juti, amrih harjaning prajagung, rumeksa ing kawula lit, maweh suka ing tumuwoh.

Napa maneh puniku ingkang lelembut, wani godha maring jalmi, gawe susah ing tumuwuh, pantes dipun ukum mati, sirnaha kang gawe rusoh.

Kenging napa jeng rama dahat amingkuh, tutulung mring kang kas wasih, lah sumongga tindak gupuh, dereng tutug denira ngling jit cing mring rama sang katong.

Tas cing tas ting dahat suka denya ngrungu, maju sarwi wacana ris, gih leres, cyu jit cing kong cu, tutulung wong kawlas sasih, sanadyan praptaning layon.

Ambahe nget tinulungan nira tuhu, lah ta sumangga den aglis, jeng paduka sang kotas su, lawan putra sang pekik, siti ajoli den gupoh.

Sri narendra kamitenggengen, tan wuwus myarsa ling ngira cyu jit cing, de tuhu nedya tutulung, marang sang wan gwe kakalih, ya ta sang sungkawa karo.

Tansah ngalembana marang sang binabus, cyu jit cing panggalih neki, melas sameng tumuwuh, mangkana denira nagling, tuhu ambek darma ahot.

Inggih raden lamun kawula ing besuk, boten waged males becik, dateng paduka saestu, Allah ingkang ngudaneni, paring nugraha kinahot.

De paduka welasa samang tumuwuh, ya ta sri  bupati, mturut jit cing turipun, sigra denya titih joli, neng ngarsa lumampah alon.

Dyan cyu jit cing nitih joli aneng pungkur, tas cing tas ting kadang kalih, darat kewala lumaku, dahat suka nireng galih, nyiptan tuk sih ing hyang manon.

Ya ta lampah ira wau sang nalamur, nora dangu sampun prapti, iya tas cing dalemipun, tan dya manjng jroning panti, lan jitcing sang prawira nom.

Pan ing ngriku sampun ginelaran babut, tas cing geng pakurmat neki, nora gasanget susugun, marang tamu nira kalih, wusnya sami tata lunggoh.

Sinunggata nenggih ingkang eteh arum, sang nata suka ing galih, de wan gwe geng kurmatipun, marang panjenengan neki, nata angarti keng batos.

Nyata temen tas cing yen sugih kalangkung, katara wisma nireki prabot ira sarwa bagus, tur alus pakarti neki, wusnya  ngarti kamangkana.

Ruma nabda eh tas cing satuhunipun, iya jeneng ingsun iki, apan dereng tau weruh apan dereng anglakoni, prang lan setan kang tan katon.

Apa maneh lelembut ya lomoh iku, yekti tan kena ginampil, lan tan gampang denya mikut, awit luwih saking sekti, jer nyeluman arang katon.

Lawan kudu teteg ing tyas aiwa takut, yen kurang wiwekta neki, nora wurung prapteng lampus, pinangan mring sihijajil, sumarmane awak ingong.

O iya sanggup aprang kalawan lelembut, kapeksa wlas aningali, marang sira lan adimu, utawa ta putra mami, si cyu jit cing wus tumanggoh.

Arsa nyobaha prang kalawan lelembut, nora bisa selak mami, jer nelamur wis katempuh, mung saking paminta mami, sokur lamun jeneng ingong.

Bisa unggul ing aprang begjan ta iku, nanging lamun nora bakit, anyekel marang lelembut, aiwa dadi tyas ireki, temene sun iki bodho.

Nora weruh japa montra aji kidhung, padula kya marang eblis, ning magke kularsa weruh, sabene kang den parani, gone godha sang lir sinom.

Lamun kula wus weruh dununganipun, ing mangke sami pinikir, mamrih prayoga ing laku, kang sakeca den lakoni, aiwa nganti bisa dhompo.

Praptaning don temahan pada akuwur, mula pinikir rumiyin, tas cing tas ting kalih matur, leres dawah ta tan sisip, nanging prayoganya mengko.

Rarti awit niki dereng mangsanipun, mangke dahara rumiyin, sugatan wontenipun, wit pubiku ya lomoh kwi, lamun godha putra ingong.

Datengipun apan inggih sampunb dalu, dumateng gedong boten ting, bangsal geng ing taman santun, boten ting saman nireki, udya nadya aneng kebon.

 

Pun durcara aneng ing ngriku jujugnya, wit putra amba esti, gih aneng lotengan, boten ting denya nendra, sang nalamur kala myarsi, suka ngandika, yen makaten prayogi.

Anak dika samangke dipun elihha, botan ting pangkeng neki, selehana meja, kursi mangke kawula, neng ngriku angunjuk awis, ngiras angantya, datengnge laumoh kwi.

Lan anggusti ireh prayoga ing lampah, lan dika aiwa kari, tas cing angandika nulya ngelih putranya, boten ting pangkengan neki, wus sinelehan, meja kalawan kursi.

Lan tinata sagunge kang dedhaharan, samangkan warni-warni, ae log pao yan, iku larang reganya, lamun wong tan sugih duwit, yekti tan bisa tuku wit rega neki.

Langkung larang ahe log lawan paloyan, mupangat marang dhiri, marma tas cing bisa tuku barang kalihnya, margi saking sugih duwit, sawusnya pepak daharan lawan awis.

Myang inuman wowohan mawarni-warni, tandya sang namur dhiri, ing ngaturan tindak, mring kebon patamanan, lan cyu jit cing nora keri, minggah lotengan, tilas enggon kang sakit.

Sawus sira kapat sami tata lenggah, ning durung ngunjuk awis, lagya lalenggahan, tas cing amatur tanya, marang ri sang namur dhiri, sapa paduka boten ngangge piranti.

Denya arsa amikut kaneng lelembut, sang namur amangsuli, mangke sadiyaha, abir karya nglawan prang, tuwin abdi dira sami, ingkang prakosa, lan prawira ing jurit.

Pilihana kang teteg sudireng laya, bantua marang jit cing, angoyak lelembut, ngetutken wurining wang, lawan sadiyaa eting, tutupen kaca, ywa nganti bisa mati.

Awit iku lelembat kalamun prapta, mesti anggawa angin, mula den prawitna, damar aiwa angantya, pejah atempuh ing angin, lamun petengan, tan wunkar ya bilahi.

Lan nyepakna sadaya kang tatabuhan, tambur gembreh lan suling, lan mercon manawa, ingsun wus bonda yuda, kabeh tinabuhan sami, mrecon unekna, dimen setane giris.

Amiyarsa unine kang tatabuhan, lan enggon ingkang sepi, tuwin pepojokan, sedaya selehana, pan damting ingkang anganti, padhang lir rina, uga ing loteng ngriki, lampu-lampu pasangen kang nganti padhang, eh tas cing kula warti, niku sasiluman, ya lomoh kedadeyan, gih saking awaning bumi, bumi kang ala, wus karseng batara di.

Anitahken mangkana kanang lelembat, tur luwih saking sekti, mula nora kena ginagampang ing wuda, yen pancene den pranteni, obat pinetak kang akeh neng jro bumi.

Yen lelembut, ngliwati pendheman obat, sinuled saking tebih, dimenne palastra, upama nora pejah, uga kawus nora wani, balik anggodha, ananging reh ning ngriki.

Neng jro praja menak akarya ruhara, inggih dateng tyang alit-alit, mila boten susah, ngangge pendheman obat, mung kula lawan ing jurit, sagendhing ira, si eblis ngong kembari.

Tas cing myarsa dawahnya sang namur kula, kamitenggeng tan angling, lir jroning supena, saking duk kiteng driya, laminya nandhang prihatin, ya ta arinya, sang tas cing duk myarsi.

Sadawahnya sang namur nulya parentah, mring sang gya abdi neki, sadiya sing ngaprang, sadaya wus samapta, duk silem kulan daragni, kapat alenggah dahar lan ngunjuk awis.

Sang kekalih wan, gya dahat anoraga, nelas pakurmat neki, mring kalih tamunya, samanagri pamasa, salebet ira abukti, tansah ginagas, denira arsa jurit.

Marang setan ya lomoh de kang sarira, durung tau nglakoni aprang lan lelembat, nanging rehning samangkya, wus katempuha nanggupi, temah nempuh byat, malah geng ingkang galih.

Kadya age nuli tempuh prang lan setan, samana ingkang wanci, wus nawa gathi ta, lebar dahar anulya, linorod mring para abdi, ginanti medal, who-wohan warni-warni.

Pepacitan piranti angunjuk arak, ya ta wau sang katri, wan gwa lan rahadyan, cyu jit cing wus tumedhak, saking loteng amiranti, asesingidan, samya prawit wewesti.

Salebete udyana wus pinasangan, damar ting tan pawilas, padhang lir rehina, mubyar sing keh ing pandam, samana jeng sri bopati, kantun anggasa, neng loteng ngasmarani.

 

Ya ta kangjeng sri bopati, pribadi aneng lotengan, agung anggagas galihe, sinambi angunjuk arak, lan macit kawoh-wohan, dwi dati ta wancinipun, hyang sitaresmi pan lagya.

Dadar ri katon dumeling, sangking wening jaladyan, sidem tan nana bawane, sajro nireng udyana, sonyata tan nana swara, mung mireng swaraneng manuk, pating caruwat kapyarsa.

Lan swaraneng toya mili, umricik kadya pratongga, karenan tyas sang ngarajeng, tumingal kang kembang-kembang, puspita sri kawuryan, ganda nira amrik arum, midid kang maruta gonda.

Katah katingal ing ratri, lintang-lintang bra ing tawang, tuhu muwuhi karesmen, lelangen-langen ning ratya, kadya tur panambrana, marang ingkang lagi nlamur, tuhu mangkana isthanya.

Wiwitaning taman sari, tumiyung katempuh bajra, lir atur bekti mring katong, lan swaraning kup angkupan, cumlering kapyarsa, lir pamuji nireng dalu, marang sang maha wibawa.

Titisonya lingsir ratri, duk wanci dungkap jam tiga, da tan dangu ana katon, mega saking ngontariksa, gumulung sagolongan, marang taman paranipun, den iring ing bayu bajra.

Sindhung riwut erawati, peteng dedhet alimengan, bumi langit nora katon, krikil wedi nireng taman, mawut kabur saparan, jit cing sarwangnya dulum murinding gigitok ira.

Wus wuga yen laomoh kwi kang prapta mawa prabawa, ya ta kangjeng sang akatong, kang lagi sakeca lenggah, kalawan ngunjuk arak, prastawa denira dulu, mega sagolongan prapta.

Lan mawa prabawa tis-tis, sindhung riwut aliwawar, peteng jagat tan na katon, nata wus anyakreng nala, yen seluman kang prapta, dupitan antara dalu, sasirnane kang prabawa.

Byar padhang ana kaeksi, jalma priya maksih mudha, tri dasa warsa yuswane, busananya lir pandita, minggah marang lotengan, yaiku ingkang lelembut, amancala jalma mudha.

Rai kulitannya putih, resik tan mawi gumbala, sutra apanjang klambine, mawi kethu sirah ira, ta okin nami nira, tangan ira nyepeng kebut, sabuknya pangsi kinarya.

Pedhang ira sinangkelit tindhak ira alon-lonan, duk prapta ing nginggil loteng, ing nguni panggenan ira, soh cus kang sandhang gerah, sanget duka denya dulu, de ngriku ana mejanya.

Lan ana daharan neki, asrunyettat duwus sira, eh iku sapa uwonge, dene wani kurang ajar, ngregedi enggon ningwang, yata wau sang aprabu, duk wau pan wus siyaga.

Mipi aneng tepi mori, lawan ngasta ;lawung ira, duk myarsa wau wuwuse, siluman ingkang mangkana, tandya medal lan nabda, eh siluman sikepaung, sira dahat kurang ajar.

Leletek regeding bumi, dus karsa amurang tata, wani godha anak ing wong, yen gugu pitutur ingwang, sireku ingsun eman, angur muliya den gupuh, iya marang dangka nira.

Tutug gena amertapi, supayan tuk sih ing dewa, yen nora mangkana mangke, datan wurung sira pejah, lan manggih kawirangan, mulih ngajal wurung muhul, lan tug duk ningsun semana.

Apa kokira manawi, tan nana jalma tan bisa iya mikut marang kowe, ing samengko rasakena, sira tanding lan ingwang, tan wurung basah wangkemu, pinangan ing ngabiring wang.

Sumarma eling den eling, gugunen pitutur ingwang, ywa nganti nalongsa mangke, yen sun wus mesuk dibyan, sira mosa kuwata, siya-siya kang pinangguh, tur ilang subrata nira,

Kang wus lami kok lakoni, mangkya iling tanpa karya, mula ingsun eman kowe, lah inggal sira baliya, ywa nganti antug dosa, marang hyang kang maha ruhur, tutugena amertapa.

Lawan nuhuna aksami, de sira wus nandang dosa, wani malih dadi uwong, gawe wisuna anggoda mring anak rabi ing tyang, iku ageng dosanipun, lah setan enggal baliya.

Lan malih sira yen uning, iya marang jeneng ingwang, enggal nembaha den nagodra pon antuk pangapura, ambirat wurakanta, seluman nalika ngrungu, mucicil yuda kenaka.

 

Dahat krodha sru manabda, eh tababo sira ing ngendi, dene kumlungkung adigung, pinter temen micara, kaya kowe dhewe kng bisa calatu, peksa ngundurken karseng wang, eh bangsat saparan neki.

Lan ngendi pinangka nira, apa sira nora krungu pawarti, wani mrene sikepahung, amung welik opahan, sanggup mungsuh iya lawan jeneng ingsun, sasat sira atur nyawa, sun eman mundura aglis.

Lan iku soh cun sangsara, wus piranti jodo kalawan mami, ana ingong tuwanipun, nora sarju ing driya, ya mulane angundang sakeh ing dukun, ngulama para pandita, kinen lumawan ing mami, sami ngetoken kagunan, japa montra kabeh dtan pakardi, siji tan tumama mring sun, malah pandita nira siji lampus ingsun untal raganipun, kang kari tintrim tan nana, wani lumawan mring mami.

Apa maneh kaya sira, arsa wani iya ngadu kasekten, lan engsun kang wus kasumbung, prawira widigdaya, amung malik opahan kang bara nagung, mongsa nganti bbisa tompa, sireku kaselak medir.

Brasta sun pusus neng ngasto, aku lamun dulu warna nireki, pantes mulung adol gemblung, kumlungkung peksa guna, ngapus-apus ngapusi melik si cubluk, de nyarsa tompa ganjaran, tan wruh mrene asrah pati.

Nora nolih sariranya, eh take cu becik mundur marang kin, mosa menanga lan ingsun, yen sira peksa nglawan, nora wurung nyawanta bakal katemu, gyam kun ong ratuning kerat, yen sireku demen urip.

Nembaha dlamakaning wang, sun arupa anjing dosa nireku, sang nlamur sareng angrungu, kroda sru wuwus sira, kadya gelap ngampar awit sang ngaprabu, wus radi kawuron arak, nir sang gya wan was sing galih.

Mangkana pangandikanya, eh ta setan apa wuwus sireki, yen temen sira tan nayun, mundur peksa nglawan prang, rasakna yen ora wangkemu remuk, sun ejur sawalang-walang, yitman ta tan wurung benjing.

Siniksa neng jro naraka, yen cidra kawuwus ingsun puniku, aja ko undang Ko Dyan Su, kang kasusreng jana, widigdaya sumbaga sudireng kewuh, nindhita sakehing gelar, siluman kalanya myarsi.

Duka ngawet lathi nira, narik pedhang mangrupak ing ngajurit, tinadhahan pareng caruk, abir pedhangku mrampyang, rame de nredi nedra pupuh-pinupuh, tangkis-tinangkis sarosa, Gyan Lyong Kun sri narapati.

Dhasar wanter kawewahan,ngunjuk arak wewah geng ingkang galih, ngriwut ing prang wus tan emut, yen mungsuhnya siluman, ngangseg-deseg nganan ngeri.

Nir sarwi mupuh, sudira mangangah-angah, Lao Moh kwi tan kuwawi.

Duk lagi wolung rambahan, pangancape aber panangkis neki, lumayu enggal tumurun, nenggih saking lotengan, tinut wuri binujung marang sang prabu, yata Cyu Jit Cing kalawan-waan, gyaa saabdi nireki.

Wruh seluman wus kasor prang, binabujeng marang sri narapati, agupuh samya tutulung, bujeng saking ing wuntat, lawan nabuh kabeh tengaraning pupuh, tambur suling lawan kendhang, binarung marecon muni.

Swara umyang mawurahan, kadya guntur oreg kang bumi gonjing, rame surak ngalor ngidul, wan gye kakalihira, ugi tumut sing tebihan atut pungkur, wit ajrih marang siluman, yata wau Yao Lomoh kwi.

Mireng swara mawurahan, palayunya bingung amempis-mempis, ngalor-ngidul bina bujung, tur padhang lir rahina, ing saenggen-enggen wonten etingipun, kapengkok mandeg sedyanya, arsa pokok ing ngajurit.

Nanging duk tumolih wuntat, mungsuhira kathah datan pa wilis, lan ngrenggep sanjatanipun, gugup ulatnya biyas, langkung payus palayunya nusup-nusup, wus nyiptaa tan kuwat lawan, pinatip lajeng ireki.

Sang nata meksih tut wuntat, nanging Jit Cing sarowangira keri, Lao Moh duk nolih pungkur, mungsuhnya mung sajuga, kang nututi mandeg arsa nglawan pupuh, sarwi asru wuwusira, eh Ko Tyan Su de kapati.

Pati denira angoyak, lagi mingkem sang nata selak prapti, Lao Moh ken napi pupuh, jangganira kalenggak, kagyat nolih pinindho malih pinupuh, tenggokira ingkang kena, sumaput sapon nireki.

Niba gumuling ing kisma, sang nalamur mara arsa mungkasi, aninggas ing jangganipun, nanging ora antara, pun siluman badhar mulih ajalipun, sang nata kagyat tumingal, mungsuh sirna pan kaeksi.

Buburon asah wardanya, ageng inggil sirahnya kaya sapi, ana kalih sukunipun, cangkemira ajembar, untu ngrangas jatha gimbal nganggo siyung, netra geng maniknya abang, wuluning sirah warna brit.

Awawar tur rembyak-rembyak, wulu badar ijro warna nireki, nalikanya sang a prabu, tumingal kang mangkana, dahat ngungun sumlenger rep tanpa muwus, yata wau sang siluman, wusnya badhar krodha angrik.

Swara kadya gelap ngampar, neng gagana balik arsa mungkasi, anyaplok mring sang nalamur,  duk parek kagyat umyat, sing awiyat nagara ja ingkang rawuh, ing ngiring kang bayu braja, padhangi ana ing ngarsi.

Yaiku kang bujang gendra, kang rumeksa ingkang jeng sri bupati, Ngoh Jya Kin Gyong namanipun, marmanira tumedhak, pan ing ngutus marang hyang kang maha luhur, rumeksa sarira nira, wijile kang para aji.

 

Sri Gyan Lyong Kun winong wong ing widi, narendra kinaot, Lao moh kwi waspada titingale, mawa cahya praptaning nagaji, ngunguwung nelahi, wus grahita lamun.

Kang angaku Ko Dyan Su manawi, kangjeng sang akatong, dahat suka mesu ciptane, tan antara angin ageng prapti, sirna Lao Moh kwi,  bareng lawan lesus.

Lan nilarni surat teng sutra brit, Cyu Jit Cing kacriyos, wus sumusul neng wurining rajeng, tumingal ing lamun Lao Moh kwi, wus lumayu gendring, sirna lawan lesus.

Marga pinapag sing ngawiyati, ana cahya katon, angadhangi rumeksa sang  rajeng, kawuwusa sang nalamur dhiri, sasirna nireki, Yao Moh Kwi sampun.

Pulih malih kadya wingi uni, duk sumlenger alon, kang rurupan kalangkung anehe, yata Jit Cing marek ngarseng aji, lan umatur aris, duk wau pukulun.

Yao Moh Kwi arsa mrek ping jurit, mungkasi ing pupoh, mring paduka anguntal karepe, nuli wonten sing ngawiyat prapti, kang cahya dumeling,  nyegati ing ngayun.

Nira Yao Moh Kwi lajeng gendring, wau sang a katong, duk myarsa Cyu jit Cing ature, pan ginagas sajronireng galih, katujune meksih, winong wong hyang agung.

Yen aja apesthi ingsun mati, den badhog wak ing wong, marang setan sisiluman kuwe, yata samana uwis byar enjing, Cyu Jit Cing ningali, lamun tilasipun.

Enggenira Yao Moh Kwi nenggih, ana serat katon, gya pinendhet ing ngaturken age, mring sang nata winaos kang tulis, mangkana kang uni, pan kala rumuhun.

Wus pinesthi jodhoning ngakrami, boya kena linyok, lan tan kena yen dinaupake, mring wong Shah Sya marma bataradi, hyang Tae Pig Kim Sing, kang dhawah mring ulun.

Arumeksa marang sang sudewi, Soh Cun away ngantos, pinanggihken lawan wong liyane, wus pinesthi yen jodhonireki, tan kena lyan jalmi, mung Cyu Jit Cing Kong Su.

Jodho nira nenggih sang retna di, samangke wus rawoh, aneng ngriki den daupna age, ing samangke amba nuwun pamit, mring kayangan mulih, mangkana winuwus.

Marma sira Tan Cing bisa nganti, panggih lan sang katong, lan putra negih Pun Soh Cun kuwe, ginarpa mring raden Cyu Jit Cing, wit salamineki, Tan Cing Tan Ting iku.

Anggejanjar mring wong pekir miskin, danane tan pedhot, dadya mangke antuk walesane, kabecik marang batharadi, samana kawarni, Tan Cing lan renipun.

Sami prapta sumusul ing aji, wus sirna kang mungsoh, dahat suka yata sang ngarajeng, serat sinungaken marang Tan Cing, gupuh den tingali, jroning tyas kalangkung.

Dahat rena tan pahe lir manggih, emas pitung gedhong, alon matur yen makaten kiye, putra kula Pun Soh Cun pinesthi, jodho lan sang pekik, gih pun Jit Cing Kong Cu.

Gih kalaamun paduka tan nampik, anak kula wadon, dene amba wong punggungwijile, nora weruh ing uda nagari, sang namur nabda ris, asanget jumurung.

Lamun sudi dika arsa ngambil, mantu mring nak ingong, kula sewuju murung yektine, dene dika satuhu yen apti, kakadang lan mami, wong nistha tur cubluk,.

Tanpa sanamubeng kandhang langit, dadi uwong manong, Wan Gye kalih duk myarsa sabdane, sang Ko Tyan Su dahat asor ragi, gumujeng pan sarwi, nyepeng astanipun.

Sarwi tinuntun manjing ing panti, kapat tata lunggoh, Wan Gye matur marang saang ngarajeng, yen makaten putra kula estri, kangge begyaneki, dene angsal kakung.

Bagus dasar prawira ing jurit, sudireng palugon, tur Twa Pek Kong igkang daupake, sri narendra suka tandya ngambil, mutra ra sawiji, mong kapanjiripun.

Wan Gye tampi lawan reneng galih, samana kacriyos, duk ing dalu sang Wan Gye kalihe, asembahyang sarima ing windhi, de putranya mangkin, wus antuk pitulung.

Luwarsa ing babaya geng nenggih, Jit Cing lan sang katong, ugi tumut sembahyang kalihe, saawusira nuli sami, Tan Cing manjing wingking, nganti garwanipun,

 

Sapraptaning dalem pungkur, wus panggih lan garwaneki, Tan Cing wawarta sadaya, purwa wasananya titi, kang garwa dahat sukeng tyas, ing dalu nora kawarni.

Enjingira Tan Cing sampun, prentah kinen arumati, sauparengganing karya, denya arsa darbe kardi, daupaken putra sira, kalawan raden Cyu Jit Cing.

Kawarna sang rara Soh Cun, wus waluya gerah neki, mung kantun lesu kewala, sasirnanya Yao Moh Kwi, wus tan nana ingkang godha, mangkana Tan Cing ing nguni.

Nalikanya putranipun, sakit ginodha ing eblis, apan uwis kintu serat, marang bakal besan neki, yen sami rujuk ing rembag, sinandekna denya apti.

Ngambil mantu putranipun, wit sanget anandhang sakit, bok manawa satohanya, iya ingkang nora becik, wong sheh cyu uga wus tompa, ing paminta nira tan cing.

Nuli ing wektu puniku, tan cing karya tulis, pan kinarya sayembara, sapa kang bisa nambani, mring putranya ingkang lara, yen jalma meksih taruni.

