Pandangan ” Jaman Edan ” dari Centhini sampai Lagu Modern

JAMAN EDAN

Sebuah pandangan jaman yang dikemukakan oleh sastrawan dari jaman ke jaman. Efek menjadi sumber inspirasi dan menginspirasi karya lain memang sering terjadi di dalam penulisan naskah-naskah Jawa.

Seperti “samita Jaman Edan” atau “jangka Jaman” yang sering dibahas di kalangan masyarakat Jawa baik akademisi maupun masyarakat umum. Barangkali pemaknaan sasmita jaman edan palin populer adalah Karya Raden Ngabehi Ranggawarsita, dalam serat Kalatidha.

// Amenangi jaman edan, ewuh aya ing pambudi…
… Ndilalah karsa Allah,Begja-begjane kang lali
Luwih begja kang eling lawan waspada//

Sepenggal bait itu memang luar biasa maknannya, memenangkan jaman edan juga harus menggunakan akal budi. Dimana ketika keluhuran itu dijunjung maka kebaikanlah yang akan di dapat.

Ada beberapa naskah yang berbicara hal serupa, apakah memang saling mempengaruhi atau memang kesalahan penyalinan atau memang sebuah kratifitas. Berikut adalah Transformasi Teks sasmita jaman edan dari jaman ke Jaman.

 

Tahun 1814 Masehi.
dalam Serat Centhini karya Sinuwun Paku Buwono V
Pupuh 257 [tembang Pocung], bait 41-43

41. Nawung kridha kang mênangi jaman gêmblung / iya jaman edan / ewuh aya ing pambudi / yèn mèluwa edan yêkti nora tahan //

42. Yèn tan mèlu anglakoni wus tartamtu / boya kadumanan / melik kalling donya iki / satêmahe kalirên wêkasanira //

43. Wus dilalah karsane kang Among tuwuh / kang lali kabêgjan / ananging sayêktinèki / luwih bêgja kang eling lawan waspada //

Transleterasi :

[ Sikap orang yang akan memenangkan Jaman Edan, serba sulit dan merepotkan kalu mau ikut ‘arus’ tak sampai hati , kalau ikut menjadi ‘gila’ tidak tahan, apabila tidak ikut-ikutan ‘gila’ pastinya akan iri dengan kekayaan orang lain hingga akhirnya kelaparan, Sudah menjadi kodrat yang “ Maha Pelindung” , para ‘pelupa’ tentu mendapat keberuntungan, tapi lebih beruntung yang takwa dan waspada ]

 

 Tahun 1860 Masehi,

Serat Kalatidha karya Raden Ngabehi Ranggawarsita

Pupuh I [tembang Sinom] , bait 7

 

//Amenangi jaman edan/

Ewuh aya ing pambudi/

Milu edan nora tahan/

Yen tan milu anglakoni/

Boya kaduman melik/

Kaliren wekasanipun/

Ndilalah karsa Allah/

Begja-begjane kang lali/

Luwih begja kang eling lawan waspada//

 

Transleterasi :

[ memenangkan Jaman edan, Serba canggung dalam berpikir, Ikut ‘Gila’ tidak tahan, Kalau tidak ikut, tidak kebagian akhirnya ingin dan iri, kelaparan pada akhirnya, Sudah kodrat Allah, seberuntungnya yang lupa, lebih beruntung orang yang takwa dan waspada]

 

Tahun 1900 Masehi,

Serat Kalabrastha karya ki Mangun Atmaja, [tembang sinom]

//Kapungkure jaman edan/

nora ewuh ing pambudi/

edana mangsa tahana/

mitenah bangsa pribadi/

nadyan darbeni melik/

kawarana nora keguh/

dilalah kersa allah/

begjane ingkang kawuri/

amenangi waluyane tanah jawa//

 

Transleterasi :

[ Di masa akhir Jaman Edan, sudah tidak ada rasa canggung lagi, walaupun ‘gila’ tetapi tetap bertahan, memfitnah bangsa sendiri, walaupun mempunyai rasa keinginan akan barang orang lain, tetapi tetap teguh pada pendirian (buruk), sudah seperti kodrati, beruntunglah orang yang ‘terbelakang’ budi pekertinya, karena yang demikian akan menjadi orang kaya di tanah Jawa]

 

Era kemerdekaan, 1990, anonim, [tembang Sinom]

//amenang ing jaman edan/
ewuh apa ing pambudi/
melu edan saya tahan/
yen tan melu anglakoni/
baya keduman ‘melik’
(sisik melik)/
kamukten wekasanipun/
delalah kersane Allah begja-begjane kang lali/
luwih begja wong ngedan ora konangan//

 

Transleterasi :

[ menang di jaman edan, buat apa memakai budi pakarti, ikut ‘gila’ semakin tahan, kalau tak ikut melakukan, buaya (simbol penguasa yang rakus) yang kebagian informasi untuk merampas hak rakyat, kaya raya pada akhirnya, sudah menjadi kodrat Allah seberuntungnya orang yang lupa, lebih beruntung orang yang ‘menggila’ tidak ketahuan]

 

Tahun 2001 Masehi,

Album “Pada Suatu Ketika” Lagu Jaman Edan, oleh Sujiwo tejo.

Jamane, mas, Jaman edan

Edan tenan Jaman semana

Semune katon katingal kawistara

Jan-jane Jaman padudon

 

Jamane, mas, Jaman padudon

Padha  dene Jaman banjure

Banjir tangis banjir bandhang kang sinandang

Jamane, Jaman, wis Jamane

 

Heh manungsa padha sadulur

Padha sadulur ja pada tawur

Tarlen amung amemuji dha sing padha rukun

Rumeksa paseduluran tumrap ing bebrayan

Ja’ ngono aja ngono

Pokoknya tidak ngono lho

 

Transleterasi :

[ Zamannya mas, zaman ‘gila’, ‘gila’ benar masa itu, semuanya terlihat baik-baik saja, tetapi sebenarnya masa itu adalah masa peperangan.

Heh manusia sesama saudara, jangan pada tawur, semakin mangharap hiduplah yang rukun, menjaga persaudaraan dalam kehidupan bermasyarakat, janganlah begitu.

Zamannya jaman perkelahian, sama juga masa berikutnya, banjir tangis, banjir bandang yang melingkupi ,zamannya memang sudah ada pada zaman itu sendiri.]

Dari jaman ke jaman, sasmita Jaman Edan berkembang seiring perkembangan sosiografi dan animo masyarakat di jamannya masing-masing. Kerasnya jaman memang menjadi sebab lahirnya kritik pedas dan tegas dari masyarakat melalui karya sastra. Arah demokrasi kerakyatan yang berkembang dari jaman kerajaan hingga Jaman Kemerdekaan sampai jaman Demokrasi. Mari peka memaknai sasmita Jaman Edan.rdr

 

 

Ktw. Mijil Wigaringtyas [epik garwa ampil]

“Teja tirta atmaja nata rahwana. Suteng indra prajane sri bumantara. Sun watara lamun sira darbe tresna.

Kawistiwa gones wicarane kawistiwa kawu ana tilik sumarah nyang hyang Suksma.”

“Dhuh biyung emban, wayah apa iki?
Rembulan wus ngayom,
anggegana prang abyor lintangé.
Titi sonya, puspita kasilir, 
maruta wis kingis, sumrik gandanya rum.”


“Kados Gusti, sampun tengah ratri,
pangintening batos.”
“Iya kok durung rawuh mréné,
Gusti kakung, ratuné wong sigit.
Apa cidrèng janji, dora mring wak ingsun.”


[dhuh emban, sekarang sudah pukul berapa?,

rembulan sudah bersinar dengan terang  benderang mengayomi bumi,
Bintang-bintang beterbangan dan menyebar diangkasa,
Saat  sepi terasa bunga-bunga yang tersapu angin, harum aromanya.]

[Sepertinya sudah tengah malam, Gusti Putri]

[tetapi Kanda Prabu belum juga datang, padahal Gusti Kakung itu raja yang berbudi bawalaksana,
Apakah akan mengingkari janjiku? berbohong padaku?] 

Siti Jenar – ism

Ajaran Mistik Seh Siti Jenar

Mistisme adalah dunia kebatinan yang sifatnya sangat personal dalam kaitannya dengan kebutuhan ketenangan secara psikologis dan spiritual

Mistisme adalah pergulatan diri mencari cahaya, petunjuk, jalan dan upaya untuk menyatu dengan Tuhan. Mistisme merupakan jalan membuka alam ghaib, yang tidak setiap orang mampu menempuhnya.

Ajaran-ajaran Seh Siti Jenar banyak diikuti oleh para raja-raja Jawa. Dimulai oleh Sultan Hadiwijaya atau bernama Jaka Tingkir adalah seorang raja di kerajaan Pajang.

Jaka Tingkir.

Andayaningrat Adipati Pengging memiliki 2 orang putra bernama Kebo Kanigara dan Kebo Kenanga. Kebo Kenanga masuk Islam bergelar Ki Ageng Pengging dan memiliki seorang putra bernama Bagus Krebet (Jaka Tingkir).

Prabu Brawijaya terakhir dari Majapahit memiliki 100 orang putra dan putri. Putri ketiga berasal dari permaisuri Ratu Andwarawati (Putri dari Campa) bernama Retna Pambayun yang menikah dengan Andayaningrat adipati Pengging. Setelah menikah, ratu pambayun bergelar Ratu Ayu Andayaningrat memiliki 2 orang putra bernama Kebo Kanigara dan Kebo Kenanga.

Jaka Tingkir mengabdi kepada Sultan Bintara di kerajaan Demak lalu diambil menantu dan diberi daerah kekuasaan di Pajang. Jaka Tingkir (Krebet) kemudian menjadi raja Pajang bergelar Prabu Wijaya atau dikenal dengan Sultan Hadiwijaya.

Sultan Hadiwijaya memiliki putra bernama Raden Banawa, namun Raden Banawa tidak mendapat wahyu karaton. Wahyu kraton berpindah ke Mataram dan yang bertahta di Mataram adalah Panembahan Senapati. Raden Benawa menjadi adipati di Pajang, memiliki putri bernama Dyah Banowati. Dyah Banowati menikah dengan Amangkurat Nyakrawati (Sinuhun Seda Krapyak). Dyah Banowati bergelar Permaisuri Ratu Adi dan memiliki putra bernama Sultan Agung.

Prabu Brawijaya memiliki istri dari negeri Cina. Pada saat istrinya mengandung 3 bulan, diterimakan kepada anaknya bernama Arya Damar (adipati Palembang). Putra Prabu Brawijaya dengan putri Cina tersebut bernama Raden Patah atau Raden Yusuf, atau Raden Kasan atau Raden Praba. Arya Damar dengan putri Cina memiliki putra laki-laki bernama Raden Kusen.

Setelah dewasa keduanya (Kasan-Kusen) pergi ke Jawa mengabdi kepada Sunan Ngampel Surengkewuh. Raden Kasan (Raden Patah) tidak menuju Majapait tetapi berhenti di Ngampelgadhing. Raden Kusen mengabdi pada raja Majapait dan menjadi bupati di daerah Terung.

Raden Patah diambil menantu Sunan Ngampel, dinikahkan dengan putrinya bernama Ratu Jumanten (Ratu Panggung). Raden Patah berniat mencari dan membuka daerah baru. Sunan Ngampel menyarankan agar Raden Patah pergi ke barat sampai menemukan daerah yang ada tanaman glagah berbau harum. Daerah tersebut ditemukan di hutan Bintara. Di daerah inilah Raden Patah mendirikan daerah baru yang berkembang menjadi kerajaan bernama Demak. Ia mengangkat dirinya menjadi raja bergelar Sultan Jimbun atau Sultan Syah Alam Akbar I.

Sultan Jimbun memiliki anak laki-laki bernama Pangeran Sabrang Lor (meninggal) dan Raden Trenggana. Raden Trenggana menikah dengan putri Sunan Kalijaga dan menggantikan ayahnya bertahta di Demak. Putrinya bernama Dyah Banar dinikahkan dengan Sultan Hadiwijaya berputra Raden Banawa yang kelak menurunkan Sultan Agung.

Munculnya jenis sastra sufi dapat memperkaya khazanah du­nia kesusasteraan. Kesusasteraan jenis ini muncul sebagai mani­festasi adanya kesadaran bahwa penghayatan terhadap kehidupan kerohanian perlu dilakukan. Kesadaran akan pentingnya pengha­yatan kehidupan kerohanian itu ada yang diwujudkan dalam ben­tuk sastra keagamaan dan ada pula yang diwujudkan dalam bentuk yang lebih khusus yaitu sastra sufi dan atau sastra mistik.

Karya sastra suluk merupakan salah satu diantara karangan-karangan berisi ajaran keagamaan. Karya sastra suluk merupakan karya sastra yang diciptakan dalam rangka fungsi pendidikan dan pengajaran.

Istilah suluk dapat diartikan semacam laku, tatacara, kewajiban yang harus dilakukan seseorang yang disebut sebagai ahlus suluk. Karya sastra suluk merupakan jenis puisi jawa yang berisi ajaran-ajaran bercorak sufistik atau mistik Islam

Menurut Bratakesawa dalam bukunya Falsafah Siti Djenar (1954) dan buku Wejangan Wali Sanga himpunan Wirjapanitra, dikatakan bahwa saat Sunan Bonang memberi pelajaran iktikad kepada Sunan Kalijaga di tengah perahu yang saat bocor ditambal dengan lumpur yang dihuni cacing lembut, ternyata si cacing mampu dan ikut berbicara sehingga ia disabda Sunan Bonang menjadi manusia, diberi nama Seh Sitijenar dan diangkat derajatnya sebagai Wali.

                Seh Lemahbang atau Lemah Abang,

 Seh Sitibang,

Seh Sitibrit atau Siti Abrit,

 Hasan Ali Ansar,dan

 Sidi Jinnar.

Dicritakake ana wali ambêg ‘duwe watak nganggêp dhèwèke paling’ dhuwur,  biyèn asale cacing bangsa sudra ‘papa/ngisoran’, olèh pêpadhang ati ketok, diparingi ngêrti dening Allah lan wêruh, Sunan Benang sing miwiti, nalika mènèhi pitutur bab tekad, mulang muruk mènèhi ngèlmu, marang Jêng Sunan Kalijaga, nèng têngahing rawa numpak pêrahu endah, Siti Bang olèh têrang.

                Mula mêngko atine kêpengin mujudake, entuk wahyu jabariah, kadariyah maksud atine, nganggêp palênggahane Allah, pikiran eling dianggêp Gusti, Pangerane manungsa, sipate rongpuluh, wujud ‘ana’ kidam ‘langgêng’ lan baka ‘langgêng’, mukalapatuhu lil kawadis ‘beda karo makhluk’ nyulayani, kadadeane barang anyar.

                Kodrat ‘takdir’ iradat ‘karêp’ dadine ngèlmu, kayat ‘urip’ samak ‘mendengar’   basar ‘melihat’ lan kadiran ‘umuk’, muridan ngaliman akèhe, rongpuluh cacahe diikêt, kêlèt ing bumi lan langgêng, têgêse wujud mutlak, dadi dat arane, ora mula lan ora akhir, ora ana asale lan ora ana sing arêp diparani ngenalyakin, ing tekad sipat Allah.

                Sèh Siti Bang nganggêp Hyang Widi, wujud ora kaya sing katon mata, sarupa kaya dhèwèke, sipat-sipat mlêbu, ananging wujude blêgêr ora katon, warnane ora beda, mulus alus jêjêg, kang nyata ora wujud dora ‘ngapusi’, kaya kidam dhisik dhewe jumênêng ora kari, saka pribadine.

                Basa baka langgêng tanpa sêla, nora cêdhak lara kêpenak, jumênêng nèng kana kene, ora ika ora iku, mukalapatuhu lil kawadis ‘beda karo mahkluk’, rupane beda, lan kabèh wujud, barang anyar ketok nèng donya, nyulayani sipat kaanan manusa, sajrone bumi langit.

                Têmbung kodrat kapasang dhewe, ora ana kang mirip utawa madhani, tur wong bodho ora nganggo piranti, ngadam têkane wujud, jaba jêro sebak dadi siji, iradat têgêse, pengin ora ngrêmbug, ngèlmu kawruh kaanan, sing pisah saka panca indêra adoh, ngungkuli mimis bêdhil.

                Kayat urip srana dhèwèke, tansah mènèhi uripe dhewe, uripe ora nganggo roh, ora mèlu lara ngêlu, ilang bungah susah, ngadêg nèng sakarêpe, ya iku kayat kayun, Siti Jênar ngêrti, bênêr wêruh pintêr, manungsa unggul, mula kuwi ngaku Pangeran.

                Salat limang wêktu muji lan dikir, prastawa kabèh pribadi, bênêr luput tampa dhewe, bangêt têmtu, badan alus sing ngrusak kêkarêpan, ngêndi ana Hyang Suksma, kêjaba mung aku, ngubêngi donya langit, dhuwur langit sing ping pitu jêro bumi ora kêtêmu, wujude dat sing mulya.

                Ngêndi-êndi kabèh sêpi, ngalor ngidul ngulon ngetan têngah, kana-kana mung nèng kene, kene wujudku dudu, ananging jêroku sêpi sunyi, isi daging jêroan, rêrêgêd jêroku, dudu jantung dudu utêk, aku sing pisah kaya uculing panah, Mêkah Mêdinah têkan.

                Dudu budi angên-angêne ati, lan eling pikir lan niyat, hawa barat napas dene, suwung lan sêpi dudu, perangan badan kawadis ‘beda karo mahkluk’, ora têmtu dadi gustika, bosok campur blêdug, napasku ngubêngi bumi, gêni banyu angin mulih asli, ya iku anyar kabèh.

                Bali aku dat kang mlêbu Widi, Pangeranku sipat jalal-kamal, ora karsa salat dhewe, ora kêpengin ndhawuhi, mangka wong salat pathokane pikiran budi lanat musibat, ora kêna kagugu, salin-salin parentahe, mencla-mencle dak tênani ora dadi, tansah ngajak ala.

                Jroning salat budiku maling, jroning dikir pikiran kianat, kadhang melik amal akèh, seje dhatul guyubu, aku iki kang Maha Sukci, dat maolana nyata, sing layu kayafu, tur ora kinaya ngapa, mula Siti Jênar budi mlêbu Widi, ngrusak agama rasul.

                Ora nggugu prentahe si budi/pikiran, jêngkang-jêngking nèng mêsjid ting krêmbyah, ganjarane besuk, yèn katarima ing laku, sêjatine ora kêtêmu, nèng donya bae padha, susah padha mikul, lara sangsara ora beda, mula Siti Jênar mung ngantêpi siji, Gusti dat Maolana.

                Ya iku sing dianggêp Hyang Widi, Sèh Siti Bang kêpengin, kêpengin nyêdhak nglakoni dhawuhe, tekad jabariyah, kadariyah lair, madhêp mantêp tur mantêp, kuwat ing pangaku, kêncêng, angantêpi urip têkan layu yakin, ora mangeran pikiran lan angên-angên.

                Budi pikir angên-angên eling, tunggal wujud ngakal kênèng edan, susah bingung lali sare, budi akèh ora jujur, sabên bêngi mangayu/ngopèni drêngki, supaya dhèwèke sênêng, rusake liyan sokur, srèi iri akire nyêdhak kajahatan, tur tansah umuk akire tiba ing nistha/èlèk, ngalani badan/sarira dhewe.

                Gêtun yèn wis tiba ing awake dhewe, seje dat wajibul mulyane rat, mulyane pikiran kabèh, badan manusa mung, ana wujud kêpengin sawiji, iku bae ora bisa, nglakoni sadhawuh, loro manèh kuwasa, lah ta êndi pisahe Dat karo pikiran/angên-angên, supaya manusa nrima.

Aja manèh rupane Hyang Widi, malaekat bae durung wêruh, nadyan malaekat kang copot, kowe iku durung wêruh, mung bingungmu dhewe kopikir, ngupaya Gusti Allah, ora bisa kêtêmu, kana-kene ora ana, kene dudu têmah budimu koèsthi, angên-angên Pangeran

kula sampun kaping-kaping, suwita diwêjang dening wali mukmin, diwêruhake marang Mukamad Rasul, Allah Pangeranku, ngandikanipun Rasul marang aku malah bingung, kodhêng mirang-miring ngawag, ngawur pêpathokan sêpi.

ngèlmu Arab dados Buda, Buda mukir pamèt waton Jêng Nabi, tapa mati raga ngluyur, mubêng ngiras papriman, lamun kawruh Arab sirna tapanipun, kêjawi wulan Ramêlan, cêgah bukti botên purun.

nanging wali maksih bodho, tandhane asring dhatêng sêpi (nyêpi), guwa-guwa kayu watu, gunung alas sêgara, kêrêp dilêboni ngiras laku, pamrih kêtêmu Hyang Suksma, yaiku wong kang dibalênggu Ijajil.

caritane para ambiya, botên wontên kang nyuda mangan mutih, tapa mêlèk cêgah turu, puniku ora ditindakake, kajawi wong Buda badane winasuh lah sumangga kagaliha, pamancas kawula misil.

Sajêg jumblêg aku durung wêruh, manungsa mati dadi asu, mung akale santri ngapusi, ragane dhewe sampurna, mring akerat gawa bathang, angên-angêne kêpengin mênyang sawarga agung, nêmu barang kanikmatan.

Lumrah bangêt santri nistha/ rêgêd, ina/nistha carane mati, dianggo mulang marang muride, kang kranjingan nganti edan, ngarêp-arêp sawarga, êndi nyatane sawarga agung, yèn santri sêmaya besuk(jawabe mêsthi besuk).

Sajêg jumblêg aku durung wêruh, manungsa mati dadi asu, mung akale santri ngapusi, ragane dhewe sampurna, mring akerat gawa bathang, angên-angêne kêpengin mênyang sawarga agung, nêmu barang kanikmatan.

Lumrah bangêt santri nistha/ rêgêd, ina/nistha carane mati, dianggo mulang marang muride, kang kranjingan nganti edan, ngarêp-arêp sawarga, êndi nyatane sawarga agung, yèn santri sêmaya besuk(jawabe mêsthi besuk).

Sajêg jumblêg aku durung wêruh, manungsa mati dadi asu, mung akale santri ngapusi, ragane dhewe sampurna, mring akerat gawa bathang, angên-angêne kêpengin mênyang sawarga agung, nêmu barang kanikmatan.

Lumrah bangêt santri nistha/ rêgêd, ina/nistha carane mati, dianggo mulang marang muride, kang kranjingan nganti edan, ngarêp-arêp sawarga, êndi nyatane sawarga agung, yèn santri sêmaya besuk(jawabe mêsthi besuk).

Menurut Sulendraningrat dalam bukunya Sejarah Cirebon (1985) dijelaskan bahwa Syeh Lemahabang berasal dari Bagdad beraliran Syi’ah Muntadar yang menetap di Pengging Jawa Tengah dan mengajarkan agama kepada Ki Ageng Pengging (Kebokenongo) dan masyarakat, yang karena alirannya ditentang para Wali di Jawa maka ia dihukum mati oleh Sunan Kudus di Masjid Sang Cipta Rasa (Masjid Agung Cirebon) pada tahun 1506 Masehi dengan Keris Kaki Kantanaga milik Sunan Gunung Jati dan dimakamkan di Anggaraksa/Graksan/Cirebon

Sèh Siti Djenar sering dikenang dari kumandang wejangannya : manunggaling kawula gusti. Dalam pandangan siti jenar, tuhan bersemayam dalam dirinya. Karena “ kawula” dan “Gusti” telah menyatu, seseorang tidak perlu lagi melaksanakan Shalat. Siti Jenar tidak mau mengerjakan shalat karena kehendaknya sendiri. (Muhammad dan Rahman, 2001). Menurut Siti Jenar, pada waktu seseorang mengerjakan shalat budinya bisa mencuri. Ketika sedang berdzikir, bisa jadi budinya melepaskan hati, dan menaruh hati kepada seseorang, bahkan terkadang memikirkan dan mengharap kepada dunia.

Menurut Abdul Munir Mulkhan (1999) , Sèh Siti Djenar punya kedudukan yang sama dengan para Wali. Siti Jenar telah tiada 500 tahun yang lalu. Ia diadili oleh Wali Sanga.

Sebagian riwayat mengatakan ia dieksekusi di Masjid Demak Jawa Tengah tapi versi lain menyebutkan, Siti Jenar dieksekusi di masjid Agung Kasepuhan Cirebon Jawa Barat. Menurut versi ini Siti Jenar dimakamkan di Kemlaten, Cirebon. Makam itu berada ditengah pemakaman umum, didalam bangunan sederhana dan gelap seluas 5×5 m. makam Siti Jenar berada di tengah, diapit oleh makam dua muridnya, Pangeran Jagabayan disebelah kanan dan Pangeran Kejaksan disebelah kiri

Dari versi Cirebon Sèh Siti Djenar di adili oleh Dewan Wali di Masjid Agung Sang Ciptarasa. Dimana saat itu terjadi dialog antara para Wali dan Syech Siti Djenar. Siti Djenar berubah-ubah wujud pada akhirnya berubah menjadi bunga Melati yang sangat harum baunya dan akhirnya bunga tersebut di makamkan di daerah selatan Cirebon sehingga daerah tersebut di sebut Kemlaten. Tapi ada juga yang mengatakan bahwa Dewan Wali menggantinya dengan bangkai anjing supaya masayarakat pada saat itu meyakini kebenaran ajaran Wali sanga

Banyak sekali versi yang menulis riwayat Syekh Siti Djenar ini yang tentunya kita harus lebih arif menyikapi siapa sebenarnya Syekh Siti Djenar dan apa yang beliau ajarkan pada masyarakat awam saat itu. Karena selama ini masih terjadi simpang siur kebenarannya. Karena kalau memang terjadi persidangan dan hukum pancung pada saat itu kenapa juga sejarah tidak mencatat jelas kapan, dimana, apa yang terjadi saat itu

Sastra mistik atau tasawuf adalah salah satu karakteristik dalam sastra Persia. Di Iran tasawuf tumbuh subur pada abad 10 M yang nampak awal dalam karya Abu Hasal Alkharqani dan Ba Yazid al Busthami, akan tetapi tasawuf dalam bentuk puisi dan syair mulai berkembang dan disempurnakan pada abad 11 oleh penyair Abu Said Aba al Khair di kota Khurasan, propinsi bagian timur laut Iran sekarang. Sastra mistik ini kemudian berkembang pesat melalui tangan penyair-penyair Persia selanjutnya seperti Sanai, Attar dan Jalaluddin Rumi yang mengantarkan sastra mistik Persia ke puncaknya.

Di Indonesia sendiri sastra mistik baru dikenal pada abad 16, yang oleh Abdul Hadi disebutkan bahwa sastra tasawuf di Indonesia dikenalkan oleh para penyair melayu seperti Hamzah Fansuri yang hidup di pertengahan abad 16 sampai awal abad 17 dan oleh beberapa orang muridnya seperti Abdul Jamal, Abdurrahman Singkel dan Samsuddin Pasai. Karya-karya mereka seperti yang disimpulkan oleh para ilmuwan banyak sekali pengaruh dari sastra mistik Persia.

Di dalam sastra tasawuf ada dua hal penting yang selalu dibicarakan pertama adalah nasehat dan kedua adalah cinta. Nasehat dalam menjalani hidup dan tahapan dalam menggapai cinta sejati, cinta sejati adalah cinta makhluk kepada khaliq. Manusia tercipta karena cinta tuhan kepadanya yang ingin selalu disembah, inilah hakikat penciptaan yang berarti cinta dan wujud ini pula yang ada di setiap yang bernyawa dan memiliki naluri kasih sayang. Kembali ke topik tulisan yang ingin mencari keterkaitan antara Syeik Siti Jenar di Indonesia dan Al Hallaj di Iran dengan pendekatan sastra mistik.

Walaupun jaraknya berabad-abad antara keduanya, tetapi pengaruh al Hallaj sampai juga ke nusantara hingga menoreh sejarah dalam penyebaran Islam di Indonesia khusunya di pulau Jawa. Al hallaj adalah salah satu khazanah dalam sastra mistik di Iran sedangkan Siti Jenar juga memperkaya pengetahuan kita tentang sastra mistik.

 

JAVANESE RELIGION

Religi Jawa

Hampir semua orang Jawa memeluk agama Islam 99%. Sisanya memeluk agama Kristen, Katolik, Hindhu, Budha dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Agama Islam di Jawa ada 2 varian:

1. Agama Islam yang tercampur dengan unsur-unsur keagamaan Hindu, Budha, serta unsur-unsur keagamaan daerah setempat yang oleh orang Jawa disebut agama Jawi atau Abangan.
2. Agama Islam yang lebih bersifat dogmatik dan puritan yang disebut dengan istilah Islam Santri atau Putihan.  Religi di Jawa mengalami beberapa perkembangan sejarah yang sangat unik.
Di bawah ini akan diuraikan sejarah perkembangannya.

                1. Religi orang Jawa pada zaman dahulu didasarkan pada cara-cara memuja nenek moyang yang sesuai dengan keadaan setempat, kepercayaan akan adanya ruh (Animisme ) serta kekuatan sakti dalam gejala-gejala alam dan benda-benda keramat yang ada di sekeliling tempat tinggalnya (Dinamisme).

2. Agama Hindu diperkirakan datang ke pulau Jawa dalam abad ke 4, dari India Selatan melalui jalur-jalur perdagangan. Tetapi sisa-sisa tertua dari peradaban Hindu-Jawa yang gemilang berasal dari abad 8 M. Dalam jaman itu berkembang pula agama Budha-Jawa. Peninggalan-peninggalan bangunan keagamaan Kuna adalah Candi Prambanan, Candi Borobudur. Agama Hindu-Jawa dan Budha Jawa agaknya hidup berdampingan penuh kedamaian.

   Agama Hindu dan Budha disebarkan melalui perdagangan, kemudian disebarkan oleh para brahmana serta bhiksu berbangsa India yang diundang oleh para raja untuk datang ke Jawa sebagai penasehat atau pemimpin upacara.

                Pada waktu itu India merupakan bagian dunia maju dan negara atau kerajaan-kerajaan di Jawa dianggap sebagai negara-negara berkembang. Hal ini merupakan sebab mengapa kerajaan di Indonesia/pulau Jawa berorientasi kepada kebudayaan di India.

 

                Peradaban India juga mempengaruhi para cendekiawan Jawa yang pergi ke India untuk belajar kebudayaan klasik di India, baik mengenai ilmu pengetahuan dan keagamaan. Pengaruh peradaban India di Jawa berkembang pesat sampai abad 15 M.

Sejak runtuhnya Majapahit, kebudayaan Hindu Budha digantikan oleh kebudayaan Islam yang pada waktu itu sudah mulai memasuki pulau Jawa di daerah pantai utara.

                3. Agama Islam masuk ke pulau Jawa melalui jalur perdagangan dari Sumatera Utara dan Semenanjung Melayu berlangsung antara abad 14 sampai abad 17.

Agama Islam yang hidup pada waktu itu dipengaruhi oleh mistik. Unsur mistik ini memang sudah diterima, karena sudah ada dalam agama Hindu-Jawa, sedangkan karya-karya sastra Islam Jawa dituliskan pada awal pengaruh agama Islam menunjukkan pentingnya mistik dalam agama Islam. Selanjutnya untuk agama Islam dogmatik atau puritan baru datang kemudian.