Lawan sejehe shehnipun, arsa dinaupken maring sang rara syoh cun manawa, jalmanya kang anambani, wong tuwa pan pinet kadhang, manjing ngasudara wedi.

Dene ing nalikanipun, shoh cun waluya kang sakit, lan tinamtu ing daupnya, kalawan raden cyu jit cing, tanci nulya kintu serat, mring wong sheh cu angulemi.

Dahat suka nireng kalbu, wong sheh cu duk tampi tulis, nadyan wurung dadi besan, pan manjing kadang sayekti, duta pan wus winangsulan, ngur ngalamun benjing ngenjing.

Sagarwa putra sadarum, badhe jagong anjenengi, daupe sang pinangantyas, samana nora kawarni, wis tinamtu benjang ngenjang, jam papat den nira panggih.

Sang penganten kalihipun, wit wektyeku kang prayogi, tan cing pan sampun sadiya, saupakaraning kardi, tuwin rarengganing wisma, lan tamanan ing boten ting.

Apan wus nireng gamurub, kadya kas margan kaeksi, tangeh lamun winuwusa, saestunya nglumuwihi tancing denya amiwaha, awit putra mung sawiji.

Lawan badhe mantunipun, cyu jit cing jalma linuwih, wirutama trah ing wirya, mangkana dalu nireki, midadareni tamunya, kang tebih-tebih wus prapti.

Syeh cu sagarwanya rawuh, tancing kulawarga neki, prapta wus pepak sadaya, anjenengi ing karamin, sang nalamur tumut kasukan, sukan lan pratamu sami.

Noraga ngecani kalbu, tan kawistara manawih, iku jeng sri maharaja, samana duk wanci enjing, jam papat ing panggih ira, penganten anulya mijil.

Pasang dupa asumujud, mring alloh nuwun basuki, sawus ira gya sumembah mring rama sang namur ragi, tan jing sagarwanya, lan sakulawarga neki.

Iya ingkang preneh sepuh, sinembahan sadayeki, nora nana kaliwatan, wus sira gya manjing wingking, kanten asta sang penganten, lir kamajaya lan ratih.

Kang estri ayu kalangkung, kakungnya bagus linuwih, kadya gambar wewangunan, ngilangken langening bumi, weh leng-leng ingkang tumingal, lir nganyut yuswaning ngurip.

Samana apan cinatur, tan cing nganti tigang ngari, denya boja andrawina, gamelan munya ngrarangis, suka-suka nira dahat, tan nana cuwa ing galih.

Sagung ingkang para tamu, wit tan cing bangkit nanggapi, ngecani tyas ing samana, tuwin ta sang namur dhiri, nutug denya sukeng driya, kumpul lan pratamu sami.

Tangeh kalamun cinatur, agenge ingkang karamin, wutah tan cing branan nira, yayah ngluwari pun nagih, duk prapta ing tigang dina, pratamunya samya amit.

Mantuk marang dalemipun, samana jeng sri bupati, duk lagi alalenggahan, lan tan cing tan ting wong kalih, alon arum andikanya, mitrawan gye kalih neki.

Yen sami rujug ing kawus, kula arsa nuwun pamit, andugekaken lelan, marang ing kanglam nagari, wit kawula boten kena, yen lagi-lagi neng ngriki.

Jalaran ta lampah ulun, nglakoni ayah ana nagri, dene jit cing putra ingwang, inggih kula ajak mangkin, benjang yen kula wus prapta ing kuta raja anuli.

Lajeng kengkenan ametuk, mariki garwanya jit cing, lawan paduka kalihnya, marang kuta raja nenggih, wan gye kakalih myara, jroning tyas anawung brangti.

 

Dahat pakewuh ing galih, duk myarsa sabda mangkana, panglo citaning galihe, dene ta temanten anyar, jit cing lawan putreng wang, mangke arsa den jak, nglangut sedenge lagi pasihan.

Upama sun nora olih, sayektine nora kena, dene nyandet anak ing wong, lan malihipun punika, ki besan tanpa rowang, neng marga yekti pakewuh, lawan anglakoni ayahan.

Amariksa nagri-nagri, susah lamun tanpa rowang, wusnya ngarti kamangkana, tan cing arum wangsulnya, ki besan mung sumongga, sakarsa kawula manut, mung saking padnuwun amba.

Inggih sampun lami, nuli wangsula kewala, sang nata mangsuli sagoh, ya ta jit cing wus samekta, sadaya babektanya, lan amiting garwanipun, tuwin mring mara sepuhnya.

Sang namur uga wus amit, lan tan cing tan ting kalihnya, tandya budhal sang ngarajeng, kang kalih tur kurmat, ngater ing tindhak ira, ngantya sak pal lagya wangsul, ya ta sang namur kawula.

Tan reksa tindak neki, lon-lonan samarga-marga, suka umyat sang ngarajeng, harjaning kang padusunan, lan sri ning taneman pala kapendhem gumantung, sami sedheng uwoh ira.

Andendeng tepining desi, sawah-sawah pategalan, lagi gumadung wayahe, samana ing tindak ira, ngambah wana tratamban, ing ngriku pan bawahipun, ing ae cing kaipraja.

Kanan keri nireng margi, katah ingkang gununganak, kekayonana nira ayom, ayem ingkang alemampah, midid maruta monda, lan katah swaraning manuk, tuwin ingkang sata wana.

Mawah rena kapiyarsi, peksi engkus sasauran, aneng ing ngepang amencok, katah ingkang tlaga-tlaga, tur wening toya nira, iliningwe yen dinulu, tanpahe kaya salangka.

Gumebyar amba lerengi, kasorot sunar, ring surya hyang bagaspati wus ngayom, gumlewang lingsir wancinya, ya ta sang namur lampah, arsa kendel sedyanipun, angupaya pamondhokan.

Samana pan wus kawingking, nenggih ingkang gunungan, angambah reratan gedhe, lan wus celak padhusunan, sukeng tyas sri narendra, tumingal kang kali agung, wening asanter ilinya.

Duk dugi tepining kali, kagyat sang namur tumingal, dene ana uwong wadon, meksih taruna kang sarta, nuntun mring anak ira, sakawan pra samya kakung, kang sijilit neng gendhongan.

Wong wadon iku garbini, neng tepi kali karuna, lan gedrug-gedrug sikile, ririh melas sasambatnya, angur ingsun palastra, nyebir kali sak anakku, saking nora kuwat nyandhang.

Susahe mangkene iki, duk arsa gebyaring toya, gupuh wau sang ngarajeng, lumajeng nyandhak astanya. Tinarik sang wanita, dugi tepi margi agung, nanging sang retno sedyanya.

Peksa ta lumebeng kali, lawan sru kang nguman-uman, marang kang gandheng tangane, amenggak ing karep ira, den myarsa nglalu pejah, nanging wau sang nalamur kukuh ing panyekel ira.

Duk prapta tepining margi, wadon mau maksih uga, asosotaken sang kathong, nanging nora piniyarsa, nta aris sabdanya, kula niki dahat ngungun, tumingal marang abdika.

Yen lumrehe wong nulungi, antuk ganjaran kencana, tuwin arta ingkang akeh, nanging magke malah ora, tompa ingkang ganjaran, namung nampa pisuh kumrutug, sakranjang-kranjang.

Niku kula tan mangerti, bok nganten karep abdika, teka aneh anyerweteh sang retno mangsuli sugal, jer dika murang krama, pundi wonten adatipun, wong kakung tur dudu akrab.

Wani nyekel wong pawestri, sinten kang tan sosotena, lan malih menggak kaseng ngong, wong arsa angla lumejah, nata rum wangsulnya, gih boten praduli ingsun, gendi karsa nglalu pejah.

Namung kula arsa uning, prawitanipun punapa, de ta anak dika kabeh, papat dika jak palastra, tur maksih alit samya, tuhu dahat karya ngungun, karsa dika kang mangkana.

Kula ngeres aningali, mring anak dika sakawan, de maksih sumruwet kabeh, napa malih kula sawang dika niku awawrat, dadi siya-siya tuhu, yen dika nekad palastra.

Mula sajarwaha aglis, inggih prakara punapa, bok manawa jeneng ingong bisa tutulung mring dika, abdi rat sungkawan ta, sang retno mangsuli wuwus, tanpa gawe jroning kalam.

 

Boten wonten damel ira, kula cariyosna sami, prakara kula punika, mung sabisa anulungi, yen dudu sri bupati, mung iku kang bisa tulung, yen dika kula epal, mesthi lamun boten balik, lah marmanya aiwa malangi karseng wang.

Wus sun sedya lalu pejah, sang namur kalanya myarsi, sabdanya kang kudu pejah, gumujeng sajroning galih, andika sira aris, lah ta mangke kula tutur, nedyan dika lajengna, gen di karsa nekad lalis, neng pyarsakna rumiyin crita kula.

Kula kotyan su pasengran, kuta raja wisma mami, ugi nyepeng pangadilan, lan lau yong rewang mami, punggawa ageng nenggih, kun tikahe agsu lungguh, marma mesti yen bisa, kula tulung ing sireki, nadyan dosa nira sageng pindha arga.

Yekti nora dadi ngapa, wit laku kula mariki, pancen nglakoni parintah, kinen mariksa nagari, tuwin pra kawula lit, yong boh lao yong kang dawuh, iku karo punggawa, sami ageng lenggah neki, marma nira bok nganten dika jarwaha.

Mesti kula lamun bisa, tutulung marang sireki, miturut adil ing praja, wong wadon kalanya myarsi, kaduwuh jroning galih, de nira wau mimisuh, wasana lon aturnya, anembah sumujud kuwi, duh wong agung denya geng pangapura.

Saking dahat boten wekas, mring paduka kang sayekti, sang retno wau duk arsa, ganjarken cariyos neki, nanging de nira angling, meksih kaworan pamuwun, wit enget kakung ira, denya sinyarda nglangkungi, temah wacananya tan kena piniyarsa.

Nata sansaya wlas umyat, pan daharum amaripih, eh yayi muga jarwaha, aja ta pijer anangis, sabisa-bisa mami mesti tulung mring sireku, sang retno megap-megap angampet tangis sireki, luh ira dres ngusapan rasukan ira.

Makidupuh ngarseng nata, sarwi atur ira aris, kawula wong nista dama, meskin tan sameng dumadi, kawula sheh ko ugi, meksih sentana pukulun, dene laki kawula, Thyo Kwi Ong nama nireki, pan wus darbe anak sakawan punika.

Griya kawula ing desa, ingkang katingal punika, de laki amba karyanya, wade bebek kalawan pitik, ingkang karya ngingoni, sahanak brayat sadarum, duk kala wingi nira, lakyamba keneng bilahi, pinitenah marang Kijin San wong kaya.

Kasuwur sugih kalintang, darbe pangkat nami anlim, tumbas bebek kalawan ayam, dumateng ing laki mami, awit Kijin San apti, nyalameti putranipun, marma tetuku katah, sapuluh tailpan luwih, tigang dasa slaka langkung wolung mata.

Puniku regi ing ngayam, lakyamba suka kapati, de pepayu langkung katah, bungah tan pipicis, nanging kurang setithik, duk prapta ing wisma ulun, pariksa salakanya, siji tan nana kang yekti, kabeh palsu dembaga putih kinarya.

Wit bojo kula punika sanget bodo tanpa budi, tan wrissalaka kang nyata, temah amba kengken bali, mangsulken kanang picis, duk prapta ing griyanipun, Kijin San laki amba, ngijolken arta nireki, lan sapa ja tutur yen dene salaka.

Dembaga sadaya nira, pun Kijin San boten apti, malah angikal bicara, makaten sabda nireki, duk wau picis mami, salaka sadayanipun, sireku uwong ala, wani-wani angijolli, duwit palsu denawanken darbek kong wang.

Laki amba amangrepa, keh-akeh atur nireki, upa ta tan piniwarsa, malah sanget tampi runtik, reh pawitan sathithik, bakal dadi arta palsu, dadya laki kawula, kang branang temah aswani, garejegan kalih dadya kakerengan.

Kijing San anulya ngundang, gurunya kang ngajar jurit, tuwin para abdi sira, ngrubut dateng laki mami, temah satengah mati, sinongkolan kinarubut, lakyamba gya binonda, ing ngaturken maring nagri, kuta kim ping dipati tiu kang lenggah.

Sinebutken bojo kula dadya bajag ing jaladri, sang dipati mung percaya, kijin san aturan neki, thyo kwi ong gya sinepir, lan pinutus ukum lampus, winangen satus dina, tinugel sirah ireki, laki amba awit Kijin San punika.

Sugih guru kang ngajar prang, tan kewran gelar ing jurit, lan abdinya tanpa wilang, napa malih pra prayayi, kabeh sae kakapti, lan Kijin San semu takut, mula tan papariksa, prakawise laki mami, mung pinesti lajeng dipun ukum pejah.

Duk kula myarsa mangkana, lajeng ngajak anak mami, papay pisan kula bekta, manggiha Kijin San nenggih, anunuwun ingkang sih, pamrih amba wlas sadulu, dateng laki kawula, anaknya meksi lit-alit, nanging boten pisan lamun darbe wlas.

Inggih nyuwun pangapura wedalaken saking buwi, ning minta tebusan slaka, satus tail wawrat neki, yen amba boten bakit, badhe dipun wade ulun, dateng lurah wong ala, lurah lunthe arsa neki, arsa pinetmih nong katebusan ira.

Inggih ta bojo kawula rehne amba tiyang miskin, boten gadah arta sigar, kawula pilaur mati, kalawan anglakoni, panggawe kang nora arus, wong ala salaminya, kaesihe neng buwi, marma nira kawula semah pocungan.

 

Lalu lampus, anak kawula sadarum, papat amba ajak, supaya bareng amati, lamun boten anak amba tumut pejah.

Boten wurung , kaliren sadaya nipun, awit boten ana,  inggih ingkang angingoni, tan wus asang sarag layang saparannya.

Kawlas awun, wus judeg pamikir ulun, tan namalih akal, liyane mung lalu mati, sewu begya neng ngriki panggih paduka.

Duh wong agung, mugi paringa pitilung, dateng laki amba, sasat paduka aparing, urip dateng sadaya brayat kawula.

Prapteng lampus, manjalma akaping pitu, boten supe amba, pitulungan nira yekti, run tumurun mangestu paduka.

Sanalamur myarsa tur ingkang kadyeku, dahat duka nira, jroning tyas, osik ireki, kaya apa bangsat Kijin San warnanya.

De kalangkung, langkung denya siya iku, mring samaning jalma, tan ajrih dukaning widdhi, apa cipta nira tan nana kuwasa.

Kang luwih gung, angutug mring awakipun, sun lagi myarsa, wong mangkana patrap neki, sasat arsa mangan wong urip-uripan.

Peksa digung, kumlangkung tan jrih hyang agung, sajroning duka, nata maksih songga rugi, mangu-mangu dene ta mentas kewala.

Ara-uru sang prabu meh keneng ukum, aneng ae Pik Wan, kurang thithik tekang pati, dadya mangkya sinabaraken ing driya.

Wasana rum, abdi kadira sang namur, eh yayi wak ingwng, sabab boten ,ken nilami, aneng ngriki lalaran keh perlu ningwang.

Mriksa sagung, liya-liya ing prajagung, mangkya karsa ningwang, pirukunen bae yayi, enya miki sira sun paringi arta.

Slaka satus, tail iya wawratipun, bojomu den enggal tebusen krana ing becik, tembung ira kang arum mami las soso.

Dimenipun, kijin san banjur apurun, ngluwar nigra janta, san retno kalanya myarsi, dahat suka manembahan pan niarsa.

Matur nuhun, dahat suka nireng kalbu, gya gendhong anaknya, sajuga kang meksih alit, kang titiga tinut ing keri kan nana.

Sang nalamur, sanget welas siran dulu, dene sanak ira, papat pisan meksih alit, sandhang papapinitenah marang jalma.

Sang aprabu, pan kumumbeng waspanipun, ya ta sang kusuma, saking suka nireng galih, wit ciptanya kang priya mesti yen medal.

Boten estu, inggih dipun ukum lampus, wit wus gadah arta kang kinarya anebusi, dadya wau supe boten atetanya.

Pondhokipun ri sang namur laku, duk durung antara, tebih sang retno gya bali, sri narendra lawan cyu jit cing tumingal.

Yen sang ayu, wngsul malih lampahipun, kalih sami ngantya duk prapta sang dyah akuwi, sarwi matur kawula wau kalepyan.

Dereng matur, tangled pondhokan pukulun, lan dalem panduka, kutha raja ingkang pundi, prenah ira kawula kedhah uningal.

Awit lamun, laki amba sampun metu, saking ing kunjaran, kula ajak angabekti mring paduka katur rageng pannarima.

Dene sampun, paduka atulung umur, tuwin bok manawa, ki jin san gih datan napti, asampe sisa king paminta kawula.

Dadya amba lajeng saged atur weruh, marang jeng paduka sang namur mangsuli aris, rehning wisma kula aneng kuta raja.

Sakalangkung, saking ngriki tebihipun, lawan inggih susah, lamun arsa amanggihi, dateng kula lamun nora gula drawa.

 

Nora gampang mlebu kutheng ngaji, marma ngira adhi boten susah, amanggihi jeneng ingong, mring kutha raja iku, namung kula melang sakedhik, inggih embok manawa, kijin san tan purun, nampani paminta dika, temah susah mila kula benjing ngenjing arsa mring wisma dika.

Angentosi prakawis sireki, kados pundi nanging prayoganya, saniki muliha age, supaya bisa ngrembug prakara nta wau sang dewi, kala nira myarsa, dawahnya sang namur, matur nuwun tandya mentar, kawuwusa wau kangjeng sri bupati, nuli ucal pondhokan.

Kaleresan ing ngriku tan tebih, wonten juga kang wisma pondhokan, kalih sami manjing age, dalu nyare ing ngriku, enjing ira sawusnya bukti, lan bayar arta sewan, tuwin arta sekul, kalih nuli apamitan, angulati Thyo Kwi Ong wisma nireki, tan dangu wus kapanggya.

Kaleresan Thyo Kwi Ong kang estri, lenggah aneng lawang duk uninga, sang kalih wau praptane, gurawalan amethuk, aing aturan manjing ing panti, wus sami tata lenggah, sinegah the arum, nulya Kwi Ong bojo nira, kengken dateng maratuwa bnira aglis, bekto wang tetebusan.

Satus tail salaka prat neki, kwi Ong ibu nira uwong sheh ta, duk ing agya mring mantune, anebus putranipun, tampi arta lumaksana glis, dene sang namur lampah, ngentosi neng ngriku, antara ana catur jam, sang ngawreda estri wus katingal bali, sarwi lara karuna.

Rema reyab-reyab lan sru anjrit, urut marga kadi uwong gila, kuthah lebura sukmane, arta binekta wangsul, nata umyat kagyat jro ati, mangkana osik ira, apa sababipun, siwreda lara karuna, apa baya si Kijin San nora apti, nampani wang tebusan.

Ajak malah den ijoli maning, duwit mau sinalin dembaga, tan dangu prapta lampahe, thyo kwi ong inunipun, meksih asrut den nira nangis, gupuh sang namur tanya, eh bibi ywa mumun, apriye prakara nira, duk ing mau apa sira wus kapanggih, oya marang kijin san.

Wreda matur kawula duk panggih mring kijin san sanjang lamun arta, nebusi dateng thyo kwi ong arta tinampan sampun, boten dangu antawis neki, winangsulaken arta, jin san sabdanipun, tan narsa tinebus arta, kang pininta mung thyo kwi ong bojo neki, arsa winade marang.

Lurah lunthe nanging wau picis, sarentg kula pariksa sadaya, temah sampun maleh kabeh, kijin san ingkang malsu, kula boten purun nampeni, pan nganti garejegan, kijin san memisuh, katah-katah dateng amba, lajeng ngutus abdinya jeng kang ken maring, kawula karengkangan.

Saking baturing wisma kuwalik, kagalondungan tireyab-reyab, badan gupak lebu kabeh, samangke boten wurung, yen paduka boten nuylungi, estu tumekeng pejah, inggih anak ulun, sabrayat nandhang sangsara, awit boten wonten kang ngucalken bukti, tan wus pejah tan mangan.

Sang nalamur kalanya myarsi, ngeresing tyas temah anduhkita, dereng pinenggih pikire, mangkana osikipun, upama sun nora nulungi, dene sanget mamelas, siniyarda kalangkung, thyo kwi ong prakara nira, wasana rum andika nira sang aji, eh bibi ywa sumelang.

Ing sabisa-bisa wong tulungi, anak dika metu sing babaya, ning mangke tuduhna age, kijin san wismanipun, lamun sampun kula udani, dika bali kewala, natha tandya dawuh, mring jit cing kinen wangsula, ing pondhokan wingi ingkang den inepi, lan gawa babektanya.

Sawus ira nata gya lumaris, lan mring sang wreda tan dangu wus prapta, kijin san pada lembane, wusnya tuduh mring prabu, ibu nira thyo kwi ong bali, ya ta sang namur mlampah, manggihi kang tunggu, wiwara kinen ngaturnya, mring kijin san bilih arsa amanggihi, marang bendara neki.

Rencang gupuh manjing tur udani, mring gustinya kijin san gya medal, methuk marang tetamune, nulya ngajak malebu, kalih sami tata alinggih, kalih asila krama, eh tamu kang rawuh, ing ngajeng pundi sinedya, lawan sinten pinembt wewangi neki, dene anyar katingal.

Kang tinanya alon anauri, wisma kula inggih kuta raja, kotyan su panengran ning ngong, milanya kula prelu, amanggihi mitra mariki, yen arta sarju ningtyas, anuwunken maklum, pun thyo kwi ong prakaranya, mugi mitra angapura sisip neki, nglueari sing kunjara.

Serep-serep mitra maring urip, ning sakula warganya sadaya, awit thyo kwi ong anake papat pra sami kakng, meksih alit sadaya neki, mong kakang uwal sandhang, lawan panganipun, namung thyo kwi ong pribadya, yen ngantiyo puniku semah ilalis, kabeh nandhang sangsara.

Sami mati kaliren tan bukti, kalawan ukmi ong bojo nira, mariki beta artane, ingkang mong kapasebus, satus tail katah ireki, tuh lan sadaya slaka, nanging jebul wau, dadi palsu wang dembaga, nongka arta satus tail saking mami, duh babo mitra ningwang.

Awelasa marang kang kaswasih, mitra aiwa mikir sapa-sapa, ningalana kula bae, inggih ing tembe pungkur, kula eling kadarma neki, Kijin San wus myarsa, amangsuli arum, punapa thyo kwi ong sasak, lawan dika dene ta sanget mincasih, mitra dateng ing kula.

Nanging mangke inggih karsa mami, prakaranya pun, kwi ong punika, yen tan tinebus samangke, kathahnya satus ewu, tail dhuwit salaka putih, kula estu tan suka, sida kula lampus, tan usah akeh wicara, tan akarya mitra rembagan lan mami, sang nalamur duk myarsi.

Jroning driya sanget denya runtik, ning sinamung netya lon manabda, dawuh babo mitra ingngong, bok aiwa ngugung bendu, awelasa mring wong satithik, temene dene sanak, kwi ong lawan ulun, namung saking welas umyatnya de tumingal pun, kwi ong bojo nireki, arsa megat nyawanya.

 

Saanaknya papat karsa den ganjal sun, anyegur tengahing kali, dadi kula wlas dulu, lajeng kula pitakeni, marang ingkang nedya layon.

Inggih ana kang dadi prakaranipun, thyo kwi ong swami nireki, cariyos sadayanipun, inggih kalamun amanggih, prakara langkung pakewuh.

Alawan nanda teng paduka puniku, marmu kula miminta sih, sanget-sanget mring pukulun, mugi ta paring aurip, mring tiyang dama thyo kwi ong.

Marma nira iku kang jeng sang aprabu, minta sih ngesor kendiri, ywa nganti dadi dahuru, rinukum krana ning becik, awit kangjeng sang akathong.

Meksih jinja nalika nira rumuhunnya arsa dipun ukum mlalis, neng Ae pik Wan sang prabu, mila mangke kang panggalih, sabar tur sanget ngalap sor.

Mimenta sih tembung ngira manis arum, nanging sanget boten dugi, yen kijin san atinipun, dur cara gedheg ging buwi, ratu-ratu ning wong awon.

Pan mangkana kijin san wangsulanipun, eh mitra lamun sireki nora gawa satus ewu, tail wis ingsun tan apti, aiwa kakeyan cariyos.

Tanpa gawe rembugan akeh pamuwus, mundhak balebegi kuping, nata kala nira ngrungu, nadyan wus sabar kang ngati, ning basa myarsa mangkana.