Persebaran agama Islam pertama adalah kota-kota pelabuhan di pantai utara Jawa. Tempat-tempat itu kemudian berkembang menjadi makmur dan berkuasa, sehingga lama-lama berhasil merongrong kekuasaan kerajaan Majapahit.

                Agama Islam disebarkan oleh seorang pemimpin yang disebut Wali yang mengandung ajaran mistik, dengan demikian memudahkan agama Islam itu diterima oleh masyarakat, karena konsep mistik maupun ide-ide mistik bukan hal yang baru. Pusat peradaban Hindu-Budha di Jawa kemudian terpaksa menerima kehadiran agama Islam.

Dengan demikian berkembanglah suatu varian dari agama Islam yang bersifat sinkretik atau campuran yang disebut agama Jawi.

4. Agama Jawi

Agama Jawi merupakan sistem kepercayaan yang meliputi sejumlah keyakinan, konsep, pandangan, serta nilai-nilai yang berasal dari agama Islam seperti: keyakinan akan adanya Allah, yakin bahwa Nabi Muhamad adalah pesuruh Allah, yakin akan adanya nabi-nabi, yakin adanya tokoh-tokoh Islam keramat, yakin adanya konsep tentang penciptaan alam.

                Orang-orang yang memeluk agama Jawi juga yakin adanya dewa-dewa yang menguasai alam semesta, memiliki konsep tentang hidup dan kehidupan setelah kematian. Di samping itu juga memiliki keyakinan adanya makhluk-makhluk halus penjelmaan ruh nenek moyang yang menjaga sesuatu tempat, dan sebagainya.

 

Nilai-nilai budaya yang terungkap dalam adat istiadat diinterpretasikan sesuai dengan ajaran agama dan diaktualisasikan dalam kehidupan nyata, maka lahirlah sebutan Islam-Kejawen. Para pemeluknya hidup sebagai umat Islam namun tetap menjunjung tinggi adat istiadat dan nilai-nilai budaya spiritual Jawa.

Orang Jawa Kejawen menganggap bahwa Quran sebagai sumber utama dari segala pengetahuan yang ada. Tetapi mereka melakukan aktifitas keagamaan sehari-hari, rata-rata dipengaruhi oleh keyakinan, konsep-konsep, pandangan-pandangan, nilai-nilai budaya dan norma yang kebanyakan berada di dalam pikirannya.

Pengetahuan yang mendalam itu terdapat di dalam buku-buku keramat yang diperoleh melalu dukun, kaum atau modin, kyai atau guru.

Para guru, kyai, cendekiawan agama Jawi lebih tertarik untuk mendalami kesusasteraan keagamaan Jawa, serta buku-buku Jawa klasik mengenai ajaran moral dan kesusilaan, seperti Wulang Reh, Wedhatama, dan sebagainya.

                Amênangi jaman edan

ewuh aya ing pambudi

                mèlu edan nora tahan

                yèn tan mèlu hanglakoni

                boya kaduman melik

                kalirên wêkasanipun

                dilalah karsa Allah

                bêgja-bêgjane kang lali

                luwih bêgja kang eling lawan waspada

                (Serat Kalatidha, Sinom pupuh I, bait 8).

Di dalamnya terkandung ajaran moral yang begitu mulia dari pujangga Ranggawarsita yang sampai saat ini menjadi butir mutiara nilai budaya Jawa yakni: begja-begjane kang lali, luwih begja kang eling lawan waspada (Sebahagia-bahagianya orang yang lupa, masih lebih bahagia orang yang ingat dan waspada = orang yang bersikap eling dan waspada lebih beruntung daripada orang yang lupa).

                Orang-orang kejawen ini juga senang pada buku-buku kuna beraliran Islam misalnya serat Menak dan syair-syair Suluk serta kesusasteraan Primbon di mana terdapat keyakinan, konsep pandangan dan nilai budaya yang merupakan bagian besar dari sistem budaya agama Jawi.

Agami Jawi mengenal konsep mengenai Tuhan Yang Maha Esa yang dituangkan dalam suatu istilah “Gusti Allah Ingkang Maha Kuwaos” atau Pangeran. Orang mempunyai konsep bahwa  Tuhan adalah Sang Pencipta, karena itu merupakan penyebab dari segala kehidupan dunia dan seluruh alam semesta.

Agama Jawi juga melakukan upacara-upacara yang penting sebagai tindakan-tindakan keagamaan yang berhubungan dengan agama Islam. Upacara-upacara itu antara lain: upacara sepanjang lingkaran hidup (upacara kelahiran, upacara pernikahan, upacara kematian). Selain itu ada pula upacara berkorban/sesaji perayaan yang berkaitan dengan keselamatan desa, dan juga ngruwat.

                Semua ritual itu dilakukan oleh orang Jawa yang masih percaya dan jika hal itu tidak dilaksanakan, mereka akan mendapat petaka besar. Misalnya sakit tidak segera sembuh, kecelakaan, kesengsaraan dalam hidupnya dan sebagainya.

Di samping agama Jawi, masyarakat Jawa juga ada yang memiliki keyakinan pada satu agama yaitu Islam. Pemeluk agama Islam Puritan yang taat ini disebut Santri. Orang-orang santri melakukan ibadah sesuai aturan yang tertuang dalam Quran. Mereka tidak lagi melakukan upacara di luar ajaran agama, sehingga dapat diketahui agama Islam Puritan ini sangat ketat dalam pelaksanaan upacara.

                Sebuah ‘misteri’ yang mengherankan bahwa kenyataannya Jawa mampu ngemot dan momong berbagai perbedaan budaya dan peradaban yang masuk tersebut.  Bahkan kemudian terbukti pula mampu memberikan suport kejayaan kepada budaya dan peradaban pendatang tanpa kehilangan jatidirinya.

Dengan demikian bahwa budaya dan peradaban besar Hindu dan Buddha di Jawa tidak menghilangkan jatidiri Jawa.  Ketika kedua agama tersebut surut, orang Jawa kembali kepada kepercayaan aslinya yang sudah bersinergi dengan nilai-nilai budaya dan peradaban Hindu Buddha.

Ketika Jawa menerima sebaran Islam serta budaya dan peradaban Arab (Timur Terngah), maka kembali terjadi sinergi baru antara Jawa dan Islam.

                Aras spiritual yang sering menjadi pegangan orang Jawa yaitu manunggaling kawula Gusti untuk seluruh sistem yang ada di alam semesta ini. Pada sistem inilah diturunkan ‘nilai selaras’ dan ‘nilai rukun’ yang harus dilakoni oleh semua umat manusia sebagai kawula dalam menjalani hidup di dunia.

                Nilai rukun dan nilai selaras inilah basis utama falsafah Jawa.  Artinya, bahwa paugeran (hukum) menjalani hidup menurut ajaran (falsafah) Jawa diperuntukkan untuk menyangga nilai rukun dan nilai selaras tersebut.  Maka kemudian ruh tata peradaban Jawa adalah kebersamaan dalam bingkai nilai rukun dan nilai selaras yag diungkapkan dalam kalimat tata tentrem kerta raharja.  Hal ini merupakan ide dasar yang menjadi filter dalam rangka Jawa mengadopsi dan beradaptasi dengan budaya dan peradaban lain.

Falsafah momot ngemong segala perbedaan dengan damai telah dimiliki masyarakat Jawa sejak dahulu.  Lagipula sudah tersemayamkan di hati sanubari setiap lajer Jawa hingga menjadi otot bayu yang terbukti tidak lekang dan lapuk sejak jaman prasejarah hingga saat ini.  Maka inilah daya kekuatan yang menjadi ‘ketahanan alamiah’ Jawa dalam pergulatan antar budaya dan peradaban.

Kearifan budaya Jawa tersebut adalah merupakan refleksi dari karakteristik budaya Jawa yang ada. Hal ini tercermin sebagai berikut.

1. Religius dan ber-Tuhan

Sebelum agama-agama besar masuk ke Jawa, masyarakat Jawa sudah mempunyai kepercayaan adanya Tuhan yang melindungi mereka, dan keber-”agama”-an ini semakin berkualitas dengan masuknya agama-agama besar seperti Hindu, Budha, Islam, Katholik dan Kristen.

2. Mempunyai toleransi keagamaan yang besar.

3. Sangat menekankan aspek kerukunan, hormat dan keselarasan sosial.

Hal ini dimanifestasikan ke dalam Teori Jawa seperti memayu hayuning bawana, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja.

                4. Lebih suka memecahkan masalah kehidupan dengan sikap ma-was diri atau tepa slira agar dapat menghindari konflik dengan pihak lain.

Dengan cara menggalih, yakni menggabungkan antara rasio dan rasa akan menghasilkan bentuk pemecahan yang efektif dan efisien. Rumus yang dipakai adalah 4 N (Nêng – Ning – Nung – Nang).

                _  Nêng = Meneng

Sebelum berbuat harus memperhatikan perasaan yang tenang, terang dan diam.

_ Ning = Wening

Hanya dengan meneng jiwa akan menjadi jernih (wening).

_ Nung = Anung

Dengan jiwa yang jernih akan dapat berpikir dengan jernih.

–      Nang = Menang

Akhir dari proses Nêng – Ning – Nung adalah diperoleh hasil pemecahan yang efektif dan efisien.

Banyaknya dewa-dewa dalam kasanah Jawa dianggap tidak sejalan dengan ke-“tauhid”-an aatau dianggap sebagai ketahayulan yang tidak masuk akal.

Sesungguhnya “Mitologi Jawa” tumbuh dan berkembang sejalan dengan upaya-upaya mensinergikan kepercayaan (teologi) asli Jawa dengan kepercayaan (teologi) dari agama pendatang. Upaya-upaya mensinergikan tersebut dilandasi falsafah dasar Peradaban Jawa yang menyatakan bahwa setiap “titah dumadi” diwajibkan ikut “memayu hayuning bawana“.

                Titah dumadi dimaksud, bukan sekedar umat manusia saja, tetapi seluruh mahluk ciptaan Tuhan yang kasat mata maupun tidak.  Barangkali hanya pada pandangan Jawa saja yang memposisikan seluruh titah dumadi ciptaan Tuhan merupakan saudara bagi umat manusia.

                Sepintas mitologi yang tergambarkan dalam cerita tersebut begitu rumit dan seperti dongeng yang mengada-ada.  Namun bila memahami bahwa dalam kasanah Jawa yang penuh dengan simbul-simbul, maka kerumitan tersebut bisa diurai dan bisa dijelaskan dengan nalar.  Pemahamannya didasari pengertian bahwa simbul-simbul dimaksud adalah personifikasi dari sesuatu yang ada namun tidak mudah dijangkau dengan pikiran.

                Tuntunan Jawa menyatakan bahwa Dzat Tuhan (Sang Hyang Tunggal, Sang Hyang Wenang) adalah “tan kena kinayangapa” atau tidak bisa dijangkau (dihampiri) oleh akal, rasa dan daya spirituil manusia.  Sedangkan yang mampu dijangkau adalah tajali (derivate spirituil, emanasi, pancaran) Tuhan.

                Derivate Tuhan itulah yang kemudian disebut sebagai Pangeran (Gusti) yang keberadaannya transendent dan immanent. Yaitu berujud dzat mutlak hampa (suwung), abadi, tanpa arah tanpa papan, tanpa bentuk (kantha) tanpa warna, sepi dari “ganda-rasa-swara“, bersipat elok, bukan laki bukan perempuan bukan banci, merasuki seluruh alam semesta seisinya.

Atas dasar pemikiran tersebut, maka pemahaman ‘manunggaling kawula gusti’ adalah suatu tingkatan kesadaran akan hadirnya ‘Dzat Illahi’ pada setiap mahluk hidup.  Oleh karena itu, pada kepercayaan Jawa menyebutkan bahwa bertemu Pangeran/Gusti (Dzat Urip) adalah dengan berkiblat ke gua siring urip atau gua batin diri sendiri.

Dengan halus Jawa menolak pemahaman Tuhan yang menghuni suatu tempat di bumi.  Baik berupa alam seperti gunung, sungai, laut, dll.  Lebih-lebih Tuhan yang menghuni arca atau bangunan buatan manusia.  Prinsip dasarnya masyarakat Jawa menganggap Tuhan tan kena kinaya ngapa (tidak bisa dibayangkan seperti apa) dan menguasai seluruh alam semesta yang tiada batas.  Maka mustahil kalau Tuhan penguasa semesta alam sekedar berada di suatu tempat kecil di bumi ini. Walaupun dinyatakan tempat tersebut paling suci.

Kesadaran tertinggi tentang kesemestaan tersebut, bagi pandangan Jawa yang terpenting adalah upaya untuk “titis ing pati”.  Artinya mampu mengembalikan semua unsur yang membentuk dirinya kepada sumbernya masing-masing dengan sempurna.  Kesempurnaan “titis ing pati” tersebut ditentukan pada perilakunya saat hidup ikut memayu hayuning bawana atau tidak.  Kalau tidak, maka rohnya tidak mampu kembali ke sumbernya, “Dzat Sejatining Urip” dan kesasar ke alam lain.  Bisa jadi ke alam binatang, alam lelembut, dan bahkan bisa juga kesangsang (terdampar) di kayu watu dan menjadi dhanyang di situ.

Kesadaran Semesta juga melahirkan sikap kehati-hatian menjalani hidup.  Maka kehati-hatian tersebut menjadikan wong Jawa tidak akan mau membuat kerusakan pada alam semesta.  Untuk itu, para leluhur Jawa yang “linuwih kawruhnya” di jaman dulu melakukan observasi mendalam akan fenomena alam semesta.  Dari observasi semesta tersebut lahirlah astronomi Jawa yang berujud sistim kalender Jawa.  Bukan sekedar kalender untuk memahami perjalanan waktu, namun juga memuat pengaruh “kosmis semesta” pada hidup dan kehidupan manusia (candrasangkala, komariyah) dan (suryasangkala, syamsiyah), tetapi juga ada penanggalan Wuku dan Wetonan yang ternyata sangat rasionil dan matematis perhitungannya.

Observasi alam oleh para leluhur linuwih Jawa juga menangkap adanya “enerji spirituil angkasa dan bumi” yang disebut “bapa angkasa” dan “ibu bumi”.  Juga mampu menengarai adanya pancaran “enerji spirituil bumi” pada tempat-tempat di bumi. Pada tempat-tempat di bumi yang kuat pancaran enerji spirituilnya kemudian diberi tanda berupa patung lingga-yoni, arca dan candi.  Di tempat yang sudah diberi tanda tersebut kemudian dijadikan tempat untuk “manembah” kepada Tuhan dan “persembahan” kepada semesta alam berupa sesaji-sesaji.  Tujuannya agar pancaran enerji bumi tersebut menjadi suci auroranya serta positif pengaruhnya kepada kehidupan manusia.  Laku budaya yang demikian kemudian mengundang penafsiran sebagai keprimitifan dan dianggap “klenik-tahayul-gugon tuhon” oleh pihak-pihak yang tidak memahami.

Aras kesadaran kesemestaan pada budaya dan peradaban Jawa memang “unik” menurut pandangan orang-orang yang tidak memahami.  Padahal dari aras tersebut, maka secara alamiah wong Jawa memiliki kesadaran akan tempat hidupnya, alam semesta khususnya bumi.  Kesadaran tersebut sedemikain mendalam hingga menghormati bumi sebagai “Ibu Pertiwi”.  “Ibu Pertiwi” adalah yang memberi semua kebutuhan hidup manusia.

Bumi yang menghidupi manusia adalah pandangan Jawa yang mendasar.  Maka banyak laku budaya Jawa yang ditujukan untuk persembahan kepada “Ibu Pertiwi” tersebut.  Laku budaya dimaksud mulai dari memberikan sesaji, mantra suara (kidungan dan karawitan), sampai kepada pagelaran tari dan wayang.  Tujuan semua laku-budaya tersebut adalah “mempersembahkan keindahan” kepada semesta alam (bapa angkasa lan ibu bumi) tempat manusia hidup.  Dengan jelas merupakan bagian dari “melu memayu hayuning bawana”.

Prosesi persembahan dalam laku budaya dimaksud selalu pada aras kebersamaan.  Gotongroyong semua warga masyarakat.  Jejaknya masih bisa kita saksikan pada adat Jawa “Sadranan”. Sesungguhnya saja tradisi “Sadranan” mulanya adalah prosesi ritual masyarakat Jawa dalam rangka persembahan kepada alam semesta.  Namun oleh pengaruh “penyebaran agama” telah berubah menjadi prosesi ritual mendoakan arwah leluhur.  Bahkan kemudian menjadi bias lebih jauh lagi, sebagai pesta untuk bersenang-senang tanpa makna lagi.

Ritual kidungan, ritual gamelan, ritual seni tari, dan pagelaran wayang purwa.  Artinya, mempersembahkan keindahan untuk alam semesta yang ditujukan agar alam semesta kembali hayu.  Pada aras ke-hayu-an semesta tersebut maka akan berpengaruh kepada “inner” manusia yang berada dalam naungannya. Oleh pengaruh spirituil semesta yang hayu, maka perilaku manusia akan tertata menjadi hayu pula.

Nilai-nilai budaya yang terungkap dalam adat istiadat diinterpretasikan sesuai dengan ajaran agama dan diaktualisasikan dalam kehidupan nyata, maka lahirlah sebutan Islam-Kejawen. Para pemeluknya hidup sebagai umat Islam namun tetap menjunjung tinggi adat istiadat dan nilai-nilai budaya spiritual Jawa yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

 

Analisis “Aja Dipleroki” karya Ki Nartosabdo

Apresiasi :

Aja dipleroki karya ki Nartosabdho
X         : mas mas mas, aja dipleroki
              mas mas mas, aja dipoyoki
              karêpku jaluk dièsêmi
Y         : tingkah lakumu kudu ngêrti cara
              aja ditinggal kapribadèn kêtimuran
X         : mengko gèk kèri ing jaman?
Y         : mbok ya sing eling!
X         : eling bab apa
Y         : iku budaya
X         : Pancènne bênêr kandamu.

Apabila ditranslet ke dalam bahasa Indonesia :

X         : kak, jangan memandangku dengan sinis
kak, jangan mengejekku
harapanku diberi senyum
Y         : tingkah lakumu harus tahu sopan santun
jangan ditinggal kepribadian orang timur
X         : nanti apakah tidak ketinggalan jaman?
Y         : ingatlah!
X         : ingat bab apa
Y         : itu budaya
X         : memang benar ucapanmu

Lagu di atas adalah sebuah pengungkapan rasa batin seorang pengarang mengenai pergeseran budaya orang-orang Timur. Dalam teks lagu di atas diungkapkan seorang adik perempuan berbicara kepada kakaknya :
“mas mas mas, aja dipleroki
mas mas mas, aja dipoyoki
karêpku jaluk dièsêmi”

melihat perubahan sikap kakaknya yang bernada marah, berwajah sinis dan sering mengejek adiknya. Hal itu dikarenakan perubahan sikap sang adik yang mulai meninggalkan kebudayaan pribadinya sebagai orang timur.

Bagi seorang perempuan perkembangan trend barat dianggap sesuatu yang lebih moderen dan lebih maju. Padahal kebudayaan barat belum tentu cocok dengan kebudayaan orang-orang timur. Moderenisasi dari barat mempunyai efek dalam segala bidang baik ekonomi sampai pada budaya. Terlihat pada perkembangan hidup bermasyarakat yang moderenisasi diri untuk kebutuhan.

Pergaulan yang mengikuti trend barat mulai merebak di Indonesia, desain baju yang ketat dan kurang sopan bagi kawasan timur, saat ini menjadi sesuatu hal yang biasa bagi pemuda. Sikap sopan santun, tatakrama mulai berkurang karena efek global. Kemudian berlangsung dengan adanya persaingan pasar bebas yang secara tidak langsung sikap konsumtif masyarakat Indonesia meninggalkan produk dalam negeri.

Pelanggaran hukum, tindak kriminal dan KKN (Korupsi, Kolusi ,Nepotisme) semakin marak baik di kalangan bawah maupun kalangan atas. Hal ini sebagai bukti pergeseran budaya ‘Ketimuran’ menjadi ‘kebaratan’ ini perlu mendapat perhatian khusus dari berbagai pihak. Seperti diungkapkan pada lagu “Aja Dipleroki” penanganan lebih baik adalah kesadaran pribadi dan pengendalian dari orang-orang terdekat.

Types of Limasan (Javanese Architecture)

 Rumah Tradisional Jawa Jenis Limasan Lambang Sari

Merupakan rumah tradisional Jawa yang berbentuk limasan dan mempunyai ciri khas khusus dibandingkan model rumah limasan lainnya. Sifat khusus bangunan ini yaitu pada konstruksi pembentuk atapnya, dimana terdapat balok penyambung antara “atap berunjung” dengan “atap penanggap”. Tiang yang digunakan sebanyak 16 buah. Atap bangunan ini memiliki 4 buah sisi yang masing-masing mempunyai bentuk bersusun 2 buah. Hal tersebut dikarenakan terdapat renggangan di antara kedua belah atap berunjung dan penanggapnya. Bangunan ini memiliki satu buah “bubungan” atau “wuwung” yang menghubungkan keseluruhan 4 buah sisi atap tersebut. Keseluruhan konstruksi bangunan ini menggunakan bahan kayu keras dan serat yang kuat. Kayu tersebut adalah kayu Jawa atau kayu-kayu yang berasal dari tanah di Pulau Jawa. Jenis kayu tersebut seperti kayu jati, kayu sonokeling, kayu nangka dan kayu keras lainnya. Bangunan ini menggunakan pondasi jenis “umpak” yang mempunyai ciri khas khususnya yaitu menggunakan purus pada bagian tengah tiang bawah yang berfungsi sebagaipengunci tiang atau kolom.

 Rumah Tradisional Jawa Jenis Limasan Trajumas Lawakan

Rumah tradisional Jawa ini merupakan perkembangan dari rumah tradisional model Limasan Trajumas yang mengalami penambahan pada penggunaan “emper” yang mengelilingi bangunannya. Emper keliling ini mempunyai sudut kemiringan yang berbeda daripada atap bagian pokoknya. Bangunan ini tetap menggunakan tiang pada bagian tengahnya. Hal ini yang membuat terbentuknyadua buah “rong-rongan” pada pembagian ruang dalamnya. Jumlah atap terdiri dari 4 buah sisi yang masing-masing bersusun dua dengan satu “bubungan” atau ‘wuwungan” sebagai titik pertemuan ke-empat sisi atap tersebut. Bangunan ini menggunakan 20 buah tiang atau saka sebagai struktur utama. Jika dilihat daripotongan bangunan, bentuk simetris sangat jelas dengan adanya tiang utama sebagai pembagi antara sisi ruang yang satu dengan yang lainnya. Keseluruhanbangunan menggunakan struktur kayu dengan serat kuat dan mampu menerima gaya tekan dan gaya tarik struktur. Kayu tersebut seperti kayu jati, kayu sonokeling, kayu nangka, kayu glugu dan jenis kayu jawa lainnya. Penggunaan Umpak sebagai pondasi tetap menjadi ciri khas bangunan tradisional jawa ini

Rumah Tradisional Jawa Jenis Limasan Trajumas

Merupakan rumah tradisional limasan yang hanya mempunyai 6 buah tiang atau saka sebagai struktur pokok. Karena memiliki 6 buah tiang dan terdapat ander pada bagian tengah yang membagi rumah ini menjadi dua bagian ruang yang sama atau dapat kita sebut dua buah ruangan ini sebagai dua “rong-rongan”. Rumah limasanini mempunyai empat buah sisi atap seperti rumah tradisional limasan pada umumnya. Bentuk sederhana ini merupakan kesatuan konstruksi rumah yang utuh dan unik sehingga sering dikolaborasikan dengan bentuk modern sebagaibungalow atau gazebo-gazebo yang berdiri sendiri secara terpisah dengan rumahinduk yang lebih besar lagi.

Rumah Tradisional Jawa Jenis Limasan Trajumas Lambang Gantung

Merupakan Rumah tradisional Limasan yang cukup khas dibandingkan jenisrumah limasan lainnya.Rumah Limasan ini disebut sebagai “Rumah Limasan Trajumas Lambang Gantung” sebab bagian emper pada bangunan ini tidak menempel secara langsung pada tiang utama. Bagian emper menempel pada kayu yang bergantung di ujung “brunjung” dan disebut sebagai “saka bethung”, Jadi berbeda dengan “rumah limasan lambang teplok” yang bagian “emper”-nya menempel secara langsung pada tiang utama. Disebut sebagai “Trajumas” karenabangunan ini memiliki dua ruangan yang disebut sebagai “rong-rongan”. Satu “rong-rongan” dibatasi oleh empat tiang utama yang terletak pada bagian tengah (rong=liang). Rumah limasan ini menggunakan tiang atau saka sebanyak 8 atau 10 buah. Bangunan ini memiliki empat sisi atap yang tersusun secara berenggangan sehingga sirkulasi udara dapat masuk pada bagian renggangan tersebut.Bangunan ini tetap memiliki satu “Bubungan’ atau “wuwung” pada atapnya.

Rumah Tradisional Jawa Jenis Limasan Semar Tinandhu

jenis Limasan ini disebut sebagai “Semar Tinandhu” karena bagian atap “brunjung”nya bertumpu oleh ke–empat buah tiang, dimana tiang-tiang tersebut menumpu pada balok atau blandar di tengah, jadi atap berunjung ini tidak secara langsung menumpang pada ke-empat buah tiang utama. Rumah Limasan Semar Tinandhu ini mempunyai jumlah saka 16 dan 4 buah “ saka’ pembantu dan 4 buah saka yang terletak di tengah. Bangunan ini memiliki susunan atap seperti pada rumah limasan pokok yaitu mempunyai 4 buah sisi yang ditambahkan 4 buah emper yang mengelilingi bangunan tersebut dan mempunyai satu buah wuwungan pada atapnya. Keseluruhan konstruksi menggunakan kayu yang mempunyai serat padat dan kuat untuk menerima gaya tarik dan gaya tekan. Jenis kayu yang dipergunakan biasanya adalah kayu jati, kayu mahoni, kayu nangka, kayu sonokeling dan jenis kayu Jawa lainnya. Keindahan bangunan ini adalah pada bagian interior ruang tengahnya yang memiliki konstruksi tiang bertumpuk sebagai penopang atap berunjungnya dan terlihat gagah sebagai bangunan sederhanayang sempurna dan simetris.

Rumah Tradisional Jawa Jenis Limasan Lambang Teplok

Merupakan rumah tradisional jenislimasan yangmenyerupai rumah kampunglambang teplok.Oleh sebab itu rumah ini menggunakan renggangan padakonstruksi atapnya, yaitu pada bagian atap “brunjung” dengan atap “penanggap”. Bagian ini menjadikan tampilan bangunan terlihat lebih tinggi dan gagah. Pada bagian regangan atap biasanya ditambahkan ornament pada sisi bagian dalamnya agar telihat lebih indah. Bukaan ini membuat sirkulasi udara pada bagian tengah ruangan terasa lebih nyaman dan adem. Bangunan tradisional ini memiliki 4 buah sisi atap dimana ada pemisahan regangan pada atap brunjung yang menyebabkan bagian atap terbelah menjadi dua bagian, yaitu atap penanggap sebagai emper dan atap brunjung sebagai konstruksi utama. Perbedaanya dengan rumahkampung lambang teplok adalah pada atapnya. Rumah Limasan Lambang Teplokini tidak menggunakan “Tutup Keong” pada sisi kanan kiri atapnya tetapi tetap menggunakan balok dudur yang menjadikan atapnya konsisten berbentuk limasan utuh. Keseluruhan bangunan menggunakan struktur kayu rigid dan kuat karena berbahan dasar kayu jawa berserat padat, kuat dan awet sehingga dapat berumur puluhan tahun. Kayu yang digunakan seperti kayu jati, kayu sonokeling, kayu nangka dan kayu jawa jenis serat kuat lainnya. Jenis bangunan ini dapat berdiri sendiri dan biasanya pada saat ini sering diaplikasikan sebagai pendopo atau tempat pertemuan terbuka tanpa dinding.

Rumah Tradisional Jawa Jenis Limasan Gajah Ngombe

Merupakan rumah tradisional jawa bentuk limasan pokok yang mengalami penambahan atap sebagai emper pada bagian sisi pendeknya. Jika di lihat pada denah yang berbentuk empat persegi panjang posisi penambahan struktur emper terletak pada bagian sisi terpendeknya. Rumah tradisional Limasan Gajah Ngombeini mempunyai tiang atau saka sebanyak 6, 8, 10 buah dan seterusnya yang disesuaikan dengan besaran ruang yang diinginkan, termasuk didalamnya 4 buah tiang atau saka utama pada inti bangunan. Bangunan ini memiliki satu buah wuwung dan 4 buah dudur serta 4 buah sisi atap. Satu sisi atap ditambah emper yang menjadikan bentuk atap berundak sebab memiliki kemiringan yang berbeda dengan atap utama.Keseluruhan konstruksi menggunakan struktur rangka kayu yang di sambung dengan sistim knockdown menggunakan sunduk kayu sebagai pengunci sambungan kayu yang fungsinya sama seperti paku besi. Biasanya penambahan sisi emper dibuat dengan sistim lantai berundak sehingga bagian atap emper mempunyai fungsi seperti teras depan atau entrance rumah tinggal.

Rumah Tradisional Jawa Jenis Limasan Lawakan

Rumah tradisional ini merupakan bangunan yang berasal dari daerah Jawa yang merupakan perkembangan bentuk rumah jawa sederhana model kampung yang kemudian dikembangkan menjadi bentuk rumah tradisonal Limasan Pokok.

Bentuk rumah Limasan Lawakan ini merupakan rumah limasan pokok yang ditambahkan emper pada seluruh sisi bangunan yang berjumlah 4 buah. Bentuk emper ini diambil dari bentuk “Rumah kampung panggangpe” dan diletakkan pada ke-empat sisi rumah model Limasan Pokok. Kesimpulan mengatakan bahwa asalRumah Limasan Lawakan ini merupakan hasil adobsi dua model rumah jawabentuk Limasan pokok sebagai struktur utama dengan Rumah Kampungpanggangpe sebagai struktur tambahan sebagai sisi emper bangunan. Penggabungan ini terlihat pada struktur balok atau “blandar” yang ditambahakn sebagai tumpuan “emper atap”. Rumah ini memiliki 4 buah tiang atau “saka” sebagai konstruksi utama yang terletak pada bagian tengah ruangan dan perlu diketahui bahwa ini adalah struktur utama yang berasal dari Rumah Limasan Pokok dan ditambahkan struktur tambahan sebagai emper pada keempat sisi bangunan sehingga jumlah keseluruhan tiang saka sebanyak 16 buah. Hal ini yang menjadikan rumah limasan lawakan mempunyai 4 buah sisi atap dengan bentuk bertingkat karena mempunyai sisi kemiringan yang berbeda antara atap bagian tengah dengan atap bagian emper. Seluruh atap disatukan dengan satu buah wuwungan dan balok “dudur”.