Sek pengkarna nira wau sang nalamur, tan kena ngambah kang runtik, sugal asru wuwusipun, eh ta apaling ngireki, samene sun arsa takon.

Apa manut apa ora marang ingsun, sun darbe akal pra mati, kijin san duk myarsa wuwus, durung wruh jarwa nireki, wasana tatanya alon.

Akal apa aku pan arsa sumurub, nata amangsuli aglis, nata mara nyekel gupuh, kijin san suku nireki, lawan tangan nira karo.

Pan rinangkus mangkana abdi keng prabu, iya iki akal mami, apa sira jaluk lampus, tan napi anjaluk urip, ayo muniya den gupuh.

Sang kijin san nulya ing nguncalken sampun, neng plataran anggulingting, kempis-kempis nedha tulung, marang abdi nira sami, tan dangu sakeh ing uwong.

Abdi nira kijin san prapta gumrubug, tigang atus winatawis, samapta gegamanipun, kijin san sru ling ira, payo ngadang aden gupoh.

Ing wiwara pada den prawit neng kewuh, ywa nganti gagal sibelis, setan alas soroh amuk, nulya apa prentah malih, mring abdinya kang separuh.

Lan pra guru niken mangrupak ing pupuh, kijin san dhawah ireki, sapa ingkang bisa mikut, ingsun ganjae bana radi, pra guru myarsa kang dawuh.

Dahat suka pra guru sami tekabur, sang kana ciptaning galih, mong saruwung tan kapikut, gondra sasira wong siji, jer sun prawireng palugon.

Nora wurung bakal tompa awak ingsun, ganjaran kang bara nadi, wusnya ngarti kakadyeku, gupuh sami marepeki, nedya mikut sang akathong.

Solah ira galak lir singa manahut, ya ta ni sang namur dhiri, waspada yen mengsahipun, prapta sagegaman neki, prayitna wau sang kathong.

Pan trengginas kijin san malih pinikut, mung arsa kinarya tangkis, ya ta jin san abdinipun, kang arsa mrawaseng jurit, kanggeg den nira tumonton.

De gustinya pinikut mring mengsahipun, temah anjrih mreping jurit, menekkena gustinipun, kaweken kenden pra sami, malongo adelog-delog.

Asru nabda wau kangjeng sang aprabu, eh jin san prentaha aglis, iku wadyamu kon mundhur, denya ngepung marang mami, yen nora tan wurung mengko.

Sirah ira ingsun bentusken ing watu, tan wurung mati rumiyin, kijin san myarsa kadyeku, ajrih gya mrentah mring abdi, kinen amunduro gupoh.

Sang nalamur suka ing nguculken sampun, kijin san wau sang aji, nyandhak kursi sedyanipun arsa medal marang jawi, bok manawi ingkang mungsoh.

Meksih ngadang inggih wau wedalipun, kursinya kinarya nangkis, wonten sajuganing guru, ngadang metuken sang aji, angsahnya nembang jingga nom.

 

Duk pinapag marang sang namur kawula, kalih rame ajurit, sang nata prayitna, minger ngeri anganan, mung rutan kelar nadahi, kas liring ing prang, ken naki seprug kursi.

Pan kalenggak tiba nira ngatang-ngatang, gupuh sang namur dhiri, ngrebat gaman nira, karya nglawan ning mengsah, nganan ngeri sru manangkis, kathah kang pejah, kijin san abdi neki.

Nanging meksih pinarpekan ing ngebyakkan, nata tan waged mijil, meksih neng jro dwara, kinepang kinakalang, sajuga guru ningali, yen mengsah ira, prakos wahing ngajurit.

Tandya prentah anutug kanang wiwara, tumandang kang sinungling, lawang tinutupan, saking jawi jinaga, sedyanya pinikut urip, kinalang kalang, kinepung amba thithit.

Sang nalamur kawula emenging driya, kinepung amba thithit, cipta yen bahaya, mangkana osik ira, samangko yen awak mami tan nganggo akal, kaya kwan kong ing nguni.

Duk neng kang tang tan wurung bilahi ingwang, carita nira nguni, neng samkup seratnya, kwan kong pan keneng gelar, ira loh syog sennapati, nira wong kang tang, kwan kong pan den aturi.

Sang mudananipun, ajak ondra nira, lan den jak rukun becik, nanging wisananya, kwan kun tyang sapraptanya, sanggrahan gya manjing panti, uga binoja, wiwaha amesuhi.

Ning ing jawi kinepung binaya mangap, loh syag karsa nireki, kwan un tyang pan karsa, cinekel rip uripan, kwan kong  waspada ing nalih, yen kenang gelar tan dangu antuk pikir.

Samudana wuru denya ngunjuk arak, loh shyog nulya kinempit, gya binekta medal, samarga tan kena nawala, dadya kang para prajurit, kang wus siyaga, kendel namung ningali.

Mring gustinya senapati ning ngalaga, wilujeng tlampah neki, kwan untyang pan ngantya, kundur ing sanggrahanya, luwar saking ing bilahi, ya ta sang nata wusnya tetep kang pikir.

Arsa rikut wan untyang akala nira, tandya mlampah sang aji, sakedhap wus prapta, kijin san ngarsa sira, pinikutan bisa budi, ing ngagar-agar, arsa dipun telasi.

Sarwi asru nabda sang anamur lampah, eh jin san paran kapti, apa jaluk gesang, apa arsa palastra, lamun sira arep urip, lah dipun enggal, iku wadya neki.

Kon ken padha sumingkir ingkang atebah, lan buwang gaman neki, yen sira tan arsa, mrentah ning wadya nira, tan wus sira mati disik, neng ngasta ningwang, ya ta kang ngepung sami.

Duk ningali gustinya, cinepeng mengsah, kori binuka malih, arsa nganteb ing prang, nulungi bendharanya, nanging ta wau sang aji, uwis prayitna, yen mengsahnya merpeki.

Arsa numbak saweneh arsa amedhang, kijin san kang kinardi, nangkis keri kanan, kijin san garonjalan, sarwi jrit sabda nireki, pada mundura, mengko gaman nireki.

Nora wurung iya bakal makan tuwan, wau kang para dasih, myarsa sabda nira, gustinya kang mangkana, dadya kendel sarwi nebih, nata tumingal suka mesem jro ati.

Sang kijin san mangrepa alon tur ira, kotyan su mitra mami, mugi aparinga, ngapura maring kula, napa sakarsa nireki, boten suwala, jangjine kula urip.

Sri narendra ngabdi ka iya kijin san, iku wadya nireki, kon mundur kang tebah, lan buwang kang gegaman, ngaterna sun medal jawi, kalamun nora pesti yen sira mati.

Sun tan duga kijin san dene ta sira, iya wedi ngemasi, nanging kena ngapa, dene ta teka nira, murka canda lagedegi, lah dipun enggal, wadyamu kon sumingkir.

Sang kijin san parentah malih ing bala, ken mundur ingkang tebih, lan buwang gegaman, lawang kinen ambuka, ngater kotyan su mring jawi, nata tumingal kang ngepung wus anebih.

Lan binuwang sadaya gegaman nira, kijin san karsa neki, arsa den culken, sakedap sri narendra, angarti kajroning galih, mangke manawa, kijin san dusteng wuri.

 

Basa wus sun culken mangkya, gek angundang bala kon ngepung malih, tan wurung bilahi ingsun, kijin san abdi nira, tanpa wilang mongsa bisa menang ingsun, angur betcik sun gawaha, marang ngarsaning polisi.

Prakara dimen pinarsa, sawus sira ngarti kajroning galih, sang nata anulya metu, lawan ngempit kijin san, pinapithing mendhelik maripatipun, arsa gronjalan nora bisa, gung anjerit minta urip.

Kabeh abdinya kijin san arsa tulung ajrih yen gusti neki, iya pinaten rumuhun, dadya mendel kewala, sami tenggeng anjigleg leng pandulunipun, ya ta  sang namur kawula, sawarga playu nireki.

Sinurakan ing wong katah, sarwi alok sokur kijin san mati, slawase gawe tan arus, nyekek ngamal ing tiyang, angutakil mung pokil kang dipun luru, jarah ngrawah darbek king lyan, tan nana den pakengingi.

Ing mengko katanggor sira, antuk tanding peng-pengan sura sekti, samana lampahnya laju, sang nata sampun prapta, ing daleme polisi tikwan kang lunggoh, kijin san binanting nulya aneng jro bin anggulinting.

Ngalumpruk tan enget jalma, sang nalamur tumingal yen prayayi, polisinya tan kadulu, sigra denya umalap, tambur ingkang aneng paseban ginantung, pinukul munya kumrapya, iku tambur pan kinardi.

Miranteni bok manawa, ana nalar ingkang kalangkung gati, ing sawanci-wancinipun, lamun kang tambur munya, mesti para polisi sadaya nglumpuk, ing wektye kuri sang tikwan, pulisi kimping nagari.

Sang cityong jujuluk ira, duk pinuju lenggah ing dalem wingking, myarsa unining tambur, gupuh denira medal, lawan para bawahnya wus sami nglumpuk, tikwan lenggah ing paseban, ing ngayab sagunging dasih.

Tumingal yen ana jalma, sarwa sutra panganggonnya mantesi, lan wingit pasemonipun, lawan umyat kijin san, anggalundung neng jro bimeksih, ta namut, sang tikwan nulya tetanya, mring sang namur sabda neki.

Eh jalma kang lagi prapta, ana apa prakara denireki,  sowan marang jeneng ingsun, ing wektyeku kijin san, pan wus enget saking genira akantu, nanging durung tidamang, siji-siji nireng jalmi.

Deleg-deleg tanpa ngucap, gya sang namur matur marang polisi, kula anama ko tyan su, badhe atur uninga, mring paduka inggih kijin san puniku, dursila nawani anerak, laranganipun nagari.

Nembaga pinendhas laka, si nlamurken dateng kabeh tyang alit, gawe susah ing sawegung, patrap sawenang-wenang, roda peksa jarah darbeke wong dusun, ngriki ana tukang ayam, thyo kwi ong nama nireki.

Utang mapa mbeka nira, nanging meskin uga dipun apusi, dateng kijin san puniku, nata nulya carita, lelakone thyo kwi ong sadayanipun, tuwin bojonya denyarsa, nglalu jegur marang kali.

Kalawan sarira nira, mitulungi arta wrat satus tail, ingkang kinarya anebus, nanging salaka nira den ijoli dembaga kinarya malsu, lan malih sarira nira, wus mangepra miminta sih.

Anuwun ken pangapura, pun tyo kwi ong supaya den uripi, wit arsa den ukum lampus, amarga pinitenah, marang jinsan dinakwalamun puniku, tyo ong kwi pan dadi bajag, ngaturken mring sang dipati.

Tihu nora amariksa, prakaranya namung pracaca maring kijin san aturanipun, malah pinutus mangkya, ukum pati, mung ngentosi wektunipun, satus dina dipun tigas, tyo kwi ong jangga nireki.

Duh ri sang penggaweng praja, ing samangke paduka kula turi, mariksaha griyanipun, kijin san mesti ana, pirantinya denya karya duwit palsu, lamun cidra atur kula suka den ukuma pati.

Sang namur tuhu widagda, putus pamicara nira atiti, sang tik wan nalika ngrungu, turnya sang namur raga, ngalembana jroning driya osikipun, lah iki wong ngendi baya, wiwara nira patitis.

Tur wijang sapatah-patah,  sajeg ingsun durung ningali jalmi, kang mangkene pinteripun, ya ta wau kijin san, wusnya enget pulih kadya unipun, tandaya mangarsa tur kurmat, mring tikwan tur ira aris.

Pukulun atura nira, pun kotyan su siji tan na kang yekti, malah tapiyam baktipun, kang arsa rajah ngrawah, ngroda peksa lumebet ing wisma ulun, arsa angrampas ardana, kanthi solah balir belis.

 

Amukuli dateng ulun, pan nganti satengah mati, nanging kotyan su de myarsa, jarah ngrayah ngrampas duwit, boten waged kaleksanan, jalaran pradasih mami.

Ananggulangi pakewuh, wasananya sipenyakit, lajeng ngampit dateng ingwang, binekto mariki iki, sarta matur dora cara, ngawon nawon dateng mami.

Ko Tyan Su estunipun, sampun anyakra dateng ing galih, yen kawula mesthi gugat, atur priksa mring polisi, marma ngriyini tur ira, mrih resik awak nireki.

Sumarma panuwun ulun, Ko Tyan Su pikuten aglis, lebetena ing kunjara, margi temen yen wong juti, rowangnya Thyo Kwi Ong bajag, gawe resah neng jaladri.

Lamun iku awet idhup, boten wande tembe wuri, wani ngecu jroning praja, katara polatan neki, tan pahe maling alasan, sang namur kalanya myarsi.

Duka asru wuwusipun, Ki Jin San wicara neki, boten pantes piniwarsa, lah Tik Wan Su mongga nuli, paduka mariksanana, Ki Jin San wisma nireki.

Mesthi kathah arta palsu, gawe pituna ing nagri, lan susahing pra kawula, ingkang pinaheka sami, kawarnaci Tyong Tik Wan, duk myarsa aturnya kalih.

Jroning tyas dahat wulangun, panglocitan jroneng galih, iki Ko Tyan Su katara, yen dudu sembarang jalmi, baya terahing ngawirya, kawitara semu neki.

Awan bauding pamuwus, ananging sun niki ajrih, ngrampungi iki prakara, sanadyan ingsun wus uning, Ki Jin San pancen wong ala, rereged ngrusak wong cilik.

Ana ing Ki Jin San iku, sanget denya mitra becik, lan Otyu sang adipatya, marmanya becike iki, prakara sun turken marang, sang adipati prayogi.

Dadi sun tan keneng ukum, kacrita Ci Tyong Beg neki, jejeg adil ngasto praja, nora arsa ika iki, lan tan arsa tampi ruba, Ci Tyong nora pisan-pisan, tumut-tumut ambaluhi, mung setya suwiteng nata, samana sawus sireki.

Ngartika ngandika arum, eh mitra Ki Jin San anlim, kalawan Ko Tyan Su sira, prakara nta iki mami, nora wani mutusna, samengko sira wong kalih.

Padha dhereka maringsun, sowan Otyu adipayi, nulya parentah ing wadya, Ci Tyong pribadi wasana, joli laju lampah neki.

Nora dangu prapta sampun, lajeng sowan mring dipati, Ciu namasineng lenggah, dene ta wewangi neki, Otyu nalika tumingal, Tik Wan Ci Tyong asumiwi.

Tatanya ngandika arum, eh Ci Tyong wonten punapi, sira sowan jeneng ing wang, tur kurmat Ci Tyong pan sarwi, ngarutken serat papriksan, prakara nira wong kalih.

Lan ganjarken namanipun, sawiji-wiji wus titi, Otyu risang adipatya, nalika nira miyarsi, Ki Jin San ingkang prakaran, lajeng manabdaris.

Tik Wan muli asireku, prakara wus ana mami, mangke kula kang mernata, Ci Tyong sabdi katur neki, tur kurmat medal ing jaba, kondur marang dalem neki.

Ing marga nora winuwus, samana Otyu dipati, lajeng lenggah ingn paseban, ing ngayap kang para dasih, wusnya maos srat papriksan, tandya dawah mring kang abdi.

Pesakitan kalihipun, kinen majengken mangarti, Otyu samudana tanya, mring Ki Jin San apan naming, tri kecap anulya prentah, Ki Jin San kinen amulih.

Dahat suka matur ulun, Ki Jin San ulih ira glis, Otyu ti uwus slaminya, kalamun mriksa prakawis, pundi ingkang bisa ruba, tuwin ingkang sulih suwit.

Prakaranya karya unggul, samana sang namur dhiri, nalika umyat mangkana, jroning driya sanget runtik, netranya abang ngatirah, kumedut padoning lathi.

Jajabang asumung-sumung, yata Otyu sabda wengis, eh Ko Tyan Su paran sira, dene iya kumawani, manjing omahe wong liya, mukuli satengah mati,

Nora cara darbe atur, malah gugut mring polisi, iku ageng dosa sira, samene prakara neki, sun durung bisa mariksa, sireku sun belik dhingin.

Sang namur nalika ngrungu, duka amanabda wengis, eh tiu sireku bangsat, tan pantes dadi priyayi, de mangkono budi nira, ngungkuli durtaning anjing.

 

Mungguh saking daawah ira sri narendra, mula sira sireki, pinaringan nglonjak, lan pinaringan lenggah, punggawa angasta adil, ingkang supaya, weh arsa harjeng nagri.

Lan umeksa ecane para kawula, bengkas sakehe jurit, kang laku dursila, kaabeh malaning praja, wajib sira aweh resik, samengko nora, sasat sira ngajani.

Mring wong ala gawe rusaking nagara, lan uga nora keni, yen mriksa prakara, nganggo ngiloni jalma, ingkang sugih den rewangi, ginawe menang, yen mangkono tan adil.

Dadi ilang angger pranataning praja, eh Otyu dipun eling, wewalering nata, mring sangya prapunggawa, , yogya sira ngati-ati, supaya away, sira pribadi manggih.

Paukuman siasat wisiseng praja, babo eling den eling, away kaduwung sira, yen wus manggih sangsara, sinarsa ngunjara mami, de teka gampang, lah sapa ingkang bakit.

Mikut mringsun iyo mengko den rasakna, Otyu kalanya myarsi, Ko Tyan Su sabdanya, mangundat-undat mana, amimirangi sinisin, tur duk sineba, mring sagung para dasih.

Sanget lingsem duka agya abdi neki, Ko Tyan Su sipenyakit, pikuten den kena, ywa nganti bisa gagal, dene iku kumawani, mring jeneng ing wang, yen wus pikuten muli.

Banjur bae sapunen bebokong ira, ping satus dimen modir, yata prakawula, tandang arsa mikuta, prayitna sang namur dhiri, pundhi kang cedhak,tinandhang kajumpalik.

Ana ingkang tinabok akalayaban, tiba kuwalik-walik, siji nora nana, bisa perak lan nata, kabeh samya mlayu ngisis, bubar sasaran, Otyu awan ningali.

Yen abdinya larut tan mongga puliya, ajrih giris-amiris, lumayu pan arsa, ngalebeng dalemira, trengginas sang namur dhiri, Otyu cinandak, bangkekanya tan osik.

Garonjolan sasambatan aminta gesang, geger kang para dasih, ning siji tan nana, kawani anyeraka, gregeten wau sang aji, Otyu sirahnya, ing ngadu lawaan jobin.

Sirah remuk kaladag kanang rudira, waringuten dukanya, gumergut ngadeg kang rawis, Kroda mangiwa, lir sing amamrih dagi.

Kuwan dadya Otyu pan den idak-idak, saking gemes ninggali, duka nira dahat, yayah manglebur jagat, tandya manjing dalem wingking, ing ngriku manggya, pedhang nulya sang aji.

Wangsul malih Otyu kuwanda neki, tangi duka nira, nata anarik pedhang, kuwonda tinugel palih, yata kawarna, Otyu abdi nireki.

Wonten ingkang tur priksa pramodeng praja, totahe lenggah neki, Uwitigsi nama, matur yen dalemira, Tiu Otyu wonten jalmi, agawe resah, ngamuk mateni jalmi.

Tiu Otyu kilap pejah tuwin gesang, konca amba sadaya, tan wonten bakit nulungi, lah dipun enggal, gusthi tedhaka aglis.

Anulungi marang ingkang pini lara, kawarna uwi tigsin nguni asli nira saking nagri Tong Wan, Kwan bawah Kong Cu unagari, ing saneh Khwi Tang, duk lagi eca linggih.

Lan arinya suwi usin nama nira, kagyat duk tampi warti, yen Otyu dalemnya, kalebon wong durcara, soroh amuk mring dipati, tandya samekta. Undang sakeh prajurit.

Anutupa pajupan lawang ing kitha, lan jinaga prajurit, suwi tig sin budal, ngidin kang wadya kuswa, kabeh margi jro nagari, samiji naga, sagegamaning jurit.

Kawarna awau sang namur kawula, sawusnya amejahi, otyu sang dipatya, osik ireng wardaya, nora wurung awak mami manggih babaya, mestine den ulati.

Mring sang gya ning para pratiwaning praja, becik sun medal jawi, nyingkiri bebaya, yen ta sang namur raga, tindak ira durung tebih, kagyat tumingal baris geng andhatengi.

Tan pawilang kadi truna ning udaya, lan kabeh margi-margi, wus kebekan wadya, ngrangap ingkang gegaman, jejek atam sung sun pipit, cipta babaya, sang nata nawung brangti.

 

Dahat duhkitaning galih, mangkana osik sang nata, tan wurung bilahi ingong, nanging pama awak ingwang, nora nekad palastra, iya wong sabisa metu, saking ing kimping jro kita.

Luhung ingsun sembah jurit, begjan-begjan menek bisa, medal sing kepungan ingong, wusnya warti kamangkana, mangkrak mabek sarosa, lawan musti sabetipun, lawan ingkang bebala kuswa.

Gumuruh samya nadahi, sami alon mring uwongnya, lah iya iku uwonge, bangsat ingakng gawe resah, cekelen aiwa gagal, ya ta wau sang kaprabu, mengsah wus derah palastra.

Mengsah kathah kang ngemasi, tuwin ingkang nandhang brana, tanpa wilangan katahe, nanging nata durung bisa, medal saking kepungan, numpes ngarsa wuri maju, ambyak ngurugi papejah

Rameswara ning ajurit, gumuruh lir ladu sasra, geger wong sapraja kabeh, sami tutup toko nira, solahnya ilulungan, wong cilik pan era-eru, kadya gabah ing nginteran.

Swareng tawis ting jalrit, tanpahe lir ana kraman, sang Lauwi Tig Sin duka anom, bola nira kathah rusak, tangeh mong gapuliya, tandya aswareng wadu, tandya aswareng wadu, kinen amasang wisaya.

Tali kinalar waradin, sak ubenging marga-marga, datan dangu antarane, ana bebantu geng prapta, de tog ing lyu upraja, ga ing lyong jujulukipun, de tog iku ageng lenggah.

Linan jendral sami neki, ya ta sang namur kawula, yasa riwut sang muke, waringa kawuron ning prang, dene karomban lawan, temah nir wiwekeng kalbu, suka kagubed ing tampar.

Sang nata dawahnya ririh, sarira kraos marlupa, katujunya sang angrajeng, angagem kancing mustika, ngatotin cu lyu dadya, tan nana draja tumanduk, marang ing sarira nira.

Katupik sadawah neki, marang sagung mengsah ira,  prapta gya mikut sang rajeng, binonda datan abisa, lau wi tig sin sukeng tyas, de mungsuhnya wus kapikut, undang kondur sa awangdya.

Dene de tog tyu unagri, ugi kondur mring prajanya, samana wau lampahe, lau wi tig sin sampun prapta, nenggih ing dalem ira, sakatahing balanipun, ingkang palastra ing yuda.

Pinaring waragan neki, kinen metak kadya adat, dene kang kabranan kabeh, sampun pinaring usada, samana kacarita, samana kacarita, lau wi tig sin praptanipun, nulya lenggah ing paseban.

Lir adat siniweng dasih, nulya dawah mring abdinya, pangamuken ajrokake, arsa pinisir sanalarnya, dupi perak tan samar, yen iku kangjeng sang prabu, kaget ing driya pan kadya.

Tinebak ing macan tuni, uwi tig sin mila nira, tan samar mring sang ngarajeng, wit unineng kuta raja, apan wus darbe pangkat, syang sinama nireng lungguh, de kerta ri tya sang nata.

Pan kulina saben nari, ya ta luwi tig sin nulya, mangarsa alon ature, duh gusti sri maharaja, paran darunan nira, dene linggar sing kadatun, tan bekto abdi sajuga.

Maweh kredyan ingkang abdi, temah anandhang pusara, gawe dura keng dasihe, duh gusti suhunan amba, dene kadya mangkana, punapa karsa pukulun, mugi tuwan ajarwaha.

Sang namur mesemi warsi, sarwi alon angandika, lui tig sin dene kowe, nora pangling marang ingwang, iya mengko sun jarwa, ingkang dadi karsanipun, mulane anglugas raga.

Lui tig sin prentah nuli marang sakeh abdi nira, kinen sami bubar gulah, ya ta ri sang namur lampah, apan sampun ngaturan, manjing aneng dalem agung, pusara gya ing nguculan.

Mring uwi tig sin pribadi, namung lawan ari nira, kang manggihi sang ngarajeng, nata wus ngaturan lenggah, tandya wau kalihnya, sami manembah sumujud, ing pada sang binatara.