Rumah Tradisional Jawa Jenis Limasan Sinom Lambang Gantung Rangka Kutuk Ngambang

Merupakan bangunan rumah jawa bentuk Limasan yang mempunyai ciri khas khusus pada bentukan konstruksi atapnya. Bangunan ini disebut sebagai “Lambang Gantung Rangka Kutuk Ngambang” karena pada ujung “molo” tedapat bagian yang menonjol sepanjang 2/3 dari panjang “ander”. Apabila bagian menonjol tersebut mempunyai ukuran 1/3 dari ukuran “ander”, maka disebut sebagai “Kutuk Manglung”. Bangunan ini disebut juga sebagai “Limasan Sinom Lambang Gantung” karena memiliki atap penanggap yang bersusun 2 buah dan posisinya bergantung pada “Saka Bethung”. Bangunan ini mempunyai 3 buah “rong-rongan” dan mempunyai jumlah saka atau tiang sebanyak 48 buah sampai 60 buah. Keseluruhan konstruksi atapnya terdiri dari 4 buah sisi yang masing-masing sisinya bersusun 3 buah susunan serta berpusat pada satu buah “bubungan”. Limasan ini bisa dikatakan hasil dari variasi rumah bentuk limasan yang cukup rumit dan terlihat megah secara struktural dan pada detail-detail sambungan konstruksi atapnya. Bangunan ini menjadi terlihat gagah dan perkasa jika kita pandang dari keseluruhan tampak luar serta  interiornya. Sirkulasi udaraserta bias cahaya dapat masuk ke ruang dalam rumah dan mencangkup keseluruhan interiornya. Hal ini dikarenakan terdapat regangan-regangan pada 3 buah atap bersusunnya. Keseluruhan konstruksi pembentuk rumah ini menggunakan kayu jawa dan tetap menggunakan pondasi jenis umpak sebagai tumpuan tiang-tiang kolomnya.


Sokawati Kadipaten Manuscript

Serat ini milik Tumenggung Dipokardjono, Seorang priyagung di Sokawati (Sragen)

Judul

Iki piwulang kanggo nyinau rasa, ngleremake hawa napsu uatawa lali marang tumindhak nistha, eling marang tumindhak kang utama.

Isi :

Ing ngisor iki piwulang kanggo tumindhake wong ana donya, kang supaya uwong ora tumindhak ala , utawa kang supaya murih apike, lan jalari baman marang Pangeran, ing awal tumeka jaman akhir.

Piwulang ing ngisor iki dudu pirantune gayuh ing atase bandha donya, amung piwulang kanggo nyinau marang katrenteman lan kasabaran, narima , tawakal, eling marang pangeran lan rumangsa yen kawula ura wani amasesa.

Ing ngisor iki piwulange wiwit kitik tumeka titik, utawa upamane bocah sekolah wiwit klas 1 tumeka klas 7 kayata :

Titik 1                          : kena diarani kawruh

Titik 2                          : kena diarani pecahe Sahadat

Titik 3                          : kena diarani Pepuntone Kawruh

Titik 4                          : kena diarani Soroge Kawruh

Titik 5                          : kena diarani Wiji Permati

Titik 6                          : kena diarani Wiji

Titik 7                          : kena diarani Pepuntone tekat

Maknane ing ngisor iki wiwit tegese satitik . Titik 1 isine Bab kayata : 1. Kawruh, 2. Sedulur, 3. Pal Kodrat, 4. Kurup lima, 5.Salat, 6. Ringkesaning Kurup , 7.Pirantine.tegese :

1.Kang diarani kawruh iku tegese pepacak,tegese inggisor iki :

  1. Aja Rusuh tegese aja melik darberke liyan
  2. Aja Jabal tegese aja gegethingan lan sesengitan
  3. Aja Drengki, aja panas tenan
  4. Aja Dahwen tegese aja ngrasani alane uwong dene pawengkone wis dadi wajibe.
  5. Aja Gumedhe tegese  aja beda-bedakake, bedane wis katut pranatane jagad
  6. Aja Kumingsun tegese aja ngaku pinter, ning pinter mung Pangeran dhewe
  7. Aja Kuminter  tegese aja nenacat kawruh utawa agama liya-liyane
  8. Aja Kagetan tegese aja kelu barang kang elek
  9. Aja Kareman tegese aja duwe pakareman
  10. Kudu santosa ing Budi tegese kudu mantep
  11. Kudu kenceng tapihe tegese kudu sawiji tekate utawa ora goroh
  12. Aja Lemer tegese aja duwe pepinginan
  13. Aja mrengut tegese aja nesu
  14. Kudu manut tegese kudu miturut barang kang bener

Pepacake urip ana 3 kayata :

  1. Kudu Telaten tegese  kudu kulina neniteni  aba –obahing jagat
  2. Kudu Rila tegese ora ngresula utawa ora arasen utawa ora bosen
  3. Kudu Eklas tegese ora ngresakake barang kang wus icul utawa barang kang wus kebacut

Pepacake tuwa ana 3 kayata :

  1. Kudu Eling tegese kudu ngeling-eling marang wajibe
  2. Kudu Melek tegese kudu betah melek solur banjur adus, perlune kang supaya lerem pancadriyane
  3. Kudu adus dhen esuk sak durunge jedhul Srengenge perlune kang supaya bening pikire lan bening budine

Banjur kang diarani sedulur kuwi ana 10, sedulur 10 kena diperang dadi 3, kang sak perang 4 sedulur kang rumeksa ing jasat kayata :

  1. Siriyah asal saka Kringet
  2. Ariyah saka Ari- ari
  3. Wahdat saka kang Kawah
  4. Bayu saka kang Getih

Kang sak perangan maneh 4 sedulur kang asal saka Kodrat sasenetane kayata kang rumeksa pancadriya:

  1. Jaka saka ing Jantung
  2. Tilam saka ing Ati
  3. Plek saka ing Kebuk
  4. Remeng saka ing Rempelu

Kang sak perangan  maneh 2 kayata :

  1. Roh Alah  kang saka ing Biyung
  2. Roh Pati kang saka ing Bapa (titi sedulur kang rumeksa ing Jisimmu)

Banjur kang diarani Pal Kodrat, kang diarani Pal Kodrat iku akire wong arep mulih menyang jaman, kayata :

  1. Rengganging balung Githok kang diarani palengkunging Gadhing kuwi menawa wus renggang kurang 1000 dina konduring kamuksan.
  2. Garebeging talingan menawi tinutup wus ora nyuwara gumrebeg, kena diarani Kesekte Nagara Rahmat kuwi kurang 40 dina konduring kamuksan.
  3. Ketire Muhamat tegese cahya kang ana Sajroning Setra, kuwi  lamun wis ora ana kurang 40 dina konduring jaman kalanggengan.
  4. Kampusing napas kang metu ing Irung, kuwi lamun wis rasake karana anyep, kena diarani Rubuhe Gunung Turdian.Kuwi kurang 7 dina kondur ing kalanggengan.
  5. Palenggahan rasul, jroning Cethak digrayang karo ilat manawa wus ora karasa keri, kurang 3 dina mantuk mau
  6. Karindike awak utawa sakabehe kulit, menawa ginosok, wis ora kemrisik, kurang sedina sewengi konduring kalanggengan.

Banjur kurup 5 ing ngisor iki maknane

  1. Pangeran tanpa kemandang
  2. Surung tanpa gumantung
  3. Nur Putih panas jan wani
  4. Ingsun Pangeran kang sanyata , ing donya ora ana kana-kana

Banjur kang diarani Salat,

kang diarani Salat iku lebu wetune napas, titipane Salat kanthi panebut- panebute manawa napas melu panebute Alah, manawa napas melu panebute Muhamat, dadi titip Alah lan Muhamat. Perlune Salat mung saka kawula kawingkuhing kodrat utawa kanggone bakal anyumurupi pacake kang kasar utawa kang alus. Kang kasar iku raga wadag, kang alus iku Sukma.Dadine Salat ilange alam Sakir utawa alam Kabir, dumununge ana jagad pesagi. Ing kana ana lalam ora padhang, ora peteng, ora wadon , ora lanang, ora wandu, ing kana ana pepadhang dudu sorote diyan, dudu sorote Srengenge, dudu sorote lintang, dudu sorote rembulan, Sorote kang Murbeng  jagat dewe.wong Salat manawa ora tumeka ing kono kena diarani kandhek.

Wajibe Salat iku eling marang panebute. Anane napas metu panebute Alah kanggone bakal anyumurupi marang kodrate supaya ilang gagasane kang ora becik- becik. Anane napas mlebu panebute Muhamat, kanggone bakal anyumurupi marang uripe supaya ilang panandhange mulane den  okehake lebune katimbang metune, supaya akeh elinge.

Banjur kang diarani ringkese kurup iku tembunge mangkene.

Bebakalane Alah kuwi ora ana, anane mung asalan Panguwasa. Bebakalane Muhammat iku urip, bebaklane rasul iku gaban.

Banjur kang diarani Piranti  tembunge mangkene

Kudumen lir salate, kudu netepi pepacake , kudu ajeg panembahe.

Banjur titik 2 utawa klas 2 tembunge mangkene :

Papaning nguni-uni eling mula-mulanira, urip sejati manjing jumenenging pancadriya. Telakitilililoloh rasul babagan turu, rasul manjing Muhamat babagan melek. Muhamat manjing rasul jumeneng Rahsa, rasul manjing wung wang babagan Semedi, rasul Muhamat manjing sipat tuk kabeh jumeneng Hyang Permana.

Banjur titik 3 kang diarani pepuntoning Kawruh tembunge mangkene :

Sumebare rahsa, sumekare pancadriya, lereme pancadriya jumeneng cipta, cipta kawimbuhan lelereme rahsa, jumeneng Sirahsa, Sirahsa kawimbuhan lereme angin angambah alame manungsa lumebu ing bantala Mukaram Alah kak, Alah kak malangkah ing wates, tumeka ing wates munggah ing Kanajul Tarki jumeneng Sirolah, Sirolah malangkah ing wates, tumeka ing wates, saka ing wates angambah alam- alam antara lumebu ing BIintala Makmur jumeneng Eling.

Banjur titik 4 kang  diarani soroge Kawruh, ing ngisor iki tembunge :

Sirolah rasaningsun, jumeneng ing githok, Dat olah sukaningsun jumeneng ing Tenggok, Sipat olah rupaningsun jumeneng ing bun-bunan, Wujute olah jiwaningsun jumeneng ing jantung utawa Ngutek, terusing Irung, Byar padhang kang katon aku dhewe , Dat ingsun,aku jaluk Weca sak weca wija, sak temen-temene lan aku jaluk ………. Apa kang ginayuh waton nganggo ukuran.

Banjur titik 5 kang diarani Wiji Permati, tembunge mangkene :

Sak drurungr ana apa- apa, kang ana Gentha kakeleng, Gentha iku Ontha, Kekeleng iku samar, dadi Ontha samar, Sastra jendrayunengrat pangruwating diyu ,Sastra Sandi Sastra Cetha, Sandi Sastra nawang surti Jawi mantra. Banjur ilat iku kapadalake ing Cethak kang nganti bisa nyuwara tek-tek.

 

Banjur titik 6 kang diarani Wiji, tembunge mangkene, :

  1. Dat anurunke banyu sak tetes, Pangeran tanpa kemandhang
  2. Dadi surung tan gumantung
  3. Rupa Nur putih badan jasmani
  4. Asih ya ingsun Pangeran sanyata
  5. Bali ing  ana donya ora apa-apa
  6. Dadi Jagate, Pangeran tanpa Kemandhang
  7. Kosik, surung tanpa gumantung
  8. Wisik, nur putih badan Jasmani
  9. Lair lar sejatining Sukma ya ingsung Pangeran kang sanyata
  10. Mani sejati, sejatining sejatining uri-urip langgeng tan kena ning owah, ing donya ora ana apa-apa.

Banjur titik 7 kang diarani Pepuntone Tekat gumantung ana rasa pangrasane dhewe, kendho kencenging karep utawa sedyane.

Uger –uger kawruh iku ana 3, ing ngisor iki :

  1. Teteing pangudi saka dhemen
  2. Tetee laku saka rila
  3. Tetepe tapas aka ajeg

Jer ana pangudi ana bathi, jer ora ana pangudi ora ana bathi.

Lakune panyuwunan

Yen wis purun antara jam 6 ngadhega madhep ngulon, banjur angucapa :

ingsun angadheg ing satengah jagat, madhep ngulon Nur Kencana Remeng laire wengi, iki pangandikane Alah ‘kun payakun’, Siriyah, Ariyah, wahdat bayu, Jaka, tilam, Plek, Remeng, Roh Alah, Roh Pati, sedulurku 10, ingsun perang dadi 3, kang sak perangan 4 kang rumeksa ing jasat:

  1. Siriyah ana ing Kringet
  2. Ariyah saka Ari- ari
  3. Wahdat saka kang Kawah
  4. Bayu saka kang Getih

Sedulurku kang sak perangan maneh 4, kang asal saka Kodrat, panenetane saka Jantung, Tilam saka ing Ati, Plek saka ing Kebuk, Remeng saka Rempelu, Roh Alah saka Biyung, Roh Pati saka`ing Bapa, iku sedulur kang rumeksa jisimku, Papaning nguni-uni eling mula-mulanira, urip sejati manjing jumenenging pancadriya. Telakitilililoloh rasul babagan turu, rasul manjing Muhamat babagan melek. Muhamat manjing rasul jumeneng Rahsa, rasul manjing wung wang babagan Semedi, rasul Muhamat manjing sipat tuk kabeh jumeneng Hyang Permana.”

Banjur umenga mandhuwur angucapa mangkene “Bapa ngakasa”

Banjur umenga mangisor angucapa “ ibu Pertiwi aku jaluk ……… kang nganti tumeka batin

 

Banjur bengi jam 12 tumindhak maneh mangkene :

ingsun angadeg ana tengah jagat madhep ngalor, Sri Kalem uriping wengi., iki pangandikane Alah ‘kun payakun’Siriyah saka Kringet, Ariyah saka Ari- ari, Wahdat saka kang Kawah, Bayu saka kang Getih, Sedulurku kang sak perangan maneh 4, kang asal saka Kodrat, panenetane saka Jantung, Tilam saka ing Ati, Plek saka ing Kebuk, Remeng saka Rempelu, Roh Alah saka Biyung, Roh Pati saka`ing Bapa, iku sedulur kang rumeksa jisimku, Banjur umenga ing dhuwur angucapa ‘Bapa Ngakasa’, tumungkul ing bumi angucapa ‘ ibu Pertiwi aku jaluk­­……. Kang nganti tumeka batin“.

 

Banjur parak esuk sak durunge jedhul Srengenge dadi kena diarani Jar Sidik ,madhep mangetan angucapa mangkene:

ingsun angadeg ana tengahing jagat,madhep ngetan, Retna Dumilah laire rina. Iki pangandikane Alah’kun payakun’,Siriyah, Ariyah, Wahdat, Bayu,,jaka ,Tilam, Plek, Remeng, Roh Alah, Roh Pati, payakun’Siriyah saka Kringet, Ariyah saka Ari- ari, Wahdat saka kang Kawah, Bayu saka kang Getih, Sedulurku kang sak perangan maneh 4, kang asal saka Kodrat, panenetane saka Jantung, Tilam saka ing Ati, Plek saka ing Kebuk, Remeng saka Rempelu, Roh Alah saka Biyung, Roh Pati saka`ing Bapa, iku sedulur kang rumeksa jisimku. Papaning nguni-uni eling mula-mulanira, urip manjing sejati jumenenging pancadriya. Telakitilililoloh rasul babagan turu, rasul manjing Muhamat babagan melek. Muhamat manjing rasul jumeneng Rahsa, rasul manjing wung wang babagan Semedi, rasul Muhamat manjing sipat tuk kabeh jumeneng Hyang Permana

Banjur umenga mandhuwur angucapa “ Bapa Ngakasa”, banjur tumungkul ing Bumi angucapa “ Ibu Pertiwi” aku jaluk ……. Kang nganti tumeka batin.

 

 

Banjur awan jam 12 madhepa ngalor, angucapa mangkene :

ingsun angadek ana satengahing jagad, madhep ngalor Bambang Sunar Buwana uripe rina,iki pangandikane Alah’kun payakun’,Pangeran tanpa kemandhang, Surung tanpa gumantung, Nur Putih badan jasmani,ya ingsun Pangeran kang sanyata,ing donya ora ana apa-apa,

banjur umenga mandhuwur angucapa “ Bapa ngakasa “, banjur tumungkula ing Bumi angucapa “Ibu pertiwi aku jaluk …… kang nganti tumeka batin”.