Sarwi mangrepa turnya ris, duh gusti sri maharaja, ingkang ngageng aksamane, saking sanget tiwas amba, wani prang lan ratunya, linepan ta saru siku, pun dasih tuhu tan wikan.

Suka ngandika sang aji, iyato tahe yektinya, sira tan nana salahe, namung ingsun arsa wikan, de sira wruh maring wang, luwi tig sin nembah atur, pukulun sri maharaja.

Estu amba boten pangling, duk aneng ing kuta raja, kulina paduka katong, saben dina amba seba, ing ngabyantara tuwan, sang nata suka kalangkung, arum wijilireng sabda.

 

Sri narendra ngabdika nira, eh ya sira karo, uwitig sin lan arimu kuwe, pada setya nglabuhi nagari, jejeg ngasta adil, mantep marang ratu.

Iku banget panarima mami, marang sira karo, lamun ingsun wus undur ing tembe, sira kalih ingsun ganjar linggih, ageng kang ngungkuli, ing samangkenipun.

Mula lestarekna nyepeng nagri, den setya mring katong, ywa nglirwaken prentahnya sang rajeng, arumeksa para kawula lit, mrih harjaning bumi, bumi nta karasuk.

Lamun jejeg ajeg ngasta adil, kabeh kang wawengkon, pra kawula kang dadi bawahe, samya eca sakeca kang ati, wong gya mimyang tani, manggih arahayu.

Rahayu ning para kawula lit, ing praja katong ton, gemah harja tan na sangsarene, mesti antuk sih kang narapati, eh ta uwi tig sin, mula jeneng ingsun.

Alunganis salamur wong cilik, saka jro kadaton, marang kanglam karsa ningsun kiye, arsa mariksa sang gya nagari, patrape wong cilik, lan punggawa inmgsun.

Apa iya denya ngasta adil, kaya printah ingong, arumeksa marang ing bawahe, nora gawe susahe wong cilik, iku karsa mami, tan naliyanipun.

Sumarmanya, ywana nganti uning, lamun jeneng ingong, alelana mamur prapteng kene, ing samengko sira luwi tig sin, samapta ing jurit, ngumpulna wadyamu.

Ing samongsa-mongsa lamun prapti, iya dawahe ngong, dipun enggal, ywa nganti ta langke, si nijin san pikuten tendan keni, saakrape sami, ywa na ingkang kantun.

Awit iku jejembar ri nagri, yen awet tumuwoh, gawe retuhi siningrat kabeh, lawan karya susahe wong cilik, poma wekas mami, den emene ingsun.

Arsa laju mring Kang Lam nagari, ya ta sang ngakatong, lajeng wedak, lwi tig sin age, lan arinya umiring sang aji, prapteng ngawi biting, kabeh lagi wangsul.

Sapraptanya ing dalem ireki, nulya amirantos, samapteng prang lir dawah sang rajeng, kawarna akedaknya sang aji, angulati jit cing, marang pondhokipun.

Dupi panggih kalih sukeng galih, nata wus nyariyos, lelakone duk aneng jro beteng, jit cing myarsa ngungunyah tan sipi, samana kang wanci, apan uwis surup.

Nulya dahar dalu nira kalih, nyare aneng kana, duk byar enjing, sang nata nulya ge, karya serat sawus sira dadi, ngundang  rencang neki, ingkang darbe warung.

Kinen dateng ingakang soh nagari, bekta srat sang katong, pinaringken mring jing yu kyong rane, pramodanya ingkang soh nagari, eh sun bu ingkang linggih, iku pangkat ruhur.

Lan pinaring rencang tukang bakmi, sangu mring sang katong, pan sapuluh tail salakane, dahat suka lampah ira aglis, marga wanci tan winarni, samana sang namur.

Tandya ngalih panggenan nireki, ucal sanes pondhok, kang supaya tan kawruhan ngakeh, wit sang nata tan arsa kapanggih, mring pra abdi neki, samana winuwus.

Nagri kang soh pangageng ireki, sun bu ingkang lunggoh, sang jin yu kyong iya jujuluke, lenggah ageng reh sameng dipati, asli nira saking, wan ik wan prajeku.

Tumut jajahan kwi tang nagari, jing yu kyong kacriyos, pan widagda putusa liring reh, marma nira katarimeng nagri, duk dinadar nguni, kawasisanipun.

Pan ngungkuli sesama nireki, gya ginanjar lunggoh, nami cuk wan enget sih sang rajeng,tan na lami antara nireki, ing ngunggahken malih, sun bu pangkat ruhur.

Angleresi duk puniku lagi, nenggih sang ji yu kyong, lenggah aneng dalem amung dewe, kagyat mireng abdinya atur wris, manawi ing jawi, wonten jalma rawuh.

Bekta serat pan arsa sumiwi, jin yu kyong sabda lon, lah ta enggal iriden marene, jalma ingkang ambekta kintengki, tan dangu wus manjing, serat sampun katur.

Mring ji yu kyong pinirsa ing jawi, srat saking sang katong, awit mungal ong cyang ijawine, yeku tonda srat saking sang aji, gupuh manjing wingking, nata majanipun.

Masang lilin lan bakar wewangi, ngormati srat katong, sang jing yu kyong kuwi neng ngarsane, meja sarwi ambuka kang tulis, dawahnya sang aji, ungalnya lir madu.

 

Pan mangkana nawala sang aji, jeneng ngingsun ling garsa ing pura, nalamur de sedya ning ngong, mring kang lam andudulu, satlatahnya kang nagri-nagri, duk tindak ingsun prapta, ing kimpiu ingsun, kapanggih siji wanita, meksih muda bojone wong adol pitik, thyo kwi ong nama nira.

Lawan ngajak anaknya lit alit, pada lanang papat katah ira, neng pinggire kali gedhe, sedyanya arsa nglalu, nyegur kali dimene mati, kagyat ingsun tumingal, nuli ingsun tulung, pawestri mau wong glandhang, mring tepining dalan den nget, mlas sasih, marga wau wanita.

Anggarbinipa masida mati, dadi nyawane nem ingkang pejah, sumarga wong tulung age, nalika nira iku, estri mau ingsun takoni, kang dadi sabab ira, denyarsa anglalu, nganti rambah kaping tingga, gon sun tanya lawan aku ananggupi, amitulungi deweknya.

Lagi bisa konda mau estri, lamun laki nira pinitenah, marang ki jin san samangke, prakara sun pinutus, lamun arsa den ukum mati, tyo kwi ong pandinakwa, dadi bajag laut, iku jin san akali ira, dene ingkang mutusi prakara iki, si o tyu wit pyambaknya.

Lan kijin san pan sumitra becik, yeku ingkang ngrujuki dus karta, tinurut barang karepe, marma sayandarung, si kijin san go nira juti, gawe sawenang-wenang, angrusak wong dusun, lawan malsu arta slaka, de bojone tyo kwi ong apan ta ugi, anjaluk pangapura.

Miminta sah mring kijin san nanging, nora pisan yen darbe ya wlas, malah si bangsat karepe, basa delok kalamun, si tyo kwi ong bojo nireki, ayu tur mesih mudha, andarbeni kayun, reh ing wanita utama, setyeng priya nora arsa anglakoni, panggaweyan druhaka.

Pinapeksa kijin san karseki, arsa den dol mring lurah wong ala, iku tyo kwi ong bojone, pilalu teken lampus, arsane katjegur ing kali, ya iku jalarannya sing judheg ing kalbu, nuli sun paring arta, satus tail dinggo anebus kang laki, ananging mau arta.

Malah iya den ijoli maning, mring kijin san sinalin dembaga, iku tyo kwi ong ibune, kang lumaku anebus, den pilara satengah mati, kijin san nora liya, iya kang den waluk, mung tyo kwi ong bojo nira saking sanget aku wlas aningali, dadi tedhak pribadya.

Mring wismane kijin san panggih, sun maminta mangrepa noraga, anjaluk pangapurane, supaya kwi ong iku den wetokken saka ing buwi, nanging iku kijin san, wus tan pisan antuk, malah saruwang wangsulannya, temah dadya kakerengan lawan mami, banjure ingsun gugat.

Marang o tyu tau kim ping nagri, sun tan weruh jabul tiu bangsat, tanpa pinirsa nalare, sun arsa binalenggu, linebetken marang ing buwi, kijin sang sinung luwar, banjur kinen mantuk, baseng sunweruh kadyeka, temah duka aku kaberanang runtik, o tyu ngong pikutken.

Bangkekannya dhase ingsun banting, remak rempu reh ira dala daga, tan jaluk bannyu patine, ngriku dadya dahuru, katujune ingsun kapanggih, uwitik sin lenggahnya, totahe puniku kang tulung ngeterken ingwang, medal saking jro beteng kim ping nagari, mula jing yu kyong mangkya.

Dipun enggal gawa aprajurit, asareng ngalawan laku nira, uwi tiksin sabalane, ikuten dipun gupuh, si kijin san aiwa anarisa kula warna nira, tempesen sadarum, miturut kukum mring praja, titimanan na wala saka ing mami, gyan lyong kun maha raja.

Sang jing yu kyong wusnya maos tulis, yandya undang marang bala nira, katahnya turongga bae, katahnya gangsal ewu, wus samapta budal ira glis, rame samarga-marga, swaranya gumrudug, barung swareng tetabuhan, tambur beri salompret kalawan suling, kadya neng kebawana.

Sun bu jing yu kyong beta tetindhik, nami wapyu manggalaning ngaprang tan dangu wau lampahe, jawi kita prapta wus, sami atata sanggrah aneki, nulya paring uninga, uwi tig sin iku, ing ngaja nuli budala, dadi siji angraba seng mengsah neki, kang duraka mring nata.

Uwi tig sin nalikanya tampi, utusannya jing yu kyong anulya, ngumpulaken punggawane, prayayi jro kuteku, lawan para manggaleng jurit, arsa ing ngajak sowan, mring kang jeng sang prabu, wusnya samapta sadaya, tandya budal saking ing kimping jro biting, tan dangu lampah ira.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pandangan ” Jaman Edan ” dari Centhini sampai Lagu Modern

JAMAN EDAN

Sebuah pandangan jaman yang dikemukakan oleh sastrawan dari jaman ke jaman. Efek menjadi sumber inspirasi dan menginspirasi karya lain memang sering terjadi di dalam penulisan naskah-naskah Jawa.

Seperti “samita Jaman Edan” atau “jangka Jaman” yang sering dibahas di kalangan masyarakat Jawa baik akademisi maupun masyarakat umum. Barangkali pemaknaan sasmita jaman edan palin populer adalah Karya Raden Ngabehi Ranggawarsita, dalam serat Kalatidha.

// Amenangi jaman edan, ewuh aya ing pambudi…
… Ndilalah karsa Allah,Begja-begjane kang lali
Luwih begja kang eling lawan waspada//

Sepenggal bait itu memang luar biasa maknannya, memenangkan jaman edan juga harus menggunakan akal budi. Dimana ketika keluhuran itu dijunjung maka kebaikanlah yang akan di dapat.

Ada beberapa naskah yang berbicara hal serupa, apakah memang saling mempengaruhi atau memang kesalahan penyalinan atau memang sebuah kratifitas. Berikut adalah Transformasi Teks sasmita jaman edan dari jaman ke Jaman.

 

Tahun 1814 Masehi.
dalam Serat Centhini karya Sinuwun Paku Buwono V
Pupuh 257 [tembang Pocung], bait 41-43

41. Nawung kridha kang mênangi jaman gêmblung / iya jaman edan / ewuh aya ing pambudi / yèn mèluwa edan yêkti nora tahan //

42. Yèn tan mèlu anglakoni wus tartamtu / boya kadumanan / melik kalling donya iki / satêmahe kalirên wêkasanira //

43. Wus dilalah karsane kang Among tuwuh / kang lali kabêgjan / ananging sayêktinèki / luwih bêgja kang eling lawan waspada //

Transleterasi :

[ Sikap orang yang akan memenangkan Jaman Edan, serba sulit dan merepotkan kalu mau ikut ‘arus’ tak sampai hati , kalau ikut menjadi ‘gila’ tidak tahan, apabila tidak ikut-ikutan ‘gila’ pastinya akan iri dengan kekayaan orang lain hingga akhirnya kelaparan, Sudah menjadi kodrat yang “ Maha Pelindung” , para ‘pelupa’ tentu mendapat keberuntungan, tapi lebih beruntung yang takwa dan waspada ]

 

 Tahun 1860 Masehi,

Serat Kalatidha karya Raden Ngabehi Ranggawarsita

Pupuh I [tembang Sinom] , bait 7

 

//Amenangi jaman edan/

Ewuh aya ing pambudi/

Milu edan nora tahan/

Yen tan milu anglakoni/

Boya kaduman melik/

Kaliren wekasanipun/

Ndilalah karsa Allah/

Begja-begjane kang lali/

Luwih begja kang eling lawan waspada//

 

Transleterasi :

[ memenangkan Jaman edan, Serba canggung dalam berpikir, Ikut ‘Gila’ tidak tahan, Kalau tidak ikut, tidak kebagian akhirnya ingin dan iri, kelaparan pada akhirnya, Sudah kodrat Allah, seberuntungnya yang lupa, lebih beruntung orang yang takwa dan waspada]

 

Tahun 1900 Masehi,

Serat Kalabrastha karya ki Mangun Atmaja, [tembang sinom]

//Kapungkure jaman edan/

nora ewuh ing pambudi/

edana mangsa tahana/

mitenah bangsa pribadi/

nadyan darbeni melik/

kawarana nora keguh/

dilalah kersa allah/

begjane ingkang kawuri/

amenangi waluyane tanah jawa//

 

Transleterasi :

[ Di masa akhir Jaman Edan, sudah tidak ada rasa canggung lagi, walaupun ‘gila’ tetapi tetap bertahan, memfitnah bangsa sendiri, walaupun mempunyai rasa keinginan akan barang orang lain, tetapi tetap teguh pada pendirian (buruk), sudah seperti kodrati, beruntunglah orang yang ‘terbelakang’ budi pekertinya, karena yang demikian akan menjadi orang kaya di tanah Jawa]

 

Era kemerdekaan, 1990, anonim, [tembang Sinom]

//amenang ing jaman edan/
ewuh apa ing pambudi/
melu edan saya tahan/
yen tan melu anglakoni/
baya keduman ‘melik’
(sisik melik)/
kamukten wekasanipun/
delalah kersane Allah begja-begjane kang lali/
luwih begja wong ngedan ora konangan//

 

Transleterasi :

[ menang di jaman edan, buat apa memakai budi pakarti, ikut ‘gila’ semakin tahan, kalau tak ikut melakukan, buaya (simbol penguasa yang rakus) yang kebagian informasi untuk merampas hak rakyat, kaya raya pada akhirnya, sudah menjadi kodrat Allah seberuntungnya orang yang lupa, lebih beruntung orang yang ‘menggila’ tidak ketahuan]

 

Tahun 2001 Masehi,

Album “Pada Suatu Ketika” Lagu Jaman Edan, oleh Sujiwo tejo.

Jamane, mas, Jaman edan

Edan tenan Jaman semana

Semune katon katingal kawistara

Jan-jane Jaman padudon

 

Jamane, mas, Jaman padudon

Padha  dene Jaman banjure

Banjir tangis banjir bandhang kang sinandang

Jamane, Jaman, wis Jamane

 

Heh manungsa padha sadulur

Padha sadulur ja pada tawur

Tarlen amung amemuji dha sing padha rukun

Rumeksa paseduluran tumrap ing bebrayan

Ja’ ngono aja ngono

Pokoknya tidak ngono lho

 

Transleterasi :

[ Zamannya mas, zaman ‘gila’, ‘gila’ benar masa itu, semuanya terlihat baik-baik saja, tetapi sebenarnya masa itu adalah masa peperangan.

Heh manusia sesama saudara, jangan pada tawur, semakin mangharap hiduplah yang rukun, menjaga persaudaraan dalam kehidupan bermasyarakat, janganlah begitu.

Zamannya jaman perkelahian, sama juga masa berikutnya, banjir tangis, banjir bandang yang melingkupi ,zamannya memang sudah ada pada zaman itu sendiri.]

Dari jaman ke jaman, sasmita Jaman Edan berkembang seiring perkembangan sosiografi dan animo masyarakat di jamannya masing-masing. Kerasnya jaman memang menjadi sebab lahirnya kritik pedas dan tegas dari masyarakat melalui karya sastra. Arah demokrasi kerakyatan yang berkembang dari jaman kerajaan hingga Jaman Kemerdekaan sampai jaman Demokrasi. Mari peka memaknai sasmita Jaman Edan.rdr

 

 

Ktw. Mijil Wigaringtyas [epik garwa ampil]

“Teja tirta atmaja nata rahwana. Suteng indra prajane sri bumantara. Sun watara lamun sira darbe tresna.

Kawistiwa gones wicarane kawistiwa kawu ana tilik sumarah nyang hyang Suksma.”

“Dhuh biyung emban, wayah apa iki?
Rembulan wus ngayom,
anggegana prang abyor lintangé.
Titi sonya, puspita kasilir, 
maruta wis kingis, sumrik gandanya rum.”


“Kados Gusti, sampun tengah ratri,
pangintening batos.”
“Iya kok durung rawuh mréné,
Gusti kakung, ratuné wong sigit.
Apa cidrèng janji, dora mring wak ingsun.”


[dhuh emban, sekarang sudah pukul berapa?,

rembulan sudah bersinar dengan terang  benderang mengayomi bumi,
Bintang-bintang beterbangan dan menyebar diangkasa,
Saat  sepi terasa bunga-bunga yang tersapu angin, harum aromanya.]

[Sepertinya sudah tengah malam, Gusti Putri]

[tetapi Kanda Prabu belum juga datang, padahal Gusti Kakung itu raja yang berbudi bawalaksana,
Apakah akan mengingkari janjiku? berbohong padaku?] 

Siti Jenar – ism

Ajaran Mistik Seh Siti Jenar

Mistisme adalah dunia kebatinan yang sifatnya sangat personal dalam kaitannya dengan kebutuhan ketenangan secara psikologis dan spiritual

Mistisme adalah pergulatan diri mencari cahaya, petunjuk, jalan dan upaya untuk menyatu dengan Tuhan. Mistisme merupakan jalan membuka alam ghaib, yang tidak setiap orang mampu menempuhnya.

Ajaran-ajaran Seh Siti Jenar banyak diikuti oleh para raja-raja Jawa. Dimulai oleh Sultan Hadiwijaya atau bernama Jaka Tingkir adalah seorang raja di kerajaan Pajang.

Jaka Tingkir.

Andayaningrat Adipati Pengging memiliki 2 orang putra bernama Kebo Kanigara dan Kebo Kenanga. Kebo Kenanga masuk Islam bergelar Ki Ageng Pengging dan memiliki seorang putra bernama Bagus Krebet (Jaka Tingkir).

Prabu Brawijaya terakhir dari Majapahit memiliki 100 orang putra dan putri. Putri ketiga berasal dari permaisuri Ratu Andwarawati (Putri dari Campa) bernama Retna Pambayun yang menikah dengan Andayaningrat adipati Pengging. Setelah menikah, ratu pambayun bergelar Ratu Ayu Andayaningrat memiliki 2 orang putra bernama Kebo Kanigara dan Kebo Kenanga.

Jaka Tingkir mengabdi kepada Sultan Bintara di kerajaan Demak lalu diambil menantu dan diberi daerah kekuasaan di Pajang. Jaka Tingkir (Krebet) kemudian menjadi raja Pajang bergelar Prabu Wijaya atau dikenal dengan Sultan Hadiwijaya.

Sultan Hadiwijaya memiliki putra bernama Raden Banawa, namun Raden Banawa tidak mendapat wahyu karaton. Wahyu kraton berpindah ke Mataram dan yang bertahta di Mataram adalah Panembahan Senapati. Raden Benawa menjadi adipati di Pajang, memiliki putri bernama Dyah Banowati. Dyah Banowati menikah dengan Amangkurat Nyakrawati (Sinuhun Seda Krapyak). Dyah Banowati bergelar Permaisuri Ratu Adi dan memiliki putra bernama Sultan Agung.

Prabu Brawijaya memiliki istri dari negeri Cina. Pada saat istrinya mengandung 3 bulan, diterimakan kepada anaknya bernama Arya Damar (adipati Palembang). Putra Prabu Brawijaya dengan putri Cina tersebut bernama Raden Patah atau Raden Yusuf, atau Raden Kasan atau Raden Praba. Arya Damar dengan putri Cina memiliki putra laki-laki bernama Raden Kusen.

Setelah dewasa keduanya (Kasan-Kusen) pergi ke Jawa mengabdi kepada Sunan Ngampel Surengkewuh. Raden Kasan (Raden Patah) tidak menuju Majapait tetapi berhenti di Ngampelgadhing. Raden Kusen mengabdi pada raja Majapait dan menjadi bupati di daerah Terung.

Raden Patah diambil menantu Sunan Ngampel, dinikahkan dengan putrinya bernama Ratu Jumanten (Ratu Panggung). Raden Patah berniat mencari dan membuka daerah baru. Sunan Ngampel menyarankan agar Raden Patah pergi ke barat sampai menemukan daerah yang ada tanaman glagah berbau harum. Daerah tersebut ditemukan di hutan Bintara. Di daerah inilah Raden Patah mendirikan daerah baru yang berkembang menjadi kerajaan bernama Demak. Ia mengangkat dirinya menjadi raja bergelar Sultan Jimbun atau Sultan Syah Alam Akbar I.

Sultan Jimbun memiliki anak laki-laki bernama Pangeran Sabrang Lor (meninggal) dan Raden Trenggana. Raden Trenggana menikah dengan putri Sunan Kalijaga dan menggantikan ayahnya bertahta di Demak. Putrinya bernama Dyah Banar dinikahkan dengan Sultan Hadiwijaya berputra Raden Banawa yang kelak menurunkan Sultan Agung.

Munculnya jenis sastra sufi dapat memperkaya khazanah du­nia kesusasteraan. Kesusasteraan jenis ini muncul sebagai mani­festasi adanya kesadaran bahwa penghayatan terhadap kehidupan kerohanian perlu dilakukan. Kesadaran akan pentingnya pengha­yatan kehidupan kerohanian itu ada yang diwujudkan dalam ben­tuk sastra keagamaan dan ada pula yang diwujudkan dalam bentuk yang lebih khusus yaitu sastra sufi dan atau sastra mistik.

Karya sastra suluk merupakan salah satu diantara karangan-karangan berisi ajaran keagamaan. Karya sastra suluk merupakan karya sastra yang diciptakan dalam rangka fungsi pendidikan dan pengajaran.

Istilah suluk dapat diartikan semacam laku, tatacara, kewajiban yang harus dilakukan seseorang yang disebut sebagai ahlus suluk. Karya sastra suluk merupakan jenis puisi jawa yang berisi ajaran-ajaran bercorak sufistik atau mistik Islam

Menurut Bratakesawa dalam bukunya Falsafah Siti Djenar (1954) dan buku Wejangan Wali Sanga himpunan Wirjapanitra, dikatakan bahwa saat Sunan Bonang memberi pelajaran iktikad kepada Sunan Kalijaga di tengah perahu yang saat bocor ditambal dengan lumpur yang dihuni cacing lembut, ternyata si cacing mampu dan ikut berbicara sehingga ia disabda Sunan Bonang menjadi manusia, diberi nama Seh Sitijenar dan diangkat derajatnya sebagai Wali.

                Seh Lemahbang atau Lemah Abang,

 Seh Sitibang,

Seh Sitibrit atau Siti Abrit,

 Hasan Ali Ansar,dan

 Sidi Jinnar.

Dicritakake ana wali ambêg ‘duwe watak nganggêp dhèwèke paling’ dhuwur,  biyèn asale cacing bangsa sudra ‘papa/ngisoran’, olèh pêpadhang ati ketok, diparingi ngêrti dening Allah lan wêruh, Sunan Benang sing miwiti, nalika mènèhi pitutur bab tekad, mulang muruk mènèhi ngèlmu, marang Jêng Sunan Kalijaga, nèng têngahing rawa numpak pêrahu endah, Siti Bang olèh têrang.

                Mula mêngko atine kêpengin mujudake, entuk wahyu jabariah, kadariyah maksud atine, nganggêp palênggahane Allah, pikiran eling dianggêp Gusti, Pangerane manungsa, sipate rongpuluh, wujud ‘ana’ kidam ‘langgêng’ lan baka ‘langgêng’, mukalapatuhu lil kawadis ‘beda karo makhluk’ nyulayani, kadadeane barang anyar.

                Kodrat ‘takdir’ iradat ‘karêp’ dadine ngèlmu, kayat ‘urip’ samak ‘mendengar’   basar ‘melihat’ lan kadiran ‘umuk’, muridan ngaliman akèhe, rongpuluh cacahe diikêt, kêlèt ing bumi lan langgêng, têgêse wujud mutlak, dadi dat arane, ora mula lan ora akhir, ora ana asale lan ora ana sing arêp diparani ngenalyakin, ing tekad sipat Allah.

                Sèh Siti Bang nganggêp Hyang Widi, wujud ora kaya sing katon mata, sarupa kaya dhèwèke, sipat-sipat mlêbu, ananging wujude blêgêr ora katon, warnane ora beda, mulus alus jêjêg, kang nyata ora wujud dora ‘ngapusi’, kaya kidam dhisik dhewe jumênêng ora kari, saka pribadine.

                Basa baka langgêng tanpa sêla, nora cêdhak lara kêpenak, jumênêng nèng kana kene, ora ika ora iku, mukalapatuhu lil kawadis ‘beda karo mahkluk’, rupane beda, lan kabèh wujud, barang anyar ketok nèng donya, nyulayani sipat kaanan manusa, sajrone bumi langit.

                Têmbung kodrat kapasang dhewe, ora ana kang mirip utawa madhani, tur wong bodho ora nganggo piranti, ngadam têkane wujud, jaba jêro sebak dadi siji, iradat têgêse, pengin ora ngrêmbug, ngèlmu kawruh kaanan, sing pisah saka panca indêra adoh, ngungkuli mimis bêdhil.

                Kayat urip srana dhèwèke, tansah mènèhi uripe dhewe, uripe ora nganggo roh, ora mèlu lara ngêlu, ilang bungah susah, ngadêg nèng sakarêpe, ya iku kayat kayun, Siti Jênar ngêrti, bênêr wêruh pintêr, manungsa unggul, mula kuwi ngaku Pangeran.

                Salat limang wêktu muji lan dikir, prastawa kabèh pribadi, bênêr luput tampa dhewe, bangêt têmtu, badan alus sing ngrusak kêkarêpan, ngêndi ana Hyang Suksma, kêjaba mung aku, ngubêngi donya langit, dhuwur langit sing ping pitu jêro bumi ora kêtêmu, wujude dat sing mulya.

                Ngêndi-êndi kabèh sêpi, ngalor ngidul ngulon ngetan têngah, kana-kana mung nèng kene, kene wujudku dudu, ananging jêroku sêpi sunyi, isi daging jêroan, rêrêgêd jêroku, dudu jantung dudu utêk, aku sing pisah kaya uculing panah, Mêkah Mêdinah têkan.

                Dudu budi angên-angêne ati, lan eling pikir lan niyat, hawa barat napas dene, suwung lan sêpi dudu, perangan badan kawadis ‘beda karo mahkluk’, ora têmtu dadi gustika, bosok campur blêdug, napasku ngubêngi bumi, gêni banyu angin mulih asli, ya iku anyar kabèh.

                Bali aku dat kang mlêbu Widi, Pangeranku sipat jalal-kamal, ora karsa salat dhewe, ora kêpengin ndhawuhi, mangka wong salat pathokane pikiran budi lanat musibat, ora kêna kagugu, salin-salin parentahe, mencla-mencle dak tênani ora dadi, tansah ngajak ala.

                Jroning salat budiku maling, jroning dikir pikiran kianat, kadhang melik amal akèh, seje dhatul guyubu, aku iki kang Maha Sukci, dat maolana nyata, sing layu kayafu, tur ora kinaya ngapa, mula Siti Jênar budi mlêbu Widi, ngrusak agama rasul.

                Ora nggugu prentahe si budi/pikiran, jêngkang-jêngking nèng mêsjid ting krêmbyah, ganjarane besuk, yèn katarima ing laku, sêjatine ora kêtêmu, nèng donya bae padha, susah padha mikul, lara sangsara ora beda, mula Siti Jênar mung ngantêpi siji, Gusti dat Maolana.

                Ya iku sing dianggêp Hyang Widi, Sèh Siti Bang kêpengin, kêpengin nyêdhak nglakoni dhawuhe, tekad jabariyah, kadariyah lair, madhêp mantêp tur mantêp, kuwat ing pangaku, kêncêng, angantêpi urip têkan layu yakin, ora mangeran pikiran lan angên-angên.

                Budi pikir angên-angên eling, tunggal wujud ngakal kênèng edan, susah bingung lali sare, budi akèh ora jujur, sabên bêngi mangayu/ngopèni drêngki, supaya dhèwèke sênêng, rusake liyan sokur, srèi iri akire nyêdhak kajahatan, tur tansah umuk akire tiba ing nistha/èlèk, ngalani badan/sarira dhewe.

                Gêtun yèn wis tiba ing awake dhewe, seje dat wajibul mulyane rat, mulyane pikiran kabèh, badan manusa mung, ana wujud kêpengin sawiji, iku bae ora bisa, nglakoni sadhawuh, loro manèh kuwasa, lah ta êndi pisahe Dat karo pikiran/angên-angên, supaya manusa nrima.

Aja manèh rupane Hyang Widi, malaekat bae durung wêruh, nadyan malaekat kang copot, kowe iku durung wêruh, mung bingungmu dhewe kopikir, ngupaya Gusti Allah, ora bisa kêtêmu, kana-kene ora ana, kene dudu têmah budimu koèsthi, angên-angên Pangeran

kula sampun kaping-kaping, suwita diwêjang dening wali mukmin, diwêruhake marang Mukamad Rasul, Allah Pangeranku, ngandikanipun Rasul marang aku malah bingung, kodhêng mirang-miring ngawag, ngawur pêpathokan sêpi.

ngèlmu Arab dados Buda, Buda mukir pamèt waton Jêng Nabi, tapa mati raga ngluyur, mubêng ngiras papriman, lamun kawruh Arab sirna tapanipun, kêjawi wulan Ramêlan, cêgah bukti botên purun.

nanging wali maksih bodho, tandhane asring dhatêng sêpi (nyêpi), guwa-guwa kayu watu, gunung alas sêgara, kêrêp dilêboni ngiras laku, pamrih kêtêmu Hyang Suksma, yaiku wong kang dibalênggu Ijajil.

caritane para ambiya, botên wontên kang nyuda mangan mutih, tapa mêlèk cêgah turu, puniku ora ditindakake, kajawi wong Buda badane winasuh lah sumangga kagaliha, pamancas kawula misil.

Sajêg jumblêg aku durung wêruh, manungsa mati dadi asu, mung akale santri ngapusi, ragane dhewe sampurna, mring akerat gawa bathang, angên-angêne kêpengin mênyang sawarga agung, nêmu barang kanikmatan.

Lumrah bangêt santri nistha/ rêgêd, ina/nistha carane mati, dianggo mulang marang muride, kang kranjingan nganti edan, ngarêp-arêp sawarga, êndi nyatane sawarga agung, yèn santri sêmaya besuk(jawabe mêsthi besuk).

Sajêg jumblêg aku durung wêruh, manungsa mati dadi asu, mung akale santri ngapusi, ragane dhewe sampurna, mring akerat gawa bathang, angên-angêne kêpengin mênyang sawarga agung, nêmu barang kanikmatan.

Lumrah bangêt santri nistha/ rêgêd, ina/nistha carane mati, dianggo mulang marang muride, kang kranjingan nganti edan, ngarêp-arêp sawarga, êndi nyatane sawarga agung, yèn santri sêmaya besuk(jawabe mêsthi besuk).

Sajêg jumblêg aku durung wêruh, manungsa mati dadi asu, mung akale santri ngapusi, ragane dhewe sampurna, mring akerat gawa bathang, angên-angêne kêpengin mênyang sawarga agung, nêmu barang kanikmatan.

Lumrah bangêt santri nistha/ rêgêd, ina/nistha carane mati, dianggo mulang marang muride, kang kranjingan nganti edan, ngarêp-arêp sawarga, êndi nyatane sawarga agung, yèn santri sêmaya besuk(jawabe mêsthi besuk).

Menurut Sulendraningrat dalam bukunya Sejarah Cirebon (1985) dijelaskan bahwa Syeh Lemahabang berasal dari Bagdad beraliran Syi’ah Muntadar yang menetap di Pengging Jawa Tengah dan mengajarkan agama kepada Ki Ageng Pengging (Kebokenongo) dan masyarakat, yang karena alirannya ditentang para Wali di Jawa maka ia dihukum mati oleh Sunan Kudus di Masjid Sang Cipta Rasa (Masjid Agung Cirebon) pada tahun 1506 Masehi dengan Keris Kaki Kantanaga milik Sunan Gunung Jati dan dimakamkan di Anggaraksa/Graksan/Cirebon

Sèh Siti Djenar sering dikenang dari kumandang wejangannya : manunggaling kawula gusti. Dalam pandangan siti jenar, tuhan bersemayam dalam dirinya. Karena “ kawula” dan “Gusti” telah menyatu, seseorang tidak perlu lagi melaksanakan Shalat. Siti Jenar tidak mau mengerjakan shalat karena kehendaknya sendiri. (Muhammad dan Rahman, 2001). Menurut Siti Jenar, pada waktu seseorang mengerjakan shalat budinya bisa mencuri. Ketika sedang berdzikir, bisa jadi budinya melepaskan hati, dan menaruh hati kepada seseorang, bahkan terkadang memikirkan dan mengharap kepada dunia.

Menurut Abdul Munir Mulkhan (1999) , Sèh Siti Djenar punya kedudukan yang sama dengan para Wali. Siti Jenar telah tiada 500 tahun yang lalu. Ia diadili oleh Wali Sanga.

Sebagian riwayat mengatakan ia dieksekusi di Masjid Demak Jawa Tengah tapi versi lain menyebutkan, Siti Jenar dieksekusi di masjid Agung Kasepuhan Cirebon Jawa Barat. Menurut versi ini Siti Jenar dimakamkan di Kemlaten, Cirebon. Makam itu berada ditengah pemakaman umum, didalam bangunan sederhana dan gelap seluas 5×5 m. makam Siti Jenar berada di tengah, diapit oleh makam dua muridnya, Pangeran Jagabayan disebelah kanan dan Pangeran Kejaksan disebelah kiri

Dari versi Cirebon Sèh Siti Djenar di adili oleh Dewan Wali di Masjid Agung Sang Ciptarasa. Dimana saat itu terjadi dialog antara para Wali dan Syech Siti Djenar. Siti Djenar berubah-ubah wujud pada akhirnya berubah menjadi bunga Melati yang sangat harum baunya dan akhirnya bunga tersebut di makamkan di daerah selatan Cirebon sehingga daerah tersebut di sebut Kemlaten. Tapi ada juga yang mengatakan bahwa Dewan Wali menggantinya dengan bangkai anjing supaya masayarakat pada saat itu meyakini kebenaran ajaran Wali sanga

Banyak sekali versi yang menulis riwayat Syekh Siti Djenar ini yang tentunya kita harus lebih arif menyikapi siapa sebenarnya Syekh Siti Djenar dan apa yang beliau ajarkan pada masyarakat awam saat itu. Karena selama ini masih terjadi simpang siur kebenarannya. Karena kalau memang terjadi persidangan dan hukum pancung pada saat itu kenapa juga sejarah tidak mencatat jelas kapan, dimana, apa yang terjadi saat itu

Sastra mistik atau tasawuf adalah salah satu karakteristik dalam sastra Persia. Di Iran tasawuf tumbuh subur pada abad 10 M yang nampak awal dalam karya Abu Hasal Alkharqani dan Ba Yazid al Busthami, akan tetapi tasawuf dalam bentuk puisi dan syair mulai berkembang dan disempurnakan pada abad 11 oleh penyair Abu Said Aba al Khair di kota Khurasan, propinsi bagian timur laut Iran sekarang. Sastra mistik ini kemudian berkembang pesat melalui tangan penyair-penyair Persia selanjutnya seperti Sanai, Attar dan Jalaluddin Rumi yang mengantarkan sastra mistik Persia ke puncaknya.

Di Indonesia sendiri sastra mistik baru dikenal pada abad 16, yang oleh Abdul Hadi disebutkan bahwa sastra tasawuf di Indonesia dikenalkan oleh para penyair melayu seperti Hamzah Fansuri yang hidup di pertengahan abad 16 sampai awal abad 17 dan oleh beberapa orang muridnya seperti Abdul Jamal, Abdurrahman Singkel dan Samsuddin Pasai. Karya-karya mereka seperti yang disimpulkan oleh para ilmuwan banyak sekali pengaruh dari sastra mistik Persia.

Di dalam sastra tasawuf ada dua hal penting yang selalu dibicarakan pertama adalah nasehat dan kedua adalah cinta. Nasehat dalam menjalani hidup dan tahapan dalam menggapai cinta sejati, cinta sejati adalah cinta makhluk kepada khaliq. Manusia tercipta karena cinta tuhan kepadanya yang ingin selalu disembah, inilah hakikat penciptaan yang berarti cinta dan wujud ini pula yang ada di setiap yang bernyawa dan memiliki naluri kasih sayang. Kembali ke topik tulisan yang ingin mencari keterkaitan antara Syeik Siti Jenar di Indonesia dan Al Hallaj di Iran dengan pendekatan sastra mistik.

Walaupun jaraknya berabad-abad antara keduanya, tetapi pengaruh al Hallaj sampai juga ke nusantara hingga menoreh sejarah dalam penyebaran Islam di Indonesia khusunya di pulau Jawa. Al hallaj adalah salah satu khazanah dalam sastra mistik di Iran sedangkan Siti Jenar juga memperkaya pengetahuan kita tentang sastra mistik.

 

JAVANESE RELIGION

Religi Jawa

Hampir semua orang Jawa memeluk agama Islam 99%. Sisanya memeluk agama Kristen, Katolik, Hindhu, Budha dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Agama Islam di Jawa ada 2 varian:

1. Agama Islam yang tercampur dengan unsur-unsur keagamaan Hindu, Budha, serta unsur-unsur keagamaan daerah setempat yang oleh orang Jawa disebut agama Jawi atau Abangan.
2. Agama Islam yang lebih bersifat dogmatik dan puritan yang disebut dengan istilah Islam Santri atau Putihan.  Religi di Jawa mengalami beberapa perkembangan sejarah yang sangat unik.
Di bawah ini akan diuraikan sejarah perkembangannya.

                1. Religi orang Jawa pada zaman dahulu didasarkan pada cara-cara memuja nenek moyang yang sesuai dengan keadaan setempat, kepercayaan akan adanya ruh (Animisme ) serta kekuatan sakti dalam gejala-gejala alam dan benda-benda keramat yang ada di sekeliling tempat tinggalnya (Dinamisme).

2. Agama Hindu diperkirakan datang ke pulau Jawa dalam abad ke 4, dari India Selatan melalui jalur-jalur perdagangan. Tetapi sisa-sisa tertua dari peradaban Hindu-Jawa yang gemilang berasal dari abad 8 M. Dalam jaman itu berkembang pula agama Budha-Jawa. Peninggalan-peninggalan bangunan keagamaan Kuna adalah Candi Prambanan, Candi Borobudur. Agama Hindu-Jawa dan Budha Jawa agaknya hidup berdampingan penuh kedamaian.

   Agama Hindu dan Budha disebarkan melalui perdagangan, kemudian disebarkan oleh para brahmana serta bhiksu berbangsa India yang diundang oleh para raja untuk datang ke Jawa sebagai penasehat atau pemimpin upacara.

                Pada waktu itu India merupakan bagian dunia maju dan negara atau kerajaan-kerajaan di Jawa dianggap sebagai negara-negara berkembang. Hal ini merupakan sebab mengapa kerajaan di Indonesia/pulau Jawa berorientasi kepada kebudayaan di India.

 

                Peradaban India juga mempengaruhi para cendekiawan Jawa yang pergi ke India untuk belajar kebudayaan klasik di India, baik mengenai ilmu pengetahuan dan keagamaan. Pengaruh peradaban India di Jawa berkembang pesat sampai abad 15 M.

Sejak runtuhnya Majapahit, kebudayaan Hindu Budha digantikan oleh kebudayaan Islam yang pada waktu itu sudah mulai memasuki pulau Jawa di daerah pantai utara.

                3. Agama Islam masuk ke pulau Jawa melalui jalur perdagangan dari Sumatera Utara dan Semenanjung Melayu berlangsung antara abad 14 sampai abad 17.

Agama Islam yang hidup pada waktu itu dipengaruhi oleh mistik. Unsur mistik ini memang sudah diterima, karena sudah ada dalam agama Hindu-Jawa, sedangkan karya-karya sastra Islam Jawa dituliskan pada awal pengaruh agama Islam menunjukkan pentingnya mistik dalam agama Islam. Selanjutnya untuk agama Islam dogmatik atau puritan baru datang kemudian.

Persebaran agama Islam pertama adalah kota-kota pelabuhan di pantai utara Jawa. Tempat-tempat itu kemudian berkembang menjadi makmur dan berkuasa, sehingga lama-lama berhasil merongrong kekuasaan kerajaan Majapahit.

                Agama Islam disebarkan oleh seorang pemimpin yang disebut Wali yang mengandung ajaran mistik, dengan demikian memudahkan agama Islam itu diterima oleh masyarakat, karena konsep mistik maupun ide-ide mistik bukan hal yang baru. Pusat peradaban Hindu-Budha di Jawa kemudian terpaksa menerima kehadiran agama Islam.

Dengan demikian berkembanglah suatu varian dari agama Islam yang bersifat sinkretik atau campuran yang disebut agama Jawi.

4. Agama Jawi

Agama Jawi merupakan sistem kepercayaan yang meliputi sejumlah keyakinan, konsep, pandangan, serta nilai-nilai yang berasal dari agama Islam seperti: keyakinan akan adanya Allah, yakin bahwa Nabi Muhamad adalah pesuruh Allah, yakin akan adanya nabi-nabi, yakin adanya tokoh-tokoh Islam keramat, yakin adanya konsep tentang penciptaan alam.

                Orang-orang yang memeluk agama Jawi juga yakin adanya dewa-dewa yang menguasai alam semesta, memiliki konsep tentang hidup dan kehidupan setelah kematian. Di samping itu juga memiliki keyakinan adanya makhluk-makhluk halus penjelmaan ruh nenek moyang yang menjaga sesuatu tempat, dan sebagainya.

 

Nilai-nilai budaya yang terungkap dalam adat istiadat diinterpretasikan sesuai dengan ajaran agama dan diaktualisasikan dalam kehidupan nyata, maka lahirlah sebutan Islam-Kejawen. Para pemeluknya hidup sebagai umat Islam namun tetap menjunjung tinggi adat istiadat dan nilai-nilai budaya spiritual Jawa.

Orang Jawa Kejawen menganggap bahwa Quran sebagai sumber utama dari segala pengetahuan yang ada. Tetapi mereka melakukan aktifitas keagamaan sehari-hari, rata-rata dipengaruhi oleh keyakinan, konsep-konsep, pandangan-pandangan, nilai-nilai budaya dan norma yang kebanyakan berada di dalam pikirannya.

Pengetahuan yang mendalam itu terdapat di dalam buku-buku keramat yang diperoleh melalu dukun, kaum atau modin, kyai atau guru.

Para guru, kyai, cendekiawan agama Jawi lebih tertarik untuk mendalami kesusasteraan keagamaan Jawa, serta buku-buku Jawa klasik mengenai ajaran moral dan kesusilaan, seperti Wulang Reh, Wedhatama, dan sebagainya.

                Amênangi jaman edan

ewuh aya ing pambudi

                mèlu edan nora tahan

                yèn tan mèlu hanglakoni

                boya kaduman melik

                kalirên wêkasanipun

                dilalah karsa Allah

                bêgja-bêgjane kang lali

                luwih bêgja kang eling lawan waspada

                (Serat Kalatidha, Sinom pupuh I, bait 8).

Di dalamnya terkandung ajaran moral yang begitu mulia dari pujangga Ranggawarsita yang sampai saat ini menjadi butir mutiara nilai budaya Jawa yakni: begja-begjane kang lali, luwih begja kang eling lawan waspada (Sebahagia-bahagianya orang yang lupa, masih lebih bahagia orang yang ingat dan waspada = orang yang bersikap eling dan waspada lebih beruntung daripada orang yang lupa).

                Orang-orang kejawen ini juga senang pada buku-buku kuna beraliran Islam misalnya serat Menak dan syair-syair Suluk serta kesusasteraan Primbon di mana terdapat keyakinan, konsep pandangan dan nilai budaya yang merupakan bagian besar dari sistem budaya agama Jawi.

Agami Jawi mengenal konsep mengenai Tuhan Yang Maha Esa yang dituangkan dalam suatu istilah “Gusti Allah Ingkang Maha Kuwaos” atau Pangeran. Orang mempunyai konsep bahwa  Tuhan adalah Sang Pencipta, karena itu merupakan penyebab dari segala kehidupan dunia dan seluruh alam semesta.

Agama Jawi juga melakukan upacara-upacara yang penting sebagai tindakan-tindakan keagamaan yang berhubungan dengan agama Islam. Upacara-upacara itu antara lain: upacara sepanjang lingkaran hidup (upacara kelahiran, upacara pernikahan, upacara kematian). Selain itu ada pula upacara berkorban/sesaji perayaan yang berkaitan dengan keselamatan desa, dan juga ngruwat.

                Semua ritual itu dilakukan oleh orang Jawa yang masih percaya dan jika hal itu tidak dilaksanakan, mereka akan mendapat petaka besar. Misalnya sakit tidak segera sembuh, kecelakaan, kesengsaraan dalam hidupnya dan sebagainya.

Di samping agama Jawi, masyarakat Jawa juga ada yang memiliki keyakinan pada satu agama yaitu Islam. Pemeluk agama Islam Puritan yang taat ini disebut Santri. Orang-orang santri melakukan ibadah sesuai aturan yang tertuang dalam Quran. Mereka tidak lagi melakukan upacara di luar ajaran agama, sehingga dapat diketahui agama Islam Puritan ini sangat ketat dalam pelaksanaan upacara.

                Sebuah ‘misteri’ yang mengherankan bahwa kenyataannya Jawa mampu ngemot dan momong berbagai perbedaan budaya dan peradaban yang masuk tersebut.  Bahkan kemudian terbukti pula mampu memberikan suport kejayaan kepada budaya dan peradaban pendatang tanpa kehilangan jatidirinya.

Dengan demikian bahwa budaya dan peradaban besar Hindu dan Buddha di Jawa tidak menghilangkan jatidiri Jawa.  Ketika kedua agama tersebut surut, orang Jawa kembali kepada kepercayaan aslinya yang sudah bersinergi dengan nilai-nilai budaya dan peradaban Hindu Buddha.

Ketika Jawa menerima sebaran Islam serta budaya dan peradaban Arab (Timur Terngah), maka kembali terjadi sinergi baru antara Jawa dan Islam.

                Aras spiritual yang sering menjadi pegangan orang Jawa yaitu manunggaling kawula Gusti untuk seluruh sistem yang ada di alam semesta ini. Pada sistem inilah diturunkan ‘nilai selaras’ dan ‘nilai rukun’ yang harus dilakoni oleh semua umat manusia sebagai kawula dalam menjalani hidup di dunia.

                Nilai rukun dan nilai selaras inilah basis utama falsafah Jawa.  Artinya, bahwa paugeran (hukum) menjalani hidup menurut ajaran (falsafah) Jawa diperuntukkan untuk menyangga nilai rukun dan nilai selaras tersebut.  Maka kemudian ruh tata peradaban Jawa adalah kebersamaan dalam bingkai nilai rukun dan nilai selaras yag diungkapkan dalam kalimat tata tentrem kerta raharja.  Hal ini merupakan ide dasar yang menjadi filter dalam rangka Jawa mengadopsi dan beradaptasi dengan budaya dan peradaban lain.

Falsafah momot ngemong segala perbedaan dengan damai telah dimiliki masyarakat Jawa sejak dahulu.  Lagipula sudah tersemayamkan di hati sanubari setiap lajer Jawa hingga menjadi otot bayu yang terbukti tidak lekang dan lapuk sejak jaman prasejarah hingga saat ini.  Maka inilah daya kekuatan yang menjadi ‘ketahanan alamiah’ Jawa dalam pergulatan antar budaya dan peradaban.

Kearifan budaya Jawa tersebut adalah merupakan refleksi dari karakteristik budaya Jawa yang ada. Hal ini tercermin sebagai berikut.