Tumindhak ngadeg mau yen ana wektu angucapa mangkene, menawi wis mbok tindakake kang kasebut ing dhuwur mau, madhep mangulon, madhep ngalor, madhep ngetan, madhep mangidul padha :

  1. Angucapa “laujudan sirning” kaping 30
  2. Angucapa  “yahu kak samadining” kaping 30
  3. Angucapa “ kak hu samadining “kaping 30
  4. Angucapa “ hu kak sipat hukning “kaping 30

 

Petunge wong duwe perlu

Ing ngisor iki etunge wong arep duwe perlu, perlu apa wae. Uwong sak durunge mangreti marang ala utawa becike, sakabehe kasisedya murih kapenake nganggoa petung. Murih matenging sedya,dadi ora rongga-runggi. Sing Pramesthi mangkene :

  1. Dina kang digawe geblake bapa biyunge
  2. Dina kang digawe geblake bapa biyunge maratuwane
  3. Pengapesane kang duwe kajat lanang lan wadon.

Retine mangkene. Sing lanang wetone Slasa Legi, netune ketemu 8. Banjur dietung wiwitan uga dina Slasa Legi,Rebo Paing, Kemis Pon,sak piturute nganti ngentekake netune mau. Mengko entekke netu ana dina, ana dina Kemis Paing, uga dina Kemis Paing ora dingo.

Manawa arep duwe perlu, arep milih sasi kang dimathuki atase petung mangkene. Wetone sing duwe kajat lanang wadon dikumpulake. Netune ketemu pira, kayata : Slasa legi 10, Slasa Pon 8 sasi gunggun 18.Banjur jejera Kecik apa Krikil. 12 kang ing kono mangsut jenenge sasi kayata : Sura, Sapar, Mulut, sak piturute.

Banjur netu 18 mau diingakake siji-siji, wiwit sasi Sura,Sapar sak piturute. Nganti entek terus ditindakake kang nganti ora bisa tumindhak. Yen jalane Kecik utawa Krikil nang ngarep kono utawa nuwung.Banjur kang ditonton nang sasi kanggonan kecik akeh kang pantes dianggo ing atase petung.

Banjur goleka sasi wiwit tanggal 1 tumeka tanggal 30, kang ana dina Gara kasihe lan wedalane kang duwe kajat. Lan wedalane ning bakal arep dikangkat kaya dene temanten lanang wadon, utawa Tetakan lan Sunatan.

Banjur ngupayaa dina kang bakal dienggo. Golekana dina kang rambah kaping pira. Tegese mangkene: wiwit tanggal sepisan dina Kemis paing iku Kemis Kepisan. Banjur Kemis wage iku Kemis kaping pindho sak piturute nganti tumeka kentekake tanggal. Petunge ing ngisor iki :

1.Jemuah                  : 1.Manggih Harja                            : becik

2.Satrune Alah                               : ala

3.Harja Ageng                                 : becik

4.Dosa Ageng                                 : ala

5.Satrune Alah                               : ala

 

Setu                            1.Satrune Alah                                 : ala

2.Harja Ageng                                   : becik

3.Dosa Ageng                                   :ala

4.Harja Ageng                                   : becik

5.Satrune Alah                                 : ala

 

Minggu                      1.manggih palarame                      : ala

2.manggih guna                               : becik

3.Dosa Ageng                                   : ala

4.Harja Ageng                                   : becik

5.Satrune Alah                                 : ala

 

Senen                         1.Manggih guna                               : becik

2.Harja                                                 : becik

3.Eru                                                     : ala

4.Harja Ageng                                   : becik

5.Dosa Ageng                                   : ala

 

Slasa                            1.Satrune Alah                                 : ala

2.Harja harja                                     : becik

3.Asal                                                   : ala

4.Harja Ageng                                   : becik

5.Satrune Alah                                 : ala

 

Rebo                           1.Harja                                                 : becik

2.Harja Ageng                                   : becik

3.Dosa Ageng                                   : Ala

4.Harja Ageng                                   : becik

5.Satrune Alah                                 : ala

 

Kemis                         1.Manggih guna                               : becik

2.Satrune Alah                                 : ala

3.Harja Asih                                       : becik

4.Harja Ageng                                   : becik

5.Satrune Alah                                 : ala

 

Ing ngisor iki ketrangane sangat 5 :

Wiwit tanggal 1 tumeka tanggal 5, tanggal 6 tumeka tanggal 10, tanggal 11 tumeka tanggal 15 sak piturute. Dene uripe sangat saben 3 jam ganti, kajaba sangat kang akhir. Kang kebageyan jam 6 sore kewajiban sewengi tumeka jam 6 esuk.

 

Tanggal 1

Jam 6 tumeka jam 9                             : Amat pitutur

Jam 9 tumeka jam 12                           :Jaba Rail Kalangan

Jam 12 tumeka jam 3                           :Braim Pacak

Jam 3 tumeka jam 6                             : Dhusun Slamet

jam 6 tumeka jam 6                              :Ngijrail rejeki

 

Tanggal 2

Jam 6 tumeka jam 9                             : Jaba rail rejeki

Jam 9 tumeka jam 12                           :Braim pitutur

Jam 12 tumeka jam 3                           :Dhusun kalangan

Jam 3 tumeka jam 6                             : Ngijrail Pacak

jam 6 tumeka jam 6                              :Amat Slamet

Tanggal 3

Jam 6 tumeka jam 9                             : Braim Slamet

Jam 9 tumeka jam 12                           :Dhusun rejeki

Jam 12 tumeka jam 3                           :Ngijrail pitutur

Jam 3 tumeka jam 6                             : Amat kalangan

jam 6 tumeka jam 6                              : Jabarail pacak

Tanggal 4

Jam 6 tumeka jam 9                             : Dhusun pacak

Jam 9 tumeka jam 12                           : Ngijrail Slamet

Jam 12 tumeka jam 3                           : Amat rejeki

Jam 3 tumeka jam 6                             : Jabarail Pitutur

jam 6 tumeka jam 6                              : Braim kalangan

Tanggal  5

Jam 6 tumeka jam 9                             : Ngijrail kalangan

Jam 9 tumeka jam 12                           : Amat pacak

Jam 12 tumeka jam 3                           : Jabarail Slamet

Jam 3 tumeka jam 6                             : Braim rejeki

jam 6 tumeka jam 6                              : Dhusun rejeki

 

Ing ngisor iki diarani nas sasi

  1. Pasa
  2. Sawal
  3. Dulkaidah : aja nganggo dina Jemuah
  4. Besar
  5. Sura
  6. Sapar : aja nganggo dina senen, slasa
  7. Mulut
  8. Bakda mulut
  9. Jumadilawal : Aja nganggo senen, slasa
  10. Jumadilakir
  11. Rejep
  12. Ruwah : Aja nganggo dina Rebo, Kemis

Ing ngisor iki arane Pati dina

  1. 1.      Jemuah manggon ana Etan
  2. 2.      Setu, Akat manggon ing Kidul
  3. 3.      Senen, Slasa manggon ing kulon
  4. 4.      Rebo , kemis manggon ana Lor

 Ing ngisor iki petung menawa arep ngadegake omah. Luwih utama nganggo petung iki.

Golekana dina, ketemune pira, banjur dietung mangkene :

  1. Srih                        : kanggo bahan omah Buri
  2. Kitri                        : kanggo bahan omah Dhapa
  3. Gada                     : kanggo bahan omah Gandhok
  4. Lindhu                  : kanggo bahan omah Regol
  5. Pokah                   : kanggo bahan omah Kandhi

Ing ngisor iki petunge wong arep bali jaman utawa bayi lair.

  1. 1.      Jemuah                jam 8,10,12,3,4
  2. 2.      Setu                      jam 6,7,11,3,4
  3. 3.      Akat                      jam 8,10,1,3,5
  4. 4.      Senen                   jam7,8,12,2,5
  5. 5.      Slasa                     jam 6,11,1,3,5
  6. 6.      Rebo                     jam 7,9,11,2,4
  7. 7.      Kemis                   jam 8,11,1,3,4

Ing ngisor iki Wilujengan wong mulih jaman, wiwit Geblag tumeka Sewu.

Kayata geblage ana dina Akat Kliwon, tanggal ping 5 sasi Jumadilakir tahun Alip, petunge mangkene :

  1. Ngat kliwon        : geblage
  2. Slasa Paing          : 3 dinane
  3. Setu legi              : 7 dinane
  4. Kemis wage       : 40 dinane
  5. Senen wage       : 100 dinane
  6. Rebo Pon            : Pendhak sepisane
  7. Setu legi              : Pendhak sapindho
  8. Jemuah Wage   : sewu

Sapta wara

  1. Ngat                      : Geblage
  2. Senen                   : 100 dina
  3. Slasa                      : 3 dina
  4. Rebo                     : Pendhak
  5. Kemis                   : kemis 40
  6. Jemuah                : Sewu
  7. Setu                      : 7 dina

Panca wara

  1. Kliwon                  : geblage
  2. Legi                        : 7 dinane
  3. Paing                     : 3 dinane
  4. Pon                        : Pendhak sepisa
  5. Wage                    : 40, 100, 1000

Dene pendhak pindho di etung saka dina kang kanggo pendhak sapisan, upamane pendhak sepisan Rebon, Pendhak kapindhone dina Setu legi.

Manawa geblage ana tanggal 1, tumeka tanggal 5 , Sewune dina sasine mundur 3. Manawa geblage ana tanggal ping 6 sak piturute, Sewu dinane sasine mundur 2.

Ing ngisor iki donga tangi turu kang nalika turune ngimpi, kang donga mau tegese nyuwun pangapuraning Gusti Alah.

“ Bismilahirohmanirrohim, Allahuiniawudu bikaminngamalis saetani, wasatihtilammi birohmatikakamdha arkammurohimin

  1. 1.      Sambawane bawana
  2. 2.      Sambawane manah
  3. 3.      Sambawane sukma

1)    Kaheningan kalayan luyut

2)    Kaheningan bakahumlawung

3)    Kaheningan lega rahmat

Sarining rasa pindha pecahing Supana, Sarining permana kang sipat, Sanawinine samun, Sarining Sikma sejatine kang mangkana pun kakinan nugrahaneng Hyang Widhi.

Ing ngisor iki piwukang kanggo nyumurupi piranti badan jasmani

  1. 1.      Kawah manjing dhateng Amarah
  2. 2.      Tuntunan manjing dhateng Aluamah
  3. 3.      Puser manjing dhateng Supiyah
  4. 4.      Ari – ari manjing dhateng Mutmainah

 

  1. 1.      Amarah manjing malaekat Ngijrail
  2. 2.       Aluamah manjing malaekat Jabarail
  3. 3.      Supiyah manjing malaekat Mingkail
  4. 4.      Mutmainah manjing malaekat Ngisrail

 

  1. 1.      Kambali manjing dhateng Talingan
  2. 2.      Kanapi manjing dhateng Netra
  3. 3.      Maliki manjing dhateng Grana
  4. 4.      Sapingi manjing dhateng Tutuk
  5. 5.      Lapal bhe’ manjing bha’, lapal Alip manjing Alip, bha’ manjing banyu kang nguripi, Alip manjing Alip Alah kang nguripi.
  6. 1.      Ashadu                : Tangan kula kalih
  7. 2.      Lailaha                 : Badan kula sadaya
  8. 3.      Ilalahu                  : Nur cahya kula ingkang wening, jumeneng ing bathuk
  9. 4.      Wa’ashadu         : Suku kula karo
  10. 5.      Ana                        : Asmane Pangeran
  11. 6.      Muhamadar       : Sami kula alit
  12. 7.      Rasulaloh            : Rasa kula

Ing ngisor iki piwulang kanggo anyumurupi prabote uripe badan jasmani

  1. 1.      Anon                     tegese Senting Eling
  2. 2.      Non                       tegese rasane Eling
  3. 3.      Panon                   tegese pindhaning Eling
  4. 4.      Manon                 tegese kang ngudikake Eling

******************************************************************************

  1. 1.      Lintang Johar iku Puser
  2. 2.      Alah iku Badaningsun
  3. 3.      Mukamat iku cahyaningsun
  4. 4.      Rasul iku rasaningsun

******************************************************************************

  1. 1.      Iman tegese ngandel
  2. 2.      Tokit tegese Iradhat lan karsa
  3. 3.      Maripat tegese Waskitha
  4. 4.      Islam tegese Slamet

******************************************************************************

  1. 1.      Sa                           tegese sipat sawiji
  2. 2.      La                           tegese manungsa kang mardika
  3. 3.      Wat                       tegese Alah kang kuwasa

******************************************************************************

  1. 1.      Dat                         tegese ana
  2. 2.      Sipat                     tegese wujut
  3. 3.      Asma                    tegese sami
  4. 4.      Apengal               tegese panggawe
  5. 1.      Wujut iku wahana, wahana iku getih, mula getih iku wahanane roh
  6. 2.      Ngelmu iku makripat, mula makripat iku pangawasane roh
  7. 3.      Nur iku cahya, mula cahya iku dadi tandhane roh
  8. 4.      Suhuk iku sakadi, sakadi iku apan, mula sapan iku dadi tandhane roh.

******************************************************************************

  1. 1.      Margane pati kayata duk samadi, Gusti nunggal lawan kawula, wus ora ngalah ngalih panggon lan ora mangeran marang wujut.
  2. 2.      Sangune pati : Katresnanira marang Pangeran  bisane sampurna lahir tumekane bathin.
  3. 3.      Ketemune pati : Pasrah utawa Semendhe  kersane Pangeran
  4. 4.      Panggonane Pati: dumunung telu-telune manunggal urip kang nguripi Kang gawe urip. Urip tegese getih karo napas.Wiji saking tirta Kamandhanu kang nguripi Prabawane Trimurti, patemone Bumi, Geni, banyu, angin. Kang gawe urip Purbane Premana Jati, Kuawasane Hyang Sukma.

1. Pathine urip kang ana jagat cilik nami Tri Purusa, kayata :

  1. 1.      Sarining napas kawengku Kraton Wahyamaya ing Utek
  2. 2.      Sarinig Getih kawengku Kraton Daryamaya ing Jantung, jumeneng Mahnimahmaya
  3. 3.      Sarining Rasa kawengku Kraton Linggamaya ing Ati, jumeneng Sarimahmaya

2.Pathining urip kang ana ing jagat Gedhe nami Tri Karasa.

  1. 1.      Sarining Angin kawengku Kraton Wahyamaya, saka Prabawane Lintang
  2. 2.      Sarinig Banyu kawengku Kraton Daryamaya,saka Prabawane Rembulan
  3. 3.      Sarining Panas kawengku Kraton Linggamaya, saka Prabawane Srengenge
    1. 1.      Sarining Napas manusup gathuk karo sarining angin dadi obah-osiking kaelingan kita
    2. 2.      Sarining Getih manusup gathuk karo sarining banyu dadi obah-osiking pangrasa pancering urip kita
    3. 3.      Sarining rasa manusup gathuk karo sarining panas dadi obah-osiking angen-angen kita.
  • Mahdimahmaya kumara saking pambukaning eling madeg cipta sasmita swara
  • Mahdimahmaya kumara saking pambukaning pangrasa madeg cipta sasmita ganda.
  • Sahri mahmaya kumara saking pambukaning angen-angen madeg cipta sasmita rupa
    • Panarike  swara kamireng alam Tejamaya kaya pecahing Supana
    • Panarike ganda kamireng alam Tejamaya kaya pecahing Supana
    • Panarike Rupa kamireng alam Tejamaya kaya pecahing Supana

 

 

  1. 1.      Sajroning sirah iku utek, sajrone utek Wahyamaya ya Bintal Makjur ingkang dumunung ing Akasa. Alip muntaklimun wakip, telenging Alip muntaklim wakip, Dat kang amurwengrat, Telenging Dat kang amurwengrat Hyang Maha Kuwasa.
  2. 2.      Sajrone dhadha sak ngandhape susu kiwa iku ketek, ketek iku pamoking jantung, telenging Jantung Daryamaya, ya Bintal mukyat. Ingkang dumunung ana ing kono Alip mutabakin. Telenging Alip mutabakin sejatine kang Gesang datanpa wruh.
  3. 3.      Sajrone dhadha iku Ati, Sajrone Ati Linggamaya ya Nital Mukaram. Ingkang dumunung ana ing kono Angen-angen yaiku rasa, cipta, budi, karsa winastanan Pancadriya pinancaran pangrasa pancaring urip
  4. 4.      Sajrone perji, menawi Jaler Panta Purusa. Menawi Estri Pasti Kaba winastanan Nindyamaya, ya Bintal Mukadas. Ingkang dumunung ana ing kono iku Prana makarti kudhaning sang lulut, sengseme gegosokan, sengseme marindinging ilining mani saka telenging Prana Kekalih.

 

 

 

 

 

Petikan Babad Salatiga

PERJUANGAN PENGERAN SAMBERNYAWA

Peranan dan Politik VOC

Agar supaya kita dapat mengerti dan memberi nilai yang sewajarnya kepada perjuangan Pangeran Sambernyawa, sebaiknya kita mengerti terlebih dahulu sistem politik VOC ( Verenigde Oost Indische Compagnie ) ialah Perserikatan Dagang Bangsa Belanda yang beroperasi di Indonesia dalam abad ke 17 Masehi, sampai akhir abad ke 18.Bangsa Indonesia menyebut VOC itu dengan nama Kompeni Belanda atau “ Kompeni “ saja.

Adapun sistem politik Kompeni di Indonesia ( Jawa ) dapat dibagi menjadi 5 tingkatan, yaitu : Memperkenalkan diri, menghormat dan menghaturkan benda-benda berharga sebagai tanda hormat dan terima kasih kepada yang memegang kekuasaan : Jaman Sunan Amangkurat I di Mataram th. 1645 – 1677 Masehi.

Mencampuri urusan dalam negeri : jaman pemberontakan Trunojoyo th. 1676 – 1681 Masehi.

Mempraktekkan politik “ Memecah belah “ dan memperoleh monopoli perdagangan : Jaman Sunan Amangkurat II th. 1681 – 1703 Masehi.

Menguasi tanah Jawa sedikit demi sedikit : mulai wafatnya Sunan Amangkurat I sampai rebutan Keraton yang pertama ( th. 1704 – 1708 M ) dan perang rebutan Keraton yang kedua ( th. 1719 – 1723 M )

Menguasi tanah Jawa hampir penuh : Jaman Sunan Pakubuwono II samapi masa pembagian Kerajaan Mataram menjadi dua, th. 1755 dan berdirinya Kadipaten Mangkunegaran th. 1757 M.

Dalam tingkatan yang kelima tsb, maka semua kerajaan Nasional di Jawa sudah runtuh, daerah-daerahnya menjadi milik kompeni Belanda, dan raja-rajanya menjadi raja-raja peminjam atau Vazal-vazal kompeni Belanda belaka.

Dalam tingkatan kelima itu pula bertahtalah seorang raja setengah Vazal di kerajaan Mataram yang beribu kota Kartasura. Raja ini adalah pilihan kompeni Belanda atas dasar sifat-sifat lemahnya sang raja, yaitu Susuhunan Pakubuwono II bertahta pada th. 1727 – 1749 masehi.

Dalam pemerintahan Susuhunan Pakubuwono II ini muncullah 2 tokoh nasional yang gagah berani, kuat dan ulet lahir batinnya, mampu menggerakkan seluruh tanah Jawa dan Banten sampai Madura dan membuat pusing kepala kompeni Belanda selma 10 tahun, terus menerus , dua orang tokoh itu ialah :

Pangeran Mangkubumi, Putera Sinuwun Amangkurat IV di Kartasura, yang akhirnya menjadi Sultan Hamengkubuwono I di Yogyakarta.

Pengeran Mangkunegara, Sambernyawa, cucu Sinuwun Amangkurat IV di Kartasura.

Nasib buruk dimasa kecil Pangeran Sambernyawa

Pangeran Sambernyawa itu nama kecilnya R.M Sahid, putera Pangeran Mangkunegara Kendang. Ibunya bernama R. Ay. Wulan, puteri Pangeran Blitar.

Pangeran Mangkunegara Kendang itu putera Sinuwun Amangkurat IV di Kartasura yang sulung. Belio ini saudara sepupu R.Ay. wulan, Belio dilahirkan dari seorang garwa-selir Amangkurat IV bernama R. Ay. Sumanarsa atau R. Ay Kulo yang disebut R. Ay, Sepuh, berasal dari desa Keblokan, tanah lor ( Wanagiri ). Di dalam lingkungan Keraton Kartasura belio disebut Pangeran Mangkunagara Kendang, oleh karena belio dikendangkan yaitu diasingkan atau dibuang ke Kaapstad, Afrika Selatan, sampai wafatnya, kemudian jenazahnya dimakamkan di Astana Imagiri, Yogyakarta.

R.M Sahid lahir pada tanggal, 7 April 1726 di Kartasura. Nama Sahid itu pemberian dari neneknda Amangkurat IV, beberapa waktu sebelum wafat. Maksud pemberian nama Sahid itu ialah bahwa Sri Sunan masih menyaksikan lahirnyacucunda yang terakhir dalam masa hidupnya.

Dimasa kecilnya R. Sahid mengalami penderitaan hidup yang sangat berat. Ketika berusia 3 tahun, belio kehilangnya ibunya, karena pulang kerahmatullah. Tahun berikutnya belio ditinggalkan oleh ayahnya, karena sang ayah atas perintah Pakubuwuno II di Kartasura disingkirkan dari ibu kota kerajaan Mataram ke Betawi, dan 3 tahun kemudian “ Dikendangkan “ ke Kaaspstad seumur hidup. R.M Sahid dan beberapa adinya dibawa ke Keraton sebagai anak piatu, dan mendapat pendidikan, perlakuan dan pengalaman yang akibatnya menyudutkan belio kepada : prihatin dan sakit hati.

Setelah beliau mencapai usia remaja, diangkat sebagai pegawai keraton dengan pangkat Mantri Gandek Anom dengan sebutan dan nama R.M Suryakusuma dan diberi “ Gaduhan “ ( hak pakai ) sawah di Ngawen seluasa 50 jung ( =200 bahu ). Dua orang adiknya bernama R.M Ambiya dan R.M Sabar juga diangkat menjadi Mantri Gandek Anom berturut-turut dengan gelar dan nama : R.M Martakusuma dan R.M Wiryakusuma, masing-masing diberi gaduhan tanah seluas 100 bahu.

Mulai berjuang

Dengan meningkatnya usia dan kesadarannya, maka R.M suryakusuma ( Sahid ) merasakan nasibnya yang buruk menjadi berat. Perlakuan tidak adil dan sewenang-wenang yang dikenakan kepada ayahnya ( almarhum Pangeran Mangkunagara Kendang ) menggigit jantung pemuda R.M Suryakusuma. Akhirnya belio mengambil keputusan : mau berontak, menentang pemerintahan Pakubuwono II, untuk merebut bagian dari kerajaan Mataram bagi diri pribadi. Beliau mengambil dua orang pembantu utama yang merupakan bahu kiri dan kanannya, ialah : Wiradiwangsa, pamannya sendiri berassal dari Laroh. Sutawijaya, anak almarhum Tumenggung Wirasuta yang tidak dapat mengganti kedudukan ayahnya, tetapi menerima banyak uang dan harta benda peninggalan ayahnya.

Pemuda-pemuda Kartasura yang menggabungkan diri pada gerakan R.M Sahid, mula-mula ada 18 orang. Atas nasehat ki Wiradiwangsa, maka R.M Sahid beserta pembantu-pembantunya dan pemudapemuda pengikutnya berpindah ke Tanah Laroh, yaitu asal leluhur R.M sahid dari pihak neneknya bernama R. Ayu Sumanarsa. Disini belio mendapat simpati dari pihak rakyat sehingga dalam waktu yang tidak lama belio mempunyai pengikut banyak sekali. Segera diadakan peraturan secara organisasi perjuangan yang bai dan praktis, demikian : R.M Sahid menjadi pemimpin utama, Ki Wiradiwangsa diangkat menjadi pepatihnya, diberi gelar dan nama Kyai Ngabehi Kudanawarsa dan R.M Sutawijaya menjadi pemimpin pasukan tempur, diberi gelar dan nama Kyai Ngabehi Rangga Panambangan.

Pemuda-pemuda berasal dari Kartasura yang semula 18 orang banyaknya, kemudian bertambah menjadi 24 orang, merupakan barisan inti, disebut “ Punggawa “. Namanya digantisemua menjadi nama dengan permulaan : “ Jaya “ misalnya Jaya Panantang, Jaya Pamenang, Jaya Prawira dsb. “ Jaya “ artiny = sakti atau menang.

Tiap hari diadakan latihan perang, cara menyerang, menangkis dan membela diri. Tiap malam diadakan bermacam-macam latihan rohani misalnya : Menyepi ditempat-tempat yang gawat dan keramat, bertirakat, bertarak brata, mohon kepada Tuhan agar tercapai cita-citanya : ada pula yang merendam diri di sendang atau di dalam lubuk yang angker. Para pengikut R.M Sahid itu semua juga digembleng jiwa dan semangatnya dengan diberi wejangan-wejangan oleh para kyai antara lain oleh kyai Nuriman, modin di Laroh. Dengan demikian para pengikut R.M Sahid dalam waktu beberapa bulan saja sudah merupakan pasukan tempur yang digembleng jiwa raganya, sedang jumlahnya tidak sedikit. Mereka semua bersemangat tinggi, ingin selekas mungkin diajukan ke medan pertempuran. Dan kesempatan yang dinanti-natikan mereka itu segera datang juga, ialah dengan adanya : Geger Pacina.

Geger Pacina

Pada bulan juli 1742 M terjadilah peristiwa “ geger Pacina “ dikaraton Kartasura. Dalam waktu satu malam saja istana Kartasura sudah dapat direbut oleh pasukan Cina-Jawa dibawh pimpinan R.M Garendi, cucu Sunan Amangkurat Mas III yang telah diasingkan oleh kompeni Belanda ke pulai Sailan pada tahun 1708 M. R.M Garendi tersebut oleh para pengikutnya diangkat sebagai raja Mataram yang syah, dengan gelar dan nama Sunan Amangkurat IV.

Sunan Pakubuwono melarikan diri, mengungsi ke Ponorogo. Dari sini beliau minta bantuan kompeni di Jakarta. Bala bantuan segera datang dari Madura dibawah pimpinan P. Cakraningrat IV. Dalam bulan Desember 1742 Sunan Kuning, demikian nama julukan Sunan Amangkurat V, beserta semua pengikutnya diusir dari keraton Kartasura, lalu berpindah ke desa Randulawang, daerah Mataram.

Bergabung dengan Sunan Kuning.

RM. Said dengan seluruh pasukannya bergabung dengan Sunan Kuning untuk mempraktekkan kecakapannya berperang bahkan diangkat menjadi panglima tentara Sunan Kuning bahkan diberi gelar Panglima Prang Wadana (April 1743).”>Kala itu usia beliau 17 tahun.>

Pada sat Sunan Kuning dikecar tentara Kompeni dan terpaksa bergeser kedaerah Keduang – Ponorogo – Madiun – Caruban. R.Said mengikuti perjalanan Sunan Kuning lalu berpisah di Caruban kemudian Sunan Kuning bergerak ke Jawa Timur bergabung dengan keturunan Untung Suropati namun tak lama kemudian menyerah pada Kompeni dan berakhirlah geger pacinan tersebut.

Adapun P. Prang Wardana ternyata mempunyai cita-cita lain dari Caruban beliau menuju ke barat menuju daerah Sukowati dimana oleh masyarakat setempat dia diangkat sebagai pimpinan dengan gelar Pangeran Adipati Anom Amangkunegoro Senopati Ing Ngalogo Sudibianing Prang. Lalu bergerak terus ke Panambangan melalui Jati Rata, Mateseh dan Segawe. Namun disini beliau tidak kuat menghadapi serangan pasukan P. Mangkubumi atas perintah Paku Buwono II yang telah bertahta di Kartasura.

Dalam babat giyanti (Pujangga Yasadipura I), ketika RM. Sahid menobatkan diri sebagai raja Jawa dengan gelar Sunan Adiprakosa Senopati Ngayuda Lelana Jayamisesa Prawira Adiningrat, serta duduk disinggasana dan dihadapan bala tentaranya tersambar petir dan terkena dampar tahtanya hingga remuk beliau jatuh pingsan diatas lantai namun tidak wafat hal ini tidak masuk akal jikalau ada seorang duduk diatas kursi lalu disambar petir seharusnya beliau pun ikut hancur. Dalam peristiwa tersebut Kyai Tumenggung Kuda Nawarsa segera menolongnya dan menunjukkan mengapa ini bisa terjadi, yaitu : kesombongan beliau atas pemberian gelar raja Jawa yang sebetulnya belum selayaknya disandang dengan kenyataan inilah dia berganti gelar Pangeran Arya Mangkunegoro (1746).

Kejadian tersebut disusul dengan peristiwa dimana markas besarnya di Panembangan diserbu dan diduduki Kompeni yang dipimpin Mayor Van Hohendorff serta patih Pringgolaya dari Paku Buwono II bahkan begeser ke Ngepringan – Pideksa – Tirtamaya – Keduang – Girimarta – Nggabayan – Druju – Matesih – hingga sampai didesa padepokan Samakaton bahkan waktu di daerah Ngepringan sang pangeran hampir terbunuh bahkan sempat berpisah dari keluarga dan pasukannya mendaki bukit dan turun gunung bersama Kyai Kuda Nawarsa dan Kyai Surawijaya. Di Pedepokan Samakaton tinggal 2 pertapa kakak beradik namanya Ki Ajar Adisana dan Ki Ajar Adirasa. Beliau berguru pada keduanya dan diberi wejangan yang intinya  :

Kyai guru tersebut menunjuk kesalahan Pangeran Mangkubumi atas kesombongannya

Kedua beliau mendapat hukuman dai Ilahi

Beliau harus bertobat secara mendalam

Beliau hendaknya mencontoh Panembahan Senopati Ing Ngelogo Mataram dan pada Pamannya Pangeran Mangkubumi

Beliau diuji menjalankan laku – dan bertapa selam 7 hari-malam tanpa makan dan minum seorang diri di Gunung Mangadeg.

Menurut Babat Giyanti dalam pertapaannya terjadi sesuatu keajaiban yaitu mendapat pusaka secara gaib berupa satu tombak vaandel yang bernama Kyai Buda dan satu kerangka tambur bernama Kyai Slamet yang menunjukkan simbol kejayaan.

Dibagian lain Pujangga Yasadipura I memaknakan fenomena di Samakaton ini dengan mengkiaskan maksud pendidikan moral – mental yaitu :

1. satu Samakaton 2. Adisana 3. Adirasa 4. Mangadeg 5. Vaandel(tombak) 6. Kerangka tambur, artinya adalah :

Samakaton artinya kesemua hal dapat terlihat apabila manusia mau datang menyepi ditempat yang indah, yaitu

Adisana artinya tempat yang indah, apabila manusia berani laku menyepi di tempat yang indah itu akan mendapatkan rasa ynag indah pula yang akhirnya menimbulkan kemurnian dihati nuraninya

3.      Adirasa artinya rasa yang indah.

Dalam hal 1, 2, 3 tersebut diatas kenyataannya apabila manusia sanggup berdiri (mangadeg – mendirikan Imannya) kepada Yang Maha Kuasa seperti tegaknya vaandel tersebut.