1. Religius dan ber-Tuhan

Sebelum agama-agama besar masuk ke Jawa, masyarakat Jawa sudah mempunyai kepercayaan adanya Tuhan yang melindungi mereka, dan keber-”agama”-an ini semakin berkualitas dengan masuknya agama-agama besar seperti Hindu, Budha, Islam, Katholik dan Kristen.

2. Mempunyai toleransi keagamaan yang besar.

3. Sangat menekankan aspek kerukunan, hormat dan keselarasan sosial.

Hal ini dimanifestasikan ke dalam Teori Jawa seperti memayu hayuning bawana, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja.

                4. Lebih suka memecahkan masalah kehidupan dengan sikap ma-was diri atau tepa slira agar dapat menghindari konflik dengan pihak lain.

Dengan cara menggalih, yakni menggabungkan antara rasio dan rasa akan menghasilkan bentuk pemecahan yang efektif dan efisien. Rumus yang dipakai adalah 4 N (Nêng – Ning – Nung – Nang).

                _  Nêng = Meneng

Sebelum berbuat harus memperhatikan perasaan yang tenang, terang dan diam.

_ Ning = Wening

Hanya dengan meneng jiwa akan menjadi jernih (wening).

_ Nung = Anung

Dengan jiwa yang jernih akan dapat berpikir dengan jernih.

–      Nang = Menang

Akhir dari proses Nêng – Ning – Nung adalah diperoleh hasil pemecahan yang efektif dan efisien.

Banyaknya dewa-dewa dalam kasanah Jawa dianggap tidak sejalan dengan ke-“tauhid”-an aatau dianggap sebagai ketahayulan yang tidak masuk akal.

Sesungguhnya “Mitologi Jawa” tumbuh dan berkembang sejalan dengan upaya-upaya mensinergikan kepercayaan (teologi) asli Jawa dengan kepercayaan (teologi) dari agama pendatang. Upaya-upaya mensinergikan tersebut dilandasi falsafah dasar Peradaban Jawa yang menyatakan bahwa setiap “titah dumadi” diwajibkan ikut “memayu hayuning bawana“.

                Titah dumadi dimaksud, bukan sekedar umat manusia saja, tetapi seluruh mahluk ciptaan Tuhan yang kasat mata maupun tidak.  Barangkali hanya pada pandangan Jawa saja yang memposisikan seluruh titah dumadi ciptaan Tuhan merupakan saudara bagi umat manusia.

                Sepintas mitologi yang tergambarkan dalam cerita tersebut begitu rumit dan seperti dongeng yang mengada-ada.  Namun bila memahami bahwa dalam kasanah Jawa yang penuh dengan simbul-simbul, maka kerumitan tersebut bisa diurai dan bisa dijelaskan dengan nalar.  Pemahamannya didasari pengertian bahwa simbul-simbul dimaksud adalah personifikasi dari sesuatu yang ada namun tidak mudah dijangkau dengan pikiran.

                Tuntunan Jawa menyatakan bahwa Dzat Tuhan (Sang Hyang Tunggal, Sang Hyang Wenang) adalah “tan kena kinayangapa” atau tidak bisa dijangkau (dihampiri) oleh akal, rasa dan daya spirituil manusia.  Sedangkan yang mampu dijangkau adalah tajali (derivate spirituil, emanasi, pancaran) Tuhan.

                Derivate Tuhan itulah yang kemudian disebut sebagai Pangeran (Gusti) yang keberadaannya transendent dan immanent. Yaitu berujud dzat mutlak hampa (suwung), abadi, tanpa arah tanpa papan, tanpa bentuk (kantha) tanpa warna, sepi dari “ganda-rasa-swara“, bersipat elok, bukan laki bukan perempuan bukan banci, merasuki seluruh alam semesta seisinya.

Atas dasar pemikiran tersebut, maka pemahaman ‘manunggaling kawula gusti’ adalah suatu tingkatan kesadaran akan hadirnya ‘Dzat Illahi’ pada setiap mahluk hidup.  Oleh karena itu, pada kepercayaan Jawa menyebutkan bahwa bertemu Pangeran/Gusti (Dzat Urip) adalah dengan berkiblat ke gua siring urip atau gua batin diri sendiri.

Dengan halus Jawa menolak pemahaman Tuhan yang menghuni suatu tempat di bumi.  Baik berupa alam seperti gunung, sungai, laut, dll.  Lebih-lebih Tuhan yang menghuni arca atau bangunan buatan manusia.  Prinsip dasarnya masyarakat Jawa menganggap Tuhan tan kena kinaya ngapa (tidak bisa dibayangkan seperti apa) dan menguasai seluruh alam semesta yang tiada batas.  Maka mustahil kalau Tuhan penguasa semesta alam sekedar berada di suatu tempat kecil di bumi ini. Walaupun dinyatakan tempat tersebut paling suci.

Kesadaran tertinggi tentang kesemestaan tersebut, bagi pandangan Jawa yang terpenting adalah upaya untuk “titis ing pati”.  Artinya mampu mengembalikan semua unsur yang membentuk dirinya kepada sumbernya masing-masing dengan sempurna.  Kesempurnaan “titis ing pati” tersebut ditentukan pada perilakunya saat hidup ikut memayu hayuning bawana atau tidak.  Kalau tidak, maka rohnya tidak mampu kembali ke sumbernya, “Dzat Sejatining Urip” dan kesasar ke alam lain.  Bisa jadi ke alam binatang, alam lelembut, dan bahkan bisa juga kesangsang (terdampar) di kayu watu dan menjadi dhanyang di situ.

Kesadaran Semesta juga melahirkan sikap kehati-hatian menjalani hidup.  Maka kehati-hatian tersebut menjadikan wong Jawa tidak akan mau membuat kerusakan pada alam semesta.  Untuk itu, para leluhur Jawa yang “linuwih kawruhnya” di jaman dulu melakukan observasi mendalam akan fenomena alam semesta.  Dari observasi semesta tersebut lahirlah astronomi Jawa yang berujud sistim kalender Jawa.  Bukan sekedar kalender untuk memahami perjalanan waktu, namun juga memuat pengaruh “kosmis semesta” pada hidup dan kehidupan manusia (candrasangkala, komariyah) dan (suryasangkala, syamsiyah), tetapi juga ada penanggalan Wuku dan Wetonan yang ternyata sangat rasionil dan matematis perhitungannya.

Observasi alam oleh para leluhur linuwih Jawa juga menangkap adanya “enerji spirituil angkasa dan bumi” yang disebut “bapa angkasa” dan “ibu bumi”.  Juga mampu menengarai adanya pancaran “enerji spirituil bumi” pada tempat-tempat di bumi. Pada tempat-tempat di bumi yang kuat pancaran enerji spirituilnya kemudian diberi tanda berupa patung lingga-yoni, arca dan candi.  Di tempat yang sudah diberi tanda tersebut kemudian dijadikan tempat untuk “manembah” kepada Tuhan dan “persembahan” kepada semesta alam berupa sesaji-sesaji.  Tujuannya agar pancaran enerji bumi tersebut menjadi suci auroranya serta positif pengaruhnya kepada kehidupan manusia.  Laku budaya yang demikian kemudian mengundang penafsiran sebagai keprimitifan dan dianggap “klenik-tahayul-gugon tuhon” oleh pihak-pihak yang tidak memahami.

Aras kesadaran kesemestaan pada budaya dan peradaban Jawa memang “unik” menurut pandangan orang-orang yang tidak memahami.  Padahal dari aras tersebut, maka secara alamiah wong Jawa memiliki kesadaran akan tempat hidupnya, alam semesta khususnya bumi.  Kesadaran tersebut sedemikain mendalam hingga menghormati bumi sebagai “Ibu Pertiwi”.  “Ibu Pertiwi” adalah yang memberi semua kebutuhan hidup manusia.

Bumi yang menghidupi manusia adalah pandangan Jawa yang mendasar.  Maka banyak laku budaya Jawa yang ditujukan untuk persembahan kepada “Ibu Pertiwi” tersebut.  Laku budaya dimaksud mulai dari memberikan sesaji, mantra suara (kidungan dan karawitan), sampai kepada pagelaran tari dan wayang.  Tujuan semua laku-budaya tersebut adalah “mempersembahkan keindahan” kepada semesta alam (bapa angkasa lan ibu bumi) tempat manusia hidup.  Dengan jelas merupakan bagian dari “melu memayu hayuning bawana”.

Prosesi persembahan dalam laku budaya dimaksud selalu pada aras kebersamaan.  Gotongroyong semua warga masyarakat.  Jejaknya masih bisa kita saksikan pada adat Jawa “Sadranan”. Sesungguhnya saja tradisi “Sadranan” mulanya adalah prosesi ritual masyarakat Jawa dalam rangka persembahan kepada alam semesta.  Namun oleh pengaruh “penyebaran agama” telah berubah menjadi prosesi ritual mendoakan arwah leluhur.  Bahkan kemudian menjadi bias lebih jauh lagi, sebagai pesta untuk bersenang-senang tanpa makna lagi.

Ritual kidungan, ritual gamelan, ritual seni tari, dan pagelaran wayang purwa.  Artinya, mempersembahkan keindahan untuk alam semesta yang ditujukan agar alam semesta kembali hayu.  Pada aras ke-hayu-an semesta tersebut maka akan berpengaruh kepada “inner” manusia yang berada dalam naungannya. Oleh pengaruh spirituil semesta yang hayu, maka perilaku manusia akan tertata menjadi hayu pula.

Nilai-nilai budaya yang terungkap dalam adat istiadat diinterpretasikan sesuai dengan ajaran agama dan diaktualisasikan dalam kehidupan nyata, maka lahirlah sebutan Islam-Kejawen. Para pemeluknya hidup sebagai umat Islam namun tetap menjunjung tinggi adat istiadat dan nilai-nilai budaya spiritual Jawa yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

 

Analisis “Aja Dipleroki” karya Ki Nartosabdo

Apresiasi :

Aja dipleroki karya ki Nartosabdho
X         : mas mas mas, aja dipleroki
              mas mas mas, aja dipoyoki
              karêpku jaluk dièsêmi
Y         : tingkah lakumu kudu ngêrti cara
              aja ditinggal kapribadèn kêtimuran
X         : mengko gèk kèri ing jaman?
Y         : mbok ya sing eling!
X         : eling bab apa
Y         : iku budaya
X         : Pancènne bênêr kandamu.

Apabila ditranslet ke dalam bahasa Indonesia :

X         : kak, jangan memandangku dengan sinis
kak, jangan mengejekku
harapanku diberi senyum
Y         : tingkah lakumu harus tahu sopan santun
jangan ditinggal kepribadian orang timur
X         : nanti apakah tidak ketinggalan jaman?
Y         : ingatlah!
X         : ingat bab apa
Y         : itu budaya
X         : memang benar ucapanmu

Lagu di atas adalah sebuah pengungkapan rasa batin seorang pengarang mengenai pergeseran budaya orang-orang Timur. Dalam teks lagu di atas diungkapkan seorang adik perempuan berbicara kepada kakaknya :
“mas mas mas, aja dipleroki
mas mas mas, aja dipoyoki
karêpku jaluk dièsêmi”

melihat perubahan sikap kakaknya yang bernada marah, berwajah sinis dan sering mengejek adiknya. Hal itu dikarenakan perubahan sikap sang adik yang mulai meninggalkan kebudayaan pribadinya sebagai orang timur.

Bagi seorang perempuan perkembangan trend barat dianggap sesuatu yang lebih moderen dan lebih maju. Padahal kebudayaan barat belum tentu cocok dengan kebudayaan orang-orang timur. Moderenisasi dari barat mempunyai efek dalam segala bidang baik ekonomi sampai pada budaya. Terlihat pada perkembangan hidup bermasyarakat yang moderenisasi diri untuk kebutuhan.

Pergaulan yang mengikuti trend barat mulai merebak di Indonesia, desain baju yang ketat dan kurang sopan bagi kawasan timur, saat ini menjadi sesuatu hal yang biasa bagi pemuda. Sikap sopan santun, tatakrama mulai berkurang karena efek global. Kemudian berlangsung dengan adanya persaingan pasar bebas yang secara tidak langsung sikap konsumtif masyarakat Indonesia meninggalkan produk dalam negeri.

Pelanggaran hukum, tindak kriminal dan KKN (Korupsi, Kolusi ,Nepotisme) semakin marak baik di kalangan bawah maupun kalangan atas. Hal ini sebagai bukti pergeseran budaya ‘Ketimuran’ menjadi ‘kebaratan’ ini perlu mendapat perhatian khusus dari berbagai pihak. Seperti diungkapkan pada lagu “Aja Dipleroki” penanganan lebih baik adalah kesadaran pribadi dan pengendalian dari orang-orang terdekat.

Types of Limasan (Javanese Architecture)

 Rumah Tradisional Jawa Jenis Limasan Lambang Sari

Merupakan rumah tradisional Jawa yang berbentuk limasan dan mempunyai ciri khas khusus dibandingkan model rumah limasan lainnya. Sifat khusus bangunan ini yaitu pada konstruksi pembentuk atapnya, dimana terdapat balok penyambung antara “atap berunjung” dengan “atap penanggap”. Tiang yang digunakan sebanyak 16 buah. Atap bangunan ini memiliki 4 buah sisi yang masing-masing mempunyai bentuk bersusun 2 buah. Hal tersebut dikarenakan terdapat renggangan di antara kedua belah atap berunjung dan penanggapnya. Bangunan ini memiliki satu buah “bubungan” atau “wuwung” yang menghubungkan keseluruhan 4 buah sisi atap tersebut. Keseluruhan konstruksi bangunan ini menggunakan bahan kayu keras dan serat yang kuat. Kayu tersebut adalah kayu Jawa atau kayu-kayu yang berasal dari tanah di Pulau Jawa. Jenis kayu tersebut seperti kayu jati, kayu sonokeling, kayu nangka dan kayu keras lainnya. Bangunan ini menggunakan pondasi jenis “umpak” yang mempunyai ciri khas khususnya yaitu menggunakan purus pada bagian tengah tiang bawah yang berfungsi sebagaipengunci tiang atau kolom.

 Rumah Tradisional Jawa Jenis Limasan Trajumas Lawakan

Rumah tradisional Jawa ini merupakan perkembangan dari rumah tradisional model Limasan Trajumas yang mengalami penambahan pada penggunaan “emper” yang mengelilingi bangunannya. Emper keliling ini mempunyai sudut kemiringan yang berbeda daripada atap bagian pokoknya. Bangunan ini tetap menggunakan tiang pada bagian tengahnya. Hal ini yang membuat terbentuknyadua buah “rong-rongan” pada pembagian ruang dalamnya. Jumlah atap terdiri dari 4 buah sisi yang masing-masing bersusun dua dengan satu “bubungan” atau ‘wuwungan” sebagai titik pertemuan ke-empat sisi atap tersebut. Bangunan ini menggunakan 20 buah tiang atau saka sebagai struktur utama. Jika dilihat daripotongan bangunan, bentuk simetris sangat jelas dengan adanya tiang utama sebagai pembagi antara sisi ruang yang satu dengan yang lainnya. Keseluruhanbangunan menggunakan struktur kayu dengan serat kuat dan mampu menerima gaya tekan dan gaya tarik struktur. Kayu tersebut seperti kayu jati, kayu sonokeling, kayu nangka, kayu glugu dan jenis kayu jawa lainnya. Penggunaan Umpak sebagai pondasi tetap menjadi ciri khas bangunan tradisional jawa ini

Rumah Tradisional Jawa Jenis Limasan Trajumas

Merupakan rumah tradisional limasan yang hanya mempunyai 6 buah tiang atau saka sebagai struktur pokok. Karena memiliki 6 buah tiang dan terdapat ander pada bagian tengah yang membagi rumah ini menjadi dua bagian ruang yang sama atau dapat kita sebut dua buah ruangan ini sebagai dua “rong-rongan”. Rumah limasanini mempunyai empat buah sisi atap seperti rumah tradisional limasan pada umumnya. Bentuk sederhana ini merupakan kesatuan konstruksi rumah yang utuh dan unik sehingga sering dikolaborasikan dengan bentuk modern sebagaibungalow atau gazebo-gazebo yang berdiri sendiri secara terpisah dengan rumahinduk yang lebih besar lagi.

Rumah Tradisional Jawa Jenis Limasan Trajumas Lambang Gantung

Merupakan Rumah tradisional Limasan yang cukup khas dibandingkan jenisrumah limasan lainnya.Rumah Limasan ini disebut sebagai “Rumah Limasan Trajumas Lambang Gantung” sebab bagian emper pada bangunan ini tidak menempel secara langsung pada tiang utama. Bagian emper menempel pada kayu yang bergantung di ujung “brunjung” dan disebut sebagai “saka bethung”, Jadi berbeda dengan “rumah limasan lambang teplok” yang bagian “emper”-nya menempel secara langsung pada tiang utama. Disebut sebagai “Trajumas” karenabangunan ini memiliki dua ruangan yang disebut sebagai “rong-rongan”. Satu “rong-rongan” dibatasi oleh empat tiang utama yang terletak pada bagian tengah (rong=liang). Rumah limasan ini menggunakan tiang atau saka sebanyak 8 atau 10 buah. Bangunan ini memiliki empat sisi atap yang tersusun secara berenggangan sehingga sirkulasi udara dapat masuk pada bagian renggangan tersebut.Bangunan ini tetap memiliki satu “Bubungan’ atau “wuwung” pada atapnya.

Rumah Tradisional Jawa Jenis Limasan Semar Tinandhu

jenis Limasan ini disebut sebagai “Semar Tinandhu” karena bagian atap “brunjung”nya bertumpu oleh ke–empat buah tiang, dimana tiang-tiang tersebut menumpu pada balok atau blandar di tengah, jadi atap berunjung ini tidak secara langsung menumpang pada ke-empat buah tiang utama. Rumah Limasan Semar Tinandhu ini mempunyai jumlah saka 16 dan 4 buah “ saka’ pembantu dan 4 buah saka yang terletak di tengah. Bangunan ini memiliki susunan atap seperti pada rumah limasan pokok yaitu mempunyai 4 buah sisi yang ditambahkan 4 buah emper yang mengelilingi bangunan tersebut dan mempunyai satu buah wuwungan pada atapnya. Keseluruhan konstruksi menggunakan kayu yang mempunyai serat padat dan kuat untuk menerima gaya tarik dan gaya tekan. Jenis kayu yang dipergunakan biasanya adalah kayu jati, kayu mahoni, kayu nangka, kayu sonokeling dan jenis kayu Jawa lainnya. Keindahan bangunan ini adalah pada bagian interior ruang tengahnya yang memiliki konstruksi tiang bertumpuk sebagai penopang atap berunjungnya dan terlihat gagah sebagai bangunan sederhanayang sempurna dan simetris.

Rumah Tradisional Jawa Jenis Limasan Lambang Teplok

Merupakan rumah tradisional jenislimasan yangmenyerupai rumah kampunglambang teplok.Oleh sebab itu rumah ini menggunakan renggangan padakonstruksi atapnya, yaitu pada bagian atap “brunjung” dengan atap “penanggap”. Bagian ini menjadikan tampilan bangunan terlihat lebih tinggi dan gagah. Pada bagian regangan atap biasanya ditambahkan ornament pada sisi bagian dalamnya agar telihat lebih indah. Bukaan ini membuat sirkulasi udara pada bagian tengah ruangan terasa lebih nyaman dan adem. Bangunan tradisional ini memiliki 4 buah sisi atap dimana ada pemisahan regangan pada atap brunjung yang menyebabkan bagian atap terbelah menjadi dua bagian, yaitu atap penanggap sebagai emper dan atap brunjung sebagai konstruksi utama. Perbedaanya dengan rumahkampung lambang teplok adalah pada atapnya. Rumah Limasan Lambang Teplokini tidak menggunakan “Tutup Keong” pada sisi kanan kiri atapnya tetapi tetap menggunakan balok dudur yang menjadikan atapnya konsisten berbentuk limasan utuh. Keseluruhan bangunan menggunakan struktur kayu rigid dan kuat karena berbahan dasar kayu jawa berserat padat, kuat dan awet sehingga dapat berumur puluhan tahun. Kayu yang digunakan seperti kayu jati, kayu sonokeling, kayu nangka dan kayu jawa jenis serat kuat lainnya. Jenis bangunan ini dapat berdiri sendiri dan biasanya pada saat ini sering diaplikasikan sebagai pendopo atau tempat pertemuan terbuka tanpa dinding.

Rumah Tradisional Jawa Jenis Limasan Gajah Ngombe

Merupakan rumah tradisional jawa bentuk limasan pokok yang mengalami penambahan atap sebagai emper pada bagian sisi pendeknya. Jika di lihat pada denah yang berbentuk empat persegi panjang posisi penambahan struktur emper terletak pada bagian sisi terpendeknya. Rumah tradisional Limasan Gajah Ngombeini mempunyai tiang atau saka sebanyak 6, 8, 10 buah dan seterusnya yang disesuaikan dengan besaran ruang yang diinginkan, termasuk didalamnya 4 buah tiang atau saka utama pada inti bangunan. Bangunan ini memiliki satu buah wuwung dan 4 buah dudur serta 4 buah sisi atap. Satu sisi atap ditambah emper yang menjadikan bentuk atap berundak sebab memiliki kemiringan yang berbeda dengan atap utama.Keseluruhan konstruksi menggunakan struktur rangka kayu yang di sambung dengan sistim knockdown menggunakan sunduk kayu sebagai pengunci sambungan kayu yang fungsinya sama seperti paku besi. Biasanya penambahan sisi emper dibuat dengan sistim lantai berundak sehingga bagian atap emper mempunyai fungsi seperti teras depan atau entrance rumah tinggal.

Rumah Tradisional Jawa Jenis Limasan Lawakan

Rumah tradisional ini merupakan bangunan yang berasal dari daerah Jawa yang merupakan perkembangan bentuk rumah jawa sederhana model kampung yang kemudian dikembangkan menjadi bentuk rumah tradisonal Limasan Pokok.

Bentuk rumah Limasan Lawakan ini merupakan rumah limasan pokok yang ditambahkan emper pada seluruh sisi bangunan yang berjumlah 4 buah. Bentuk emper ini diambil dari bentuk “Rumah kampung panggangpe” dan diletakkan pada ke-empat sisi rumah model Limasan Pokok. Kesimpulan mengatakan bahwa asalRumah Limasan Lawakan ini merupakan hasil adobsi dua model rumah jawabentuk Limasan pokok sebagai struktur utama dengan Rumah Kampungpanggangpe sebagai struktur tambahan sebagai sisi emper bangunan. Penggabungan ini terlihat pada struktur balok atau “blandar” yang ditambahakn sebagai tumpuan “emper atap”. Rumah ini memiliki 4 buah tiang atau “saka” sebagai konstruksi utama yang terletak pada bagian tengah ruangan dan perlu diketahui bahwa ini adalah struktur utama yang berasal dari Rumah Limasan Pokok dan ditambahkan struktur tambahan sebagai emper pada keempat sisi bangunan sehingga jumlah keseluruhan tiang saka sebanyak 16 buah. Hal ini yang menjadikan rumah limasan lawakan mempunyai 4 buah sisi atap dengan bentuk bertingkat karena mempunyai sisi kemiringan yang berbeda antara atap bagian tengah dengan atap bagian emper. Seluruh atap disatukan dengan satu buah wuwungan dan balok “dudur”.

Rumah Tradisional Jawa Jenis Limasan Sinom Lambang Gantung Rangka Kutuk Ngambang

Merupakan bangunan rumah jawa bentuk Limasan yang mempunyai ciri khas khusus pada bentukan konstruksi atapnya. Bangunan ini disebut sebagai “Lambang Gantung Rangka Kutuk Ngambang” karena pada ujung “molo” tedapat bagian yang menonjol sepanjang 2/3 dari panjang “ander”. Apabila bagian menonjol tersebut mempunyai ukuran 1/3 dari ukuran “ander”, maka disebut sebagai “Kutuk Manglung”. Bangunan ini disebut juga sebagai “Limasan Sinom Lambang Gantung” karena memiliki atap penanggap yang bersusun 2 buah dan posisinya bergantung pada “Saka Bethung”. Bangunan ini mempunyai 3 buah “rong-rongan” dan mempunyai jumlah saka atau tiang sebanyak 48 buah sampai 60 buah. Keseluruhan konstruksi atapnya terdiri dari 4 buah sisi yang masing-masing sisinya bersusun 3 buah susunan serta berpusat pada satu buah “bubungan”. Limasan ini bisa dikatakan hasil dari variasi rumah bentuk limasan yang cukup rumit dan terlihat megah secara struktural dan pada detail-detail sambungan konstruksi atapnya. Bangunan ini menjadi terlihat gagah dan perkasa jika kita pandang dari keseluruhan tampak luar serta  interiornya. Sirkulasi udaraserta bias cahaya dapat masuk ke ruang dalam rumah dan mencangkup keseluruhan interiornya. Hal ini dikarenakan terdapat regangan-regangan pada 3 buah atap bersusunnya. Keseluruhan konstruksi pembentuk rumah ini menggunakan kayu jawa dan tetap menggunakan pondasi jenis umpak sebagai tumpuan tiang-tiang kolomnya.