Tombak atau Vaandel simbol kejayaan apabila ditambahkan dengan rasa suci, sunyi, kosong, kang Hamengku Hana (ada) yang dinisbatkan dengan :

Kerangka tambur diguning Mangadeg tersebut.

Setelah mendapatkan ilafat baik tersebut beliau menuju ke markas besar pamannya  (Pangeran Mangkubumi dai Jekawal – Sragen Utara ) untuk menggabungkan diri dan memohon perlindungan pamannya walaupun dalam perjalannya menemui banyak kesukaran karena ada pengumuman dari kompeni yang apabila dapat menangkapnya hidup atau mati akan mendapat hadiah pangkat dan uang. Dikisahkan dalam pertemuan dengan pamannya tersebut beliau diterima baik oleh pamannya bahkan diberikan bantuan seperangkat senjata dan prajurit untuk kembali kemarkasnya di daerah Gumantar.

Pangeran mangkubumi adalah adik Paku Buwana II yang berlainan ibu yang pada saat itu memenuhi seruan Paku Buwono II untuk membasmi peberontakan RM. Sahid dan Martapura. Untuk sementara Pangeran Mangkubumi berhasil meredam pemberontakan walaupun harus meloloskan RM. Sahid. Hal ini menimbullkan konflik dari dalam dimana  PB II yang tadinya menjanjikan tanah Sukowati bagi yang dapat menangkap RM. Sahid akhirnya mengingkari janjinya karena kelicikan Patihnya sendiri yaitu Pringgolaya. Dikarenakan sebab ini Mangkubumi pada 19 Mei 1746 meninggalkan karaton Surakarta dan memberontak yang pada akhirnya mendirikan kerajaan diYogykarta dan menjadi Sultan Hamengku Buwono I.

Demikian riwayat singkat Rm. Sahid yang kemudian dikenal dengan nama Adipati mangkunegoro I atau Pangeran Samber Nyawa beliau memegang tampuk pimpinan Kadipaten Mangkunegaran mulai tahun 1757 sampai wafatnya 1795 jenasahnya dimakamkan di Mangadeg dan berdirinya Kadipaten Mangkunegaran ini diperingati dengan sangkalan : MULAT SARIRA NGRASA WANI = berarti tahun Jawa 1682, bersamaan dengan tahun Masehi 1757. Nama julukan Pangeran Adipati Mangkunegara I ialah Sambernyawa. Nama yang terakhir ini adalah nama Pedang pusaka Mangkunagaran, yang sangat ampuh dan tajam, tepat sekali untuk menyambar nyawa musuh.

Analisis Sloka 24 Kitab Pararaton Singhasari Runtuh

Sloka 24, kitab Pararaton.

Çri Ranggawuni atingal putra lanang, ara Çri Kertanegara: sira Mahisacampaka atingal putra lanang aran raden Wijaya. Siraji Kartanagara sira ajeneng Prabhu abhiseka bhatara Çiwabhuddha.

Hana ta wong ira, babatanganirabuyuting Nangka, aran Baňakwide sinungan pasenggahan arya Wiraraja. Arupa tan kandel denira dipohaken kinon adipatia ring sungenep anger ing Madura wetan. Hana ta patihira nduk wahu anjeneng Prabhu, puspanata sira mpu Raganata, nityasa angaturi rahayuaning tuhan. Tan kedep denira Çri Kertanagara : sangkanira mpu Ragantha asaiah linggih mantunb apatih, ginanten denira Kebotengah sang apanji Aragani.

Sira mpu Raganatha gumanti dadi adhyaksa ri Tumapel. Sapanjeneng Sri Kertanagara angilangaken kalana aran Bhaya. Huwus ing kalana mati,angutus ing kawulanira, andona maring Malayu. Samangka akedik kari wong Tumapel, akeh kang katuduh maring Malayu.

Sira apanjy Aragani angateraken mangsul ing Tuban, teka ring Tumapel sang apanjy Aragani angatur tadahan pratidina, akasukan siraji Kertanagara.

Hana ta pasawalanira lawan siraji Jayakatong ratu ring Dana, pinaka musuhira siraji Kertanagara. Kemerpangaladeçaning çatra, tan enget yan dosanira. Sira Baňakwide atuwuh patang puluh tiga duk pamalayu, amitra lawan siraji Jayakatong, asaruwen akenkenan saking Madura. Sira Wiraraja akirim surat dhateng I siraji Jayakatong . Unining sawalan : “ Pukulun, patik aji matur ing paduka aji anenggeh paduka aji ayun abuburua, duweg kaladeçanipun tamboten wonten baya, tamboten macanipun, tamboten bantengipun.muwah ulanipun, rinipun : wonten macanipun anging guguh”. Sang patih-tuha sira Raganatha kang ingaran macan guguh apan sampun atuha, Samangkana siraji Jayakatong mangkat amerep ing Tumapel. Sanjata kang saka loring Tumapel wong Daha kang ala-ala tunggal kalawan tatabuhan penuh, rusak deça saka loring Tumapel akeh atawan kanin kang amamarengaken.Sanjata Batara Çiwabudhha pijer anadhah sajeung.Ingaturan yan pinerep saking Daha, apahido sira lagi amijilaken andika : “kadi pira siraji , Jayakatong mangkonoa ring ingsun apan sira huwus apakenak lawanisun”.

Terjemahan bebas

Sri Ranggawuni meninggalkan seorang anak laki laki, bernama Sri Kertanegara, Mahisa Campaka meninggalkan seorang anak laki laki juga, bernama Raden Wijaya. Kertanegara menjadi Raja, bernama nobatan Batara Siwabuda.

Adalah seorang hambanya, keturunan orang tertua di Nangka, bernama Banyak Wide, diberi sebutan Arya Wiraraja, rupa rupanya tidak dipercaya, dijatuhkan, disuruh menjadi Adipati di Sungeneb, bertempat tinggal di Madura sebelah timur. Ada Patihnya, pada waktu ia baru saja naik keatas tahta kerajaan, bernama Mpu Raganata, ini selalu memberi nasehat untuk keselamatan raja, ia tidak dihiraukan oleh Sri Kertanegara, karenanya itu Mpu Raganata lalu meletakkan jabatan tak lagi menjadi Patih, diganti oleh Kebo Tengah Sang Apanji Aragani.

Mpu Raganata lalu menjadi Adiyaksa di Tumapel. Sri Kertanegara pada waktu memerintah, melenyapkan seorang kelana bernama Baya. Sesudah kelana itu mati, ia memberi perintah kepada hamba rakyatnya, untuk pergi menyerang Melayu.

Apanji Aragani menghantarkan, sampai di Tuban ia kembali, sedatangnya di Tumapel Sang Apanji Aragani mempersembahkan makanan tiap tiap hari, raja Kertanegara bersenang senang.

Ada perselisihannya dengan raja Jaya Katong, raja di Daha, ini menjadi musuh raja Kertanegara, karena lengah terhadap usaha musuh yang sedang mencari kesempatan dan ketepatan waktu, ia tidak memikir kesalahannya. Banyak Wide berumur 40 tahun pada peristiwa penyerangan Melayu itu, ia berteman dengan raja Jaya Katong, Banyak Wide yang bergelar Arya Wiraraja itu dari Madura, mengadakan hubungan dan berkirim utusan. Demikian juga raja Jaya Katong berkirim utusan ke Madura. Wiraraja berkirim surat kepada raja Jaya Katong, bunyi surat: “Tuanku, patik baginda bersembah kepada paduka raja, jika paduka raja bermaksud akan berburu di tanah lapang lama, hendaknyalah paduka raja sekarang pergi berburu, ketepatan dan kesempatan adalah baik sekali, tak ada bahaya, tak ada harimau, tak ada banteng, dan ularnya, durinya, ada harimau, tetapi tak bergigi.” Patih tua Raganata itu yang dinamakan harimau tak bergigi, karena sudah tua. Sekarang raja Jaya Katong berangkat menyerang Tumapel. Tentaranya yang datang dari sebelah utara Tumapel terdiri dari orang orang yang tidak baik, bendera dan bunyi bunyian penuh, rusaklah daerah sebelah utara Tumapel, mereka yang melawan banyak yang menderita luka. Tentara Daha yang melalui jalan utara itu berhenti di Memeling.
Batara Siwa Buda senantiasa minum minuman keras, diberi tahu bahwa diserang dari Daha, ia tidak percaya, selalu mengucapkan kata: “Bagaimana dapat raja Jaya Katong demikian terhadap kami, bukanlah ia telah baik dengan kami.” Setelah orang membawa yang menderita luka, barulah ia percaya.

Analisis

Dari sepenggal kisah diatas dijelaskan bahwa setelah Ranggawuni mangkat, ia digantikan oleh anaknya yang bernama Kertanegara. Ia memerintah dengan gelar Sri Maharaja Kertanegara. Pada masa kekuasaannya ia digambarkan sebagai pemimpin yang egois dan mementingkan perutnya. Ia adalah raja yang gemar pesta dan mabuk-mabukan .

Dalam pemerintahannya sempat terjadi pergantian kabinet yang membuat banyak kalangan bhayangkara tidak puas. Antara lain Empu Raganata diturunkan dari jabatan rakryan patih menjadi adhyaksa. Penggantinya bernama Kebo Tengah atau Panji Aragani, sedangkan Arya Wiraraja dimutasi dari jabatan rakryan demung menjadi Bupati Sumenep. Panji Aragani digambarkan sebagai patih yang gemar pesta-pora, sehingga sang raja pun larut dalam pestanya. Ketika itu kebanyakan prajurit istana tengah dalam Ekspedisi Pamalayu, sehingga tjumlah tentara di istana sangatlah sedikit. Keadaan ini dimanfaatkan oleh Jayakatong (Jayakatwang) yang saat itu menjadi raja di Daha untuk menyerang Singasari. Kertanegara akhirnya tewas dalam pemberontakan Jayakatong dan dengan demikian berakhirlah sudah Kerajaan Singasari .

Sebuah akhir yang cukup tragis bagi Singasari yang baru saja merasakan kedamaian setelah bergabungnya dua anak-turun penguasa. Nikmatnya kekuasaan dan semangat untuk merdeka menjadi objek utama dalam mengkaji sejarah Singasari. Obsesi tinggi akan kekuasaan, konflik internal, dan ketidakbecusan dalam mengurus rakyat membuat raja-raja yang memimpin jarang yang mampu bertahan lama. Intrik politik dan kudeta berdarah yang hampir selalu timbul setiap era pemerintahan membuat Singasari tak ubahnya negeri yang selalu bergolak dan dipenuhi dengan ketegangan-ketegangan politik hingga peristiwa berdarah hampir selalu terjadi di kerajaan itu.

Hal itu menjadi cermin bagi Negara Indonesia bahwa hancurnnya sebuah Negara di era global ini bukan karena perang, tetapi lebih kepada penghancuran mental dan budaya. Apa yang terjadi pada kondisi Singasari saat itu bisa dikaitkan pada kondisi Negara saat ini.

Di Negara kita juga terjadi hal yang sama, pemerintah mulai saling menjatuhkan lalu berebut harta, KKN terjadi dimana-mana dan berbagai penyimpangan yang lainnya. Hal itu jika tidak berhati-hati dalam penyelanggaraan pemerintah, maka bisa hancur Negara ini dan diserang oleh Negara lain.

Intrik politik  dan konspirasi public juga merebak di Negara ini. Berbagai pelanggaran pemerintah dan masyarakat ini mau tidak mau, kita generasi muda harus berpikir kritis dan bertindak. Membangun bangsa mulai dari hal yang sederhana, membuat planning masa depan dan menimbang waktu yang tepat untuk sebuah perubahan. Maka akan tercapai sebuah good governance di Negara Indonesia ini

Kesimpulan

Bahwa segala sesuatu yang didasari dengan kebaikan maka akan menjadi kebaikkan. Warga Negara yang baik adalah yang mampu membangun bangsannya sendiri.

Perlu adannya korelasi yang baik antara pemerintah, masyarakat dan sector swasta sehingga ketika sudah seimbang akn terciptalah sebuah pemerintahan yang baik.

Gajah Mada in Old Javanesse Manuscript

Menurut Gajah mada dalam Nagarakretagama pemimpin itu harus mempunyai enam sifat :

  1. Abikamika : simpatik, berorientasi ke bawah dan lebih mengutamakan kepentingan umum dari pada kepentingan pridadi atau golongan sendiri.
  2. Prajna : aktif, bijaksana dan menguasai berbagai ilmu pengetahuan, seni, agama, serta dapat dijadikan panutan rakyat.
  3. Usaha : proaktif, kreatif, inovatif, serta rela berkorban dan mengabdi tanpa pemrih untuk kesejahteraan.
  4. Atma Sampad : berbudi luhur, berintegritas tinggi, objektif dan mempunyai wawasan jauh ke depan demi kemajuan bangsa.
  5. Sakya Samanta : mampu mengawasi bawahan dari segala kegiatan keprajuritan dan kenegaraan serta berani bertindak tegas secara adil tanpa pilih kasih.
  6. Aksudra Pari Sakta :  akomodatif, cerdik dalam berunding, cakap dalam bertutur kata, mampu menyatukan perbedaan dengan cara musyawarah.

Sebagai panglima militer seorang pemimpin harus memiliki catur darmaning nerpati

  1. Jana Wisesa Suda : menguasai segala macam ilmu dan agama, teori dan praktek.
  2. Kaprahitananing Praja : memiliki sifat welas asih dan peduli kepada bawahannya.
  3. Kawiryan : mempunyai keberanian untuk menegakkan kebenaran dan keadilan
  4. Kawibawan : berwibawa agar setiap rencana dan perintah dapat terlaksana.

Di samping itu seorang pemimpin juga harus memiliki sifat utama Pandawa Lima

  1. Ngesti Aji : cari dan amalkan ngelmu suci lan agama (Yudhistira = Samiaji)
  2. Ngesti Giri : cari kekuatan seperti gunung dalam menegakkan kebenaran (Bima)
  3. Ngesti Jaya : cari kemenangan dalam menundukkan sifat buruk, lahir batin (Arjuna)
  4. Ngesti Nangga : cari ketangguhan dan tanggap dalam segala keadaan (Nakula)
  5. Ngesti Priyambada :cari upaya untuk membahagiakan rakyat (Sadewa)

Prapanca dalam Kitab Kertagama menggambarkan 15 tabiat istimewa Gajah Mada :

  1. Wija : bijaksana dalam mengatasi dan menyelesaikan segala permasalahan negara.
  2. Mantriwira  bertindak berani dan tegas dalam membela kepentingan negara.
  3. Wicaksaning Nata : bijaksana dalam membina hubungan dengan semua pihak.
  4. Matangwan : bertanggung jawab penuh atas kepercayaan yang diberikan kepadanya.
  5. Satya Bhakti Prabu : setia dengan hati yang tulus, ikhlas kepada negara dan raja.
  6. Wakmiwak : teguh mempertahankan pendirian dengan alasan dan keyakinan kuat.
  7. Sarjawopasama : ramah, sepi ing pamrih, sabar dalam menghadapi cobaan.
  8. Dirotsaha: bekerja dengan rajin dan sungguh- sungguh.
  9. Tan lalana : tidak pernah sedih dan putus asa.
  10. Dwiyacitha : selalu berbuat baik dalam berhubungan dengan orang lain.
  11. Masihi Samastu Buwana : menyayangi seluruh makhluk Tuhan.
  12. Ginong Pratidina : mengerjakan hal yang baik menghindari yang buruk.
  13. Sumaniri : pegawai negara yang ahli sesuai bidang yang ditekuni.
  14. Anayaken Musuh : menyingkirkan musuh dan rintangan yang mengganggu.
  15. Tan Satrisna : tidak memiliki keinginan untuk menjatuhkan karir orang lain.
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.