Sokawati Kadipaten Manuscript

Serat ini milik Tumenggung Dipokardjono, Seorang priyagung di Sokawati (Sragen)

Judul

Iki piwulang kanggo nyinau rasa, ngleremake hawa napsu uatawa lali marang tumindhak nistha, eling marang tumindhak kang utama.

Isi :

Ing ngisor iki piwulang kanggo tumindhake wong ana donya, kang supaya uwong ora tumindhak ala , utawa kang supaya murih apike, lan jalari baman marang Pangeran, ing awal tumeka jaman akhir.

Piwulang ing ngisor iki dudu pirantune gayuh ing atase bandha donya, amung piwulang kanggo nyinau marang katrenteman lan kasabaran, narima , tawakal, eling marang pangeran lan rumangsa yen kawula ura wani amasesa.

Ing ngisor iki piwulange wiwit kitik tumeka titik, utawa upamane bocah sekolah wiwit klas 1 tumeka klas 7 kayata :

Titik 1                          : kena diarani kawruh

Titik 2                          : kena diarani pecahe Sahadat

Titik 3                          : kena diarani Pepuntone Kawruh

Titik 4                          : kena diarani Soroge Kawruh

Titik 5                          : kena diarani Wiji Permati

Titik 6                          : kena diarani Wiji

Titik 7                          : kena diarani Pepuntone tekat

Maknane ing ngisor iki wiwit tegese satitik . Titik 1 isine Bab kayata : 1. Kawruh, 2. Sedulur, 3. Pal Kodrat, 4. Kurup lima, 5.Salat, 6. Ringkesaning Kurup , 7.Pirantine.tegese :

1.Kang diarani kawruh iku tegese pepacak,tegese inggisor iki :

  1. Aja Rusuh tegese aja melik darberke liyan
  2. Aja Jabal tegese aja gegethingan lan sesengitan
  3. Aja Drengki, aja panas tenan
  4. Aja Dahwen tegese aja ngrasani alane uwong dene pawengkone wis dadi wajibe.
  5. Aja Gumedhe tegese  aja beda-bedakake, bedane wis katut pranatane jagad
  6. Aja Kumingsun tegese aja ngaku pinter, ning pinter mung Pangeran dhewe
  7. Aja Kuminter  tegese aja nenacat kawruh utawa agama liya-liyane
  8. Aja Kagetan tegese aja kelu barang kang elek
  9. Aja Kareman tegese aja duwe pakareman
  10. Kudu santosa ing Budi tegese kudu mantep
  11. Kudu kenceng tapihe tegese kudu sawiji tekate utawa ora goroh
  12. Aja Lemer tegese aja duwe pepinginan
  13. Aja mrengut tegese aja nesu
  14. Kudu manut tegese kudu miturut barang kang bener

Pepacake urip ana 3 kayata :

  1. Kudu Telaten tegese  kudu kulina neniteni  aba –obahing jagat
  2. Kudu Rila tegese ora ngresula utawa ora arasen utawa ora bosen
  3. Kudu Eklas tegese ora ngresakake barang kang wus icul utawa barang kang wus kebacut

Pepacake tuwa ana 3 kayata :

  1. Kudu Eling tegese kudu ngeling-eling marang wajibe
  2. Kudu Melek tegese kudu betah melek solur banjur adus, perlune kang supaya lerem pancadriyane
  3. Kudu adus dhen esuk sak durunge jedhul Srengenge perlune kang supaya bening pikire lan bening budine

Banjur kang diarani sedulur kuwi ana 10, sedulur 10 kena diperang dadi 3, kang sak perang 4 sedulur kang rumeksa ing jasat kayata :

  1. Siriyah asal saka Kringet
  2. Ariyah saka Ari- ari
  3. Wahdat saka kang Kawah
  4. Bayu saka kang Getih

Kang sak perangan maneh 4 sedulur kang asal saka Kodrat sasenetane kayata kang rumeksa pancadriya:

  1. Jaka saka ing Jantung
  2. Tilam saka ing Ati
  3. Plek saka ing Kebuk
  4. Remeng saka ing Rempelu

Kang sak perangan  maneh 2 kayata :

  1. Roh Alah  kang saka ing Biyung
  2. Roh Pati kang saka ing Bapa (titi sedulur kang rumeksa ing Jisimmu)

Banjur kang diarani Pal Kodrat, kang diarani Pal Kodrat iku akire wong arep mulih menyang jaman, kayata :

  1. Rengganging balung Githok kang diarani palengkunging Gadhing kuwi menawa wus renggang kurang 1000 dina konduring kamuksan.
  2. Garebeging talingan menawi tinutup wus ora nyuwara gumrebeg, kena diarani Kesekte Nagara Rahmat kuwi kurang 40 dina konduring kamuksan.
  3. Ketire Muhamat tegese cahya kang ana Sajroning Setra, kuwi  lamun wis ora ana kurang 40 dina konduring jaman kalanggengan.
  4. Kampusing napas kang metu ing Irung, kuwi lamun wis rasake karana anyep, kena diarani Rubuhe Gunung Turdian.Kuwi kurang 7 dina kondur ing kalanggengan.
  5. Palenggahan rasul, jroning Cethak digrayang karo ilat manawa wus ora karasa keri, kurang 3 dina mantuk mau
  6. Karindike awak utawa sakabehe kulit, menawa ginosok, wis ora kemrisik, kurang sedina sewengi konduring kalanggengan.

Banjur kurup 5 ing ngisor iki maknane

  1. Pangeran tanpa kemandang
  2. Surung tanpa gumantung
  3. Nur Putih panas jan wani
  4. Ingsun Pangeran kang sanyata , ing donya ora ana kana-kana

Banjur kang diarani Salat,

kang diarani Salat iku lebu wetune napas, titipane Salat kanthi panebut- panebute manawa napas melu panebute Alah, manawa napas melu panebute Muhamat, dadi titip Alah lan Muhamat. Perlune Salat mung saka kawula kawingkuhing kodrat utawa kanggone bakal anyumurupi pacake kang kasar utawa kang alus. Kang kasar iku raga wadag, kang alus iku Sukma.Dadine Salat ilange alam Sakir utawa alam Kabir, dumununge ana jagad pesagi. Ing kana ana lalam ora padhang, ora peteng, ora wadon , ora lanang, ora wandu, ing kana ana pepadhang dudu sorote diyan, dudu sorote Srengenge, dudu sorote lintang, dudu sorote rembulan, Sorote kang Murbeng  jagat dewe.wong Salat manawa ora tumeka ing kono kena diarani kandhek.

Wajibe Salat iku eling marang panebute. Anane napas metu panebute Alah kanggone bakal anyumurupi marang kodrate supaya ilang gagasane kang ora becik- becik. Anane napas mlebu panebute Muhamat, kanggone bakal anyumurupi marang uripe supaya ilang panandhange mulane den  okehake lebune katimbang metune, supaya akeh elinge.

Banjur kang diarani ringkese kurup iku tembunge mangkene.

Bebakalane Alah kuwi ora ana, anane mung asalan Panguwasa. Bebakalane Muhammat iku urip, bebaklane rasul iku gaban.

Banjur kang diarani Piranti  tembunge mangkene

Kudumen lir salate, kudu netepi pepacake , kudu ajeg panembahe.

Banjur titik 2 utawa klas 2 tembunge mangkene :

Papaning nguni-uni eling mula-mulanira, urip sejati manjing jumenenging pancadriya. Telakitilililoloh rasul babagan turu, rasul manjing Muhamat babagan melek. Muhamat manjing rasul jumeneng Rahsa, rasul manjing wung wang babagan Semedi, rasul Muhamat manjing sipat tuk kabeh jumeneng Hyang Permana.

Banjur titik 3 kang diarani pepuntoning Kawruh tembunge mangkene :

Sumebare rahsa, sumekare pancadriya, lereme pancadriya jumeneng cipta, cipta kawimbuhan lelereme rahsa, jumeneng Sirahsa, Sirahsa kawimbuhan lereme angin angambah alame manungsa lumebu ing bantala Mukaram Alah kak, Alah kak malangkah ing wates, tumeka ing wates munggah ing Kanajul Tarki jumeneng Sirolah, Sirolah malangkah ing wates, tumeka ing wates, saka ing wates angambah alam- alam antara lumebu ing BIintala Makmur jumeneng Eling.

Banjur titik 4 kang  diarani soroge Kawruh, ing ngisor iki tembunge :

Sirolah rasaningsun, jumeneng ing githok, Dat olah sukaningsun jumeneng ing Tenggok, Sipat olah rupaningsun jumeneng ing bun-bunan, Wujute olah jiwaningsun jumeneng ing jantung utawa Ngutek, terusing Irung, Byar padhang kang katon aku dhewe , Dat ingsun,aku jaluk Weca sak weca wija, sak temen-temene lan aku jaluk ………. Apa kang ginayuh waton nganggo ukuran.

Banjur titik 5 kang diarani Wiji Permati, tembunge mangkene :

Sak drurungr ana apa- apa, kang ana Gentha kakeleng, Gentha iku Ontha, Kekeleng iku samar, dadi Ontha samar, Sastra jendrayunengrat pangruwating diyu ,Sastra Sandi Sastra Cetha, Sandi Sastra nawang surti Jawi mantra. Banjur ilat iku kapadalake ing Cethak kang nganti bisa nyuwara tek-tek.

 

Banjur titik 6 kang diarani Wiji, tembunge mangkene, :

  1. Dat anurunke banyu sak tetes, Pangeran tanpa kemandhang
  2. Dadi surung tan gumantung
  3. Rupa Nur putih badan jasmani
  4. Asih ya ingsun Pangeran sanyata
  5. Bali ing  ana donya ora apa-apa
  6. Dadi Jagate, Pangeran tanpa Kemandhang
  7. Kosik, surung tanpa gumantung
  8. Wisik, nur putih badan Jasmani
  9. Lair lar sejatining Sukma ya ingsung Pangeran kang sanyata
  10. Mani sejati, sejatining sejatining uri-urip langgeng tan kena ning owah, ing donya ora ana apa-apa.

Banjur titik 7 kang diarani Pepuntone Tekat gumantung ana rasa pangrasane dhewe, kendho kencenging karep utawa sedyane.

Uger –uger kawruh iku ana 3, ing ngisor iki :

  1. Teteing pangudi saka dhemen
  2. Tetee laku saka rila
  3. Tetepe tapas aka ajeg

Jer ana pangudi ana bathi, jer ora ana pangudi ora ana bathi.

Lakune panyuwunan

Yen wis purun antara jam 6 ngadhega madhep ngulon, banjur angucapa :

ingsun angadheg ing satengah jagat, madhep ngulon Nur Kencana Remeng laire wengi, iki pangandikane Alah ‘kun payakun’, Siriyah, Ariyah, wahdat bayu, Jaka, tilam, Plek, Remeng, Roh Alah, Roh Pati, sedulurku 10, ingsun perang dadi 3, kang sak perangan 4 kang rumeksa ing jasat:

  1. Siriyah ana ing Kringet
  2. Ariyah saka Ari- ari
  3. Wahdat saka kang Kawah
  4. Bayu saka kang Getih

Sedulurku kang sak perangan maneh 4, kang asal saka Kodrat, panenetane saka Jantung, Tilam saka ing Ati, Plek saka ing Kebuk, Remeng saka Rempelu, Roh Alah saka Biyung, Roh Pati saka`ing Bapa, iku sedulur kang rumeksa jisimku, Papaning nguni-uni eling mula-mulanira, urip sejati manjing jumenenging pancadriya. Telakitilililoloh rasul babagan turu, rasul manjing Muhamat babagan melek. Muhamat manjing rasul jumeneng Rahsa, rasul manjing wung wang babagan Semedi, rasul Muhamat manjing sipat tuk kabeh jumeneng Hyang Permana.”

Banjur umenga mandhuwur angucapa mangkene “Bapa ngakasa”

Banjur umenga mangisor angucapa “ ibu Pertiwi aku jaluk ……… kang nganti tumeka batin

 

Banjur bengi jam 12 tumindhak maneh mangkene :

ingsun angadeg ana tengah jagat madhep ngalor, Sri Kalem uriping wengi., iki pangandikane Alah ‘kun payakun’Siriyah saka Kringet, Ariyah saka Ari- ari, Wahdat saka kang Kawah, Bayu saka kang Getih, Sedulurku kang sak perangan maneh 4, kang asal saka Kodrat, panenetane saka Jantung, Tilam saka ing Ati, Plek saka ing Kebuk, Remeng saka Rempelu, Roh Alah saka Biyung, Roh Pati saka`ing Bapa, iku sedulur kang rumeksa jisimku, Banjur umenga ing dhuwur angucapa ‘Bapa Ngakasa’, tumungkul ing bumi angucapa ‘ ibu Pertiwi aku jaluk­­……. Kang nganti tumeka batin“.

 

Banjur parak esuk sak durunge jedhul Srengenge dadi kena diarani Jar Sidik ,madhep mangetan angucapa mangkene:

ingsun angadeg ana tengahing jagat,madhep ngetan, Retna Dumilah laire rina. Iki pangandikane Alah’kun payakun’,Siriyah, Ariyah, Wahdat, Bayu,,jaka ,Tilam, Plek, Remeng, Roh Alah, Roh Pati, payakun’Siriyah saka Kringet, Ariyah saka Ari- ari, Wahdat saka kang Kawah, Bayu saka kang Getih, Sedulurku kang sak perangan maneh 4, kang asal saka Kodrat, panenetane saka Jantung, Tilam saka ing Ati, Plek saka ing Kebuk, Remeng saka Rempelu, Roh Alah saka Biyung, Roh Pati saka`ing Bapa, iku sedulur kang rumeksa jisimku. Papaning nguni-uni eling mula-mulanira, urip manjing sejati jumenenging pancadriya. Telakitilililoloh rasul babagan turu, rasul manjing Muhamat babagan melek. Muhamat manjing rasul jumeneng Rahsa, rasul manjing wung wang babagan Semedi, rasul Muhamat manjing sipat tuk kabeh jumeneng Hyang Permana

Banjur umenga mandhuwur angucapa “ Bapa Ngakasa”, banjur tumungkul ing Bumi angucapa “ Ibu Pertiwi” aku jaluk ……. Kang nganti tumeka batin.

 

 

Banjur awan jam 12 madhepa ngalor, angucapa mangkene :

ingsun angadek ana satengahing jagad, madhep ngalor Bambang Sunar Buwana uripe rina,iki pangandikane Alah’kun payakun’,Pangeran tanpa kemandhang, Surung tanpa gumantung, Nur Putih badan jasmani,ya ingsun Pangeran kang sanyata,ing donya ora ana apa-apa,

banjur umenga mandhuwur angucapa “ Bapa ngakasa “, banjur tumungkula ing Bumi angucapa “Ibu pertiwi aku jaluk …… kang nganti tumeka batin”.

Tumindhak ngadeg mau yen ana wektu angucapa mangkene, menawi wis mbok tindakake kang kasebut ing dhuwur mau, madhep mangulon, madhep ngalor, madhep ngetan, madhep mangidul padha :

  1. Angucapa “laujudan sirning” kaping 30
  2. Angucapa  “yahu kak samadining” kaping 30
  3. Angucapa “ kak hu samadining “kaping 30
  4. Angucapa “ hu kak sipat hukning “kaping 30

 

Petunge wong duwe perlu

Ing ngisor iki etunge wong arep duwe perlu, perlu apa wae. Uwong sak durunge mangreti marang ala utawa becike, sakabehe kasisedya murih kapenake nganggoa petung. Murih matenging sedya,dadi ora rongga-runggi. Sing Pramesthi mangkene :

  1. Dina kang digawe geblake bapa biyunge
  2. Dina kang digawe geblake bapa biyunge maratuwane
  3. Pengapesane kang duwe kajat lanang lan wadon.

Retine mangkene. Sing lanang wetone Slasa Legi, netune ketemu 8. Banjur dietung wiwitan uga dina Slasa Legi,Rebo Paing, Kemis Pon,sak piturute nganti ngentekake netune mau. Mengko entekke netu ana dina, ana dina Kemis Paing, uga dina Kemis Paing ora dingo.

Manawa arep duwe perlu, arep milih sasi kang dimathuki atase petung mangkene. Wetone sing duwe kajat lanang wadon dikumpulake. Netune ketemu pira, kayata : Slasa legi 10, Slasa Pon 8 sasi gunggun 18.Banjur jejera Kecik apa Krikil. 12 kang ing kono mangsut jenenge sasi kayata : Sura, Sapar, Mulut, sak piturute.

Banjur netu 18 mau diingakake siji-siji, wiwit sasi Sura,Sapar sak piturute. Nganti entek terus ditindakake kang nganti ora bisa tumindhak. Yen jalane Kecik utawa Krikil nang ngarep kono utawa nuwung.Banjur kang ditonton nang sasi kanggonan kecik akeh kang pantes dianggo ing atase petung.

Banjur goleka sasi wiwit tanggal 1 tumeka tanggal 30, kang ana dina Gara kasihe lan wedalane kang duwe kajat. Lan wedalane ning bakal arep dikangkat kaya dene temanten lanang wadon, utawa Tetakan lan Sunatan.

Banjur ngupayaa dina kang bakal dienggo. Golekana dina kang rambah kaping pira. Tegese mangkene: wiwit tanggal sepisan dina Kemis paing iku Kemis Kepisan. Banjur Kemis wage iku Kemis kaping pindho sak piturute nganti tumeka kentekake tanggal. Petunge ing ngisor iki :

1.Jemuah                  : 1.Manggih Harja                            : becik

2.Satrune Alah                               : ala

3.Harja Ageng                                 : becik

4.Dosa Ageng                                 : ala

5.Satrune Alah                               : ala

 

Setu                            1.Satrune Alah                                 : ala

2.Harja Ageng                                   : becik

3.Dosa Ageng                                   :ala

4.Harja Ageng                                   : becik

5.Satrune Alah                                 : ala

 

Minggu                      1.manggih palarame                      : ala

2.manggih guna                               : becik

3.Dosa Ageng                                   : ala

4.Harja Ageng                                   : becik

5.Satrune Alah                                 : ala

 

Senen                         1.Manggih guna                               : becik

2.Harja                                                 : becik

3.Eru                                                     : ala

4.Harja Ageng                                   : becik

5.Dosa Ageng                                   : ala

 

Slasa                            1.Satrune Alah                                 : ala

2.Harja harja                                     : becik

3.Asal                                                   : ala

4.Harja Ageng                                   : becik

5.Satrune Alah                                 : ala

 

Rebo                           1.Harja                                                 : becik

2.Harja Ageng                                   : becik

3.Dosa Ageng                                   : Ala

4.Harja Ageng                                   : becik

5.Satrune Alah                                 : ala

 

Kemis                         1.Manggih guna                               : becik

2.Satrune Alah                                 : ala

3.Harja Asih                                       : becik

4.Harja Ageng                                   : becik

5.Satrune Alah                                 : ala

 

Ing ngisor iki ketrangane sangat 5 :

Wiwit tanggal 1 tumeka tanggal 5, tanggal 6 tumeka tanggal 10, tanggal 11 tumeka tanggal 15 sak piturute. Dene uripe sangat saben 3 jam ganti, kajaba sangat kang akhir. Kang kebageyan jam 6 sore kewajiban sewengi tumeka jam 6 esuk.

 

Tanggal 1

Jam 6 tumeka jam 9                             : Amat pitutur

Jam 9 tumeka jam 12                           :Jaba Rail Kalangan

Jam 12 tumeka jam 3                           :Braim Pacak

Jam 3 tumeka jam 6                             : Dhusun Slamet

jam 6 tumeka jam 6                              :Ngijrail rejeki

 

Tanggal 2

Jam 6 tumeka jam 9                             : Jaba rail rejeki

Jam 9 tumeka jam 12                           :Braim pitutur

Jam 12 tumeka jam 3                           :Dhusun kalangan

Jam 3 tumeka jam 6                             : Ngijrail Pacak

jam 6 tumeka jam 6                              :Amat Slamet

Tanggal 3

Jam 6 tumeka jam 9                             : Braim Slamet

Jam 9 tumeka jam 12                           :Dhusun rejeki

Jam 12 tumeka jam 3                           :Ngijrail pitutur

Jam 3 tumeka jam 6                             : Amat kalangan

jam 6 tumeka jam 6                              : Jabarail pacak

Tanggal 4

Jam 6 tumeka jam 9                             : Dhusun pacak

Jam 9 tumeka jam 12                           : Ngijrail Slamet

Jam 12 tumeka jam 3                           : Amat rejeki

Jam 3 tumeka jam 6                             : Jabarail Pitutur

jam 6 tumeka jam 6                              : Braim kalangan

Tanggal  5

Jam 6 tumeka jam 9                             : Ngijrail kalangan

Jam 9 tumeka jam 12                           : Amat pacak

Jam 12 tumeka jam 3                           : Jabarail Slamet

Jam 3 tumeka jam 6                             : Braim rejeki

jam 6 tumeka jam 6                              : Dhusun rejeki

 

Ing ngisor iki diarani nas sasi

  1. Pasa
  2. Sawal
  3. Dulkaidah : aja nganggo dina Jemuah
  4. Besar
  5. Sura
  6. Sapar : aja nganggo dina senen, slasa
  7. Mulut
  8. Bakda mulut
  9. Jumadilawal : Aja nganggo senen, slasa
  10. Jumadilakir
  11. Rejep
  12. Ruwah : Aja nganggo dina Rebo, Kemis

Ing ngisor iki arane Pati dina

  1. 1.      Jemuah manggon ana Etan
  2. 2.      Setu, Akat manggon ing Kidul
  3. 3.      Senen, Slasa manggon ing kulon
  4. 4.      Rebo , kemis manggon ana Lor

 Ing ngisor iki petung menawa arep ngadegake omah. Luwih utama nganggo petung iki.

Golekana dina, ketemune pira, banjur dietung mangkene :

  1. Srih                        : kanggo bahan omah Buri
  2. Kitri                        : kanggo bahan omah Dhapa
  3. Gada                     : kanggo bahan omah Gandhok
  4. Lindhu                  : kanggo bahan omah Regol
  5. Pokah                   : kanggo bahan omah Kandhi

Ing ngisor iki petunge wong arep bali jaman utawa bayi lair.

  1. 1.      Jemuah                jam 8,10,12,3,4
  2. 2.      Setu                      jam 6,7,11,3,4
  3. 3.      Akat                      jam 8,10,1,3,5
  4. 4.      Senen                   jam7,8,12,2,5
  5. 5.      Slasa                     jam 6,11,1,3,5
  6. 6.      Rebo                     jam 7,9,11,2,4
  7. 7.      Kemis                   jam 8,11,1,3,4

Ing ngisor iki Wilujengan wong mulih jaman, wiwit Geblag tumeka Sewu.

Kayata geblage ana dina Akat Kliwon, tanggal ping 5 sasi Jumadilakir tahun Alip, petunge mangkene :

  1. Ngat kliwon        : geblage
  2. Slasa Paing          : 3 dinane
  3. Setu legi              : 7 dinane
  4. Kemis wage       : 40 dinane
  5. Senen wage       : 100 dinane
  6. Rebo Pon            : Pendhak sepisane
  7. Setu legi              : Pendhak sapindho
  8. Jemuah Wage   : sewu

Sapta wara

  1. Ngat                      : Geblage
  2. Senen                   : 100 dina
  3. Slasa                      : 3 dina
  4. Rebo                     : Pendhak
  5. Kemis                   : kemis 40
  6. Jemuah                : Sewu
  7. Setu                      : 7 dina

Panca wara

  1. Kliwon                  : geblage
  2. Legi                        : 7 dinane
  3. Paing                     : 3 dinane
  4. Pon                        : Pendhak sepisa
  5. Wage                    : 40, 100, 1000

Dene pendhak pindho di etung saka dina kang kanggo pendhak sapisan, upamane pendhak sepisan Rebon, Pendhak kapindhone dina Setu legi.

Manawa geblage ana tanggal 1, tumeka tanggal 5 , Sewune dina sasine mundur 3. Manawa geblage ana tanggal ping 6 sak piturute, Sewu dinane sasine mundur 2.

Ing ngisor iki donga tangi turu kang nalika turune ngimpi, kang donga mau tegese nyuwun pangapuraning Gusti Alah.

“ Bismilahirohmanirrohim, Allahuiniawudu bikaminngamalis saetani, wasatihtilammi birohmatikakamdha arkammurohimin

  1. 1.      Sambawane bawana
  2. 2.      Sambawane manah
  3. 3.      Sambawane sukma

1)    Kaheningan kalayan luyut

2)    Kaheningan bakahumlawung

3)    Kaheningan lega rahmat

Sarining rasa pindha pecahing Supana, Sarining permana kang sipat, Sanawinine samun, Sarining Sikma sejatine kang mangkana pun kakinan nugrahaneng Hyang Widhi.

Ing ngisor iki piwukang kanggo nyumurupi piranti badan jasmani

  1. 1.      Kawah manjing dhateng Amarah
  2. 2.      Tuntunan manjing dhateng Aluamah
  3. 3.      Puser manjing dhateng Supiyah
  4. 4.      Ari – ari manjing dhateng Mutmainah

 

  1. 1.      Amarah manjing malaekat Ngijrail
  2. 2.       Aluamah manjing malaekat Jabarail
  3. 3.      Supiyah manjing malaekat Mingkail
  4. 4.      Mutmainah manjing malaekat Ngisrail

 

  1. 1.      Kambali manjing dhateng Talingan
  2. 2.      Kanapi manjing dhateng Netra
  3. 3.      Maliki manjing dhateng Grana
  4. 4.      Sapingi manjing dhateng Tutuk
  5. 5.      Lapal bhe’ manjing bha’, lapal Alip manjing Alip, bha’ manjing banyu kang nguripi, Alip manjing Alip Alah kang nguripi.
  6. 1.      Ashadu                : Tangan kula kalih
  7. 2.      Lailaha                 : Badan kula sadaya
  8. 3.      Ilalahu                  : Nur cahya kula ingkang wening, jumeneng ing bathuk
  9. 4.      Wa’ashadu         : Suku kula karo
  10. 5.      Ana                        : Asmane Pangeran
  11. 6.      Muhamadar       : Sami kula alit
  12. 7.      Rasulaloh            : Rasa kula

Ing ngisor iki piwulang kanggo anyumurupi prabote uripe badan jasmani

  1. 1.      Anon                     tegese Senting Eling
  2. 2.      Non                       tegese rasane Eling
  3. 3.      Panon                   tegese pindhaning Eling
  4. 4.      Manon                 tegese kang ngudikake Eling

******************************************************************************

  1. 1.      Lintang Johar iku Puser
  2. 2.      Alah iku Badaningsun
  3. 3.      Mukamat iku cahyaningsun
  4. 4.      Rasul iku rasaningsun

******************************************************************************

  1. 1.      Iman tegese ngandel
  2. 2.      Tokit tegese Iradhat lan karsa
  3. 3.      Maripat tegese Waskitha
  4. 4.      Islam tegese Slamet

******************************************************************************

  1. 1.      Sa                           tegese sipat sawiji
  2. 2.      La                           tegese manungsa kang mardika
  3. 3.      Wat                       tegese Alah kang kuwasa

******************************************************************************

  1. 1.      Dat                         tegese ana
  2. 2.      Sipat                     tegese wujut
  3. 3.      Asma                    tegese sami
  4. 4.      Apengal               tegese panggawe
  5. 1.      Wujut iku wahana, wahana iku getih, mula getih iku wahanane roh
  6. 2.      Ngelmu iku makripat, mula makripat iku pangawasane roh
  7. 3.      Nur iku cahya, mula cahya iku dadi tandhane roh
  8. 4.      Suhuk iku sakadi, sakadi iku apan, mula sapan iku dadi tandhane roh.

******************************************************************************

  1. 1.      Margane pati kayata duk samadi, Gusti nunggal lawan kawula, wus ora ngalah ngalih panggon lan ora mangeran marang wujut.
  2. 2.      Sangune pati : Katresnanira marang Pangeran  bisane sampurna lahir tumekane bathin.
  3. 3.      Ketemune pati : Pasrah utawa Semendhe  kersane Pangeran
  4. 4.      Panggonane Pati: dumunung telu-telune manunggal urip kang nguripi Kang gawe urip. Urip tegese getih karo napas.Wiji saking tirta Kamandhanu kang nguripi Prabawane Trimurti, patemone Bumi, Geni, banyu, angin. Kang gawe urip Purbane Premana Jati, Kuawasane Hyang Sukma.

1. Pathine urip kang ana jagat cilik nami Tri Purusa, kayata :

  1. 1.      Sarining napas kawengku Kraton Wahyamaya ing Utek
  2. 2.      Sarinig Getih kawengku Kraton Daryamaya ing Jantung, jumeneng Mahnimahmaya
  3. 3.      Sarining Rasa kawengku Kraton Linggamaya ing Ati, jumeneng Sarimahmaya

2.Pathining urip kang ana ing jagat Gedhe nami Tri Karasa.

  1. 1.      Sarining Angin kawengku Kraton Wahyamaya, saka Prabawane Lintang
  2. 2.      Sarinig Banyu kawengku Kraton Daryamaya,saka Prabawane Rembulan
  3. 3.      Sarining Panas kawengku Kraton Linggamaya, saka Prabawane Srengenge
    1. 1.      Sarining Napas manusup gathuk karo sarining angin dadi obah-osiking kaelingan kita
    2. 2.      Sarining Getih manusup gathuk karo sarining banyu dadi obah-osiking pangrasa pancering urip kita
    3. 3.      Sarining rasa manusup gathuk karo sarining panas dadi obah-osiking angen-angen kita.
  • Mahdimahmaya kumara saking pambukaning eling madeg cipta sasmita swara
  • Mahdimahmaya kumara saking pambukaning pangrasa madeg cipta sasmita ganda.
  • Sahri mahmaya kumara saking pambukaning angen-angen madeg cipta sasmita rupa
    • Panarike  swara kamireng alam Tejamaya kaya pecahing Supana
    • Panarike ganda kamireng alam Tejamaya kaya pecahing Supana
    • Panarike Rupa kamireng alam Tejamaya kaya pecahing Supana

 

 

  1. 1.      Sajroning sirah iku utek, sajrone utek Wahyamaya ya Bintal Makjur ingkang dumunung ing Akasa. Alip muntaklimun wakip, telenging Alip muntaklim wakip, Dat kang amurwengrat, Telenging Dat kang amurwengrat Hyang Maha Kuwasa.
  2. 2.      Sajrone dhadha sak ngandhape susu kiwa iku ketek, ketek iku pamoking jantung, telenging Jantung Daryamaya, ya Bintal mukyat. Ingkang dumunung ana ing kono Alip mutabakin. Telenging Alip mutabakin sejatine kang Gesang datanpa wruh.
  3. 3.      Sajrone dhadha iku Ati, Sajrone Ati Linggamaya ya Nital Mukaram. Ingkang dumunung ana ing kono Angen-angen yaiku rasa, cipta, budi, karsa winastanan Pancadriya pinancaran pangrasa pancaring urip
  4. 4.      Sajrone perji, menawi Jaler Panta Purusa. Menawi Estri Pasti Kaba winastanan Nindyamaya, ya Bintal Mukadas. Ingkang dumunung ana ing kono iku Prana makarti kudhaning sang lulut, sengseme gegosokan, sengseme marindinging ilining mani saka telenging Prana Kekalih.

 

 

 

 

 

Petikan Babad Salatiga

PERJUANGAN PENGERAN SAMBERNYAWA

Peranan dan Politik VOC

Agar supaya kita dapat mengerti dan memberi nilai yang sewajarnya kepada perjuangan Pangeran Sambernyawa, sebaiknya kita mengerti terlebih dahulu sistem politik VOC ( Verenigde Oost Indische Compagnie ) ialah Perserikatan Dagang Bangsa Belanda yang beroperasi di Indonesia dalam abad ke 17 Masehi, sampai akhir abad ke 18.Bangsa Indonesia menyebut VOC itu dengan nama Kompeni Belanda atau “ Kompeni “ saja.

Adapun sistem politik Kompeni di Indonesia ( Jawa ) dapat dibagi menjadi 5 tingkatan, yaitu : Memperkenalkan diri, menghormat dan menghaturkan benda-benda berharga sebagai tanda hormat dan terima kasih kepada yang memegang kekuasaan : Jaman Sunan Amangkurat I di Mataram th. 1645 – 1677 Masehi.

Mencampuri urusan dalam negeri : jaman pemberontakan Trunojoyo th. 1676 – 1681 Masehi.

Mempraktekkan politik “ Memecah belah “ dan memperoleh monopoli perdagangan : Jaman Sunan Amangkurat II th. 1681 – 1703 Masehi.

Menguasi tanah Jawa sedikit demi sedikit : mulai wafatnya Sunan Amangkurat I sampai rebutan Keraton yang pertama ( th. 1704 – 1708 M ) dan perang rebutan Keraton yang kedua ( th. 1719 – 1723 M )

Menguasi tanah Jawa hampir penuh : Jaman Sunan Pakubuwono II samapi masa pembagian Kerajaan Mataram menjadi dua, th. 1755 dan berdirinya Kadipaten Mangkunegaran th. 1757 M.

Dalam tingkatan yang kelima tsb, maka semua kerajaan Nasional di Jawa sudah runtuh, daerah-daerahnya menjadi milik kompeni Belanda, dan raja-rajanya menjadi raja-raja peminjam atau Vazal-vazal kompeni Belanda belaka.

Dalam tingkatan kelima itu pula bertahtalah seorang raja setengah Vazal di kerajaan Mataram yang beribu kota Kartasura. Raja ini adalah pilihan kompeni Belanda atas dasar sifat-sifat lemahnya sang raja, yaitu Susuhunan Pakubuwono II bertahta pada th. 1727 – 1749 masehi.

Dalam pemerintahan Susuhunan Pakubuwono II ini muncullah 2 tokoh nasional yang gagah berani, kuat dan ulet lahir batinnya, mampu menggerakkan seluruh tanah Jawa dan Banten sampai Madura dan membuat pusing kepala kompeni Belanda selma 10 tahun, terus menerus , dua orang tokoh itu ialah :

Pangeran Mangkubumi, Putera Sinuwun Amangkurat IV di Kartasura, yang akhirnya menjadi Sultan Hamengkubuwono I di Yogyakarta.

Pengeran Mangkunegara, Sambernyawa, cucu Sinuwun Amangkurat IV di Kartasura.

Nasib buruk dimasa kecil Pangeran Sambernyawa

Pangeran Sambernyawa itu nama kecilnya R.M Sahid, putera Pangeran Mangkunegara Kendang. Ibunya bernama R. Ay. Wulan, puteri Pangeran Blitar.

Pangeran Mangkunegara Kendang itu putera Sinuwun Amangkurat IV di Kartasura yang sulung. Belio ini saudara sepupu R.Ay. wulan, Belio dilahirkan dari seorang garwa-selir Amangkurat IV bernama R. Ay. Sumanarsa atau R. Ay Kulo yang disebut R. Ay, Sepuh, berasal dari desa Keblokan, tanah lor ( Wanagiri ). Di dalam lingkungan Keraton Kartasura belio disebut Pangeran Mangkunagara Kendang, oleh karena belio dikendangkan yaitu diasingkan atau dibuang ke Kaapstad, Afrika Selatan, sampai wafatnya, kemudian jenazahnya dimakamkan di Astana Imagiri, Yogyakarta.

R.M Sahid lahir pada tanggal, 7 April 1726 di Kartasura. Nama Sahid itu pemberian dari neneknda Amangkurat IV, beberapa waktu sebelum wafat. Maksud pemberian nama Sahid itu ialah bahwa Sri Sunan masih menyaksikan lahirnyacucunda yang terakhir dalam masa hidupnya.

Dimasa kecilnya R. Sahid mengalami penderitaan hidup yang sangat berat. Ketika berusia 3 tahun, belio kehilangnya ibunya, karena pulang kerahmatullah. Tahun berikutnya belio ditinggalkan oleh ayahnya, karena sang ayah atas perintah Pakubuwuno II di Kartasura disingkirkan dari ibu kota kerajaan Mataram ke Betawi, dan 3 tahun kemudian “ Dikendangkan “ ke Kaaspstad seumur hidup. R.M Sahid dan beberapa adinya dibawa ke Keraton sebagai anak piatu, dan mendapat pendidikan, perlakuan dan pengalaman yang akibatnya menyudutkan belio kepada : prihatin dan sakit hati.

Setelah beliau mencapai usia remaja, diangkat sebagai pegawai keraton dengan pangkat Mantri Gandek Anom dengan sebutan dan nama R.M Suryakusuma dan diberi “ Gaduhan “ ( hak pakai ) sawah di Ngawen seluasa 50 jung ( =200 bahu ). Dua orang adiknya bernama R.M Ambiya dan R.M Sabar juga diangkat menjadi Mantri Gandek Anom berturut-turut dengan gelar dan nama : R.M Martakusuma dan R.M Wiryakusuma, masing-masing diberi gaduhan tanah seluas 100 bahu.

Mulai berjuang

Dengan meningkatnya usia dan kesadarannya, maka R.M suryakusuma ( Sahid ) merasakan nasibnya yang buruk menjadi berat. Perlakuan tidak adil dan sewenang-wenang yang dikenakan kepada ayahnya ( almarhum Pangeran Mangkunagara Kendang ) menggigit jantung pemuda R.M Suryakusuma. Akhirnya belio mengambil keputusan : mau berontak, menentang pemerintahan Pakubuwono II, untuk merebut bagian dari kerajaan Mataram bagi diri pribadi. Beliau mengambil dua orang pembantu utama yang merupakan bahu kiri dan kanannya, ialah : Wiradiwangsa, pamannya sendiri berassal dari Laroh. Sutawijaya, anak almarhum Tumenggung Wirasuta yang tidak dapat mengganti kedudukan ayahnya, tetapi menerima banyak uang dan harta benda peninggalan ayahnya.

Pemuda-pemuda Kartasura yang menggabungkan diri pada gerakan R.M Sahid, mula-mula ada 18 orang. Atas nasehat ki Wiradiwangsa, maka R.M Sahid beserta pembantu-pembantunya dan pemudapemuda pengikutnya berpindah ke Tanah Laroh, yaitu asal leluhur R.M sahid dari pihak neneknya bernama R. Ayu Sumanarsa. Disini belio mendapat simpati dari pihak rakyat sehingga dalam waktu yang tidak lama belio mempunyai pengikut banyak sekali. Segera diadakan peraturan secara organisasi perjuangan yang bai dan praktis, demikian : R.M Sahid menjadi pemimpin utama, Ki Wiradiwangsa diangkat menjadi pepatihnya, diberi gelar dan nama Kyai Ngabehi Kudanawarsa dan R.M Sutawijaya menjadi pemimpin pasukan tempur, diberi gelar dan nama Kyai Ngabehi Rangga Panambangan.

Pemuda-pemuda berasal dari Kartasura yang semula 18 orang banyaknya, kemudian bertambah menjadi 24 orang, merupakan barisan inti, disebut “ Punggawa “. Namanya digantisemua menjadi nama dengan permulaan : “ Jaya “ misalnya Jaya Panantang, Jaya Pamenang, Jaya Prawira dsb. “ Jaya “ artiny = sakti atau menang.

Tiap hari diadakan latihan perang, cara menyerang, menangkis dan membela diri. Tiap malam diadakan bermacam-macam latihan rohani misalnya : Menyepi ditempat-tempat yang gawat dan keramat, bertirakat, bertarak brata, mohon kepada Tuhan agar tercapai cita-citanya : ada pula yang merendam diri di sendang atau di dalam lubuk yang angker. Para pengikut R.M Sahid itu semua juga digembleng jiwa dan semangatnya dengan diberi wejangan-wejangan oleh para kyai antara lain oleh kyai Nuriman, modin di Laroh. Dengan demikian para pengikut R.M Sahid dalam waktu beberapa bulan saja sudah merupakan pasukan tempur yang digembleng jiwa raganya, sedang jumlahnya tidak sedikit. Mereka semua bersemangat tinggi, ingin selekas mungkin diajukan ke medan pertempuran. Dan kesempatan yang dinanti-natikan mereka itu segera datang juga, ialah dengan adanya : Geger Pacina.

Geger Pacina

Pada bulan juli 1742 M terjadilah peristiwa “ geger Pacina “ dikaraton Kartasura. Dalam waktu satu malam saja istana Kartasura sudah dapat direbut oleh pasukan Cina-Jawa dibawh pimpinan R.M Garendi, cucu Sunan Amangkurat Mas III yang telah diasingkan oleh kompeni Belanda ke pulai Sailan pada tahun 1708 M. R.M Garendi tersebut oleh para pengikutnya diangkat sebagai raja Mataram yang syah, dengan gelar dan nama Sunan Amangkurat IV.

Sunan Pakubuwono melarikan diri, mengungsi ke Ponorogo. Dari sini beliau minta bantuan kompeni di Jakarta. Bala bantuan segera datang dari Madura dibawah pimpinan P. Cakraningrat IV. Dalam bulan Desember 1742 Sunan Kuning, demikian nama julukan Sunan Amangkurat V, beserta semua pengikutnya diusir dari keraton Kartasura, lalu berpindah ke desa Randulawang, daerah Mataram.

Bergabung dengan Sunan Kuning.

RM. Said dengan seluruh pasukannya bergabung dengan Sunan Kuning untuk mempraktekkan kecakapannya berperang bahkan diangkat menjadi panglima tentara Sunan Kuning bahkan diberi gelar Panglima Prang Wadana (April 1743).”>Kala itu usia beliau 17 tahun.>

Pada sat Sunan Kuning dikecar tentara Kompeni dan terpaksa bergeser kedaerah Keduang – Ponorogo – Madiun – Caruban. R.Said mengikuti perjalanan Sunan Kuning lalu berpisah di Caruban kemudian Sunan Kuning bergerak ke Jawa Timur bergabung dengan keturunan Untung Suropati namun tak lama kemudian menyerah pada Kompeni dan berakhirlah geger pacinan tersebut.

Adapun P. Prang Wardana ternyata mempunyai cita-cita lain dari Caruban beliau menuju ke barat menuju daerah Sukowati dimana oleh masyarakat setempat dia diangkat sebagai pimpinan dengan gelar Pangeran Adipati Anom Amangkunegoro Senopati Ing Ngalogo Sudibianing Prang. Lalu bergerak terus ke Panambangan melalui Jati Rata, Mateseh dan Segawe. Namun disini beliau tidak kuat menghadapi serangan pasukan P. Mangkubumi atas perintah Paku Buwono II yang telah bertahta di Kartasura.

Dalam babat giyanti (Pujangga Yasadipura I), ketika RM. Sahid menobatkan diri sebagai raja Jawa dengan gelar Sunan Adiprakosa Senopati Ngayuda Lelana Jayamisesa Prawira Adiningrat, serta duduk disinggasana dan dihadapan bala tentaranya tersambar petir dan terkena dampar tahtanya hingga remuk beliau jatuh pingsan diatas lantai namun tidak wafat hal ini tidak masuk akal jikalau ada seorang duduk diatas kursi lalu disambar petir seharusnya beliau pun ikut hancur. Dalam peristiwa tersebut Kyai Tumenggung Kuda Nawarsa segera menolongnya dan menunjukkan mengapa ini bisa terjadi, yaitu : kesombongan beliau atas pemberian gelar raja Jawa yang sebetulnya belum selayaknya disandang dengan kenyataan inilah dia berganti gelar Pangeran Arya Mangkunegoro (1746).

Kejadian tersebut disusul dengan peristiwa dimana markas besarnya di Panembangan diserbu dan diduduki Kompeni yang dipimpin Mayor Van Hohendorff serta patih Pringgolaya dari Paku Buwono II bahkan begeser ke Ngepringan – Pideksa – Tirtamaya – Keduang – Girimarta – Nggabayan – Druju – Matesih – hingga sampai didesa padepokan Samakaton bahkan waktu di daerah Ngepringan sang pangeran hampir terbunuh bahkan sempat berpisah dari keluarga dan pasukannya mendaki bukit dan turun gunung bersama Kyai Kuda Nawarsa dan Kyai Surawijaya. Di Pedepokan Samakaton tinggal 2 pertapa kakak beradik namanya Ki Ajar Adisana dan Ki Ajar Adirasa. Beliau berguru pada keduanya dan diberi wejangan yang intinya  :

Kyai guru tersebut menunjuk kesalahan Pangeran Mangkubumi atas kesombongannya

Kedua beliau mendapat hukuman dai Ilahi

Beliau harus bertobat secara mendalam

Beliau hendaknya mencontoh Panembahan Senopati Ing Ngelogo Mataram dan pada Pamannya Pangeran Mangkubumi

Beliau diuji menjalankan laku – dan bertapa selam 7 hari-malam tanpa makan dan minum seorang diri di Gunung Mangadeg.

Menurut Babat Giyanti dalam pertapaannya terjadi sesuatu keajaiban yaitu mendapat pusaka secara gaib berupa satu tombak vaandel yang bernama Kyai Buda dan satu kerangka tambur bernama Kyai Slamet yang menunjukkan simbol kejayaan.

Dibagian lain Pujangga Yasadipura I memaknakan fenomena di Samakaton ini dengan mengkiaskan maksud pendidikan moral – mental yaitu :

1. satu Samakaton 2. Adisana 3. Adirasa 4. Mangadeg 5. Vaandel(tombak) 6. Kerangka tambur, artinya adalah :

Samakaton artinya kesemua hal dapat terlihat apabila manusia mau datang menyepi ditempat yang indah, yaitu

Adisana artinya tempat yang indah, apabila manusia berani laku menyepi di tempat yang indah itu akan mendapatkan rasa ynag indah pula yang akhirnya menimbulkan kemurnian dihati nuraninya

3.      Adirasa artinya rasa yang indah.

Dalam hal 1, 2, 3 tersebut diatas kenyataannya apabila manusia sanggup berdiri (mangadeg – mendirikan Imannya) kepada Yang Maha Kuasa seperti tegaknya vaandel tersebut.

Tombak atau Vaandel simbol kejayaan apabila ditambahkan dengan rasa suci, sunyi, kosong, kang Hamengku Hana (ada) yang dinisbatkan dengan :

Kerangka tambur diguning Mangadeg tersebut.

Setelah mendapatkan ilafat baik tersebut beliau menuju ke markas besar pamannya  (Pangeran Mangkubumi dai Jekawal – Sragen Utara ) untuk menggabungkan diri dan memohon perlindungan pamannya walaupun dalam perjalannya menemui banyak kesukaran karena ada pengumuman dari kompeni yang apabila dapat menangkapnya hidup atau mati akan mendapat hadiah pangkat dan uang. Dikisahkan dalam pertemuan dengan pamannya tersebut beliau diterima baik oleh pamannya bahkan diberikan bantuan seperangkat senjata dan prajurit untuk kembali kemarkasnya di daerah Gumantar.

Pangeran mangkubumi adalah adik Paku Buwana II yang berlainan ibu yang pada saat itu memenuhi seruan Paku Buwono II untuk membasmi peberontakan RM. Sahid dan Martapura. Untuk sementara Pangeran Mangkubumi berhasil meredam pemberontakan walaupun harus meloloskan RM. Sahid. Hal ini menimbullkan konflik dari dalam dimana  PB II yang tadinya menjanjikan tanah Sukowati bagi yang dapat menangkap RM. Sahid akhirnya mengingkari janjinya karena kelicikan Patihnya sendiri yaitu Pringgolaya. Dikarenakan sebab ini Mangkubumi pada 19 Mei 1746 meninggalkan karaton Surakarta dan memberontak yang pada akhirnya mendirikan kerajaan diYogykarta dan menjadi Sultan Hamengku Buwono I.

Demikian riwayat singkat Rm. Sahid yang kemudian dikenal dengan nama Adipati mangkunegoro I atau Pangeran Samber Nyawa beliau memegang tampuk pimpinan Kadipaten Mangkunegaran mulai tahun 1757 sampai wafatnya 1795 jenasahnya dimakamkan di Mangadeg dan berdirinya Kadipaten Mangkunegaran ini diperingati dengan sangkalan : MULAT SARIRA NGRASA WANI = berarti tahun Jawa 1682, bersamaan dengan tahun Masehi 1757. Nama julukan Pangeran Adipati Mangkunegara I ialah Sambernyawa. Nama yang terakhir ini adalah nama Pedang pusaka Mangkunagaran, yang sangat ampuh dan tajam, tepat sekali untuk menyambar nyawa musuh.